Tulisan Jalan

Hidupku untuk mengharumkan nama-MU Jangan bersukcita ketika engkau berhasil dalam pelayanan, tetapi bersukcitalah karena namamu tercatat di Surga

Kau istimewa. Di seluruh dunia, tidak ada orang yang sepertimu. Sejak bumi diciptakan tidak ada orang lain yang sepertimu. Tidak ada orang lain yang memiliki senyummu, tidak ada yang memiliki matamu, hidungmu, rambutmu, tanganmu, suaramu. Kau istimewa. Tidak ada orang lain yang memiliki tulisan yang sama denganmu. Tidak ada orang lain yang memiliki selera akan makanan, pakaian, musik, atau seni sepertimu. Tidak ada orang lain yang memiliki cara pandang sepertimu. Sepanjang masa tidak ada orang lain yang tertawa sepertimu, tidak ada yang menangis sepertimu. Kaulah satu di antara seluruh ciptaan yang memiliki kemampuan seperti yang kau miliki. sampai selamanya, tidak akan ada orang yang akan pernah melihat, berbicara, berjalan, berpikir, atau bertindak seperti dirimu. Kau istimewa...kau langka. Tuhan telah menjadikanmu istimewa dengan satu tujuan yaitu MEMULIAKAN DIA

Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Perenungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perenungan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Februari 2013

Mujizat itu nyata!

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***


MUJIZAT ITU NYATA!!!
Ada sebuah lagu rohani yang cukup sering dinyanyikan jemaat Tuhan. Di persekutuan-persekutuan atau dalam kebaktian-kebaktian Minggu, lagu ini cukup dikenal. Banyak orang yang menyukainya. Sebagian liriknya begini, "Jangan lelah bekerja di ladang-Nya Tuhan…" Lagu ini iramanya cukup enak didengar. Namun agak sedikit mengganjal di hati. Namanya orang bekerja pasti lelah dong. Dan hal yang mustahil, kata teman saya orang Arab, melarang orang supaya tidak lelah tatkala ia sedang bekerja. Lelah dalam bekerja itu alamiah bin lumrah bin lazim. Kecuali sang koruptor si benalu parasit masyarakat  yang sanggup meraup duit rakyat  puluhan sampai ratusan miliar rupiah dengan bermodalkan jabatannya. Mereka hanya main angkat telepon kapan saja dan di mana saja meminta "apel Malang" atau "apel Washington" kepada kacung-kacung mereka yang merajalela di perusahaan-perusahaan milik para bos besar dan ketua besar. Tanpa bekerja keras bak seorang petani yang mencangkul ladangnya demi mencari sesuap nasi buat anak-anak dan istrinya, atau seperti si tukang becak yang mendayung becaknya hingga mandi keringat dan mengucur peluh di sekujur tubuhnya bak derasnya hujan turun dari langit.

Bekerja sebagai pekerja di dunia sekuler sama bekerja di dunia rohani. Bahasa kerennya, melayani di ladang Tuhan. Bukan saja lelah bahkan boleh jadi penat-nat sehingga mau minta mati saja. Kalau gak percaya coba lihat nabi Yunus. Dia pernah berkata, "Jadi sekarang, ya TUHAN, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati dari pada hidup." (Yunus 4:3). Yunus marah besar dan sangat kesal atas kebaikan Tuhan yang mengampuni orang-orang jahat di Niniwe. Maunya Yunus  sih mereka dibumihanguskan saja. Gitu aja koq repot diampuni?  Lebay Tuhan! Perhatikan juga nabi sekaliber Elia yang pernah meluluhlantakkan empat ratus lima puluh nabi Baal dan empat ratus nabi Asyera (1Raja-Raja 18:19) hanya dengan sebilah pedangnya, tetapi bisa sangat penat batinnya ketika dikejar hanya oleh seorang budak dari si nyonya Izebel yang amat menyebelken itu (1Raja-Raja 19:2-3) . Dalam 1Raja-Raja 19: 4 dijelaskan, "Tetapi ia (Elia) sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: "Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku."  Yesus sendiri tertidur pulas di perahu karena kecapean melayani bahkan Ia pernah mengalami rasa ketir yang begitu menakutkan ketika Ia bergumul di taman Getsemani. Karena tidak lama lagi Ia akan menanggung akibat dosa umat manusia. Saking beratnya beban dosa yang akan dipikul-Nya, Ia berkata, "Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi."  Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya.  Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah." (Lukas 22:42-44).

