Tulisan Jalan

Hidupku untuk mengharumkan nama-MU Jangan bersukcita ketika engkau berhasil dalam pelayanan, tetapi bersukcitalah karena namamu tercatat di Surga

Kau istimewa. Di seluruh dunia, tidak ada orang yang sepertimu. Sejak bumi diciptakan tidak ada orang lain yang sepertimu. Tidak ada orang lain yang memiliki senyummu, tidak ada yang memiliki matamu, hidungmu, rambutmu, tanganmu, suaramu. Kau istimewa. Tidak ada orang lain yang memiliki tulisan yang sama denganmu. Tidak ada orang lain yang memiliki selera akan makanan, pakaian, musik, atau seni sepertimu. Tidak ada orang lain yang memiliki cara pandang sepertimu. Sepanjang masa tidak ada orang lain yang tertawa sepertimu, tidak ada yang menangis sepertimu. Kaulah satu di antara seluruh ciptaan yang memiliki kemampuan seperti yang kau miliki. sampai selamanya, tidak akan ada orang yang akan pernah melihat, berbicara, berjalan, berpikir, atau bertindak seperti dirimu. Kau istimewa...kau langka. Tuhan telah menjadikanmu istimewa dengan satu tujuan yaitu MEMULIAKAN DIA

Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Kesaksian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesaksian. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Februari 2013

Ahok saksi Kristus!

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Selasa, 26/02/2013 15:32 WIB
4 Kabar Gembira dari Jokowi-Ahok
Niken Widya Yunita - detikNews

Jakarta - Jakarta mendapat banyak perubahan setelah Gubernur DKI Joko Widodo (Jokowi) dan Wagub DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) memimpin. Bukan hanya masyarakat berada, wong cilik juga dapat menikmati hasil kerja dari dua pemimpin ini.

Berikut rangkuman kabar gembira yang disampaikan baik Jokowi-Ahok akhir-akhir ini, seperti dirangkum detikcom, Selasa (26/2/2013):
Asuransi Kesehatan Gratis
Warga Jakarta akan mendapat asuransi kesehatan gratis. Dalam waktu dekat Pemprov DKI Jakarta akan tanda tangani naskah kerjasama dengan PT Asuransi Kesehatan untuk pengadaan asuransi tersebut.

"Akan kita tanda tangan 1 Maret 2013. Teknisnya kita ikutin seperti BPJS, cuma uangnya nggak diserahkan ke dia (PT Askes -red), kita yang mengelola. Nanti seluruh orang Indonesia itu punya asuransi. Itu amanat UU 24/2012 tentang BPJS," ujar Ahok di kantornya, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (25/2/2013).

Uji coba program ini akan dilakukan di Jakarta dulu. Fokus uji coba untuk memastikan bahwa polis senilai Rp 23 ribu per orang per bulan cukup sudah cukup atau sebaliknya.

Memang nilainya terhitung kecil, namun itu kenaikan siginifikan dari Rp 15.500 per orang per bulan yang Kemenkeu serahkan ke PT Askes.

"Kita kan menghitungnya Rp 23 ribu. Uangnya kita yang pegang, tapi seolah-olah PT Askes yang kelola uang itu. Cukup atau tidak, nanti kita evaluasi," papar Ahok.

Ahok mengatakan, kalau nanti uji coba di Jakarta berhasil nanti di seluruh wilayah Indonesia akan berhasil pula.

"Jadi sekarang tinggal menunggu Rumah Sakit swasta apakah akan ikut berpartisipasi. Kan tahu sendiri alat-alat kesehatan di Jakarta paling canggih. Intinya kita ingin mencoba," ujarnya.
Juru Parkir akan Mendapat Gaji Tetap
Jokowi dan Ahok memberikan perhatian pada juru parkir yang selama ini tersebar liar di segala penjuru Jakarta. Para juru parkir tersebut akan diberi gaji tetap.

"Ada aspek teknis dan sosial. Yang biasa malak-malak kita seleksi untuk menjadi pekerja dan mereka akan menerima gaji. Mereka mendapatkan gaji dari pengelola parkir," kata Kepala Dinas Perhubungan DKI Udar Pristono.

Pristono menyampaikan hal tersebut usai bertemu dengan Ahok di Balaikota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (15/2/2013).

Juru parkir yang masih tidak disiplin dan memalak akan ditertibkan dan diberi teguran melalui perusahaan pengelolanya. Pristono menambahkan, ada sistem bonus untuk juru parkir, kelak. Bonus tersebut diharapkan menstimulus kedisiplinan juru parkir dalam menggunakan karcis.

"Parkir on the street (jalanan) akan selalu menggunakan karcis. Kalau bisa, ada bonusnya bagi orang yang melakukan pembayaran dengan karcis. Juru parkirnya diberikan bonus, pengguna parkir juga," ucap Pristono.
Layar Reklame LED Murah Bahkan Gratis
Ahok akan meminimalkan biaya bahkan menggratiskan iklan untuk warga ataupun kampanye parpol yang kantongnya tipis. Iklan akan berbentuk layar LED raksasa dan diletakkan di ruang publik atau jalan-jalan.

"Orang mau kampanye tidak keluar biaya. Siapkan saja production house, mau ngomong apa, berapa menit, kita pasangin gratis," kata Ahok di kantornya, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (13/2/2012).

Rencana ini disebut mirip dengan tayangan iklan televisi pada umumnya.

"Untuk LED-nya kami yang sediakan, kamu mau ngiklan pasang ke kami. Bayarnya per detik tapi lebih murah dari televisi," tutur Ahok.

Ahok sendiri mengaku pemerintah provinsi DKI Jakarta sudah siap dengan rencana ini. Sejumlah perusahaan pun akan dimintai bantuan untuk jaringan serat optiknya.

"Sudah siap kan kita. Ada 5 sampai 6 perusahaan yang punya fiber optic, todongin saja suruh mereka nyambungin ke bisnis ini kan," ucap Ahok.

Pemasangan LED ini direncanakan akan dilakukan di bus, halte, dan gedung-gedung. Sehingga billboard atau baliho bisa diminimalisir dan memberikan pemandangan yang lebih bersahabat.

"Di bus boleh, di halte boleh, dan di gedung-gedung boleh. Jadi tidak ada lagi billboard di jalanan, rapi," ucap Ahok.

Dengan pemasangan LED ini, Ahok akan mencabut baliho atau billboard yang besar setelah perizinannya habis. Ia juga menginstruksikan tidak ada lagi perizinan baru untuk baliho atau billboard berukuran besar.

"Kemarin pun saya sudah instruksikan, tidak ada lagi disambung dan yang lelang. Kalau sudah selesai kontraknya, tidak sambung lagi. Makanya kita sudah hentikan lelang.

Tapi kan kecil-kecil masih ada, tapi yang gede-gede tidak boleh lagi. Kita nggak bisa cabut langsung, kan mereka sudah bayar pajak. Kalau dia tahun depan selesai, ya," tutup Ahok.
PKL Kota Tua Menjadi Elite
Kota Tua di kawasan Museum Fatahillah segera dipercantik. Pedagang kaki lima (PKL)-nya pun juga akan ikut dirapikan.

