Tulisan Jalan

Hidupku untuk mengharumkan nama-MU Jangan bersukcita ketika engkau berhasil dalam pelayanan, tetapi bersukcitalah karena namamu tercatat di Surga

Kau istimewa. Di seluruh dunia, tidak ada orang yang sepertimu. Sejak bumi diciptakan tidak ada orang lain yang sepertimu. Tidak ada orang lain yang memiliki senyummu, tidak ada yang memiliki matamu, hidungmu, rambutmu, tanganmu, suaramu. Kau istimewa. Tidak ada orang lain yang memiliki tulisan yang sama denganmu. Tidak ada orang lain yang memiliki selera akan makanan, pakaian, musik, atau seni sepertimu. Tidak ada orang lain yang memiliki cara pandang sepertimu. Sepanjang masa tidak ada orang lain yang tertawa sepertimu, tidak ada yang menangis sepertimu. Kaulah satu di antara seluruh ciptaan yang memiliki kemampuan seperti yang kau miliki. sampai selamanya, tidak akan ada orang yang akan pernah melihat, berbicara, berjalan, berpikir, atau bertindak seperti dirimu. Kau istimewa...kau langka. Tuhan telah menjadikanmu istimewa dengan satu tujuan yaitu MEMULIAKAN DIA

Cari Blog Ini

Selasa, 08 Januari 2013

SIAPAKAH SESAMAKU

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Tempat tinggal kami tepat berada di pinggir jalan dan tidak jauh dari
kampus teologi. Karena berada di pinggir jalan, maka tentu jalan di
rumah kami merupakan jalan umum yang setiap saat dilalui oleh berbagai
macam orang, dan salah satunya adalah mahasiswa-mahasiswi yang sedang
studi di sekolah teologi tersebut. Beberapa waktu lalu saya membuat
jembatan supaya mobil bisa masuk ke dalam halaman rumah kami. Ketika
saya mempersiapkan beberapa bahan yang akan digunakan seperti pasir,
semen, kerikil, besi, dan papan. Hal ini tentu membutuhkan bantuan
tenaga, saya minta tolong ke beberapa mahasiswa dari sekolah teologi
dekat rumah kami, yang juga tempat saya melayani. Ketika kami sedang
mengerjakan jembatan itu, cukup banyak orang "Kristen"/mahasiswa yang
lalu lalang di tempat kami mengerjakan jembatan. Ada yang lewat begitu
saja, ada yang betanya, pak lagi buat apa?, ada juga yang singgah
untuk melihat-lihat, namun tidak satupun yang bertanya apa yang bisa
kami bantu alias tidak ada yang tergerak hatinya untuk membantu.

Saya jadi teringat akan kisah orang Samaria yang baik hati yang
ditulis di dalam Injil Lukas 10:25-38. Pada suatu kali berdirilah
seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: "Guru, apa yang
harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Jawab Yesus
kepadanya: "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di
sana?" Jawab orang itu: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap
hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan
dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti
dirimu sendiri." Kata Yesus kepadanya: "Jawabmu itu benar; perbuatlah
demikian, maka engkau akan hidup." Tetapi untuk membenarkan dirinya
orang itu berkata kepada Yesus: "Dan siapakah sesamaku manusia?" Jawab
Yesus: "Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh
ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan,
tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya
setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia
melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian
juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu,
ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria, yang
sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang
itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu
membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan
anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya
sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan
harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu,
katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan
menggantinya, waktu aku kembali. Siapakah di antara ketiga orang ini,
menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke
tangan penyamun itu?" Jawab orang itu: "Orang yang telah menunjukkan
belas kasihan kepadanya." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, dan
perbuatlah demikian!"

Bagaimana jadinya kalau orang percaya/seorang hamba Tuhan tidak
memiliki kepekaan dengan lingkungannya? Marilah kita belajar dari
orang Samaria, yang "tidak dianggap", tetapi memiliki hati hamba, yang
peduli dengan lingkungannya. Dari pada berlabel orang "Kristen"/hamba
Tuhan, tetapi hanya labelnya saja, bukti nyatanya tidak ada. By:
Adrianus Pasasa

1 komentar:

A4L - PAS mengatakan...

ok... tq bapak GB
bapak natta mau bilang justru di tengah-tengah, di dalam, dan di
antara orang orang Kristen yang berlabel Kristen banyak yang tidak
hidup sebagai orang Kristen!!
lupa bahwa Dia sebagai orang Kristen, ya mari kita hidupi Injil itu
dalam diri kita sendiri, bkan hanya kita bisa khotbahkan dan ceritakan
kepada orang lain tetapi hidup kita sendri tidak hidup didalamNya.

Berita Terkini

« »
« »
« »
Get this widget

Daftar Blog Saya

Komentar