Tulisan Jalan

Hidupku untuk mengharumkan nama-MU Jangan bersukcita ketika engkau berhasil dalam pelayanan, tetapi bersukcitalah karena namamu tercatat di Surga

Kau istimewa. Di seluruh dunia, tidak ada orang yang sepertimu. Sejak bumi diciptakan tidak ada orang lain yang sepertimu. Tidak ada orang lain yang memiliki senyummu, tidak ada yang memiliki matamu, hidungmu, rambutmu, tanganmu, suaramu. Kau istimewa. Tidak ada orang lain yang memiliki tulisan yang sama denganmu. Tidak ada orang lain yang memiliki selera akan makanan, pakaian, musik, atau seni sepertimu. Tidak ada orang lain yang memiliki cara pandang sepertimu. Sepanjang masa tidak ada orang lain yang tertawa sepertimu, tidak ada yang menangis sepertimu. Kaulah satu di antara seluruh ciptaan yang memiliki kemampuan seperti yang kau miliki. sampai selamanya, tidak akan ada orang yang akan pernah melihat, berbicara, berjalan, berpikir, atau bertindak seperti dirimu. Kau istimewa...kau langka. Tuhan telah menjadikanmu istimewa dengan satu tujuan yaitu MEMULIAKAN DIA

Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Inspirasi Hari Ini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi Hari Ini. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Maret 2013

BODOH

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Dalam perjalanan pulang dari Bogor ketika menghadiri ibadah in
memorial salah satu hamba Tuhan yang sekian tahun melayani sebagai
misionaris di Indonesia, salah satu rekan kami bercerita bahwa dia
berjumpa dengan beberapa teman kuliah jaman dulu dalam acara tersebut.
Singkat cerita kawan ini mengatakan dulu temannya itu bodoh sekali di
kelas, tetapi sekarang dia sudah menjadi penulis buku. Kasus yang sama
juga pernah diceritakan kakak saya, salah satu teman kulianya di ITB
menjadi dosen di tempat kuliah saya. Kata kakak saya, dia dulu duduk
paling belakang dan paling bodoh di kelas, tetapi sekarang nyatanya
dia sudah menjadi dosen.

Dari cerita di atas makna yang dapat kita ambil adalah bahwa kebodohan
itu dapat diubah. Firman Tuhan katakan: bagi Allah tidak ada yang
mustahil (Lukas 1:37), di dalam Tuhan segala sesuatu dapat diubahkan,
kuncinya adalah percaya (Tidak ada yang mustahil bagi orang yang
percaya!" Markus 9:23). Apa yang dianggap manusia bodoh belum tentu
Tuhan anggap bodoh, di mata Tuhan kita semua berharga. Tuhan tidak
pernah memandang muka. By: Adrianus Pasasa
Baca Terusannya »»  

Selasa, 05 Maret 2013

BUKALAH TOPENGMU

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Saya sungguh bersyukur dapat mengikuti pelatihan "Langham Preaching"
untuk menggali kebenaran Firman Tuhan. Dalam pelatihan itu disisipkan
suatu materi yaitu Integritas, melalui materi ini ada beberapa slide
yang menampilkan wajah-wajah yang dipenuhi dengan topeng-topeng.
Sebagai pengikut Yesus Kristus, kita cukup memiliki wajah yang asli
tidak perlu wajah yang asli dipasangkan topeng lagi, sehingga
penampilan kita yang dilihat orang semuanya "aspal", asli tapi palsu.
Saya banyak belajar dari kejadian-kejadian yang terjadi beberapa hari
ini, menyadarkan saya kembali, ternyata apa yang kelihatan dari luar
belum tentu itu asli. Banyak hal yang kelihatan baik di luar, tetapi
belum tentu itu yang asli, bisa saja itu hanya polesan belaka. Jika
mau melihat aslinya bukalah topengnya! Tuhan Yesus menegur ahli Taurat
dan orang Farisi karena mukanya penuh dengan topeng, Tuhan Yesus
mengatakan: Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang
Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan
yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya,
tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis
kotoran. Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar
di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan
kedurjanaan (Matius 23:27-28).

Buanglah topeng-topeng yang masih menghiasi wajah kita, tampilkanlah
yang aslinya karena itulah yang Tuhan Yesus kehendaki. Dia mau melihat
wajahmu yang asli, Dia mau supaya sesamamu, orang-orang disekitarmu
melihat wajahmu yang asli. Bukan wajah yang disamarkan. Topeng itu
akan menghalangi persekutuanmu dengan Tuhan Yesus. Bukalah topengmu
supaya engkau dapat menikmati sukacita dalam Tuhan Yesus. By: Adrianus
Pasasa
Baca Terusannya »»  

Senin, 04 Maret 2013

“NYENYAK” TIDUR DI GEREJA

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Masing-masing orang tentu memiliki motivasi yang berbeda ketika mereka
hendak beribadah di gereja. Tetapi saya percaya bahwa di antara sekian
banyak motivasi, motivasi utama adalah untuk memuliakan Tuhan. Ketika
seseorang sungguh-sungguh mempersiapkan diri untuk berjumpa dengan
Tuhan lewat ibadah, maka orang tersebut akan dapat menikmati
persekutuan dengan Tuhan, baik itu lewat doa, pujian dan Firman Tuhan
yang disampaikan hamba Tuhan. Ketika orang memiliki persiapan yang
sungguh-sungguh maka dia akan pulang dengan membawa sukacita dan
berkat-berkat dari Tuhan karena dia dapat mengalami perjumpaan dengan
Tuhan lewat ibadah. Orang seperti ini akan seperti ranting yang
menghasilkan buah-buah yang dikehendaki dan menyenangkan hati Tuhan.

Namun sangat menyedihkan ketika kita mengikuti ibadah tanpa persiapan
hati untuk berjumpa dengan Tuhan. Beberapa minggu ini saya mengamati
beberapa kejadian ketika jemaat mengikuti ibadah di gereja. Banyak
jemaat yang memiliki kebiasaan memindahkan tempat tidur di gereja, dan
sungguh aneh ketika di rumah tidak bisa tidur, tetapi ketika di gereja
begitu mudah untuk tertidur. Tidak menutup kemungkinan kejadian ini
terjadi di banyak gereja. Dan yang lebih menyedihkan lagi, seperti
yang saya lihat di satu gereja, orang-orang yang menyebut diri calon
hamba Tuhan dengan mudahnya tertidur di gereja sampai jemaat
geleng-geleng kepala melihatnya. Seharusnya mereka menjadi contoh bagi
jemaat, tetapi mereka malah menjadi batu sandungan.

Sebagai ranting, bagaimana mau menghasilkan buah kalau tiap ibadah
tertidur nyenyak di gereja. Firman Tuhan mengatakan: Akulah pokok
anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam
Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu
tidak dapat berbuat apa-apa. (Yohanes 15:5). Pertanyaannya: bagaimana
mau berbuah banyak, kalau ibadah saja dianggap remeh, bagaimana mau
berbuah banyak kalau ibadah hanya rutinitas tanpa mengalami perjumpaan
atau menyatu dengan pokok anggur itu. Pada akhirnya yang terjadi
adalah ranting itu mati karena tidak mendapat makanan dari pokok
anggur. Kalau ranting tidak mendapat suplai makanan pada akhirnya ia
akan mati, kalau sudah mati yang terjadi adalah seperti yang dikatakan
firman Tuhan: ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering,
kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar
(Yohanes 15:6). Marilah kita mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh
ketika kita mau beribadah, sehingga kita sungguh menghasilkan
buah-buah yang menyenagkan hati Tuhan. By: Adrianus Pasasa
Baca Terusannya »»  

Senin, 18 Februari 2013

GEREJA DESA = GEREJA KOTA

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Sudah menjadi buah bibir kalau gereja kota menjadi berkat bagi gereja
desa. Slogan ini tidak selamanya berlaku bagi gereja desa. Memang ada
sebagian gereja desa yang menjadi "objek" gereja kota untuk
menyalurkan bantuannya. Tetapi hal yang berbeda terjadi di salah satu
desa di Jawa Barat, di mana gereja desa menjadi berkat bagi gereja
kota. Hal ini terjadi pada bulan Desember, dimana setiap perayaan
Natal sebagian besar yang hadir dalam gereja itu adalah undangan dari
gereja-gereja kota.

Pada intinya, baik gereja kota maupun gereja desa adalah satu tubuh
Kristus, jadi wajar saja kalau saling "bertukar berkat". Sehingga
kesan bahwa gereja desa hanya jadi "objek" gereja kota dapat ditepis,
karena terbukti bahwa gereja desapun mampu menjadi berkat bagi gereja
kota. Sebaiknya gereja kota dan gereja desa menjadi mitra dalam
memperlebar kerajaan-Nya di dunia ini. Jika gereja kota lebih unggul
dalam Sumber Daya Manusia (SDM), mampu dalam bidang keuangan, lebih
maju dalam bidang kerohanian, baiklah ia berbagi dengan gereja desa.
Dan sebaliknya apa yang menjadi kebutuhan bagi gereja kota dan gereja
desa bisa memberi, tentu gereja desapun dapat berbagi dengan gereja
kota. Inilah keharmonisan pelayanan yang Tuhan Yesus rindukan. Sebab
dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani,
baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh
dan kita semua diberi minum dari satu Roh (I Korintus 12:13). Karena
roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh,
karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu (1 Korintus
10:17). By: Adrianus Pasasa
Baca Terusannya »»  

Kamis, 14 Februari 2013

Kursi Bambu Mang Jumar

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Kursi Bambu Mang Jumar

Peristiwa ini terjadi beberapa tahun lampau. Waktu itu saya bersama istri berduaan dengan motor berkeliling kota. Melepaskan kepenatan dan kejenuhan. Kami menyusuri jalan-jalan di kota Bandung yang dulunya disebut Paris Van Java, namun kini, maaf, lebih pas bisa dikatakan "Paris Van Sampah" karena sampah berserakkan di mana-mana ditambah lagi dengan jalan-jalan yang berlubang-lubang.