"Bapak kan sudah sepakat siapa saja yang pedagang di situ yang bukan musiman. Percaya kepada kami, Kota Tua kami jadikan Bapak PKL yang elite," kata Ahok.

Ahok mengatakan itu dalam pertemuan dengan perwakilan pedagang dan Kepala Dinas Koperasi dan UKM DKI Jakarta Ratna Ningsih di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (1/2/2013).

Menurut Ahok, aliran listrik setelah PKL Kota Tua ditata akan menjadi resmi. Bahkan juga tidak akan ada pungli "Semua bayar resmi, langsung autodebit ke Bank DKI," kata Ahok.

Enaknya lagi, lanjut Ahok, sistem berdagang di Kota Tua dapat dilakukan turun temurun.

"Nanti ya Pak, sistem dagang di sini bisa diturunin ke anaknya. Selama anak Bapak mau nerusin melanjutkan usaha itu bisa. Nanti dibuatin kartu, dan ada fotonya. Jadi orang lain nggak bisa ganti-ganti. Saya tahu kenapa orang pada ngotot mau ambil jatah, nanti kan bisa dijual itu, diduitin. Berani curi atau jual barang Pemda kita penjarain, berantem-berantem saja sekalian," papar Ahok.

Menurut Ahok, sedikitnya 260 pedagang bisa berdagang di Kota Tua.

"Sisanya bisa dagang di tempat lain. Kalau tetap ngotot minta 700 gelar saja di situ, di tanah lapang. Nanti kita sediakan. Nanti, kalau perlu tiap minggu saya kasih musik dangdut, kan senang tuh gelar-gelar gitu nggak ditata sama kita," kata Ahok sambil tertawa. Suasana rapat berlangsung cair.
(nik/nwk).

*********************
Maju trus pak Ahok, jadi garam dan terang bagi kemuliaan Tuhan Yesus Kristus!!!


--
In Christ's Love
Hans
"Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam! (Kisah Para Rasul 18:9b).
Baca Terusannya »»  

Kamis, 21 Februari 2013

Mujizat itu nyata!

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***


MUJIZAT ITU NYATA!!!
Ada sebuah lagu rohani yang cukup sering dinyanyikan jemaat Tuhan. Di persekutuan-persekutuan atau dalam kebaktian-kebaktian Minggu, lagu ini cukup dikenal. Banyak orang yang menyukainya. Sebagian liriknya begini, "Jangan lelah bekerja di ladang-Nya Tuhan…" Lagu ini iramanya cukup enak didengar. Namun agak sedikit mengganjal di hati. Namanya orang bekerja pasti lelah dong. Dan hal yang mustahil, kata teman saya orang Arab, melarang orang supaya tidak lelah tatkala ia sedang bekerja. Lelah dalam bekerja itu alamiah bin lumrah bin lazim. Kecuali sang koruptor si benalu parasit masyarakat  yang sanggup meraup duit rakyat  puluhan sampai ratusan miliar rupiah dengan bermodalkan jabatannya. Mereka hanya main angkat telepon kapan saja dan di mana saja meminta "apel Malang" atau "apel Washington" kepada kacung-kacung mereka yang merajalela di perusahaan-perusahaan milik para bos besar dan ketua besar. Tanpa bekerja keras bak seorang petani yang mencangkul ladangnya demi mencari sesuap nasi buat anak-anak dan istrinya, atau seperti si tukang becak yang mendayung becaknya hingga mandi keringat dan mengucur peluh di sekujur tubuhnya bak derasnya hujan turun dari langit.

Bekerja sebagai pekerja di dunia sekuler sama bekerja di dunia rohani. Bahasa kerennya, melayani di ladang Tuhan. Bukan saja lelah bahkan boleh jadi penat-nat sehingga mau minta mati saja. Kalau gak percaya coba lihat nabi Yunus. Dia pernah berkata, "Jadi sekarang, ya TUHAN, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati dari pada hidup." (Yunus 4:3). Yunus marah besar dan sangat kesal atas kebaikan Tuhan yang mengampuni orang-orang jahat di Niniwe. Maunya Yunus  sih mereka dibumihanguskan saja. Gitu aja koq repot diampuni?  Lebay Tuhan! Perhatikan juga nabi sekaliber Elia yang pernah meluluhlantakkan empat ratus lima puluh nabi Baal dan empat ratus nabi Asyera (1Raja-Raja 18:19) hanya dengan sebilah pedangnya, tetapi bisa sangat penat batinnya ketika dikejar hanya oleh seorang budak dari si nyonya Izebel yang amat menyebelken itu (1Raja-Raja 19:2-3) . Dalam 1Raja-Raja 19: 4 dijelaskan, "Tetapi ia (Elia) sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: "Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku."  Yesus sendiri tertidur pulas di perahu karena kecapean melayani bahkan Ia pernah mengalami rasa ketir yang begitu menakutkan ketika Ia bergumul di taman Getsemani. Karena tidak lama lagi Ia akan menanggung akibat dosa umat manusia. Saking beratnya beban dosa yang akan dipikul-Nya, Ia berkata, "Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi."  Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya.  Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah." (Lukas 22:42-44).

Jadi, tidak heran banyak rohaniwan saat ini yang akhirnya banting setir dan putar kemudi karena tak tahan dengan kelelahan dan kepenatan hati melayani umat yang juga sedang lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Berbicara tentang kelelahan dan kepenatan sebagai rohaniwan tentu bisa diinventarisir jenisnya yang amat beragam itu. Sebagai rohaniwan yang sering mengunjungi jemaat di desa-desa dan pedalaman Indonesia, saya banyak melihat tidak sedikit para hamba Tuhan yang mengalami kesulitan makan dan minum apalagi untuk menyekolahkan anak-anaknya. Bukan cuma di desa. Di kota juga tidak sedikit hamba Tuhan mengalami hal yang sama bahkan lebih berat. Ada yang nampak tapi juga ada yang tidak kelihatan betapa beratnya perjuangan hidup mereka. Bagi hamba Tuhan yang punya banyak relasi dan punya kemauan dan kemampuan yang kuat serta strategi jitu-tu, tentu tidak terlalu bermasalah tatkala kesulitan mendekat pada mereka. Hanya dengan mengangkat telpon atau ber-SMS ria dengan jemaat yang berpunya, maka selesailah masalah mereka. Apalagi bila dibumbu-bumbui dengan ayat-ayat firman Tuhan, "Hati-hati jangan sampai belalang pelahap melahap abis usahamu kalau tidak memedulikan kehidupan hamba Tuhan!" Ceileh….. Jemaat mendengar ocehan pak pendeta dengan bumbu firman Tuhan menjadi  gemetar dan gemetir,  sedang bibir pak pendeta sendiri mengembang senyum manis.  Saya pernah diceritakan seorang teman mengenai seorang pendeta. Teman saya ini, pas kakaknya sedang dirawat di ruang perawatan intensif di sebuah rumah sakit karena penyakit jantung. Sang pendeta datang mendoakan kakaknya yang sangat lemah tubuhnya setelah sadar dari koma selama beberapa hari. Anda tahu apa yang dibicarakan sang pendeta itu? Ia memberikan dorongan semangatkah? Anda keliru. Ia justru meminta bagian uang perpuluhan kepada jemaatnya karena ia tahu si sakit belum lama menjual tanahnya dengan nilai satu koma dua miliar rupiah. Lalu tidak berhenti di situ, sang pendeta juga meminta sepuluh persen untuk mendukung misi gereja. Alasannnya, hamba Tuhan dan gereja hidup dari persembahan jemaat. Lengkaplah sudah penderitaan si sakit. Beberapa hari kemudian si sakit akhirnya meninggalkan dunia untuk selama-lamanya. Jangan-jangan percepatan kematian si sakit karena ia stress memikirkan permintaan pendetanya itu. Peristiwa ini sangat amat memilukan dan memalukan korps para pendeta. Ini namanya pendeta debt collector-tor-tor-tor…….

