Tulisan Jalan

Hidupku untuk mengharumkan nama-MU Jangan bersukcita ketika engkau berhasil dalam pelayanan, tetapi bersukcitalah karena namamu tercatat di Surga

Kau istimewa. Di seluruh dunia, tidak ada orang yang sepertimu. Sejak bumi diciptakan tidak ada orang lain yang sepertimu. Tidak ada orang lain yang memiliki senyummu, tidak ada yang memiliki matamu, hidungmu, rambutmu, tanganmu, suaramu. Kau istimewa. Tidak ada orang lain yang memiliki tulisan yang sama denganmu. Tidak ada orang lain yang memiliki selera akan makanan, pakaian, musik, atau seni sepertimu. Tidak ada orang lain yang memiliki cara pandang sepertimu. Sepanjang masa tidak ada orang lain yang tertawa sepertimu, tidak ada yang menangis sepertimu. Kaulah satu di antara seluruh ciptaan yang memiliki kemampuan seperti yang kau miliki. sampai selamanya, tidak akan ada orang yang akan pernah melihat, berbicara, berjalan, berpikir, atau bertindak seperti dirimu. Kau istimewa...kau langka. Tuhan telah menjadikanmu istimewa dengan satu tujuan yaitu MEMULIAKAN DIA

Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Berita Kekristenan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Kekristenan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Mei 2013

Di Polahi, Ibu Pun Bisa Kawini Anak Laki-lakinya

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***

Di Polahi, Ibu Pun Bisa Kawini Anak Laki-lakinya
Tribun Medan - Rabu, 8 Mei 2013 14:49 WIB


polahi.jpg

TRIBUN-MEDAN.com, GORONTALO— Bagi masyarakat umum, kawin dengan saudara kandung merupakan sebuah pantangan, dan bahkan tidak bisa ditoleransi. Namun, hal itu tidak berlaku bagi suku Polahi di pedalaman Gorontalo. Mereka hingga saat ini justru hanya kawin dengan sesama saudara mereka.

"Tidak ada pilihan lain. Kalau di kampung banyak orang, di sini hanya kami. Jadi kawin saja dengan saudara," ujar Mama Tanio, salah satu perempuan Suku Polahi yang ditemui di Hutan Humohulo, Pegunungan Boliyohuto, Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Boalemo, minggu lalu.

Suku Polahi merupakan suku yang masih hidup di pedalaman hutan Gorontalo dengan beberapa kebiasaan yang primitif. Mereka tidak mengenal agama dan pendidikan, serta cenderung tidak mau hidup bersosialisasi dengan warga lainnya.

Walau beberapa keluarga Polahi sudah mulai membangun tempat tinggal tetap, tetapi kebiasaan nomaden mereka masih ada. Polahi akan berpindah tempat, jika salah satu dari keluarga mereka meninggal.
Hal biasa bagi mereka ketika seorang ayah mengawini anak perempuannya sendiri, begitu juga seorang anak laki-laki kawin dengan ibunya.

Nah, salah satu kebiasaan yang hingga sekarang masih terus dipertahankan oleh suku Polahi adalah kawin dengan keluarga sendiri yang masih satu darah. Hal biasa bagi mereka ketika seorang ayah mengawini anak perempuannya sendiri, begitu juga seorang anak laki-laki kawin dengan ibunya.

Kondisi ini diakui oleh satu keluarga Polahi yang ditemui di hutan Humohulo. Kepala sukunya, Baba Manio, meninggal dunia sebulan lalu. Baba Manio beristri dua, Mama Tanio dan Hasimah. Dari perkawinan dengan Mama Tanio, lahir Babuta dan Laiya.

Babuta yang kini mewarisi kepemimpinan Baba Manio memperistri adiknya sendiri, hasil perkawinan Baba Manio dengan Hasimah. Hasimah sendiri merupakan saudara dari Baba Manio. Kelak anak-anak Babuta dan Laiya akan saling kawin juga.

"Kalau mau kawin, Baba Manio membawa mereka ke sungai. Disiram dengan air sungai lalu dibacakan mantra. Sudah, cuma itu syaratnya," ujar Mama Tanio dengan polosnya.

Keterisolasian mereka di hutan dan ketidaktahuan mereka terhadap etika sosial dan agama membuat suku Polahi tidak mengerti bahwa inses dilarang. Bagi mereka, kawin dengan sesama saudara kandung adalah salah satu cara untuk mempertahankan keturunan Polahi. "Yang mengherankan, tidak ada dari turunan mereka yang cacat sebagaimana akibat dari perkawinan satu darah pada umumnya," ujar Ebbi Vebri Adrian, seorang juru foto travel yang ikut menyambangi suku Polahi.