Memang kami sering berduaan dengan motor kesayangan kami, Honda CB 100. Antik tapi asyik euuuuyyy, untuk terus memupuk kasih di dalam dada kami yang hampir seperempat abad menikah. Bier cintenye tetep membere ceileh… kayak ABG aja… he he he… Yaialah. Harus dong! Api cinta pernikahan harus dipupuk, disirami, dibersihin dari gulma (tanaman pengganggu) bukan? Jangan makin lama usia pernikahan makin redup kemesraannya uaa ha ha ha…. Nih coba perhatikan cerita-cerita berikut ini. Pasutri dalam usia pernikahan lima hari sampai lima minggu. Sang Suami berkata sama istrinya, "Selamat bobo sayang, mimpi indah ya, mmmuach!" Usia nikah lima bulan bagaimana? Si suami berkata, "Tolong matiin lampunya, silau nih!" Usia pernikahan lima tahun? Suami berkata waktu tidur malam, "Kesana-an doong... kamu tidur dempet-dempetan kayak mikrolet gini sih?!" Mau lagi cerita lain? Ah kamu ketagihan cerita-cerita gini ah. Baiklah, satu aja ya? Ini cerita soal menerima telepon. Usia pernikahan satu minggu. Sang istri menerima telpon rumah. "Dad sayang… ada yang pengen bicara ama kamu di telpon nih." Satu bulan nikah. "Eh...ini buat kamu nih..." Nikah satu tahun. Kata sang istri ketika menerima telepon. "WOOIII TELPON BUNYI TUUUHHH....ANGKAT DUOOONG!!! GAK DENGEEER APAAA...?!" Jangan senyum-senyum dong! Mau tambah satu cerita lagi gak??? Ah udahan yaa…! Waduh rek… nampaknya kamu penasaran ya… kacian de luh… Ok ok saya kasih satu lagi. Tapi ini benar-benar yang terakhir ya. Ini tentang pemakaian toilet. Suami dan istri pagi-pagi mau ke toilet. Usia pernikahan mereka tiga bulan. Kata suami sama istrinya, "Ngga apa-apa sayang, kamu duluan deh, aku ngga buru-buru koq… santai aja yank!" Padahal ia sudah kebelet beol. Tiga bulan pernikahan. Kata suami, "masih lama ngga nih?" Dalam usia nikah tiga tahun, beginilah tingkah dan ucapan si suami waktu mau pakai toilet. "Brug! brug! brug! (suara pintu digedor), kalo mau bertapa di gunung Kawi sono!" Bagaimana kalau usia pernikahan sudah dua puluhan tahun ya… apa masih ada kemesraan??? Koq jadi nyasar gini… mau cerita tentang "Kursi Bambu Mang Jumar" koq jadi cerita tentang kemesraan… weleh… weleh…

Okelah kita balik ya. Setelah beberapa waktu lamanya akhirnya kami harus pulang ke rumah. Nah, dalam perjalanan kembali ke rumah itulah, kami berjumpa dengan seorang penjual kursi bambu, yang akhirnya kami tahu namanya, Mang Jumar. Mang Jumar orangnya kecil dan kurus. Dia saban hari berjalan keliling dari desanya Cililin ke kota Bandung sambil memikul empat buah kursi bambu untuk dijual kepada orang-orang kota. Satu kursi itu panjangnya tujuh jengkal. Satu jengkal ukurannya dari jari tengah hingga ibu jari saya. Ya kira-kira satu meter setengah panjangnya kursi itu. Mang Jumar menyusun sedemikian rupa sehingga ia bisa memikul dua kursi di sebelah kanannya dan dua kursi lagi di sebelah kirinya. Minta ampun beratnya!!! Ia memikul empat kursi itu dengan nafas yang terengah-engah diiringi cucuran keringat deras membasahi sekujur tubuhnya. Jangan ditanya bau badannya. Terkadang sepanjang hari empat kursinya tak satupun yang dibeli orang. Terpaksa ia harus membawanya pulang ke Cililin. Atau ia beristirahat di emperan toko atau di mana saja yang bisa membuat kepala dan badannya mendapatkan tempat berbaring untuk tidur malam. Besok harinya ia harus kembali menjajakan kursi bambunya dengan berkeliling dari satu lorong jalan ke lorong jalan lainnya. Berat sekali. Namun itulah satu-satunya cara dia memelihara hidup istri dan beberapa anak-anaknya yang masih kecil-kecil. Dan ini sudah bertahun-tahun lamanya ia melakukannya.

Dalam lajunya motor yang saya kendarai, tiba-tiba istri saya, Ima menepuk bahu saya sambil berkata, " Pa… berhenti dulu." "Kenapa berhenti?", tanya saya. "Itu tuh ada penjual kursi bambu, mama mau beli satu," jawab Ima. Kata saya, "Mau ditaruh di mana kursinya, rumah kita kan sempit gak ada tempat lagi?" "Bisalah, nanti mama atur", demikian Ima ngotot mau beli. Lalu saya menghentikan motor dan Ima langsung menanyakan berapa harga kursi bambu itu. "Harganya Rp 25.000 bu!", demikian kata Mang Jumar. "Oke Mang, tapi Mang ikut ke rumah kami ya… tuh hanya beberapa puluh meter lagi", ajak Ima pada Mang Jumar. Akhirnya Mang Jumar sampai juga di rumah kami. Ima langsung ke dapur dan membuatkan kopi manis buat Mang Jumar. Dan, Mang Jumar mungkin karena kehausan dan lelah, langsung menghirup perlahan-lahan kopi manis semanis Ima istriku he he he…. Kemudian Ima ke kamar untuk mengambil uang Rp 25.000. Di depan kamar Ima bertemu Juan, anak kami yang pertama. Kala itu Juan masih duduk di SMP. "Ma … siapa yang datang itu?", tanya Juan sama mamanya. "Oh itu Mang Jumar penjual kursi bambu", jawab Ima. "Untuk apa ma… mama mau beli ya. Berapa harganya satu?", Juan kembali bertanya. "Ya mama mau beli. Harganya Rp 25.000, tapi mama mau nambah supaya menjadi Rp 35.000", demikian kata Ima sama Juan. Saya terus mendengar percakapan mereka berdua sambil menemani Mang Jumar meneguk kopi manis hangat. Juan lalu berkata lagi sama mamanya, "Ma… kasihan Mang Jumar capek sekali ia pikul kursi-kursinya, kenapa hanya Rp 35.000, berikanlah Rp 50.000 buat Mang Jumar!" Wah saya kaget dengan dialog dua orang "gila" ini. Hati saya sangat terharu terhadap isi hati Ima dan Juan yang penuh belas kasihan itu. Dalam hati saya berdoa, "Terima kasih Tuhan Yesus, Engkau telah memberikan hati-Mu yang penuh belaskasihan di hati mereka terhadap orang-orang sederhana seperti Mang Jumar ini. Hati saya lebih terharu lagi, sebab saya tahu berapa sejatinya pendapatan kami setiap bulan sebagai pelayan Tuhan yang melayani orang-orang desa di tanah air ini.

Sikap hati dan perilaku istri dan anak saya sungguh menjadi peringatan keras kepada diri saya sendiri tentang arti panggilan hidup melayani Tuhan dan sesama. Kita bisa saja melayani seperti mesin cuci pakaian (mekanis), tanpa kasih, namun mustahil mengasihi tanpa melayani dalam tindakan nyata terhadap sesama (altruis). Bukankah Tuhan berfirman, "…. menangislah dengan orang yang menangis!"? (Roma 12:15). Dan sungguh amat banyak perintah Tuhan dalam Alkitab yang mendorong kita untuk mengasihi dengan perbuatan yang nyata. Bukan sekadar kita berkata kasihan (atau kacian deh luh) kepada mereka yang sengsara. Kita wajib bertindak dengan kasih. Kita harus menuntun mereka, bukan menonton mereka yang sedang terseok-seok. Ada jutaan jiwa yang kini merana hidupnya di negeri tercinta kita. Apakah kita hanya menonton atau kita mau menuntun mereka?

Kata Yunani belas kasihan adalah Splagkhnistheis dari kata splagkhna yang berarti mangkuk. Ini menggambarkan hati nurani manusia yang terdalam. Dalam Injil, dengan beberapa kekecualian, kata itu secara khusus hanya dipakai untuk diri Yesus.