Tetapi ada juga hamba Tuhan yang sama sekali tidak pandai memanfaatkan jemaat atau sahabat-sahabat mereka untuk mencari solusi keuangan yang sedang digumulinya. Saya adalah seorang yang sedang dan terus mau belajar  untuk hal ini. Beberapa teman dan keluarga  yang punya uang  segudang, pernah mengatakan, "Andaikata  Anda ada kesulitan atau kebutuhan sesuatu tolong jangan sungkan beritahukan ya", demikian tawaran mereka kepada Saya. Tetapi Saya dan istri belajar untuk tidak "memanfaatkan" tawaran menggiurkan itu. Karena prinsip kami, bekerja di ladang Tuhan hanya mengandalkan-Nya saja. Paling sering istri Saya kalau sangat mendesak ia mengambil jurus "Menyelesaikan masalah tanpa masalah." Dan kadang harus menerima kenyataan barang-barangnya dilelang.  Bila persoalannya cukup berat kami datang  bersujud kepada-Nya di dalam doa dan puasa. Bukankah firman Tuhan dalam Yeremia 17:7-8 telah dengan jelas memperingatkan kita semua, ada upah bagi yang mengandalkan dan mengharapkan-Nya?  Sebaliknya, ada ancaman bagi mereka yang mencoba-coba mengandalkan manusia? Kalau tak percaya, silakan saja baca Yeremia 17:5-6.  Jangan pernah memanfaatkan "domba-domba" apalagi memeras "susu" mereka dengan alasan pelayanan. Apalagi membawa-bawa nama Tuhan. Demi kemuliaan Tuhan segala.

Pada kesempatan ini, tanpa bermaksud apa-apa, sungguh, izinkan saya membagikan kesaksian buat para hamba dan jemaat Tuhan yang tidak pandai mengandalkan sesamanya dan karena itu mereka berada  dalam kelelahan dan kepenatan. Kemarin setelah ibadah dan Perjamuan Kudus, Minggu, 4 Maret 2012, saya langsung pulang ke rumah. Karena kelelahan fisik dan kepenatan psikis karena berbagai pergumulan, terutama kondisi keuangan kami, saya beristirahat siang di tempat tidur. Sudah cukup lama, kami, khususnya saya, bergumul dengan masalah keuangan untuk studi ketiga anak kami. Satu di perguruan tinggi dan dua lainnya di SMP dan SD. Minggu sore sekitar jam dinding  di rumah kami menunjukkan pukul setengah tiga Waktu Indonesia Barat (WIB) saya terbangun dan langsung berdoa di hadapan Tuhan Yesus Kristus. Doa saya sangat sederhana. Intinya saya menyampaikan permohonan kepada Tuhan Yesus Kristus tentang kebutuhan uang untuk berbagai kebutuhan kami sekeluarga. Kami tidak memberitahukan kepada siapapun akan kebutuhan ini. Apalagi meminta kepada orang-orang dekat kami. Tidak lama waktunya saya berdoa sore itu. Berselang beberapa waktu kemudian, tepatnya jam 1607 WIB telepon genggam saya berdering. Sebuah SMS masuk dari seorang hamba Tuhan senior yang sudah emeritus. Saya sangat jarang bertemu apalagi berdiskusi dengannya. Meskipun pertemanan kami cukup baik, saya tidak pernah mengemukakan permohonan bantuan dana apapun. Bunyi SMS-nya, "Pak Hans, ada account number bank BCA? Tq GBU." Mendadak sontak saya kaget. Lalu seketika itu juga saya balas SMS-nya, "Ada apa gerangan dengan Saya pak?" Lalu kira-kira sejam kemudian, pasnya jam 1713 WIB SMS beliau masuk lagi. Bunyinya, "O… begini, tadi saya bangun tidur ada satu gerakan hati saya untuk memberi dukungan dana tidak besar, tapi ya seperti Tuhan ingin saya support anak-anak  bapak tiap bulan xxxxx rupiah dari Januari – Desember tahun 2012. Nanti yang bulan Januari dan Pebruari saya rapelkan bersama dengan bulan Maret ini. Semoga menjadi berkat untuk bapak sekeluarga. Tq GBU."

Peristiwa ini benar-benar  mujizat. Tuhan Yesus mendengar dan langsung seketika itu juga menjawab permohonan Saya. Ini sangat mengharukan hati kami sekeluarga. Waktu Saya berdoa sore itu berbarengan dengan Tuhan menggerakkan hati hamba Tuhan senior itu. Saya berdoa pas baru bangun tidur, ia pun baru bangun tidur ketika merasakan suatu gerakan hati yang tak bisa dibendungnya  untuk mendukung dana studi anak-anak Saya. Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan Yesus saja! Kami berdua dikuasai rasa haru yang dalam sehingga air mata kami jatuh berderai. kami berpelukan sambil menangis. Tuhan Yesus menyentuh hati kami yang paling dalam. Seakan Dia membelai kami berdua sambil berkata, "Anakku Aku tahu kesulitanmu. Aku tahu segala yang kamu perlukan. Ini Aku. jangan bersedih hati. Aku besertamu. Akulah penolongmu yang setia. Aku sekali-kali tidak akan membiarkan dan meninggalkan kalian."  Sungguh ajaib Tuhan Yesus. Damai sejahtera memenuhi hati dan pikiran Saya dan Ima, istriku yang setia berjuang menemaniku selama ini. Ia menjawab kami tepat waktu. Yang mengharukan lagi, Tuhan memakai seorang hamba Tuhan sederhana yang sudah pensiun tanpa gaji lagi untuk meringankan beban anak-anak kami. Itulah kebesaran kuasa dan kasih-Nya yang tak terduga. Kami mengalami mujizat lagi. Kami hidup dari hari ke hari dengan mujizat demi mujizat. Ini bukti nyata yang tidak terbantahkan akan janji Tuhan ketika Saya meninggalkan tawaran bekerja di sebuah bank swasta pada tahun 1995 demi menyerahkan diri sebagai hamba Tuhan dibentuk di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang, Jawa Timur. Waktu itu Saya sangat berat untuk menyerahkan diri menjadi hamba-Nya. Saya begitu kuatir hidup sebagai hamba Tuhan yang kebanyakan hidup sederhana bahkan sangat sederhana. Tetapi dalam pergumulan yang berat itulah, Tuhan berfirman kepada Saya, "Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung.  Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus." (2Petrus 1:10-11). Firman Tuhan inilah yang menghantarkan Saya memasuki gerbang Seminari Alkitab Asia Tenggara, dibentuk menjadi hamba-Nya. Dan sampai hari ini Saya masih terus dalam pemrosesan tangan-Nya yang tak berkesudahan. Kami sekeluarga mengimani dan mengamini firman Tuhan yang berkata, "Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau." Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata: "Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?" (Ibrani 13:5).