Jadi, tidak heran banyak rohaniwan saat ini yang akhirnya banting setir dan putar kemudi karena tak tahan dengan kelelahan dan kepenatan hati melayani umat yang juga sedang lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Berbicara tentang kelelahan dan kepenatan sebagai rohaniwan tentu bisa diinventarisir jenisnya yang amat beragam itu. Sebagai rohaniwan yang sering mengunjungi jemaat di desa-desa dan pedalaman Indonesia, saya banyak melihat tidak sedikit para hamba Tuhan yang mengalami kesulitan makan dan minum apalagi untuk menyekolahkan anak-anaknya. Bukan cuma di desa. Di kota juga tidak sedikit hamba Tuhan mengalami hal yang sama bahkan lebih berat. Ada yang nampak tapi juga ada yang tidak kelihatan betapa beratnya perjuangan hidup mereka. Bagi hamba Tuhan yang punya banyak relasi dan punya kemauan dan kemampuan yang kuat serta strategi jitu-tu, tentu tidak terlalu bermasalah tatkala kesulitan mendekat pada mereka. Hanya dengan mengangkat telpon atau ber-SMS ria dengan jemaat yang berpunya, maka selesailah masalah mereka. Apalagi bila dibumbu-bumbui dengan ayat-ayat firman Tuhan, "Hati-hati jangan sampai belalang pelahap melahap abis usahamu kalau tidak memedulikan kehidupan hamba Tuhan!" Ceileh….. Jemaat mendengar ocehan pak pendeta dengan bumbu firman Tuhan menjadi  gemetar dan gemetir,  sedang bibir pak pendeta sendiri mengembang senyum manis.  Saya pernah diceritakan seorang teman mengenai seorang pendeta. Teman saya ini, pas kakaknya sedang dirawat di ruang perawatan intensif di sebuah rumah sakit karena penyakit jantung. Sang pendeta datang mendoakan kakaknya yang sangat lemah tubuhnya setelah sadar dari koma selama beberapa hari. Anda tahu apa yang dibicarakan sang pendeta itu? Ia memberikan dorongan semangatkah? Anda keliru. Ia justru meminta bagian uang perpuluhan kepada jemaatnya karena ia tahu si sakit belum lama menjual tanahnya dengan nilai satu koma dua miliar rupiah. Lalu tidak berhenti di situ, sang pendeta juga meminta sepuluh persen untuk mendukung misi gereja. Alasannnya, hamba Tuhan dan gereja hidup dari persembahan jemaat. Lengkaplah sudah penderitaan si sakit. Beberapa hari kemudian si sakit akhirnya meninggalkan dunia untuk selama-lamanya. Jangan-jangan percepatan kematian si sakit karena ia stress memikirkan permintaan pendetanya itu. Peristiwa ini sangat amat memilukan dan memalukan korps para pendeta. Ini namanya pendeta debt collector-tor-tor-tor…….

Tetapi ada juga hamba Tuhan yang sama sekali tidak pandai memanfaatkan jemaat atau sahabat-sahabat mereka untuk mencari solusi keuangan yang sedang digumulinya. Saya adalah seorang yang sedang dan terus mau belajar  untuk hal ini. Beberapa teman dan keluarga  yang punya uang  segudang, pernah mengatakan, "Andaikata  Anda ada kesulitan atau kebutuhan sesuatu tolong jangan sungkan beritahukan ya", demikian tawaran mereka kepada Saya. Tetapi Saya dan istri belajar untuk tidak "memanfaatkan" tawaran menggiurkan itu. Karena prinsip kami, bekerja di ladang Tuhan hanya mengandalkan-Nya saja. Paling sering istri Saya kalau sangat mendesak ia mengambil jurus "Menyelesaikan masalah tanpa masalah." Dan kadang harus menerima kenyataan barang-barangnya dilelang.  Bila persoalannya cukup berat kami datang  bersujud kepada-Nya di dalam doa dan puasa. Bukankah firman Tuhan dalam Yeremia 17:7-8 telah dengan jelas memperingatkan kita semua, ada upah bagi yang mengandalkan dan mengharapkan-Nya?  Sebaliknya, ada ancaman bagi mereka yang mencoba-coba mengandalkan manusia? Kalau tak percaya, silakan saja baca Yeremia 17:5-6.  Jangan pernah memanfaatkan "domba-domba" apalagi memeras "susu" mereka dengan alasan pelayanan. Apalagi membawa-bawa nama Tuhan. Demi kemuliaan Tuhan segala.