Hal-hal yang paling menggerakkan Yesus adalah: Orang-orang yang mengalami penderitaan dunia. Yesus menangis ketika melihat orang sakit, buta, dan dirasuk setan. Yesus tidak tahan melihat orang-orang yang menderita, Ia selalu rindu untuk meringankan beban penderitaan itu. Yesus tergerak dengan orang yang berada dalam kesedihan seperti seorang janda di Nain yang anaknya mati (Lukas 7:13). Begitu juga ketika melihat Maria dan Marta yang telah kehilangan kakak mereka Lazarus, Yesus sangat sedih, terharu dan menangis (Yohanes 11:33 –34). Yesus selalu penuh dengan keinginan untuk menghapus setiap tetesan air mata orang yang bersedih.

Yesus tergerak ketika melihat orang-orang dalam kelaparan (Matius 15:32). Orang Kristen yang sejati tidak akan mempunyai niat mengumpulkan harta benda untuk diri sendiri sementara orang lain berkekurangan. Saya sangat terkesan dengan perkataan kawan saya dalam suatu perbincangan di antara kami berdua (ia adalah seorang pengusaha yang sukses). Dia berkata: "Saya takut dengan kekayaan yang saya miliki saat ini apakah saya telah mempergunakannya seturut dengan kehendak-Nya? Sekali waktu Tuhan mengaudit harta saya, apakah saya dapat mempertanggungjawabkannya?" Oleh karena itu, doa dan harapan saya kiranya prinsip ini harus kita pegang sebagai alarm, tanda peringatan dalam mengelola seluruh talenta (jabatan, kuasa, popularitas, kepintaran, uang, dan harta benda) yang Tuhan percayakan kepada masing-masing kita.

Dan Yesus sangat tergerak dengan orang-orang dunia yang berada dalam kebingungan tanpa arah dan harapan hidup yang jelas. Yesus sedih ketika melihat mereka yang terbaring tidak berdaya dan dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Yesus mengecam para ahli Taurat yang suka memberatkan kehidupan orang-orang Israel dengan hukum-hukum manusia mereka. Karena itu tak heran Yesus berkata kepada orang yang suka menyesatkan orang lebih baik batu kilangan diikatkan dilehernya lalu ditenggelamkan dalam lautan. Ini menunjukkan bahwa Yesus tidak mau ada orang yang tersesat atau disesatkan jalan hidupnya. Bagaimana dengan kita???

Mang Jumar setelah menerima uang Rp 50.000 dari tangan istri saya, lalu tangannya merogok sakunya untuk mengambil uang kembalian. Tangan Mang jumar masih dalam kantongnya, sembari istri saya berkata, "Mang… tidak usah dikembalikan uangnya. Itu semua untuk Mang Jumar dari kami sekeluarga. Hanya itu yang bisa kami berikan." Lalu Mang Jumar menatap kami satu persatu dengan bibir yang bergetar sambil berkata dengan linangan air mata, " Pak, bu, ade… hatur nuhun pisan nya' (terima kasih banyak ya)! Saya tidak pernah mengalami hal seperti hari ini. Biasanya saya menghadapi pembeli yang menawar harga serendah-rendahnya kursi bambu saya ini. Bahkan kadang mendengar kata-kata yang tidak enak didengar telinga. Kenapa kalian mau melakukan hal ini?" Lalu saya menjawab Mang Jumar, " Mang… kami terlebih dulu juga telah mendapat kasih sayang dari Yesus Kristus Tuhan dan Juruselamat kami. Kami seharusnya binasa di dalam api neraka, namun Ia rela mati di kayu salib untuk menyelamatkan kami dari kematian kekal. Dialah yang mengajarkan kami supaya juga mengasihi orang-orang lain di dunia ini. Dan Mang Jumar kami anggap bukan orang lain, sekarang Mang bersama istri dan anak-anak adalah saudara kami. Nanti lain kali bawalah istri dan anak-anak menginap dan bermain-main di rumah kami. Bila kursi-kursi Mang belum laku, janganlah bawa pulang ke kampung, silakan tidur di rumah kami dan besok jualan lagi." Dan akhirnya kami mengobrol lama dengan Mang Jumar pada siang itu. Hubungan kami menjadi akrab layaknya saudara saja. Kadang ia datang membawa sayur mayur dan buah-buahan hasil panennya dari kampung Cililin. Dan juga pernah sekali ia menginap di rumah kami. Sedih nian ketika kami pindah kontrakan rumah di lorong sempit, sampai hari ini kami belum pernah bersua lagi dengan Mang Jumar yang kami kasihi. Kami sering mencari-carinya tapi sampai detik ini kami belum juga bertemu muka dengan Mang Jumar. Kami sudah agak lupa wajah Mang Jumar karena pertemuan kami sudah berlalu hampir tujuh tahun lampau. Semoga ia masih mengingat wajah kami. Kami berharap bila bertemu, ia mau mengagetkan kami dengan menepuk bahu kami. "Oh Tuhan Yesus pertemukan kami lagi dengan Mang Jumar si penjual kursi bambu dari desa Cililin. Kami rindu bertemu dengannya. Tuhan, kami mau membeli satu lagi kursi bambu Mang Jumar!"

Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku…. dan Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku (Matius 25: 40, 45).



--
In Christ's Love
Rev. Hans
"Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam! (Kisah Para Rasul 18:9b).
Baca Terusannya »»  

Domba Yang Kehausan

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Saya sungguh bersyukur apa yang kami doakan selama ini perlahan tapi
pasti di jawab oleh Tuhan. Tentu hal ini tidak hanya kami yang doakan,
tetapi saya yakin banyak orang percaya yang mendoakan. Setelah sekian
lama tidak mendapat tugas ibadah malam pujian, dua minggu lalu saya
dikontak oleh pengurus untuk menyampaikan firman Tuhan. Ketika ibadah
mulai tidak seperti biasanya, malam itu cukup banyak yang hadir.
Setelah selesai ibadah, saya berbincang-bincang dengan beberapa orang
yang hadir, mereka mengatakan bahwa yang hadir pada malam itu adalah
orang-orang yang sudah lama tidak ke gereja. Puji Tuhan, hati mereka
telah di jamah dan digerakkan oleh Roh Kudus untuk kembali
kerumah-Nya.

Mereka itu laksana rusa yang haus akan air, jiwa mereka haus akan
Tuhan. Selama ini mereka seperti domba yang terhilang dari kawanannya.
Hati mereka telah tergerak untuk datang ke bait-Nya memuji dan
menyembah Dia. Ketika melihat ibadah malam itu, saya teringat cerita
di Alkitab tentang anak bungsu yang kembali kepada bapanya, setelah
sekian lama pergi dari rumah bapanya, akhirnya kembali setelah
mengingat kebaikan-kebaikan yang melimpah di rumah bapanya…beberapa
hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi
ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan
hidup berfoya-foya. Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana
kelaparan di dalam negeri itu dan ia pun mulai melarat. Lalu ia pergi
dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya
ke ladang untuk menjaga babinya. Lalu ia ingin mengisi perutnya
dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorang pun
yang memberikannya kepadanya. Lalu ia menyadari keadaannya, katanya:
Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya,
tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada
bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga
dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa;
jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. Maka bangkitlah ia
dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah
melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu
berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia (Lukas
15:13-20).

Janganlah kita jemu-jemu mendoakan saudara-saudara kita yang sudah
lama tidak pulang-pulang ke "rumah", percayalah bahwa Bapa akan
mendengar doa kita, Ia akan mengutus Roh Kudus untuk menggerakkan hati
orang yang kita doakan. Saya yakin dan percaya Bapa di Surga sangat
bersukacita melihat anak-anak-Nya yang selama ini terhilang kembali
kerumah-Nya. Firman Tuhan dalam Injil Lukas 15:7 mengatakan … Aku
berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu
orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan
puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan." By:
Adrianus Pasasa
Baca Terusannya »»  

Selasa, 12 Februari 2013

Pendeta Jemaat atau Pendeta Majelis

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Beberapa waktu ini saya mendengar istilah yang berkembang. Setidaknya
bunyinya seperti ini, "dia kan pendeta majelis bukan pendeta jemaat".
Entah apa maksud di balik istilah ini, tetapi yang pasti tidak mungkin
istilah ini muncul kalau tidak ada pemicunya. Menjadi seorang pelayan
Tuhan adalah suatu tugas yang mulia, Tuhan mempercayakan seorang hamba
Tuhan untuk melayani jemaat-Nya. Kalau kita baca di dalam Yehezkiel
34:1-16, di situ di uraikan bahwa Tugas para gembala (pelayan Tuhan)
adalah melindungi kawanan dombanya agar tidak dicuri atau dibunuh oleh
binatang liar, atau menjaganya agar tidak tersesat. Jika Tugas ini
gagal dilakukan, maka Tuhan akan menghukum para gembala (hamba Tuhan)
yang gagal menjadi gembala yang baik. Beberapa ciri gembala yang
gagal: Menggembalakan dirinya sendiri, tidak peduli dengan
domba-dombanya, Hanya mau menikmati susu dan bulunya dibuat untuk
pakaian, tetapi mereka tidak mengembalakan domba-domba dengan baik,
Mereka membiarkan domba, jika ada domba yang lemah mereka tidak
kuatkan, domba yang sakit mereka tidak obati, domba yang luka mereka
tidak balut, domba yang sesat mereka tidak cari dan membawanya pulang,
domba yang hilang mereka tidak cari.