Tetapi saya tetap berkeyakinan kokoh, mujizat terbesar dalam hidup Saya yaitu ketika Yesus Kristus yang adalah Tuhan dan Juruselamat satu-satunya itu, mau mati untuk Saya justru pada waktu Saya lemah, durhaka, penuh dosa, dan berseteru dengan-Nya sehingga saya memiliki jaminan kepastian keselamatan hidup yang kekal (Roma 5:6-11).

Para sobat sekalian. Mungkin saat ini engkau sedang mengalami pergumulan yang sangat berat. Terlalu kuat menindih hidupmu. Air matamu tak pernah berhenti berderai. Mungkin engkau sedang bahkan sudah kehilangan akal menghadapi persoalan itu. Ingatlah, boleh jadi ketika kita menghadapi masalah berat kita kehilangan akal, tetapi kita tak akan pernah kehilangan iman kepada Yesus. Marilah saat ini juga engkau dan Saya belajar sungguh-sungguh apa arti mengandalkan Yesus dalam seluruh perjuangan kita mengiringi-Nya untuk menyenangkan-Nya di dunia yang sementara ini.  Pertolongan-Nya tidak pernah terlalu cepat dan terlalu terlambat buat engkau. Ingatlah, janganlah hati kita melekat pada dunia ini. Dengarkan sabda-Nya yang penuh wibawa, " Dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya." (1Yohanes 2;17).

Jawaban Tuhan Yesus terhadap doa permohonanmu sedang dijawab Tuhan. Berdoalah terus, mendekatlah kepada Dia, dan taatilah segala kehendak-Nya. Yesus berkata saat ini kepadamu juga kepadaku, "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan." (Matius 11:28-30). "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.  Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari." (Matius 6:33-34). Teruslah memenangkan sebanyak mungkin orang kepada Dia dan berjuanglah dengan semangat yang membara bagi kemuliaan Yesus Kristus Tuhan dan Juruselamat kita.

Segala puji hormat dan sembah Saya panjatkan hanya bagi-Mu Yesus Tuhan dan Juruselamatku. Amin! (Kota Kembang, Selasa, 6 Maret 2012. Rev. Hans).
Baca Terusannya »»  