Pada kesempatan ini, tanpa bermaksud apa-apa, sungguh, izinkan saya membagikan kesaksian buat para hamba dan jemaat Tuhan yang tidak pandai mengandalkan sesamanya dan karena itu mereka berada  dalam kelelahan dan kepenatan. Kemarin setelah ibadah dan Perjamuan Kudus, Minggu, 4 Maret 2012, saya langsung pulang ke rumah. Karena kelelahan fisik dan kepenatan psikis karena berbagai pergumulan, terutama kondisi keuangan kami, saya beristirahat siang di tempat tidur. Sudah cukup lama, kami, khususnya saya, bergumul dengan masalah keuangan untuk studi ketiga anak kami. Satu di perguruan tinggi dan dua lainnya di SMP dan SD. Minggu sore sekitar jam dinding  di rumah kami menunjukkan pukul setengah tiga Waktu Indonesia Barat (WIB) saya terbangun dan langsung berdoa di hadapan Tuhan Yesus Kristus. Doa saya sangat sederhana. Intinya saya menyampaikan permohonan kepada Tuhan Yesus Kristus tentang kebutuhan uang untuk berbagai kebutuhan kami sekeluarga. Kami tidak memberitahukan kepada siapapun akan kebutuhan ini. Apalagi meminta kepada orang-orang dekat kami. Tidak lama waktunya saya berdoa sore itu. Berselang beberapa waktu kemudian, tepatnya jam 1607 WIB telepon genggam saya berdering. Sebuah SMS masuk dari seorang hamba Tuhan senior yang sudah emeritus. Saya sangat jarang bertemu apalagi berdiskusi dengannya. Meskipun pertemanan kami cukup baik, saya tidak pernah mengemukakan permohonan bantuan dana apapun. Bunyi SMS-nya, "Pak Hans, ada account number bank BCA? Tq GBU." Mendadak sontak saya kaget. Lalu seketika itu juga saya balas SMS-nya, "Ada apa gerangan dengan Saya pak?" Lalu kira-kira sejam kemudian, pasnya jam 1713 WIB SMS beliau masuk lagi. Bunyinya, "O… begini, tadi saya bangun tidur ada satu gerakan hati saya untuk memberi dukungan dana tidak besar, tapi ya seperti Tuhan ingin saya support anak-anak  bapak tiap bulan xxxxx rupiah dari Januari – Desember tahun 2012. Nanti yang bulan Januari dan Pebruari saya rapelkan bersama dengan bulan Maret ini. Semoga menjadi berkat untuk bapak sekeluarga. Tq GBU."

Peristiwa ini benar-benar  mujizat. Tuhan Yesus mendengar dan langsung seketika itu juga menjawab permohonan Saya. Ini sangat mengharukan hati kami sekeluarga. Waktu Saya berdoa sore itu berbarengan dengan Tuhan menggerakkan hati hamba Tuhan senior itu. Saya berdoa pas baru bangun tidur, ia pun baru bangun tidur ketika merasakan suatu gerakan hati yang tak bisa dibendungnya  untuk mendukung dana studi anak-anak Saya. Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan Yesus saja! Kami berdua dikuasai rasa haru yang dalam sehingga air mata kami jatuh berderai. kami berpelukan sambil menangis. Tuhan Yesus menyentuh hati kami yang paling dalam. Seakan Dia membelai kami berdua sambil berkata, "Anakku Aku tahu kesulitanmu. Aku tahu segala yang kamu perlukan. Ini Aku. jangan bersedih hati. Aku besertamu. Akulah penolongmu yang setia. Aku sekali-kali tidak akan membiarkan dan meninggalkan kalian."  Sungguh ajaib Tuhan Yesus. Damai sejahtera memenuhi hati dan pikiran Saya dan Ima, istriku yang setia berjuang menemaniku selama ini. Ia menjawab kami tepat waktu. Yang mengharukan lagi, Tuhan memakai seorang hamba Tuhan sederhana yang sudah pensiun tanpa gaji lagi untuk meringankan beban anak-anak kami. Itulah kebesaran kuasa dan kasih-Nya yang tak terduga. Kami mengalami mujizat lagi. Kami hidup dari hari ke hari dengan mujizat demi mujizat. Ini bukti nyata yang tidak terbantahkan akan janji Tuhan ketika Saya meninggalkan tawaran bekerja di sebuah bank swasta pada tahun 1995 demi menyerahkan diri sebagai hamba Tuhan dibentuk di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang, Jawa Timur. Waktu itu Saya sangat berat untuk menyerahkan diri menjadi hamba-Nya. Saya begitu kuatir hidup sebagai hamba Tuhan yang kebanyakan hidup sederhana bahkan sangat sederhana. Tetapi dalam pergumulan yang berat itulah, Tuhan berfirman kepada Saya, "Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung.  Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus." (2Petrus 1:10-11). Firman Tuhan inilah yang menghantarkan Saya memasuki gerbang Seminari Alkitab Asia Tenggara, dibentuk menjadi hamba-Nya. Dan sampai hari ini Saya masih terus dalam pemrosesan tangan-Nya yang tak berkesudahan. Kami sekeluarga mengimani dan mengamini firman Tuhan yang berkata, "Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau." Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata: "Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?" (Ibrani 13:5).

Tetapi saya tetap berkeyakinan kokoh, mujizat terbesar dalam hidup Saya yaitu ketika Yesus Kristus yang adalah Tuhan dan Juruselamat satu-satunya itu, mau mati untuk Saya justru pada waktu Saya lemah, durhaka, penuh dosa, dan berseteru dengan-Nya sehingga saya memiliki jaminan kepastian keselamatan hidup yang kekal (Roma 5:6-11).

