Tulisan Jalan

Hidupku untuk mengharumkan nama-MU Jangan bersukcita ketika engkau berhasil dalam pelayanan, tetapi bersukcitalah karena namamu tercatat di Surga

Kau istimewa. Di seluruh dunia, tidak ada orang yang sepertimu. Sejak bumi diciptakan tidak ada orang lain yang sepertimu. Tidak ada orang lain yang memiliki senyummu, tidak ada yang memiliki matamu, hidungmu, rambutmu, tanganmu, suaramu. Kau istimewa. Tidak ada orang lain yang memiliki tulisan yang sama denganmu. Tidak ada orang lain yang memiliki selera akan makanan, pakaian, musik, atau seni sepertimu. Tidak ada orang lain yang memiliki cara pandang sepertimu. Sepanjang masa tidak ada orang lain yang tertawa sepertimu, tidak ada yang menangis sepertimu. Kaulah satu di antara seluruh ciptaan yang memiliki kemampuan seperti yang kau miliki. sampai selamanya, tidak akan ada orang yang akan pernah melihat, berbicara, berjalan, berpikir, atau bertindak seperti dirimu. Kau istimewa...kau langka. Tuhan telah menjadikanmu istimewa dengan satu tujuan yaitu MEMULIAKAN DIA

Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Kotbah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kotbah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 April 2013

Peran Jemaat di Dalam Membangun Pekerjaan Tuhan

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Nats: Keluaran 35:4-29
Ibadah Pemuda Remaja GPdI Pasirnangka, Sabtu: 06 April 2013
Oleh : Adrianus Pasasa, S.T, MA

Beberapa waktu lalu, saya bersama istri dan anak-anak kami berkumpul
di kamar menonton televisi, sambil nonton istri saya melihat di
kepala saya cukup banyak rambut putih dan mulai mencabut satu persatu.
Ya cukup banyak juga! Melihat rambut putih yang cukup banyak, dalam
hati saya mulai muncul pertanyaan…wah ternyata saya sudah berumur, apa
yang telah saya lakukan selama hidupku? Khususnya hal-hal yang
mendatangkan kemuliaan bagi nama Tuhan Yesus! Terbersit begitu banyak
pertanyaan, sebagai hamba Tuhan apa yang telah saya lakukan untuk
pekerjaan Tuhan, seberapa jauh kepedulian saya terhadap perkerjaan
Tuhan?

Dalam bacaan kita hari ini, Hal ini juga yang dialami oleh umat Tuhan
(Israel) ketika hendak mendirikan kemah suci untuk kebaktian. Allah
berfirman melalui hambanya Musa untuk menyampaikan pesan Tuhan kepada
umat Israel untuk memberikan persembahan bagi pembangunan Kemah Suci.
Allah menghendaki keterlibatan atau peran Umat Israel dalam
pembangunan Kemah Suci. Tetapi dalam hal ini Allah hanya menghendaki
orang yang terlibat atau berperan dalam pembangunan kemah suci adalah
orang-orang yang terdorong hatinya, bukan orang yang terpaksa. Allah
juga tidak hanya melibatkan orang yang punya harta benda, tetapi Allah
melibatkan orang-orang yang memiliki keahlian untuk membangun kemah
suci.

Menjadi pertanyaan, seperti apa peran umat/jemaat dalam membangun Kemah Suci?
1. Mempersembahkan milik kepunyaannya (ayat 20-24)
Setelah segenap umat Israel mendengar perintah Tuhan yang disampaikan
lewat hamba-Nya Musa, seluruh umat itu pergi dari hadapan Musa.
Setelah itu setiap orang yang tergerak hatinya dan setiap orang yang
terdorong jiwanya, membawa persembahan khusus kepada Tuhan yang
digunakan untuk memperlengkapi kemah pertemuan dan untuk segala ibadah
di dalamnya dan untuk pakaian kudus yang digunakan dalam kemah suci.
Semua jemaat terlibat tidak hanya kaum laki-laki tetapi juga kaum
perempuan, semua yang terdorong hatinya datang membawa barang-barang
mereka yang terbuat dari emas untuk dipersembahkan guna pembangunan
kemah suci. Tidak hanya emas yang mereka persembahkan perak, tembaga,
dan bahan-bahan yang terbuat dari kayu, kain, kulit binatang, kulit
lumba-lumba. Pemimpin-pemimpin mempersembahkan permata untuk
perlengkapan baju efod, ada yang mempersembahkan rempah-rempah dan
minyak untuk penerangan, untuk minyak urapan dan ukupann dari
wangi-wangian. Mereka memberikan yang terbaik dari semua kepunyaan
mereka.