Kamis, 30 Agustus 2012

Integritas Hidup Seorang murid Kristus

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***

Integritas Hidup Seorang murid Kristus
            Waktu bergulir tidak terasa. Ya waktu secara kronos maupun kairos. Insan bernama manusia terus berpacu dengan waktu di dalam dunia yang  "berdarah-darah" dalam dosa. Rasanya baru bangun dari tidur semalam. Anak pertama kami, Juan, tidak terasa sudah berusia tujuh belas tahun. Ternyata dia sangat merindukan SIM C terselip dalam dompetnya. Ya, ia merasa  telah menjadi orang dewasa yang tidak perlu lagi diantar pergi ke sekolah tiap pagi oleh ayahnya. Tibalah  musim liburan panjang sebulan setelah kenaikan ke kelas tiga SMU. Sebenarnya Juan meminta kami untuk mencarikan pekerjaan baginya dalam masa liburan. Ia mau belajar  bekerja sambil merasakan bagaimana mencari uang. Saya sangat mendukung niatnya. Agar ia tahu hidup ini adalah perjuangan. Dan setiap tarikan nafas adalah anugerah Tuhan yang patut dihargai. Namun sayang Juan belum mendapat kesempatan untuk magang kerja. Lagi pula Juan terpaksa harus menunda niatnya itu karena terhalang enam kali kegagalan ketika ia ikut test mengambil SIM C.
            Juan pertama kali test pada hari Rabu, 9 Juni 2010. Di hari pertama ini saya tidak bisa mengantarnya ke kantor polisi di jalan Jawa Bandung. Saya mendapatkan tugas pelayanan pada hari wisuda III anak-anak TK dari sekolah yang kami dirikan tiga tahun lampau, khususnya untuk anak-anak dari kalangan tidak mampu. Teman saya seorang hamba Tuhan yang baik hati, bapak Harry Fudin mengantar dan mendampingi Juan. Dari tiga puluh pertanyaan Juan mampu menjawab  dua puluh tujuh pertanyaan. Tak pelak lagi, ia dinyatakan lulus test teori. Namun hatinya  gundah karena ia tidak lulus praktek. Ia berhasil di jalan zig zag dan huruf "U" tetapi sayang Ia terjatuh pada  lintasan angka delapan. Maklum motor masih menguasai Juan. Bukan sebaliknya.  Saya memotivasi dan memintanya terus berlatih untuk menghadapi test lusa harinya, Jum'at, 11 Juni 2010.  Pada hari itu Juan gagal lagi pada lintasan angka delapan. Hati saya turut gundah karena melihatnya frustrasi. Sebenarnya pada hari itu seorang polisi memanggil kami masuk ke dalam sebuah ruangan. Tapi saya terus saja berjalan. Saya tahu apa maksud ia memanggil kami. Ada jalan lain untuk instan mendapatkan SIM C. Ya kita maklum bersama.  Sebelum sampai ke rumah, saya mengajak Juan berlatih di sebuah jalan sempit kira-kira dua jam lamanya di bawah panasnya terik matahari. Dalam latihan itu nampak sekali wajahnya frustrasi karena ia selalu menurunkan kakinya ketika membelokkan motornya ke kiri atau ke kanan. Memang ia belum mahir. Saya juga terbawa kesal dengan ketidakbisaannya ini. Namun saya katakan kepadanya, "Nak, hidup dalam kebenaran dan mau menyenangkan Tuhan tidak mudah. Jaga integritas hidup. Kalau mau yang instan, dari awal papa bisa memakai uang alias suap bin sogok, maka tanpa test pun Juan bisa langsung memiliki SIM C itu. Tapi kita sebagai anak-anak Tuhan, tidak pantas melanggar aturan yang berlaku. Terlebih lagi, kita tidak pantas melukai hati Tuhan."  Juan menimpali, "Tapi orang lain juga melanggar. Mereka bayar koq!"  "Ya kita tidak boleh berbuat dosa karena orang lain juga berbuat dosa", demikian jawaban saya.  Saat berdiskusi ini sebenarnya hati saya sedih sekali, karena melihat Juan hampir putus asa. Betapa sulitnya hidup dalam kebenaran dan menyenangkan hati Tuhan di dalam dunia yang sudah jatuh dalam dosa ini.
            Juan harus test lagi pada hari Senin, 14 Juni 2010. Hati saya makin cemas dan tidak tenang karena  yakin ia pasti gagal lagi. Benar hari itu ia gagal lagi. Dia mulai kelihatan lebih frustrasi dari hari-hari test sebelumnya. Hati kecil saya menangis melihat Juan semakin galau. Apalagi dia berkata, "Pa, Juan tidak usah ambil SIM saja ya." Dia sudah di ambang patah hati. Hati saya makin tergoncang. Padahal saya dan istri saya selalu berdoa agar Tuhan menolong Juan. Saya meminta rekan-rekan hamba Tuhan senior turut mendukung Juan dalam doa. Hati saya sedikit terhibur dengan dukungan doa dan nasihat-nasihat para senior saya. Saking berharap Juan bisa lulus, saya memanggil adik ipar saya, Henry Panjaitan untuk datang khusus melatih Juan beberapa kali. Saya tidak enak mengganggu Henry, karena dia sangat sibuk. Itu sebabnya setiap kali latihan, Ima, istri saya memberikan sejumlah uang pengganti bensinnya. Sebenarnya Henry menolaknya. Hitung-hitung ongkos latihan sudah melebihi dana pembuatan SIM dengan cara "Nembak."  Tiap kali latihan empat jam, dari sore hingga malam hari. Tangan Juan sampai terkelupas berdarah-darah karena memegang setir motor selama berjam-jam tanpa henti. Kakinya Juga melepuh karena sering terkena mesin yang sangat panas. Juan harus ikut test lagi pada hari Rabu, 16 Juni 2010. Pada kali ke empat ini Juan gagal lagi mengendarai motor di angka delapan dan Zigzag.  Pada kali kelima test, Jumat, 18 Juni 2010 Juan gagal lagi. Saya betul-betul cemas dan amat gundah.
            Juan wajib ikut test lagi untuk kali ke enam, Senin, 21 Juni 2010. Hari itu bukan saya yang mengantarnya ke kantor polisi. Karena pagi jam sepuluh saya mengikuti sebuah persekutuan yang diadakan oleh pengurus almamater kami.  Arlem seorang saudara seiman mengantarnya. Ketika saya pulang dari persekutuan doa tersebut, saya bertanya kepada Juan apakah ia lulus kali ke enam ini. Ia menjawab, "Saya lulus pa. Hari kamis nanti tinggal berfoto saja", demikian jawabnya. Tapi hati saya tidak yakin ia lulus. Saya bertanya lagi, "Apakah tadi Juan berhasil mengendarai motor di angka delapan, Zigzag, dan huruf U?"  "Saya jatuh pa… di huruf U", jawab Juan.  Kata saya, "Oh itu berarti Juan belum lulus, kenapa disuruh berfoto pada hari Kamis, 24 Juni 2010?"  "Tidak tahu pa, om Ari (adik ipar Saya seorang polisi) sudah bicara dengan temannya, dan saya dinyatakan lulus", demikian jawaban Juan.  Saya katakan dengan tegas pada Juan bahwa saya tidak setuju dengan kelulusannya yang  dibantu pamannya. Itu adalah pelanggaran dan suatu ketidakbenaran. Mendapatkan SIM dengan cara dibantu orang. Saya katakan juga, "Juan tidak akan pernah merasa bahagia yang sejati ketika mendapatkan SIM itu. Lagian Tuhan Yesus tidak menghendaki cara-cara seperti itu."  Siang itu saya dan Juan berdebat cukup keras. Ia berkata, "Kenapa papa menghalangi saya yang sudah dinyatakan lulus. Apa papa tidak tahu tangan saya sudah lecet-lecet dan berdarah-darah? Kaki saya melepuh?  Ia menangis sambil berbaring. Saya menangis dalam hati melihat Juan yang sangat kecewa saat itu. Di satu sisi saya mau ia tetap berjuang mendapat SIM dengan cara yang benar, biar ada kepuasan sejati baginya, dan menyenangkan Tuhan. Tetapi di sisi lain saya juga tahu betapa ia sudah berjuang mati-matian sampai melepuh dan berdarah-darah tangan dan kakinya.  Ia berkata bahwa ia tidak mau lagi ambil SIM. Hati saya benar-benar trenyuh. Untung perdebatan itu berakhir karena Ima, istri saya mengambil alih situasi. Saya masuk ke kamar dan berbaring. Ima terus membujuk dan menghibur Juan dengan nasihat-nasihat firman Tuhan. Akhirnya, puji Tuhan, Juan mau mengikuti test yang ketujuh kalinya, pada hari Rabu, 23 Juni 2010.