Para sobat sekalian. Mungkin saat ini engkau sedang mengalami pergumulan yang sangat berat. Terlalu kuat menindih hidupmu. Air matamu tak pernah berhenti berderai. Mungkin engkau sedang bahkan sudah kehilangan akal menghadapi persoalan itu. Ingatlah, boleh jadi ketika kita menghadapi masalah berat kita kehilangan akal, tetapi kita tak akan pernah kehilangan iman kepada Yesus. Marilah saat ini juga engkau dan Saya belajar sungguh-sungguh apa arti mengandalkan Yesus dalam seluruh perjuangan kita mengiringi-Nya untuk menyenangkan-Nya di dunia yang sementara ini.  Pertolongan-Nya tidak pernah terlalu cepat dan terlalu terlambat buat engkau. Ingatlah, janganlah hati kita melekat pada dunia ini. Dengarkan sabda-Nya yang penuh wibawa, " Dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya." (1Yohanes 2;17).

Jawaban Tuhan Yesus terhadap doa permohonanmu sedang dijawab Tuhan. Berdoalah terus, mendekatlah kepada Dia, dan taatilah segala kehendak-Nya. Yesus berkata saat ini kepadamu juga kepadaku, "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan." (Matius 11:28-30). "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.  Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari." (Matius 6:33-34). Teruslah memenangkan sebanyak mungkin orang kepada Dia dan berjuanglah dengan semangat yang membara bagi kemuliaan Yesus Kristus Tuhan dan Juruselamat kita.

Segala puji hormat dan sembah Saya panjatkan hanya bagi-Mu Yesus Tuhan dan Juruselamatku. Amin! (Kota Kembang, Selasa, 6 Maret 2012. Rev. Hans).
Baca Terusannya »»  

Kamis, 14 Februari 2013

Ah Andaikan Saja ….

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Ah andaikan Saja ….

            Minggu itu bertepatan dengan perayaan Imlek 2564, 10 Pebruari 2013 Saya cukup merasakan kelelahan. Ya, lelah setelah berkhotbah di gereja yang Saya gembalakan. Mungkin juga karena malamnya telat tidur ketika harus merampungkan khotbah Saya. Ketika tiba di rumah, Saya berganti pakaian dan langsung terjun ke pulau kapuk membaringkan diri. Sebelum tertidur Saya mendengar percakapan kecil antara istri Saya dengan Juan, anak kami yang pertama.  Yang mereka bicarakan adalah tentang tukang sepatu. Ternyata sebelum kami pulang ke rumah Minggu itu, Juan memanggil seorang bapak tukang sepatu untuk menjahit sandalnya yang rusak. Setelah sandalnya menjadi baik lagi, Juan memberikan uang sebesar Rp 50.000, sepuluh kali lipat dari yang sewajarnya. Saya kemudian bertanya kepada Juan, kenapa Juan membayar sebegitu besarnya. Uang sebesar itu bisa membeli sandal baru sebanyak dua pasang buatnya. Tanpa menduga, Juan menjawab pertanyaan Saya, "ga apa-apa pa, kasihan bapak tukang sepatu itu, masih pagi mungkin belum ada penghasilannya. Lagi pula kasihan bapak itu sudah tua masih bekerja."

Mendengar jawaban Juan seperti itu, hati Saya begitu terharu dan bercampur bangga. Tiba-tiba Saya teringat, ketika Juan masih duduk di bangku SMP beberapa tahun lampau. Dia juga pernah menyarankan pada mamanya ketika akan membeli kursi bambu supaya membayar lebih dari harga yang disebutkan Mang Jumar, si penjual kursi bambu pada waktu itu. Harga kursi bambunya Rp 25.000 tetapi Juan mengusulkan kepada mamanya agar dilebihkan menjadi Rp 50.000. Kami pun membelinya dengan harga yang disarankan Juan. Kami puas. Kami bersukacita untuk kemurahan hatinya. Itu yang kami ajarkan dan teladankan kepada Juan. Juga kepada kedua adiknya, Jean dan Joel. Karena makna hidup yang terpenting adalah, bukan berapa banyaknya yang bisa dimiliki dan ditabung melainkan berapa banyak yang dapat diberikan kepada mereka yang membutuhkan. Itulah yang Tuhan Yesus Kristus teladankan bukan? Saya juga teringat akan teladan kasih dari orang tua rohani kami, Rev. Charles Christano mantan ketua gereja Mennonite dunia. Ketika mengajak kami makan bersama, ia membawa kami ke warung yang tidak ramai pengunjung. Dengan alasan supaya pemilik warung itu juga boleh mendapatkan penghasilan yang cukup. Saya belum pernah menemukan pemimpin Kristen yang seperti ini. Sungguh "aneh bin ajaib". Tapi itulah belas kasih yang nyata yang memang seharusnya mewarnai sikap hidup setiap murid Kristus. Rasul  Paulus menuliskan dalam 2Korintus 8:9, "Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya." Demikian pula kata firman Tuhan dalam Amsal 3: 27-28, "Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya.  Janganlah engkau berkata kepada sesamamu: "Pergilah dan kembalilah, besok akan kuberi," sedangkan yang diminta ada padamu."