Gembala (hamba Tuhan) yang tidak melakukan tugasnya dengan baik, Tuhan
akan memberhentikan mereka dari tugasnya, Tuhan akan mengambil
pelayanannya kembali. Dibebastugaskan, Tuhan dapat memakai berbagai
cara untuk membebastugaskan gembala (hamba Tuhan) yang mangkir dari
tugasnya. Pada akhirnya istilah "pendeta majelis" layak disandang oleh
gembala (hamba Tuhan) yang gagal menjadi gembala yang baik, tetapi
tidak layak menyandang "pendeta jemaat". By: Adrianus Pasasa
Baca Terusannya »»  

Jumat, 08 Februari 2013

POSISI MENENTUKAN PRESTASI

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Waktu di sekolah menengah, saya dan teman-teman kelas mempunyai
istilah "posisi menentukan prestasi". Mungkin dibalik istilah ini ada
hal-hal yang ingin dicapai, mungkin saja nilai yang baik, dengan
cara-cara yang tidak baik, yang tentu hal ini tidak benar. Namun, jika
istilah ini di gunakan dalam artian positif, maka tentu akan membawa
dampak yang sangat baik. Dapat dikatakan bahwa semakin baik posisi
atau kedudukan seseorang, maka seharusnya prestasinya atau hasilnya
itu akan Nampak atau berdampak.

Dalam suatu diskusi di kelas, ketika saya mengikuti kuliah padat di
salah satu kampus STT di Bandung. Ada seorang teman melontarkan
pertanyaan, sederhananya begini: "mengapa para hamba Tuhan semakin
tinggi posisi/gelarnya, rasanya semakin kering dan semakin kurang
mengaplikasikan". Mungkin saja pertanyaan ini bersifat subyektif
tetapi bisa juga bersifat obyektif, namun terlepas dari semua itu,
marilah kita coba melihat beberapa hal yang mungkin menyebabkan
pertanyaan itu muncul. Tidak menutup kemungkinan banyak diantara hamba
Tuhan yang hanya hebat dalam berdebat dan berteori, tetapi kenyataan
dilapangan tidak sehebat teorinya. Juga tidak menutup kemungkinan
banyak hamba Tuhan yang karena merasa sudah sekolah tinggi-tinggi,
waktunya habis bergelut dengan kesibukannya, sehingga waktu untuk
membangun hubungan dengan Tuhan sangat terbatas atau dengan kata lain
lebih mengandalkan kekuatannya sendiri, dari pada bersandar penuh
kepada Tuhan. Dampaknya adalah kekeringan, berkotbah tidak ubahnya
seperti orang yang sedang pidato, lebih banyak mengutip pendapat para
filsuf dunia, dari pada mengupas dan mengutip Alkitab sebagai standar
kebenaran tertinggi. Hal ini terjadi karena waktu untuk bersekutu
dengan Tuhan lewat doa dan membawa Alkitab, sudah sangat terbatas.

Lewat diskusi-diskusi di kelas, saya disadarkan kembali bahwa apalah
artinya memiliki gelar yang super hebat, tetapi hubungan dengan Tuhan
mengalami kekeringan. Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan,
Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan
segenap akal budimu (Matius 22:37). Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan
segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu
(Ulangan 6:5). Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan…(Amsal
1:7). By: Adrianus Pasasa
Baca Terusannya »»  

Selasa, 08 Januari 2013

SIAPAKAH SESAMAKU

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Tempat tinggal kami tepat berada di pinggir jalan dan tidak jauh dari
kampus teologi. Karena berada di pinggir jalan, maka tentu jalan di
rumah kami merupakan jalan umum yang setiap saat dilalui oleh berbagai
macam orang, dan salah satunya adalah mahasiswa-mahasiswi yang sedang
studi di sekolah teologi tersebut. Beberapa waktu lalu saya membuat
jembatan supaya mobil bisa masuk ke dalam halaman rumah kami. Ketika
saya mempersiapkan beberapa bahan yang akan digunakan seperti pasir,
semen, kerikil, besi, dan papan. Hal ini tentu membutuhkan bantuan
tenaga, saya minta tolong ke beberapa mahasiswa dari sekolah teologi
dekat rumah kami, yang juga tempat saya melayani. Ketika kami sedang
mengerjakan jembatan itu, cukup banyak orang "Kristen"/mahasiswa yang
lalu lalang di tempat kami mengerjakan jembatan. Ada yang lewat begitu
saja, ada yang betanya, pak lagi buat apa?, ada juga yang singgah
untuk melihat-lihat, namun tidak satupun yang bertanya apa yang bisa
kami bantu alias tidak ada yang tergerak hatinya untuk membantu.

Saya jadi teringat akan kisah orang Samaria yang baik hati yang
ditulis di dalam Injil Lukas 10:25-38. Pada suatu kali berdirilah
seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: "Guru, apa yang
harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Jawab Yesus
kepadanya: "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di
sana?" Jawab orang itu: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap
hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan
dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti
dirimu sendiri." Kata Yesus kepadanya: "Jawabmu itu benar; perbuatlah
demikian, maka engkau akan hidup." Tetapi untuk membenarkan dirinya
orang itu berkata kepada Yesus: "Dan siapakah sesamaku manusia?" Jawab
Yesus: "Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh
ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan,
tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya
setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia
melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian
juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu,
ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria, yang
sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang
itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu
membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan
anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya
sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan
harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu,
katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan
menggantinya, waktu aku kembali. Siapakah di antara ketiga orang ini,
menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke
tangan penyamun itu?" Jawab orang itu: "Orang yang telah menunjukkan
belas kasihan kepadanya." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, dan
perbuatlah demikian!"

Bagaimana jadinya kalau orang percaya/seorang hamba Tuhan tidak
memiliki kepekaan dengan lingkungannya? Marilah kita belajar dari
orang Samaria, yang "tidak dianggap", tetapi memiliki hati hamba, yang
peduli dengan lingkungannya. Dari pada berlabel orang "Kristen"/hamba
Tuhan, tetapi hanya labelnya saja, bukti nyatanya tidak ada. By:
Adrianus Pasasa
Baca Terusannya »»  

Rabu, 02 Januari 2013

AROGANSI BEBEK SENIOR

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Bebek yang kami tetaskan beberapa bulan yang lalu, mulai beranjak
besar. Namun untuk menjaga keamanan antara bebek yang sudah dewasa
dengan bebek yang baru beranjak dewasa, maka kami pisahkan kandangnya.
Pada suatu hari saya mencoba untuk melepaskan semua bebek dari
kandangnya, tentu tujuannya supaya bebek yang senior dan junior ini
dapat hidup bersama. Tetapi apa yang tejadi, bebek yang merasa sudah
senior terus mengejar dan berusaha untuk mematuk bebek-bebek yang baru
beranjak dewasa itu. Ternyata mereka tidak bisa hidup bersama, mungkin
saja bebek-bebek senior ini merasa terancam dengan keberadaan bebek
yang masih muda dan enerjik itu. Atau mungkin ada alasan lain sehingga
keberadaan bebek junior ini menjadi ancaman bagi bebek-bebek senior.

Kisah ini tidak hanya terjadi dalam dunia hewan, tetapi kalau kita
perhatikan hal inipun terjadi dalam kehidupan umat manusia. Seseorang
yang merasa dirinya sudah eksis di suatu tempat, atau sukses dalam
menduduki jabatan tertentu. Namun ketika dia merasa posisinya atau
tempatnya terancam dengan kehadiran orang lain, dia mulai bersikap
arogan. Dengan berbagai cara ia berusaha untuk menyingkirkan
orang-orang yang merupakan ancaman bagi dirinya. Demikian juga dengan
manusia-manusia yang berlabel rohani, kadang hanya labelnya yang
rohani, tetapi isinya tidak ubahnya seperti kisah bebek di atas.
Hidupnya tidak tenang ketika ada orang lain yang lebih dari dirinya,
merasa diri paling hebat dan keinginannya hanya untuk mengatur,
mengkritik dan melihat kesalahan orang lain, tanpa mampu untuk melihat
dirinya sendiri. Tuhan Yesus bersabda: : Barangsiapa terbesar di
antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa
meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan
diri, ia akan ditinggikan (Matius 23:11-12). By: Adrianus Pasasa
Baca Terusannya »»  

NATAL BERSELIMUT KABUT

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Merayakan Natal adalah bagian yang tak terpisahkan dari hidup orang
Kristen. Memasuki bulan Desember pernak-pernik Natal mulai menghiasi
rumah, gereja dan beberapa sudut pusat pembelanjaan di berbagai kota.
Bahkan beberapa gereja sudah mulai merayakan Natal sebelum tanggal 25
Desember yang ditetapkan sebagai hari Natal. Suatu pagi ketika saya
memeriksa SMS yang masuk ke handphone, ternyata saya mendapat undangan
untuk menghadiri perayaan Natal di suatu gereja yang ada di daerah
Jawa Barat. Saya senang mendapat undangan tersebut, saya pun
mempersiapkan diri untuk menghadiri natal yang tinggal berselang dua
hari lagi. Pada saat perayaan Natal saya datang bersama istri saya,
karena kami datang agak terlambat maka kami duduk di bangku bagian
belakang.