Saya sangat gembira dengan kebesaran hati Juan. Karenanya  saya minta Henry untuk datang melatih Juan pada hari Selasa, 22 Juni 2010. Hari itu Juan dilatih selama empat jam dari sore sampai malam hari untuk persiapan test besok. Malam hari saya sungguh-sungguh berdoa kepada Tuhan Yesus agar Juan mendapatkan belaskasihan-Nya pada waktu test besok hari. Dan pada hari Rabu pagi jam sepuluh sebelum berangkat ke kantor polisi, saya mengajak Juan berdoa bersama, "Tuhan Yesus selamat pagi. Ya Tuhan, Engkau tahu sudah enam kali Juan gagal. Betapa sukarnya kami mau hidup dalam kebenaran dan menyenangkan Engkau di dalam dunia yang sudah jatuh dalam dosa ini. Ada begitu banyak pilihan yang sangat mudah untuk mendapatkan SIM yang Juan butuhkan. Tapi, Tuhan, Saya dan Juan tidak mau melukai hati-Mu. Kami mau belajar hidup penuh integritas di hadapan-Mu. Tolonglah hari ini, demi nama Yesus, luluskan Juan agar kami jangan jatuh dalam dosa karena ketidaksabaran kami. Demi nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin!"
Saat itu juga kami langsung berangkat ke kantor polisi. Di tengah perjalanan saya menasihati dan memotivasi Juan dengan firman Tuhan. "Juan nanti akan menikmati rasa bahagia yang tiada taranya ketika mendapatkan SIM dengan cara yang benar. Itu akan menjadi sangat berharga. Berharga di matamu terutama berharga di mata Tuhan karena Juan hidup dalam kebenaran dan menyenangkan Tuhan Yesus", demikian dorongan saya. Akhirnya kami tiba di kantor Polisi langsung ke halaman test. Polisi agak kaget dengan kedatangan Juan untuk test lagi. Polisi itu memandang saya sambil berkata, "Pa anak bapak sudah lulus, besok tinggal berfoto saja." Saya langsung menjawab kepada polisi itu, "Ia kemarin tidak lulus karena masih jatuh di lintasan huruf U, biar saja Juan test lagi hari ini pak."  "Ya kalau begitu silakan saja pak", jawabnya dengan raut wajah yang kesal. Mungkin dalam hatinya berkata, "Gelo bener orang tua satu ini." Tentu polisi ini tidak paham nilai-nilai yang ingin saya tanamkan dan wariskan kepada Juan. Saya ingat sekali pernyataan rasul Yohanes dalam 3Yohanes 1:4, "Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar dari pada mendengar, bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran." Saya tahu dari firman Tuhan - bahwa tidak ada warisan yang lebih bermakna dan berharga bagi anak-anak saya bahkan bagi jemaat yang dipercayakan Tuhan pada saya, yang akan saya tinggalkan - selain mereka hidup dalam kebenaran, hormat, dan takut akan Tuhan. Bukankah firman Tuhan bersabda, "Supaya seumur hidupmu engkau dan anak cucumu takut akan TUHAN, Allahmu, dan berpegang pada segala ketetapan dan perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu, dan supaya lanjut umurmu" (Ulangan 6:2). "Tetapi kepada manusia Ia berfirman: Sesungguhnya, takut akan Tuhan, itulah hikmat, dan menjauhi kejahatan itulah akal budi"  (Ayub 28:28). "Siapakah orang yang takut akan TUHAN? Kepadanya TUHAN menunjukkan jalan yang harus dipilihnya" (Mazmur 25:12). "Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya" (Mazmur 112:1). "Hai orang-orang yang takut akan TUHAN, percayalah kepada TUHAN! —Dialah pertolongan mereka dan perisai mereka" (Mazmur 115:11). "Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat" (Amsal 8:13). "Ganjaran kerendahan hati dan takut akan TUHAN adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan" (Amsal 22:4)? 
Akhirnya, Juan mengambil motor dan menaikinya untuk test lagi. Wajahnya terlihat pucat sambil ia mengendarainya menuju lintasan angka delapan yang ia sangat takuti itu. Sebelumnya saya katakan, "Juan jangan takut, Tuhan Yesus memberkatimu. Bernyanyilah sebuah lagu 'Dalam nama Yesus', sambil melewati angka delapan, ziqzaq, dan lintasan huruf U."  Saya terus memandang Juan, ketika melewati angka delapan, hati saya sangat gugup dan gemetar. Wow… Juan berhasil melewatinya!  Namun detak jantung saya makin berdenyut keras ketika Juan memasuki  jalan ziqzaq. Ia berhasil lagi. "Oh puji Tuhan", saya berkata dalam hati dengan jantung yang tetap dag dig dug… Saya berteriak, "Juan satu lagi Juan, tenang nak."  Ia mulai menuju lintasan huruf U sebagai etape terakhir yang menentukan lulus tidaknya ia. Dan ia mulai tancap gas, ketika ia belok ke kanan, oh… Juan terjatuh. Hati saya sangat sedih ketika melihat kepalanya digeleng-gelengkan dengan raut muka yang sangat kesal disertai suara mendesis ke luar dari bibirnya.  Dia sangat kesal. "Oh Tuhan Yesus tolonglah anakku, berbelakasihanlah kepada Juan, oh Tuhan", demikian doa saya dalam hati dengan gemetar. Rasanya saat itu saya ingin berteriak menangis. Namun saya berhasil menahannya.  Polisi, lalu berkata, "Hayu sekali lagi kesempatan dek." Juan tidak menunggu lama ia langsung menuju lintasan angka delapan. Saya mengamati dengan teliti namun bimbang. Juan lolos. Jalan ziqzaq, Juan lolos. Saya langsung berseru, "Juan tinggal satu lagi nak, tenang Juan pasti bisa lewati huruf U, kecil itu nak. Tenanglah!"  Akhirnya Juan menuju lintasan huruf U, ia terus melaju dan perlahan-lahan ia belok kanan dan……  "Oh haleluya Tuhan Yesus, engkau sungguh baik. Engkau telah mencurahkan belaskasihanmu untuk Juan hari ini. Terpujilah nama-Mu Tuhan Yesus", seru saya dalam hati. Juan akhirnya berhasil! Ia nampak sangat gembira sekali. Ia langsung SMS mamanya, "Ma, Juan luluuuuuuuuuuuuuuuuussssssssssssssssssssss. Yesssssssssssssssssssssssss!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!" Air mata saya jatuh menetes di pipi. Saya sungguh bahagia. Tidak ada harta yang lebih berharga yang saya terima hari itu, kecuali damai sejahtera yang luar biasa di hati saya. Satu warisan yang sangat amat berharga telah saya berikan pada Juan. Juan baru menyadari dan mengaminkan nasihat-nasihat saya selama ini. Ia berkata, "Juan sungguh bahagia pak." Lalu saya berpesan, "Nak perjalanan hidupmu masih panjang, sekali waktu papa tidak ada lagi di bumi ini, ingatlah baik-baik. Dalam melakukan segala sesuatu, lakukanlah itu dalam kebenaran, takut akan Tuhan, dan senangkanlah hati Tuhan Yesus. Jangan pernah mau melukai hati-Nya.  Jangan pernah mau berkompromi dengan dosa. Pelihara integritas. Jangan pernah malu karena melakukan kebenaran Tuhan, meskipun banyak orang menghina dan memusuhimu kelak. Inilah warisan yang papa dapat berikan kepadamu nak. Papa tidak punya emas dan perak untukmu. Hormatilah Tuhanmu seumur hidupmu nak!"
"Dalam takut akan TUHAN ada ketenteraman yang besar, bahkan ada perlindungan bagi anak-anak-Nya. Takut akan TUHAN adalah sumber kehidupan sehingga orang terhindar dari jerat maut" ( Amsal 14:26-27).  "Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang" (Pengkhotbah 12:13)