Memang belum ada penelitian yang bisa mengungkapkan akibat dari perkawinan satu darah yang terjadi selama ini di Suku Polahi. Namun, dibandingkan dengan suku-suku pedalaman lainnya di Indonesia, mungkin hanya Polahi yang mempunyai kebiasaan primitif tersebut. Sebuah ironi yang masih saja terjadi di belahan bumi Indonesia ini. 

Editor : Muhammad Tazli
Sumber : Kompas.com


--
In Christ's Love
Rev. Hans
"Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam! (Kisah Para Rasul 18:9b).
Baca Terusannya »»  

Selasa, 07 Mei 2013

Kartu Kuning utk Pemimpin Gereja dan Kekristenan Indonesia." Akankah Papua 'segera Hijau' dari sekarang ?

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
To: "Papuainheritance" <papuainheritance@googlegroups.com>
Subject:  Kartu Kuning utk Pemimpin Gereja dan Kekristenan Indonesia." Akankah Papua 'segera Hijau' dari sekarang ?
Reply-To: PapuaInheritance@googlegroups.com


Al Fatih Kafah Nusantara (AFKN) telah membawa 2.200 anak Papua ke Jawa, utk menjadi Mualaf sebagai bagian dari 'Islamisasi' Bumi Cenderawasih.
Kemiskinan dan kurangnya pendidikan di Papua menjadi kesempatan terbuka utk gerakan Islam Radikal mencuci otak Generasi Muda Papua.
(Ditambah cueknya kalangan Kristen, yg 'sekedar' memperhatikan Papua dgn setengah hati)

Nama anak2 ini diganti menjadi nama Muslim, diberikan pendidikan dengan doktrin 'keras'.
Foto2 mereka terdapat pada link dibagian akhir artikel ini.

Berikut adalah basis anak-anak Papua yg di'pesantrenkan' :
Sekolah Daarur Rasul, pinggiran Jakarta.
Ponpes Jamiyyah Al-Wafa Al Islamiyah Gunung Salak Bogor.

Investigasi dari Michael Bacheland 'Sydney Morning Herald' selengkapnya bisa dibaca di :

http://www.smh.com.au/lifestyle/theyre-taking-our-kids-20130429-2inhf.html#ixzz2SNnL4DMQ


Baca Terusannya »»  

Minggu, 31 Maret 2013

Kemerosotan Gereja

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***

Media Swedia :Di Tahun 2012 Lebih dari 50 Ribu Jemaat Tinggalkan Gereja

Posted by admin on 12:19 PM in internasional, News | 0 komentar
Gereja Swedia kehilangan lebih dari 50.000 jemaatnya pada tahun 2012 dan berkurangnya jumlah jemaat gereja itu terus terjadi sejak Swedia menjadi sekuler sejak tahun 2000. Penurunan jumlah jemaat gereja terlihat parah terutama di kota-kota.

Gereja yang menyebut dirinya beraliran Lutheran Evangelis itu masih memiliki 7 juta anggota.

Namun, tahun lalu sebanyak 54.000 jemaatnya memutuskan untuk keluar. Pada periode yang sama, 7.500 orang mendaftar jadi anggota gereja itu.

Terdapat perbedaan antara angka penurunan jemaat gereja di kota dengan di pedesan.

Tahun lalu ribuan anggota gereja di Stockholm dan Gothenburg memutuskan untuk tidak memperbaharui keanggotaan mereka. Sementara di kota kecil Bjurholm di Angermandland hanya ada satu jemaat yang mengundurkan diri dari keanggotaannya di gereja.

“Banyak warga yang menghadiri peribadatan di gereja,” kata pastor Michael Brodin kepada kantor berita TT yang dikutip The Local (5/3/2013). Namun dia mengakui kongregasinya kecil, jadi jemaatnya tidak banyak.

Jonas Bromander kepada analisis di kantor nasional Gereja Swedia mengatakan, “Sebagian penduduk Stockholm adalah orang pindahan, yang artinya mereka tidak memiliki keterikatan dengan gereja lokal sejak masa kecilnya.

“Itu artinya hubungannya [dengan gereja] melemah,” kata Bromander.

Saat ini, separuh penduduk Stockholm dan Gorhenburg adalah anggota gereja, sedangkan warga Malmo yang menjadi anggota gereja kurang dari 50 persen.[thelocal/hidayatullah]
Baca Terusannya »»  

Berita Terkini

« »
« »
« »
Get this widget

Daftar Blog Saya

Komentar