Acara natal malam itu tidak ubahnya seperti acara pertunjukan yang
menampilkan kemampuan anggota-anggota jemaat yang silih berganti naik
ke atas panggung. Dalam hati kecil saya bertanya, apakah ini yang
Tuhan Yesus inginkan? Ketika memasuki pertengahan acara, muncul bau
yang kurang sedap dan itu sangat menggangu. Saya berusaha mencari
sumber bau itu, oh…ternyata bau asap rokok beberapa kaum bapak yang
duduk di bagian luar gereja. Batin saya semakin bertanya,
jangan-jangan jemaat disini dibebaskan untuk merokok, padahal setau
saya denominasi gereja ini sangat "pantang" terhadap rokok. Dan apa
yang timbul di batin saya semakin terjawab ketika rangkain perayaan
natal sudah selesai, tanpa rasa canggung, hampir sebagian kaum bapak
duduk melingkar di depan gereja dengan asap rokok yang mengepul dari
mulutnya. Sungguh natal malam itu, menjadi natal yang berselimutkan
asap rokok. Firman Tuhan di dalam 1 Korintus 6:19-20, mengatakan…Atau
tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di
dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, -- dan bahwa kamu
bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah
lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!
Pertanyaannya, bagaimana jadinya kalau bait Roh Kudus ini, tiap hari
diasapi dengan asap rokok? By: Adrianus Pasasa
Baca Terusannya »»  

Sabtu, 10 November 2012

SUMPIT

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Pepatah mengatakan "ala bisa karena biasa". Suatu hari ketika
menghadiri undangan pelayanan di salah satu gereja di Tasikmalaya,
setelah kebaktian pertama selesai kami diajak untuk sarapan pagi di
lobi gereja. Pada waktu itu hamba Tuhan di gereja tersebut telah
memesan sarapan pagi yaitu mie yang tentu rasanya enak. Walaupun
makanannya enak, tetapi beberapa diantara teman-teman ketika hendak
makan mengalami kesulitan karena alat yang dipakai makan bukan sendok
tetapi sumpit. Bahkan ada di antara mereka yang pergi ke tempat
penginapan untuk makan, karena mungkin dia malu karena tidak bisa
menggunakan sumpit.

Pengalaman ini mengingatkan saya bahwa segala sesuatu ketika tidak
dibiasakan maka kita akan mengalami kesulitan atau kendala saat
menghadapi sesuatu hal. Sama halnya dengan penggunaan sumpit di atas,
ketika kita melihat orang yang sudah terbiasa menggunakan sumpit, maka
mereka sungguh menikmati makan dengan sumpit. Demikian juga dalam hal
kerohanian, jika kita membiasakan diri dalam hal-hal yang bersifat
rohani maka kita akan menikmati persekutuan yang manis dengan Tuhan.
Misalnya saat teduh, jika kita sudah terbiasa melakukan saat teduh,
maka kita akan merasa kehilangan sesuatu jika kita tidak melakukan
saat teduh. Jika kita membiasakan diri membaca Alkitab, maka rasanya
ada sesuatu yang kurang jika tidak membaca Alkitab. Jika kita
membiasakan diri untuk setia dalam beribadah, maka akan terbangun
hubungan yang harmonis dengan Tuhan. Dengan membiasakan diri terhadap
hal-hal rohani, akan mengantarkan kita mengalami keintiman dengan
Tuhan. Firman Tuhan katakan: Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari
pada-Nyalah keselamatanku. Hanya Dialah gunung batuku dan
keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah. Hanya pada Allah
saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku. Hanya
Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan
goyah. Pada Allah ada keselamatanku dan kemuliaanku; gunung batu
kekuatanku, tempat perlindunganku ialah Allah. Percayalah kepada-Nya
setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah
ialah tempat perlindungan kita. By: Adrianus Pasasa
Baca Terusannya »»  

Rabu, 31 Oktober 2012

Takut akan Tuhan

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Suatu ketika terjadi dialog santai antara seorang  anggota DPR dan seorang Ustadz.  Begini dialog mereka:

Anggota  DPR bertanya kepada pak Ustadz: Pak Ustadz, kalo DPR sama Menteri... hebatan mana? Ustadz : Hebatan bapak, Menteri gak berani perintah-perintah anggota DPR.Kalo DPR berani perintah-perintah Menteri" (si bapak  DPR nyengir seneng).Anggota  DPR: lhaa,,, kalo Saya sama Ketua KPK hebatan mana? Ustadz : hebatan bapak juga, kan ketua KPK dipilih oleh bapak, DPR tidak dipilih oleh KPK? (Si bapak DPR nyengir makin lebar).Anggota  DPR: Ini pertanyaan yang harus dijawab jujur ya pak Ustadz.... kalo DPR sama Presiden hebatan mana? Ustadz : masih hebatan bapak dong, Presiden bisa dinterpelasi bahkan diimpeach sama DPR, tapi DPR tidak bisa diapa-apain sama Presiden kan? (cengiran si bapak DPR makin lebar dan ia  puasss).Anggota  DPR: Ok  pak  Ustadz, ini pertanyaan terakhir Saya ya, kalo anggota DPR sama Nabi hebatan mana? Si Ustadz (agak lama mikirnya, akhirnya pak Ustadz  menjawab):  Ehm,,, tetap masih hebatan bapak  DPR.... kalo Nabi masih takut sama Tuhan, kalo bapak dan teman-teman bapak anggota DPR kan udah ga ada sama sekali rasa takut sama Tuhan kan pak????

          Heheheheee…. Saya pun tersenyum seperti Saudara saat ini. Kabar berita yang berserakkan  di seluruh  media massa  sampai hari ini pada intinya mengumumkan satu hal kepada publik. Seperti kata Sang Ustadz tadi. Manusia sudah tidak takut akan Tuhan. Sebenarnya ini bukan barang baru. Sifat dan kelakuan tidak takut akan Tuhan sudah setua usia manusia pertama (Adam dan Hawa) ketika mereka jatuh ke dalam dosa (Kejadian 3). Tetapi hari ini sifat dan tingkah laku ini semakin menjadi-jadi. Penampilannya makin canggih. Merajelelanya fakta korupsi hampir di semua tingkatan, semakin suburnya  terorisme, makin bergentayangannya mafia narkoba yang menghancurkan hidup jutaan orang, aborsi sebagai modus pembunuhan keji terhadap jutaan janin setiap tahun, penggundulan hutan jutaan hektar setiap tahun, dan  pencemaran lingkungan hidup setiap hari dengan bahan-bahan kimia yang mematikan makhluk hidup serta perdagangan manusia khususnya anak-anak dan kaum perempuan menjadi budak-budak kerja dan pelampiasan syahwat kaum pria,  membuktikan manusia  Indonesia  semakin tidak takut akan Tuhan. Manusia Indonesia semakin  lupa diri. Tidak menghormati otoritas tertinggi dan termulia yang menjadi  milik kepunyaan Tuhan. Dalam arena hidup sehar-hari Tuhan selalu disingkirkan. Politik, ekonomi, seks, kekuasaan, kekayaan materi, dan lain sebagainya telah berhasil melengserkan Tuhan sejati dari singgasananya. Manusia justru bangga bahkan membangga-banggakan  kenaifan dan kebebalannya ini. Ironis!   Lalu apa yang diperoleh manusia dengan semua ini?

Hai manusia Indonesia  dengarkan firman Tuhan ini. "Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman.  Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih.  Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap.  Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh.  Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar.  Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka akan kecemaran, sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka.  Sebab mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya, amin.  Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar.  Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka.  Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas:  penuh dengan rupa-rupa kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, penuh dengan dengki, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan.  Mereka adalah pengumpat, pemfitnah, pembenci Allah, kurang ajar, congkak, sombong, pandai dalam kejahatan, tidak taat kepada orang tua,  tidak berakal, tidak setia, tidak penyayang, tidak mengenal belas kasihan.  Sebab walaupun mereka mengetahui tuntutan-tuntutan hukum Allah, yaitu bahwa setiap orang yang melakukan hal-hal demikian, patut dihukum mati, mereka bukan saja melakukannya sendiri, tetapi mereka juga setuju dengan mereka yang melakukannya" (Roma 1:18-32).

            Bukan itu saja, hai manusia Indonesia!   "…  Ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah akan membawa engkau ke pengadilan!" (Pengkhotbah 11:9). "Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat" (Pengkhotbah 12:14).  Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah.  Karena ada tertulis: "Demi Aku hidup, demikianlah firman Tuhan, semua orang akan bertekuk lutut di hadapan-Ku dan semua orang akan memuliakan Allah."  Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah" (Roma 14:10b -12). Ingatlah kembali sungguh-sungguh hai manusia Indonesia! Allah itu mahatahu, mahahadir, dan mahakuasa. Semuanya terbuka di depan  Dia. Firman-Nya berkata, "Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab." (Ibrani 4:13).  "Karena mata-Nya mengawasi jalan manusia, dan Ia melihat segala langkahnya." (Ayub 34:21). "Karena segala jalan orang terbuka di depan mata TUHAN, dan segala langkah orang diawasi-Nya" (Amsal 5:21). "…  mata-Nya mengawasi bangsa-bangsa. Pemberontak-pemberontak tidak dapat meninggikan diri." (Mazmur 66:7). "Tetapi mereka harus memberi pertanggungan jawab kepada Dia, yang telah siap sedia menghakimi orang yang hidup dan yang mati" (1Petrus 4:5).