            Saya bersyukur belaskasihan yang Tuhan taruh di hati anak kami ini bertahan sampai hari ini. Doa Saya semoga, Juan konsisten memiliki hati yang penuh belas kasih. Tidak pelit dan tamak. Mau berbagi dengan sesama yang menderita. Murah hati dan disterilkan dari cinta uang akar segala kejahatan itu. Doa Saya biarlah Tuhan Yesus berkenan memakainya menjadi alat curahan berkat bagi seluruh rakyat Indonesia sampai akhir hayatnya kelak. Saya tahu bagi Juan, ini bukan hal mudah untuk membagi Rp 50.000 kepada bapak tukang sepatu di hari Minggu itu. Juan kuliah sambil mencari uang sendiri dengan memberikan les privat kepada beberapa anak didiknya. Betapa lelahnya Juan yang hampir setiap hari kedinginan karena hujan deras harus pergi ke rumah memberikan les pelajaran kepada anak didiknya dengan pendapatan yang tidak seberapa. Apalagi Juan sedang mengirit-irit menabung untuk suatu keperluannya, yang menurut perhitungan Saya, beberapa tahun baru bisa Juan membeli sesuatu yang dirindukannya. Tetapi mengapa ia begitu mudah menyerahkan uang yang dikumpulkannya sedikit demi sedikit itu untuk bapak tukang sepatu itu??? Belas kasih adalah jawabannya!!! Ya itu hanyalah anugerah Tuhan semata-mata yang dikaruniakan di hati anak kami ini. Hatinya telah dilumuri dengan anugerah belas kasih Kristus. Tanpa-Nya kita semua manusia tamak dan egoistis. Kita begitu mengasihani diri sendiri ketimbang mengasihi orang lain.

            Peristiwa di hari Minggu itu membuat Saya merenung tentang kondisi Indonesia kekinian. Betapa amat memprihatinkan melihat potret wajah negeri tercinta kita saat ini. Para elite partai politik, menteri, jenderal, para politikus di DPR, para pemimpin daerah, hakim, jaksa, pengusaha, rektor, dan  profesi lainnya telah mencemarkan dirinya dengan kasus-kasus korupsi yang sangat menyengsarakan jutaan rakyat Indonesia. Kuasa dan jabatan yang dipercayakan kepada mereka bukannya dipakai sebagai kesempatan untuk berbuat bajik dan bijak malah sebaliknya dipergunakan untuk menari-nari di atas perut lapar jutaan rakyat yang sedang meringis  dalam kemiskinannya. Sungguh amat memalukan dan memilukan. Dan betapa menyedihkan sepertinya di raut wajah mereka tidak ada  rasa penyesalan dan malu  sama sekali, malah sebaliknya dengan tangan diborgol dan memakai pakaian koruptor mereka masih bisa senyum senyam tanpa salah dan dosa. Betapa mengerikan bangsa kita ini. Rasa belaskasihan sudah tidak ada lagi di dalam nurani para pemimpin kita. Sirna sudah hati yang penuh belaskasihan itu. Yang ada hanyalah nafsu serakah dan tamak membabi buta bergelora di hati mereka. Benar sekali apa yang Tuhan katakan ribuan tahun yang lampau di dalam Yesaya 1:23, "Para pemimpinmu adalah pemberontak dan bersekongkol dengan pencuri. Semuanya suka menerima suap dan mengejar sogok. Mereka tidak membela hak anak-anak yatim, dan perkara janda-janda tidak sampai kepada mereka."  Inilah kondisi nyata yang sedang terjadi di negeri tercinta kita. Quo vadis Indonesia?

            Sejatinya umat Kristen Indonesia adalah agen-agen pencegah dan penghancur korupsi di Indonesia. Sayangnya yang gencar menyuarakan dan bertindak untuk memberantas korupsi di negeri kita hanya sedikit sekali dari kalangan Kristen. Bahkan hampir tak terdengar suaranya. Gereja autis. Tidak peduli dengan semua kondisi ini. Yang penting gereja masih berada di zona nyaman dan aman.  Jangan cari masalah dengan menyuarakan suara kenabian kita. Namun ironisnya perilaku korup tidak sedikit justru dari kalangan Kristen (pengusaha, pejabat, dan profesi lainnya, bahkan para pendeta ada yang menyogok pejabat untuk mendapatkan IMB gereja). Kita harus jujur mengakuinya.