SOLI  DEO  GLORIA  !!!

Baca Terusannya »»  

Selasa, 05 Juli 2011

Perjalanan Hidupku 1

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Saya Adrianus Pasasa, dilahirkan di Lion Kab. Tana Toraja. Latar belakang keluarga besar saya, ibu memiliki enam saudara di mana semuannya perempuan, karena hidup dizaman yang susah ibu saya dan saudara-saudaranya harus bekerja keras untuk menghidupi keluarga. Bapak saya berasal dari keluarga yang cukup mapan sehingga dapat menempuh pendidikan tinggi. Bapak saya seorang pekerja keras, disela-sela tugasnya sebagai polisi, bapak juga membuka usaha rumah makan. Berbeda dengan ibu saya yang berasal dari keluarga yang hidup pas-pasan, sehingga ibu hanya tamat Sekolah Rakyat.

Saya bangga memiliki orang tua yang memiliki kepribadian yang baik, ibu dan bapak berasal dari keluarga baik-baik, namun hal itu tidak dapat kami nikmati sampai kami dewasa. Kebersamaan orang tua kami tidak dapat bertahan. Sebagai seorang Polisi Ayah selalu pindah Tugas, sehingga suatu saat jatuh ke dalam dosa perselingkuhan. Waktu itu kami masih kecil jadi belum tahu apa-apa, setelah dewasa baru saya memahami semua itu. Sejak itu ibu saya yang paling berperan dalam mendidik saya dan saudara-saudara saya. Kami tiga bersaudara dibesarkan tanpa kasih sayang dan figur seorang ayah. Sejak kecil kami hanya dibesarkan oleh kasih sayang seorang ibu. Ibu sangat ketat mendidik kami, supaya kami menjadi orang yang berhasil. Dalam mendidik kami ibu memiliki peran ganda sebagai seorang ibu dan juga berfungsi sebagai ayah. Jadi semua didikan didominasi oleh ibu, banyak nilai-nilai yang ditanamkan, misalnya ibu selalu menanamkan bagaimana menghargai hidup ini, hidup itu tidak mudah atau susah jadi harus berusaha dan bekerja keras supaya bisa dihargai orang. Ibu juga selalu menanamkan bagaimana menghargai orang lain, menolong orang lain, memiliki kepedulian kepada orang lain dan berbagi dengan orang lain.

Pola didikan yang saya terima dari ibu cukup keras, kami dituntut untuk bekerja membantu ibu setelah pulang sekolah. Tiap malam kami juga selalu diharuskan untuk belajar. Kami juga diajar untuk hidup teratur, semua sudah ada jadwalnya bangun pagi masak makanan babi, bersihkan kandang babi, setelah itu kami kesekolah, pulang sekolah bantu ibu ke ladang atau cari makanan babi, sore tumbuk padi untuk di masak, jadi semua serba teratur. Kegiatan ini rutin kami lakukan setiap hari. Dalam mendidik kami, ibu juga tidak segan-segan memukul dengan rotan kalau kami lalai mengerjakan tugas rumah atau bolos dari sekolah. Namun ibu juga memberikan penghargaan/pujian jika kami mengerjakan tugas-tugas kami dengan baik, dan juga diberi pujian jika kami mendapat nilai yang baik di sekolah. Dari kecil kami diajar untuk hidup mandiri, hidup prihatin, dan diajarkan untuk tetap tabah dan kuat dalam menghadapi berbagai persoalan dan tantangan hidup. Untuk kesekolah saya harus jalan kaki 5 kilo setiap hari, walaupun capek ibu selalu memotivasi kami supaya tidak mudah menyerah, kami harus membuktikan walaupun hidup susah kami bisa berhasil.

Setelah tamat SD ibu melepaskan kami untuk mencari biaya makan dan biaya sekolah sendiri, karena ibu sudah tidak sanggup lagi membiayai kami. Awalnya kami menjadi pembantu di rumah orang sebagai penjual koran dan kasih makan babi, dari sini saya mendapat upah makan dan sedikit biaya untuk sekolah, saya pernah jadi kernet mobil saya terjatuh dan terseret jauh hingga keluar darah dari kepala saya tapi saat itupun tidak diobati hanya dikasih kopi saja, saya yakin sekali itu pertolongan Tuhan. Waktu-waktu luang saya gunakan untuk berdoa secara pribadi dan mengikuti organisasi pemuda di gereja, kadang dalam doa saya mengadu kepada Tuhan, mengapa kami harus mengalami semua ini. Tetapi dalam hati kecil saya mengatakan, Tuhan pasti mempunyai rencana yang indah buat keluarga kami, khususnya untuk saya. Pekerjaan di atas saya lalui bersama kakak dan adik saya sampai kami semua tamat SMA.

Nilai-nilai yang ibu saya tanamkan sejak kecil banyak sekali membentuk karakter saya, kebiasaan hidup teratur, bekerja keras, hidup disiplin dan mudah menolong orang lain. Satu pesan ibu saya yang terus menginspirasi hidup saya adalah: ”kata ibu saya, saya tidak memiliki harta yang saya tinggalkan buat kalian, tetapi satu pesan saya kemanapun kamu pergi hiduplah dalam takut akan Tuhan dan kalian hanya bertiga, kalian harus saling mengasihi” itulah pesan ibu saya yang tidak akan pernah saya lupakan. Ibu saya pun menjadi seorang yang tidak hanya baik bagi anak-anaknya tapi juga bagi keluarga dan orang-orang sekitarnya itu terbukti ketika ibu saya sudah terbaring sakit di rumah sakit orang-orang atau tetangganya datang setiap malam untuk menjeguk satu truk bergantian menjaga, saya sangat bersyukur ibu saya dikasihi oleh orang-orang di kampung, ketika ibu saya matipun harus melalui acara adat orang mati orang banyak datang untuk membantu proses pesta mati dengan sukarela, hingga beliau dikubur, melihat keadaan itupun menegaskan suatu pembelajaran bagi saya, jika kita menghargai orang, orangpun akan menghargai kita.

Mengenai ayah, saya tidak terlalu banyak mengenal dia secara mendalam, karena kami tidak hidup satu rumah. Walaupun demikian saya tetap menyayangi ayah. Saya menyadari, walaupun ayah kurang berperan dalam hidup saya, namun saya percaya bahwa tanpa ayah yang Tuhan pakai tidak mungkin saya ada di dunia ini.

Setelah saya hidup berumah tangga dan telah memiliki dua putra. Kadang saya tidak habis pikir begitu indah pertolongan Tuhan bagi saya. Saya dapat mengenal siapa Pribadi itu yang menolong saya melalui segala kesusahan hidup, yaitu Yesus Kristus. Satu hal yang saya petik: ”hidup adalah perjuangan”. Masih jelas dalam ingatan saya, untuk bisa makan saya harus tumbuk padi dulu hingga jadi beras baru bisa dimasak, terkadang tidak ada beras diganti dengan jagung, ubi jalar atau gadung (semacam ubi yang tumbuh di hutan). Bagi orang Toraja pendidikan itu bukan yang utama saya ingat ketika saya akan kuliah ayah saya berkata siapa suruh kamu kuliah kata-kata yang tidak ingin saya dengar keluar dari mulut ayah saya, saya harap dia akan mendukung. Walaupun ayah tidak mendukung tetapi hal itu tidak mematahkan semangat saya. Saya mengambil keputusan untuk ikut jejak kakak merantau ke Bandung. Di Bandung saya kuliah sambil bekerja. Saya bekerja dari pagi sampai sore, malamnya kuliah, puji Tuhan saya dapat memperoleh gelar Sarjana Teknik.

Tuhan telah menempatkan orang-orang disekitar saya untuk membentuk karakter saya. Ayah saya sekalipun beliau hidup tidak tinggal bersama-sama kami tapi ia sedikit banyak mempengaruhi karakter saya yaitu saya berjanji jika nanti saya berkeluarga saya akan melakukan peran saya sebagai seorang ayah dengan baik dan bertanggungjawab, belajar dari pengalaman pahit hidup tidak punya ayah walau beliau masih hidup. Di Bandung saya bertemu orang-orang yang juga senasib mempunyai latar belakang yang sama tidak merasakan kasih sayang seorang ayah, dan saya mampu memaafkan ayah saya secara total. Kalau saya renungkan kami dari keluarga yang tidak punya apa-apa, untuk makan saja tidak cukup, kalau bukan karena kemurahan dan pertolongan Tuhan tidak mungkin saya bisa melewati semua persoalan yang terjadi dalam hidup saya. Tetapi bagi saya tidak ada yang tidak mungkin di hadapan Tuhan Yesus, jika kita benar-benar percaya dan sejalan dengan kehendak-Nya.