          Inilah kepastian penghakiman dan penghukuman Tuhan! Suka tidak suka, mau tidak mau, sekarang atau nanti, Persidangan Ilahi akan digelar. Para  pendosa tak bisa lagi berkelit di hadapan Tuhan Sang Hakim Agung sekaligus Jaksa Agung sejati. Bola kini ada di tangan Saudara.  Pilih yang manakah? Mau menganggap sepi otoritas penghakiman dan penghukuman Tuhan ataukah  mau  kembali menghormati dan menyembah-Nya?  Keputusan ada di tangan Saudara saat ini. Ketahuilah Saudara, "Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!  Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah."(Yeremia 17:7-8).  "Yesus berdiri dan berseru: "Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!  Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup."(Yohanes 7:37-38).   "Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan." (Kisah Para Rasul 4:12). "Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku." (Yohanes 14:6). "Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.  Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.  Karena Kitab Suci berkata: "Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan."(Roma 10:9-11).  Tuhan Yesus memberkati Saudara yang telah mengambil keputusan benar dan tepat. Amin!

Kota Kembang di Hari Reformasi, Rabu, 30 Oktober 2012: Rev. Andrias Hans.
Baca Terusannya »»  

Senin, 22 Oktober 2012

MENGHADAP PIMPINAN

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Pada saat peringatan hari kemerdekaan Indonesia, beberapa pegawai
negeri sipil di panggil ke Istana Merdeka untuk mengikuti upacara
dalam rangka memperingati HUT RI. Masih terbayang dalam pikiran saya
beberapa tahun yang lalu salah satu guru dari pedalaman Papua diundang
oleh Presiden untuk menghadiri upacara di Istana Merdeka. Kebetulan
guru tersebut adalah kakak ipar saya, dia menceritakan bagaimana
kesibukan-kesibukan yang dia alami kurang lebih satu minggu dalam
mempersiapkan keberangkatannya ke Jakarta. Mulai dari mempersiapkan
pakaian, kira-kira pakaian mana yang akan di pakai ketika bertemu
dengan Presiden nanti, dan persiapan-persiapan lainnya, intinya dia
sangat sibuk mempersiapkan keberangkatannya ke Jakarta. Apalagi acara
ini bukan acara biasa, tidak semua orang punya kesempatan untuk
bertemu dengan presiden, pemimpin nomor satu di Indonesia. Jadi
mungkin dalam pikirannya, ini kesempatan emas, kapan lagi.

Luar biasa kesibukan yang dialami ketika mau menghadap pimpinan
duniawi. Bagaimana tanggapan kita terhadap panggilan Tuhan, bagaimana
kalau menghadap raja di atas segala raja? apakah kita sesibuk ketika
mau menghadap presiden, semua disiapkan? Hal ini menjadi perenungan
bagi kita semua. Misalnya saja ketika mau mengikuti ibadah pada hari
Minggu? sejauh mana persiapan kita? Mengapa begitu banyak orang yang
lebih "nyenyak" tidur di gereja pada saat ibadah, dari pada tidur di
rumah? Kenapa lebih banyak orang pada saat beribadah hanya badannya
yang di gereja, tetapi pikirannya mengembara kemana-mana? Kenapa
ketika ibadah lebih dari dua jam, orang sudah gelisah dalam gereja?
Kenapa ketika mengikuti acara-acara yang ditawarkan dunia, sampai
berjam-jam mereka masih antusias menikmati? Apa yang salah?
Jawabannya: masalahnya pada hati, mereka tidak siap untuk berjumpa
dengan Tuhan. Berjumpa dengan manusia saja kita mempersiapkan segala
sesuatu, apalagi mau berjumpa dengan penguasa di atas segala penguasa,
pencipta alam semesta dan segala isinya, Raja di atas segala raja.
Tentu persiapannya melebihi persiapan ketika mau bertemu dengan
pemimpin duniawi. Marilah kita membiasakan diri di dalam segala
sesuatu, dalam segala aspek kehidupan kita, ketika mau menghadap Sang
pemilik segala yang ada, selalu mempersiapkan diri sebaik mungkin.
Sehingga dalam segala hal kita menyenangkan hati Tuhan, dan kitapun
akan mengalami jamahan Tuhan dalam segala aspek kehidupan kita. Tidak
percaya! Buktikan sendiri. By: Adrianus Pasasa
Baca Terusannya »»  

MASA PERSIAPAN

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Sebelum Yesus terjun kepelayanan, Ia dibawa oleh Roh ke padang gurun
untuk diuji, apakah sudah siap untuk terjun ke dunia pelayanan. Di
padang gurun Yesus diperhadapkan pada berbagai ujian dan pencobaan,
tetapi apa yang terjadi, Alkitab mencatat bahwa semua ujian mampu di
lalui oleh Yesus. Demikian juga halnya dengan kita yang mau terjun ke
dalam ladang pelayanan, dimanapun kita akan melayani, dan apapun
pelayanan yang akan kita lakukan, semua membutuhkan masa persiapan. Di
masa-masa persiapan itulah kita akan diuji, seberapa besar kesiapan
kita untuk masuk ke ladang pelayanan.
Di tengah-tengah persiapan itulah seringkali pencobaan akan datang
bertubi-tubi untuk menguji kesiapan kita. Melalui pencobaan itu akan
diuji, kesungguhan hati kita, motivasi pelayanan kita, jangan-jangan
pelayanan yang akan kita lakukan hanya berdasarkan keinginan daging
kita semata. Di dalam pencobaan terdapat unsur ujian, pencobaan tanpa
unsur ujian hanyalah keinginan belaka. Pada masa persiapan itulah
firman Tuhan akan mengajarkan kepada kita supaya belajar untuk
mematikan segala sesuatu yang duniawi. Jika keinginan duniawi datang
kita belajar untuk mengatakan tidak ikut. Ketika kita belajar berkata
tidak pada keinginan duniawi, maka keinginan duniawi akan semakin
lemah dan akhirnya mati. Sebaliknya jika kita mengikuti maunya
keinginan duniawi, maka kita akan semakin kecil dan keinginan semakin
besar. Keinginan duniawi akan menghipnotis sehingga bobot rohani kita
jadi hilang, dan akhirnya kita seperti orang mati yang tidak dapat
memberi respon. Kita menurut apa yang dunia katakan.
Seorang pelayan akan sering bertemu dengan keinginan duniawi di ladang
pelayanan, maka orang yang siap terjun dalam pelayanan adalah orang
yang mampu mematikan keinginan duniawi dalam dirinya. Firman Tuhan
katakan: "Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan
keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging -- karena keduanya
bertentangan -- sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang
kamu kehendaki. Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang
duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga
keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu
mendatangkan murka Allah. Tanpa mematikan keinginan duniawi, niscaya
pelayanan yang kita lakukan akan mendatangkan kemuliaan bagi Tuhan.
By: Adrianus Pasasa
Baca Terusannya »»  

Jumat, 19 Oktober 2012

ASIKNYA WL MENIKMATI PUJIAN

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Dalam suatu ibadah pemimpin pujian mengajak jemaat berdiri untuk
menyanyikan sebuah pujian guna menyambut firman Tuhan. Ketika pujian
sedang berlangsung, mungkin karena syairnya menyentuh hati, sehingga
pemimpin pujian luar biasa menikmati sendiri pujian yang dibawakan,
tetapi jemaat pada membisu. Melihat kejadian itu, saya jadi ingat
waktu mengajar mata kuliah liturgika, di mana saya menekankan kepada
mahasiswa bahwa tugas seorang pemimpin pujian adalah membawa jemaat
masuk ke dalam hadirat Tuhan untuk menikmati persekutuan dengan Tuhan.
Jika hanya pemimpin pujian yang menikmati, berarti dia gagal membawa
jemaat untuk berjumpa dengan Tuhan.

Di satu sisi, memang tidak semua orang bisa menjadi pemimpin pujian,
tetapi satu hal yang menjadi tugas dan tanggung jawab semua orang
percaya adalah bersaksi. Hal ini adalah kewajiban setiap orang yang
mengaku murid Yesus. Bersaksi berarti membagikan kepada orang lain
keselamatan yang telah kita peroleh di dalam Yesus Kristus.
Keselamatan yang kita peroleh tidak boleh kita nikmati sendiri.
Seperti pemimpin pujian di atas, jika dia hanya menikmati sendiri,
berarti dia gagal membawa jemaat mengalami perjumpaan dengan Yesus.
Demikian juga halnya, jika keselamatan yang telah kita peroleh kita
nikmati sendiri, berarti kita telah gagal menjalankan Amanat Agung
TuhanYesus untuk menjadikan semua bangsa murid-Nya. "Yesus mendekati
mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga
dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan
baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah
mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan
ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."
By: Adrianus Pasasa
Baca Terusannya »»  

Kamis, 11 Oktober 2012

ROYALTI

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Beberapa hari yang lalu, menjelang siang beberapa rekan dosen dan satu
teman dari penerbit buku di kota Bandung begitu serius
memperbincangkan sesuatu. Disela-sela perbincangan itu teman dari
penerbit buku tidak menyia-nyiakan waktu untuk menawarkan kerjasama
kepada pihak dosen yang mampir di salah satu saung di kampus STT.
Setiap dosen ditawarkan untuk menulis buku, jika buku dapat
diterbitkan oleh mereka maka sang dosen akan memperoleh beberapa
keungtungan. Salah satu keuntungan adalah mendapat point dan masih
banyak keuntungan lainnya, misalnya buku tersebut bisa di jual ke
pasar, maka sang dosen akan mendapatkan royalty.