Ah andaikan saja, tiga kebenaran firman Tuhan di bawah ini  mau dijalankan oleh para elite negeri ini dan oleh setiap orang Indonesia, bukan mustahil korupsi yang sudah mendarahdaging ini niscaya sirna. Pertama, hindari mengejar  uang sebagai tujuan hidup. Renungkan   Timotius 6:10, "Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka."  Kedua. Buat komitmen pada diri sendiri untuk hidup bersih dan secukupnya. Renungkan Lukas 3:14, "Dan prajurit-prajurit bertanya juga kepadanya: "Dan kami, apakah yang harus kami perbuat?" Jawab Yohanes kepada mereka: "Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu." Dan yang ketiga. Hiduplah bergantung hanya kepada Tuhan yang sejati di dalam Yesus Kristus. Amini dan imanilah  Ibrani 13:5 dan Yohanes 15:5, "Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: "Aku (Yesus Kristus) sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau."  "…. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa."

            Mari kita selamatkan negeri tercinta kita dengan melakukan sungguh-sungguh titah Tuhan kita Yesus Kristus ini sampai akhir kita menutup mata  selama-lamanya dalam pangkuan ibu pertiwi tercinta. Amin!



--
In Christ's Love
Hans
"Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam! (Kisah Para Rasul 18:9b).
Baca Terusannya »»  

Senin, 06 Agustus 2012

Persiapkalah Jalan Bagi-Nya

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Sudah menjadi kebiasaan saya pada akhir pekan menyempatkan diri
jalan-jalan di sekitar Alun-alun untuk melihat situasi kota Bandung
yang sering dijuluki dengan kota "Paris Van Java". Tetapi sebutan ini
mungkin tidak pantas lagi untuk zaman sekarang ini, melihat kondisi
Bandung yang semakin hari semakin semrawut dan tidak tertata dengan
baik.
Penghuni kota Bandung kian hari kian membludak dan ini menjadi beban
tersendiri bagi pemerintah kota Bandung. Jika Anda pernah mampir ke
kota Bandung, coba Anda perhatikan jalan-jalan protokol di mana
trotoar kiri-kanan dipenuhi dengan PKL (pedagang kaki lima), bahkan
tidak sedikit diantaranya yang berani menggelar dagangannya sampai ke
bahu jalan. Pemerintah sudah jauh hari mengantisipasi dengan membentuk
pasukan khusus untuk menertibkan PKL ini. Pernah suatu waktu terjadi
penertiban PKL disekitar daerah Pasar Baru, melihat dari jauh ada
petugas, para PKL ini segera mengamankan barang dagangan mereka
masing-masing. Dari ekspresi wajah mereka jelas sekali rasa tegang dan
takut namun ada juga yang tenang-tenang saja seakan tidak terjadi
apa-apa.
Tugas yang diemban oleh pasukan khusus ini cukup berat, karena dalam
tugas sangat diutamakan sikap adil dan tidak pandang bulu dan harus
bertindak sesuai dengan hati nurani, tetapi pada kenyataannya tidaklah
demikian malahan banyak di antara petugas yang hanya mengikuti nafsu
duniawinya. Banyak hal yang mereka lakukan yang sangat bertentangan
dengan tugas yang mereka emban untuk menertibkan dan memperindah kota
bandung. Misalnya pada saat mengadakan penertiban, banyak di antara
PKL yang menyerahkan uangnya sebagai jaminan keamanan, sedangkan PKL
yang tidak mampu membayar akan disingkirkan. Kejadian ini hanyalah
sebagai gambaran singkat dan masih banyak lagi contoh kejadian yang
serupa yang mungkin juga pernah kita alami bahkan kita lakukan dalam
kehidupan ini.
Sebagai pengikut Kristus kita harus menghindari hal-hal seperti itu,
mungkin dalam menjalankan profesi sehari-hari sering terbawa nafsu
untuk melakukan hal-hal yang berdosa. Oleh karena itu selagi masih
hidup marilah kita ratakan hati dan kehidupan kita yang berbukit,
luruskan hati dan kehidupan kita yang berliku-liku serta ratakan hati
dan kehidupan kita yang berlekuk-lekuk. Seperti nubuat nabi Yesaya:
seperti ada tertulis dalam kitab nubuatan Yesaya: Ada suara yang
berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan,
luruskanlah jalan bagi-Nya. Setiap lembah akan ditimbun dan setiap
gunung dan bukit akan menjadi rata, yang berliku-liku akan diluruskan,
yang berlekuk-lekuk akan diratakan, dan semua orang akan melihat
keselamatan yang dari Tuhan." (Lukas 3:4). Apa pun juga yang kamu
perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan
bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima
bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan
kamu hamba-Nya (Kolose 3:23-24). Inilah prinsip hidup bagi setiap
anak-anak Tuhan. Maukah saudara menjadi anak TUHAN di zaman yang
bengkok ini? By: Adrianus Pasasa
Baca Terusannya »»  