Rasa empati saya kepada orang lain itu mungkin karena latar belakang saya, dan karena saya bisa berhasil juga karena orang lain peduli dengan saya. Maka dari awal saya berkomitmen ingin terjun ke bidang pelayanan yang sesuai dengan ilmu yang saya pelajari. Waktu masih kuliah, saya suka terlibat dengan kegiatan PMK diantaranya melakukan kegiatan bakti sosial dengan anak-anak jalanan. Mungkin karena kondisi kehidupan masa kecil saya yang penuh dengan keprihatinan, itulah yang membentuk kepribadian saya untuk selalu peduli dengan orang lain, tanpa memandang siapa dia.

Jika saya ingat kembali semua itu Tuhan membawa saya, membentuk pribadi saya menjadi pribadi yang takut akan Tuhan dan mengasihi Dia. Saya tidak tahu andai dahulu saya hidup dengan harta kekayaan ayah saya tentu saya tidak akan menjadi pribadi yang tangguh.

"Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa." (Yeremia 1:5)
Baca Terusannya »»  

Sabtu, 18 April 2009

Sehat Adalah Anugerah

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***

SEHAT = ANUGERAH
Hari kamis tanggal 9 April 2009 ada dua peristiwa penting yaitu pesta demokrasi bangsa kita yang tercinta dan perayaan kamis putih (perjamuan terakhir Tuhan Yesus dan murid-muridNya sebelum masuk hari sengsara). Sebagai warga Negara yang bertanggung jawab kami harus ikut mensukseskan pesta demokrasi ini dengan ikut terlibat dalam pemilihan anggota legislaif, saya dan istri sudah masuk DPT di daerah pemilihan Cimahi. Kami cukup antusias untuk mengikuti pemilu legislative ini dan sudah memiliki daftar calon yang akan dicontreng. Tetapi apa yang terjadi rencana yang indah itu sirna seketika, bak ditelan badai samudra raya. Harusnya hari yang menyenagkan berubah menjadi hari yang penuh kesesakan dan perenungan tentang makna hidup ini.

Sudah menjadi agenda kami sekeluarga untuk selalu mengutamakan Tuhan sebelum melakukan kegiatan di pagi hari. Setelah selesai doa pagi istri saya merasa kurang enak badan, suhu badan naik, awalnya seperti tidak mengkuatirkan, tetapi menjelang siang badannya sudah mulai kejang-kejang. Melihat kondisi istri demikian saya cukup kuatir, dalam hati kecil saya berseru kepada Tuhan, apa lagi yang akan Tuhan nyatakan dalam hidup kami. saya doakan istri saya, dan dengan kondisi yang kejang-kejang saya putuskan untuk memeriksakan ke rumah sakit di Cianjur. Puji Tuhan kami bisa menggunakan mobil kampus untuk mengantar kami ke rumah sakit.

Setelah tiba di rumah sakit, batin saya memprotes kondisi rumah sakit yang sangat memprihatinkan. Tetapi satu hal yang Tuhan ingatkan kepada saya, ternyata sehat itu adalah anugrah yang tak ternilai harganya, seringkali kita tidak mensyukuri akan anugrah sehat ini, seringkali kita mengganggap hanya ketika mendapat berkat materi baru kita bersyukur. Trima kasih Tuhan, jika Engkau mengizinkan saya mengalami semua ini. Suatu pengalaman hidup yang tak akan saya lupakan.

Ketika kami memasuki ruang parkir, suasananya campur aduk, melihat wajah-wajah yang ada di sana, ada yang tegang, ada yang sedih, ada yang menangis, dan wajah-wajah yang saya tidak bisa gambarkan. Dari tempat parkir saya menggandeng tangan istri yang lemas karena badannya yang kejang-kejang menahan rasa sakit masuk ke dalam ruang IGD. Melihat wajah-wajah yang terbaring tak berdaya di dalam ruangan yang penuh sesak itu, hati kecil saya kembali bersyukur dan mengatakan bahwa sehat itu adalah anugerah yang tidak ternilai harganya. Karena pasien penuh sesak sedangkan dokter hanya ada satu, maka kami harus bersabar cukup lama untuk mendapat perawatan.

Waktu menunggu itu, saya melihat pasien terus berdatangan yang rata-rata kondisinya cukup parah, begitu rapunya manusia itu. Disamping kanan saya seorang perawat sedang menjahit dan membalut luka seorang anak yang jarinya patah karena tabrakan motor, disamping kiri saya seorang nenek sedang berjuang mempertahankan hidupnya, dari depan pintu muncul lagi pasien yang digotong karena kondisinya yang sudah parah. Melihat pasien yang begitu penuh, istri saya di pindahkan keruang sebelah untuk mendapatkan perawatan yaitu pemeriksaan tekanan darah dan pemasangan infus untuk mengurangi rasa kejang-kejang, kami harus menunggu karena hasil pemeriksaan darah dan observasi, kalau hasilnya baik kami boleh rawat jalan tetapi kalau hasilnya buruk maka harus di rawat. Dalam waktu menunggu itulah Tuhan kembali memperlihatkan bahwa manusia itu sangat rapuh. Satu persatu Tuhan perlihatkan, mulai dari seorang bapak yang masuk karena kecelakaan tabrakan motor, kondisinya sangat parah kepalanya kena benturan sehingga langsung mengalami koma, nafasnya hanya kelihatan di leher dan kepalanya mengalami luka dalam, karena kondisinya yang sangat parah jadi harus di rujuk rumah sakit di Bandung. Kemudian masuk lagi satu cewek yang sudah tidak sadarkan diri karena mengalami hal yang sama yaitu kecelakaan motor, untung nyawanya masih dapat diselamatkan. Tidak berselang lama masuk lagi satu pemuda yang kakinya sobek karena kecelakaan/tabrakan motor, kakinya harus di jahit. Selanjutnya masuk lagi yang paling parah kepalanya sudah penuh dengan darah, darah sudah keluar dari hidung, mulut dan telinga, sudah tidak sadarkan diri, kondisinya sangat menyedihkan, darah harus dipompa keluar dari mulutnya. Dan yang terakhir seorang kakek yang patah kakinya karena motor yang ditumpanginya mengalami kecelakaan. Oh Tuhan, dalam waktu yang singkat itu Engkau mengingatkan saya, begitu rapunya manusia itu dan betapa berharganya anugrah kesehatan yang Kau berikan itu. Ampuni saya Tuhan jika selama ini saya kurang mensyukuri anugrahMu yang satu ini.

Puji Tuhan setelah melihat hasil pemeriksaan darah dari laboratorium menunjukkan hasil yang baik, maka kami boleh rawat jalan. Puji Tuhan, terima kasih kami bisa mengalami semua ini yang akan semakin mendewasan kami di dalam mengiring Tuhan Yesus.
Baca Terusannya »»  

Berita Terkini

« »
« »
« »
Get this widget

Daftar Blog Saya

Komentar