Mendengar kata royalty, tiba-tiba terbersit dalam hati saya,
seandainya Yesus meminta Royalti atas semua perkataan-Nya yang dikutip
oleh setiap penulis dalam bukunya. Wow, bisa terbayang berapa royalty
yang akan diperoleh Yesus! Fantastic. Memang Yesus tiada duanya, Dia
memberikan semua secara Cuma-Cuma, bahkan nyawa-Nya pun Ia berikan
untuk menebus dosa umat manusia yang dikasihi-Nya, termasuk saudara
yang sedang membaca tulisan ini. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia
telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di
kayu salib. Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di
kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk
kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh. Untuk semua
pengorbanan yang telah dia lakukan Dia tidak pernah meminta royalty
kepada kita, dia hanya meminta supaya kita mengasihi dia dengan
segenap hati, percaya dan melakukan firman-Nya, "Kasihilah Tuhan,
Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan
segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu". By: Adrianus
Pasasa
Baca Terusannya »»  

Rabu, 10 Oktober 2012

POHON BESAR DAN POHON KECIL

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Dilahirkan di pedesaan, menempuh pendidikan di perkotaan dan kembali
melayani di pedesaan, bagi saya itu adalah suatu anugerah. Bagi
sebagian orang, hidup di pedesaan adalah identik dengan
ketertinggalan, tetapi tidak selamanya anggapan itu benar. Banyak sisi
lain yang membuat hidup di pedesaan menjadi menyenangkan. Bagi saya
pribadi menyaksikan pohon-pohon besar bergerak mengikuti tiupan angin,
mendengar kicauan burung di pagi hari dan mendengar suara jangkrik dan
burung hantu di malam hari, menyaksikan petani menggarap dan menanami
sawahnya, menyaksikan ibu-ibu yang memanen padi yang sudah menguning
adalah sesuatu yang menyenangkan.
Beberapa waktu lalu saya mengamati dan memperhatikan serta
membandingkan kemampuan bertumbuh pohon yang besar dan kecil yang
tumbuh di pekarangan rumah kami. Dari hasil pengamatan, saya melihat
pohon yang besar dalam kondisi musim kemarau tetap menunjukkan
pertumbuhan yang baik, daunnya tetap hijau, seakan-akan musim kemarau
tidak berpengaruh bagi pertumbuhannya. Sebaliknya saya memperhatikan
pohon-pohon yang kecil ketika beberapa lama musim kemarau
pertumbuhannya mengalami perubahan, daunnya mulai menjadi kuning,
daunnya berguguran, dan akhirnya pohonnya menjadi kering. Kenapa
terdapat perbedaan daya tahan hidup antara pohon besar dan pohon
kecil? Di mana letak perbedaannya? Ternyata terletak pada akar.
Ketika saya melihat, ternyata akar pohon besar masuk menembus
kedalaman tanah, jadi tidak cepat mati karena semakin dalam ia masuk,
maka semakin banyak ia menemukan sumber air. Sedangkan akar pohon
kecil dangkal, hanya mencari makanan di bagian permukaan tanah,
akibatnya cepat mati karena ketika musim kemarau bagian atas tanah
menjadi kering dan tidak ada sumber air.

Hidup kita pun ibarat pohon, apakah hidup kita seperti pohon besar
yang tetap tumbuh dan tetap eksis di masa yang sulit, atau hidup kita
seperti pohon kecil yang layu, kering dan akhirnya mati karena kondisi
yang sulit. Semua itu tergantung pada diri kita, bagaimana supaya
tetap bertahan di masa yang sulit, kita dapat belajar dari pohon yang
besar, dia tetap hidup di musim kemarau karena ia semakin dalam
mencari sumber kehidupan yaitu air. Pertanyaannya siapa sumber
kehidupan yang kita cari supaya tetap hidup? Sumber kehidupan
satu-satunya adalah Yesus Kristus. Supaya Dia memberi hidup, kita
tidak hanya sekedar mengenal Dia, tetapi semakin dalam kita mencari
dan mengenal Dia, maka kita akan semakin bayak memperoleh kekuatan
baru dan itulah yang akan memampukan kita untuk tetap bertahan
sekalipun dalam kondisi tersulit. Semakin dalam kita menggali
firman-Nya, maka semakin banyak makanan rohani yang kita dapatkan,
semakin dalam kita bersekutu dengan Dia, maka kita akan semakin pasrah
dan semakin menaruh pengharapan kepada-Nya. Orang yang memiliki
kesukaan pada firman-Nya dan merenungkan firman-Nya siang dan malam,
ia akan seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang
menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa
saja yang diperbuatnya berhasil (Mazmur 1:1-4). Semakin dalam kita
menggali firman-Nya, maka kita akan semakin mengenal Sang sumber
kehidupan itu, karena dari Dia-lah segala sumber kehidupan. Orang yang
telah menerima sumber kehidupan, Ia akan seperti pohon yang ditanam di
tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang
tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang
tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan
buah (Yeremia 17:8). Orang yang sudah hidup di dalam Yesus Kristus,
dalam kondisi apapun, dia akan tetap menghasilkan buah. By: Adrianus
Pasasa
Baca Terusannya »»  

Jumat, 05 Oktober 2012

JALAN DITEMPAT ATAU MERAMBAT

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Suatu waktu kami mendapat telpon dari bapak rohani kami, beliau
berkunjung ke daerah kami, hanya saja pada waktu itu kami berkunjung
ke kota Cimahi karena ada keperluan. Setelah selesai urusan di Cimahi
kami kembali ke rumah, ternyata bapak rohani kami belum pulang, jadi
masih sempat bertemu di salah satu rumah orang tua jemaat mereka. Di
rumah itu mereka juga menanam markisa, saya jadi teringat dengan
markisa yang ada di rumah kami, hanya bedanya markisa yang ada di
rumah kami belum begitu jauh menjalar, sedangkan markisa yang ada di
rumah itu, sudah menjalar ke mana-mana. Pemilik markisa itu bertutur,
kalau markisa semakin merambat jauh, bahkan dari pohon yang satu ke
pohon yang lain, semakin jauh dia merambat, maka akan semakin bayak
buah yang dihasilkan.

Tuhan Yesus memberikan amanat agung kepada setiap kita orang percaya
untuk menjadikan semua bangsa murid-Nya. Tuhan tidak hanya
mengharapkan orang percaya tumbuh di tempat, tetapi bagaimana
kerajaan-Nya "dilebarkan" semakin banyak orang yang datang dan percaya
kepada Yesus dan menjadikan Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat
pribadi-Nya. Gereja harus "menjalar" tidak hanya bertumbuh di tempat
seakan sedang membangun kerajaannya sendiri. Gereja yang bertumbuh
adalah gereja yang ber-misi untuk semakin menjalar membawa orang-orang
yang masih hidup di dalam kegelapan untuk di bawah kepada terang yang
sesungguhnya yaitu Yesus Kristus. Semakin banyak gereja yang
"merambat" maka akan semakin luas kerajaan-Nya, dan akan semakin
banyak buah-buah pertobatan yang dihasilkan. Gereja yang tidak
"merambat" adalah gereja yang sedang menuju kepada "kematian". By:
Adrianus Pasasa
Baca Terusannya »»  