Selasa, 31 Juli 2012

BAHAGIA

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Waktu masih anak-anak, saya merasa begitu bahagia tidak ada beban,
tidak memikirkan yang macam-macam, yang ada hanya keinginan untuk main
terus. Ini hanyalah gambaran masa kecil yang hamper semua manusia
mengalaminya. Setelah menginjak masa di mana sudah mengenal sedih,
susah, dan penderitaan barulah saya membayangkan sebenarnya bahagia
itu seperti apa? Pernah waktu masih duduk di bangku SMP teman sebangku
sering membayangkan seandainya suatu waktu dia punya mobil yang bagus,
punya rumah yang mewah, punya istri yang cantik pasti hidupnya akan
bahagia! Apakah kebahagiaan dapat diukur dengan harta, atau dengan
kedudukan dan pangkat atau dengan memiliki istri yang cantik? Tentu
semua itu bukan menjadi tolak ukur untuk menyatakan seseorang itu
bahagia, lalu dimanakah kita memperoleh kebahagiaan sejati itu?
Seperti tertulis dalam nats Kitab Suci: "berbahagialah orang yang
murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan". Jika kita
menyimak pengajaran Yesus di atas tentu kita akan menyadari dan
mengerti sebenarnya kebahagiaan itu tidak jauh dari kita! Di mana ada
murah hati di situ ada kebahagiaan. Orang yang murah hati adalah orang
yang tulus memikirkan dan berbuat bagi orang lain. Apakah kita
menyadari dan apakah selama perjalanan hidup baik di dunia kerja,
studi, atau apapun yang digeluti sudah merasa bahagia? Atau sebaliknya
merasa dihantui oleh rasa takut, bersalah dan cemas? Kita dapat
merasakan kebahagiaan sejati jika kita mau melayani, mau berbagian,
mau menolong, mau menghibur dan mau peduli, membawa damai terhadap
sesama kita yang sangat menderita dalam arti yang sesungguhnya tanpa
memandang latar belakang. Tuhan telah memberi kita kehidupan dan
keselamatan secara Cuma-Cuma dengan demikian kita juga harus member
kepada sesame kita secara Cuma-Cuma, mungkin kita tidak punya harta
tetapi kita punya mulut, tangan, dan mata yang dapat menjadi saluran
berkat bagi sesame. Di sini saya ambil satu contoh perbuatan "kecil"
tetapi manfaatnya bagi orang lain sangat besar. Kita dapat meluangkan
waktu untuk mengunjungi Panti Tunanetra; di sana kita dapat berbuat
banyak misalnya: membantu membacakan buku pelajaran mereka, membantu
mengetik tugas mereka, dan mendengarkan keluh kesah mereka, serta
member dorongan dan semangat kepada mereka. Kita dapat juga berkunjung
ke Pnati JOmpo, di mana Oma dan Opa membutuhkan perhatian, kasih
saying dan teman ngobrol ataukah kita mau peduli pada anak jalanan.
Apakah hati kita tidak sedih melihat anak yang masih di bawah umur
sudah berkeliaran di jalanan tanpa mempedulikan keselamatan mereka
hanya untuk mengejar belas kasihan dari para penumpang? Namun sebelum
melangkah mungkin di sekitar tempat tinggal kita, teman kita, bahkan
dalam keluarga kita mereka juga perlu perhatian dari kita. Marilah
selagi masih sehat pergunakanlah waktu untuk peduli terhadap sesama
yang sangat membutuhkan uluran tangan dari kita. Belajarlah dari
teladan Tuhan kita Yesus, Ia berkata: "sesungguhnya segala sesuatu
yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraku yang paling hina
ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. By: Adrianus Pasasa
Baca Terusannya »»  

Sabtu, 28 Juli 2012

DETEKTOR

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Suatu waktu di negeri Hayalan diadakan sayembara untuk memilih orang yang selama hidupnya tidak pernah berbohong. Berita sayembara itu segera tersebar ke seluruh pelosok negeri  Hayalan beberapa saat setelah sayembara itu diumumkan. Penduduk sangat antusias untuk mengikuti sayembara ini, dari berbagai penjuru negeri mulai berdatangan tidak terkecuali miskin atau kaya, tua atau muda. Tidak ada syarat khusus untuk ikut dalam sayembara ini, dan dinyatakan terbuka untuk semua warga negeri Khayalan. Karena banyaknya warga yang mendaftarkan diri dalam sayembara ini, panitia menjadi kewalahan menanganinya.

Setelah beberapa waktu menunggu, tibalah saatnya untuk memilih orang yang tidak pernah berbohong selama hidupnya, tetapi lagi-lagi panitia kewalahan sebab dari sekian banyak peserta sayembara rata-rata mengaku tidak pernah berbohong. Panitia tidak kehilangan akal untuk menentukan pemenangnya, segera dikirim utusan untuk meminjam detektor kenohongan milik kepolisian di planet bumi. Dengan detektor ini akhirnya panitia dapat menentukan seorang pemenang sayembara.
Dari cerita ini  kita dapat membayangkan seandainya detektor di atas dapat digunakan untuk mendeteksi motivasi seseorang sebelum ia berbuat sesuatu, tentu hidup ini akan terasa lebih indah dan lebih menyenangkan sebab seseorang akan ketahuan motivasinya dalam berbuat sesuatu. Tetapi sampai saat ini detektor motivasi belum ada, hanya Tuhan-lah yang mengetahui motivasi dan isi hati seseorang. Mungkin dalam benak kita muncul berbagai pertanyaan: seseorang berbuat baik terhadap saya, apa motivasinya? Tuluskah dia? Atau ada sesuatu dibalik kebaikannya? “kita terlibat dalam pelayanan, motivasi kita apa?, “apa motivasi kita menjadi pengikut Yesus? Ikut-ikutan karena orang lain berbuat demikian? Ataukah ada U dibalik B?

Berpulang kepada kita, apakah motivasi kita baik dan tulus atau tidak, hanya Tuhan dan anda yang tahu. Seharusnya motivasi yang benar adalah: jika engkau makan/minum/jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah (1 Korintus 10:31). Tetapi celakanya seringkali Tuhan mendapatkan betapa liciknya hati, lebih licik dari segala sesuatu (Yeremia 17:9a). Sampai kapan kita berlaku licik di hadapan Tuhan yang sedang memandang kita setiap tarikan nafas kita? By: Adrianus Pasasa
Baca Terusannya »»  

Kamis, 26 Juli 2012

SIAPAKAH DIRIMU

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Liburan Desember lalu, saya sempat mengunjungi suatu daerah yang
masyarakatnya masih ketinggalan jauh jika dibandingkan dengan
masyarakat perkotaan. Meskipun demikian masyarakatnya rajin mengikuti
perkembangan dan situasi bangsa ini. Pernah suatu waktu kami
berdiskusi tentang kinerja wakil rakyat yang mengaku memperjuangkan
rakyat kecil, dengan polos mereka menjawab bagaimana bangsa ini mau
keluar dari krisis kalau kerja wakil rakyat dan pemimpin kita hanya
saling mencari kesalahan dan kejelekan mereka tanpa menyadari dirinya
masing-masing yang penuh dengan sandiwara dan kemunafikan. Seandainya
mereka mau mengoreksi diri tentu mereka akan mengetahui posisinya di
mana, tetapi sangat disayangkan mereka lebih mengenal lawan-lawan
mereka. Sadarkah kalau hal ini juga menghiasi hidup kita. Seringkali
kita ingin lebih banyak mengetahui diri orang lain dari pada diri kita
sendiri! Seandainya kita lebih mengenal diri kita, tentu kita akan
menyadari kelemahan dan kelebihan yang kita miliki, namun pada
kenyataannya kita lebih suka untuk mengenal orang lain melalui
berbagai cara dan pada umumnya kita selalu mencari kejelekan orang
dari pada kelebihan-kelebihan yang orang lain miliki. Jadi tidak aneh
kalau terjadi perselisihan dengan sesama yang hanya disebabkan
kesalahpahaman, kecemburuan, iri hati dan persaingan yang tidak sehat.
Dengan mudah kita menghakimi sesama kita dan menganggap diri kita yang
paling benar. “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu,
sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimana engkau
dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu
dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu (Matius 7:3-4).
Belajarlah untuk mengenal diri sendiri, karena di dalam diri kita
banyak sekali kelebihan-kelebihan yang kita miliki, hanya saja belum
digali. Apabila suatu saat kita telah menemukannya maka akan
mendatangkan kebahagiaan yang tak ternilai bagi kita. Namun di dalam
dirimu juga ada kekurangan-kekurangan supaya kita jangan sombong.
“Jadilah dirimu sendiri, hindari untuk selalu membandingkan dirimu
dengan orang lain”. Hal ini hanya akan membuat kita tidak percaya
diri. “oleh karena engkau berharga dimata-Ku dan mulia, dan Aku
mengasihi enkau (Yesaya 43:4a). Camkanlah dalam hatimu bahwa kamu
dilahirkan ke dunia ini dengan rencana dan tujuan yang indah dan semua
itu kamu akan alami setelah kamu mengenal dan mau menerima dirimu apa
adanya. By: Adrianus Pasasa
Baca Terusannya »»  

Berita Terkini

« »
« »
« »
Get this widget

Daftar Blog Saya

Komentar