Doa Yang Penuh Keyakinan

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Seorang pemuda yang bernama Alo acapkali tidak mau datang ke persekutuan pemuda bila ia dijadwalkan untuk berdoa. Karena itu pengurus komisi pemuda mengatur strategi supaya si Alo mau berdoa. Akhirnya dalam suatu kebaktian ia tiba-tiba diminta berdoa sebelum menikmati makanan yang telah disediakan tuan rumah. Alo tidak bisa mengelak. Dengan menyembunyikan rasa gugupnya, ia langsung mengajak semua yang hadir untuk berdoa. Lalu Alo berdoa begini, "Bapa kami yang di surga." Lama terhenti, kemudian ia mengulangi doanya lagi. "Bapa kami yang di surga…. Bapa kami yang di surga." Tiba-tiba ia melanjutkan doanya dengan nada suara yang meninggi, "….. yang begini-begini yang saya tidak suka, main tunjuk-tunjuk langsung berdoa…." Suasana saat itu menjadi gempar tak karuan. Semua anak muda langsung tertawa terbahak-bahak. Dan Alo hilang entah ke mana sore itu.
Saudara, ada banyak cerita lucu yang saya dengar tentang orang-orang Kristen yang sulit berdoa. Memang banyak orang Kristen memiliki persepsi masing-masing tentang doa. Ada yang takut berdoa karena malu dinilai orang. Sungkan kalau doanya kurang bagus kata-katanya. Ada yang merasa tidak layak berdoa karena menganggap masih banyak dosa di hadapan Tuhan. Dan macam-macam alasan lainnya. Dalam dunia kekristenan memang ada banyak pertanyaan tentang doa. Itu sangat menarik untuk didiskusikan. Misalnya, apakah doa mengubah segala sesuatu? Atau, apakah doa mengubah orang? Apakah Allah mengubah pikiran-Nya sebagai akibat doa yang dipanjatkan dalam iman? Apakah kita menggerakkan Allah ataukah Allah yang menggerakkan kita untuk berdoa? Siapakah yang boleh berdoa? Bagaimana seseorang seharusnya berdoa?  Saya yakin ada banyak jawaban-jawaban yang berbeda-beda bahkan kadang bertentangan.
Saat ini saya tidak hendak mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan menarik tersebut. Namun Saya ingin supaya kita memberikan perhatian pada satu hal tentang doa yakni berdoa dalam keyakinan. Tidak sedikit ayat firman Tuhan yang menegaskan tentang keyakinan doa. Saya rindu sebagai anak-anak-Nya, kita perlu berdoa dalam keyakinan. Tuhan senang bila kita berdoa dengan penuh keyakinan. Tentu bukan kita memaksa Allah supaya Dia harus menjawab doa-doa kita. Tetapi doa harus kita naikkan dalam keyakinan sebagaimana yang dikatakan Tuhan Yesus dalam Markus 11:24, "Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu."
Rasul Yakobus mengatakan bahwa doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya (Yakobus 5:16b). Kita adalah orang-orang yang telah dibenarkan dalam anugerah Tuhan Yesus Kristus. Bukan karena perbuatan baik kita. Semata-mata hanya karena pengorbanan Yesus di kayu salib dengan darah-Nya yang tertumpah kita menjadi orang-orang yang dibenarkan (Roma 5:9, 1Korintus 6:20). Karena itu sebagai orang yang sudah dibenarkan, mari kita berdoa dengan penuh keyakinan bahwa doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya (Yakobus 5:16b). Dalam Matius 7:7-11, Tuhan Yesus berkata, "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.  Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.  Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti,  atau memberi ular, jika ia meminta ikan?  Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya."
Saudaraku, mari kita belajar dari keyakinan dan keberanian Martin Luther dalam doanya yang ia panjatkan suatu waktu di tahun 1540. Saat itu sobat baik sekaligus asisten Martin Luther  yang bernama Frederick Myconius jatuh sakit. Dan diperkirakan dia akan segera meninggal dunia. Di saat-saat sangat parah Ferederick menulis sebuah catatan perpisahan kepada Luther. Setelah Luther membacanya, ia segera mengirim surat balik kepada Frederick. Isinya demikian, "Saya menasihatkan kamu dalam nama Allah untuk hidup karena aku masih membutuhkan kamu dalam pekerjaan mereformasi gereja …. Tuhan tidak akan pernah membiarkan aku mendengar bahwa kamu meninggal, tetapi akan mengizinkan kamu untuk hidup lebih lama daripada aku. Untuk hal ini aku berdoa, inilah kehendakku, dan biarlah kehendakku terjadi, karena aku hanya berusaha untuk memuliakan nama Allah."
Frederick Myconius meskipun dia sudah kehilangan kemampuan untuk berbicara ketika surat Luther tiba di tangannya, namun dalam waktu singkat ia sembuh total. Dan Frederick hidup enam tahun lagi dan baru meninggal dunia, dua bulan setelah kematian Luther sendiri.
Saudaraku, dalam pelayanan dan kehidupan keluarga Saya sampai hari ini, Tuhan mengizinkan banyak perkara Saya alami. Sekali waktu, anak kedua kami, Jean sepulang sekolah menyanyikan lagu-lagu rohani yang sangat indah dengan sulingnya. Saya sangat gembira mendengar tiupan sulingnya. Saya lalu mendekatinya dan bertanya, "Apakah Jean mau main saxophone?" Jean balik bertanya, "Apa itu saxophone pi?" Saya menjelaskan sepintas kepadanya tentang saxophone, kemudian ia berkata kepada Saya, "Jean mau saxophone." Saya bilang kepadanya, "Asal Jean pakai saxophone itu untuk melayani Tuhan Yesus." "Ya, aku mau melayani Tuhan dengan saxophone", Jawab Jean.  Langsung Saya mengajak Jean berdoa bersama-sama. Kami minta saxophone kepada Tuhan Yesus.  Suatu saat Saya bertanya kepada seorang teman yang ada di luar negeri tentang Saxophone bekas atau yang sudah rusak. Kalau ada Saya mau beli karena perkiraan Saya pasti harganya murah sekali. Barang rongsokan. Nanti pelan-pelan diperbaiki. Kira-kira belum sebulan sejak kami berdoa, teman Saya kirim email kepada Saya. Ia bilang  bahwa temannya datang kepadanya menawarkan saxophone yang masih bagus tetapi ia sudah tidak mau pakai. Dia mau jual saja. Akhirnya teman Saya membelinya dan memberikan kepada Jean dengan harga gratis. Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Pdt. Bob Jokiman yang penuh kemurahan hati yang digerakkan Tuhan untuk memberikan kepada Jean soprano saxophone manis berwarna merah bermerek LA. Bukan saja itu, kemudian beliau memberikan sebuah tenor saxophone lagi kepada Jean. Luar biasa. Wow….. air mata saya menetes haru. Betapa Tuhan menjawab doa Saya dan Jean. Saya tidak mungkin dapat membeli saxophone. Saya hamba Tuhan sederhana. Dari mana Saya dapat uang untuk membelinya? Mustahil. Ya mustahil! Bagi Saya tidak mungkin terjadi. Tetapi bagi Yesus Kristus Tuhan yang Saya dan engkau layani, tidak ada yang mustahil. Banyak mujizat  Saya alami sepanjang melayani-Nya.
Namun juga tidak sedikit fitnahan dilemparkan kepada Saya oleh orang-orang yang menyebut dirinya sebagai hamba-hamba Tuhan. Ada yang mengatakan bahwa Saya memberi makan istri dan anak-anak  Saya dengan uang hasil curian dalam pelayanan kepada orang-orang miskin. Betapa sangat perih  fitnahan itu. Tetapi tak setapak pun langkah untuk Saya undur dari melayani-Nya.  Tuhan Yesus paling tahu siapa dan bagaimana Saya di hadapan-Nya. Orang-rang terheran-heran bingung bagaimana Saya yang tidak punya uang bisa keliling melayani di berbagai desa dan pedalaman di tanah air kalau bukan korupsi uang pelayanan yang diberikan oleh para donatur? Mereka tidak pernah tahu bila Saya tidak pernah membuat proposal lalu menjajakan kepada para konglomerat untuk mengemis dukungan dana. Memang tidak sedikit yang menamakan dirinya hamba Tuhan yang menjual proposal ke sana ke mari untuk bangun gereja atau tempat pelayanan ini dan itu, padahal yang dibangunnya adalah rumah pribadi.  Setelah itu masih juga mengeluh ke sana ke mari. Minta bantuan lagi. Tidak pernah puas hidupnya. Karena memang mereka bukan hamba Tuhan yang sejati. Tapi mereka sesungguhnya hamba berkat Tuhan.
Puji Tuhan Yesus!!! Mujizat sering terjadi dalam hidup kami. Itu semua membuat nama Tuhan Yesus dipermuliakan. Hari ini Tuhan begitu memberkati Jean. Ia bisa melayani dengan saxophonenya ke mana-mana bagi kemuliaan Tuhan Yesus. Saudara yang mau melihat Jean bernyanyi dan meniup saxophonenya, silakan klik youtube dan klik: Jean soprano saxophone. Doakan Jean agar makin sempurna memainkan saxophone bagi kemuliaan Tuhan Yesus. Saya yakin juga jawaban-jawaban doa sering terjadi dalam kehidupan saudara-saudaraku semua. Bagaimana dengan Saudara yang sedang membaca artikel ini? Apakah engkau sedang bergumul dengan masalah yang begitu berat tentang keluarga, ekonomi, pekerjaan, studi, pelayananmu, atau masa depanmu?  Pastikan terlebih dulu bahwa engkau sudah menjadi anak-anak Allah karena engkau telah menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadimu. Lalu, bawalah seluruh beban hidupmu sekarang juga kepada-Nya di dalam doa. Namun ingatlah, motivasi utama permohonanmu hanya untuk kemuliaan-Nya. Demi Kerajaan Allah. Bukan untuk kenikmatan pribadimu semata. Jangan minta kekayaan untuk tabungan hari tuamu dan untuk jaminan hidup tujuh turunanmu. Jangan minta kesehatan supaya dapat menikmati semua makanan lezat dan berfoya-foya. Jangan minta jabatan demi untuk popularitas  dirimu. Mintalah semuanya sesuai dengan kehendak-Nya. Mintalah semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji (Filipi 4:8).
Akhirnya, berdoalah sekarang juga dengan penuh keyakinan. Dengan demikian engkau akan mengalami apa yang dikatakan Tuhan Yesus dalam Yohanes 14:13-14, "Dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak.  Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya." "Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.  Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku." (Yohanes 15:7-8).
Tuhan Yesus Kristus Sang Penasihat Ajaib, Allah Yang Perkasa, Bapa Yang Kekal, dan raja Damai memberkatimu. Amin. Soli Deo Gloria!!! (Rev. Hans).
Baca Terusannya »»  

Berita Terkini

« »
« »
« »
Get this widget

Daftar Blog Saya

Komentar