Bagaimana dengan kita? Sejauh mana peran dan keterlibatan kita dalam
pembangunan rumah Tuhan? Seberapa banyak harta yang Tuhan telah
percayakan kepada kita, digunakan untuk pembangunan rumah
Tuhan/membantu pekerjaan Tuhan. Mungkin selama ini kita belum berbuat
dan berperan banyak untuk terlibat dalam membantu pekerjaan Tuhan,
atau bahkan kita terlalu berpikir panjang ketika hendak membantu
pekerjaan Tuhan, atau bahkan sama sekali tidak tergerak untuk membantu
pekerjaan Tuhan. Atau kita memberi tetapi memberi dari sisa-sisa yang
kita miliki, bukan yang terbaik dari apa yang kita miliki. Firman
Tuhan saat ini akan menjadi perenungan bagi kita semua. Marilah kita
belajar dari firman Tuhan hari ini, dimana umat Israel tidak berpikir
panjang dalam memberikan hartanya guna pembangunan kemah suci. Bahkan
dikatakan Musa memerintahkan supaya umat Israel, baik laki-laki maupun
perempuan tidak lagi memberikan persembahan khusus, mereka dicegah
untuk membawa persembahan khusus, sebab bahan yang diperlukan telah
cukup untuk melakukan segala pekerjaan kemah suci, bahkan berlebih
(Kel. 36:7).

2. Mempersembahkan Skill (kemampuan) yang dimilikinya (25-28)
Tuhan tidak hanya menuntut harta yang dimiliki umat Israel, tetapi
setiap orang yang memiliki keahliah diharuskan untuk datang membuat
segala yang diperintahkan Tuhan yaitu pembangunan kemah suci. Apa yang
diperintahkan Tuhan mereka lakukan, dikatakan bahwa semua perempuan
yang tergerak hatinya oleh karena ia berkeahlian memintal membawa yang
dipintalnya itu untuk kebutuhan pembangunan kemah suci.

Mungkin kita terbatas dalam hal materi, sehingga kita tidak bisa
terlibat dalam pelayanan pekerjaan Tuhan. Tetapi Tuhan tidak hanya
melihat harta yang kita miliki. Seperti Tuhan perintahkan kepada umat
Israel bahwa setiap orang yang punya keahlian haruslah datang untuk
terlibat dalam pembangunan kemah suci. Hal inipun berlaku bagi kita
sekarang ini, Tuhan telah mengaruniakan talenta kepada setiap kita,
mungkin kita memiliki kemampuan dalam memimpin pujian, mengajar
sekolah minggu, bermain music, punya keahlian dalam multi media,
keahlian dalam bangunan, keahlian dalam memimpin, dan keahlian lain
yang Tuhan karuniakan kepada kita. Marilah kita manfaatkan keahlian
itu untuk membangun pekerjaan Tuhan. Menjadi perenungan bagi kita
semua, sudah sejauh mana talenta yang Tuhan karuniakan kepada kepada
kita masing-masing, kita pakai untuk membantu pekerjaan Tuhan?

Kedua hal inilah yang menjadi modal dalam melakukan pembangunan kemah
suci yang diperintahkan Tuhan kepada umat Israel. Apa yang
diperintahkan oleh Tuhan mereka lakukan dengan segenap hati dan penuh
sukacita. Mereka melakukannya bukan dengan terpaksa tetapi semua
karena dorongan yang muncul dari hati mereka, mereka melakukannya
karena gerakan yang muncul dari hati mereka. Dikatakan bahwa semua
laki-laki dan perempuan yang terdorong hatinya akan membawa sesuatu
untuk segala pekerjaan yang diperintahkan Tuhan. Mereka membawa segala
sesuatu sebagai pemberian sukarela bagi pekerjaan Tuhan. Mereka tidak
mencari keuntungan pribadi dalam pembangunan kemah suci. Walaupun
mereka banyak terlibat dalam pembangunan kemah suci, tetapi mereka
tidak pernah hitung-hitungan, diantara mereka tidak muncul perkataan
bahwa kalau bukan sumbangan dia, atau keahlian dia kemah suci itu
tidak akan jadi. Mereka juga melakukan semua itu bukan karena ingin
menyenangkan hati pemimpin mereka yaitu Musa. Apa yang mereka lakukan
semua dilandasi oleh sikap kebersamaan dalam membangun kemah suci,
karena apa yang mereka lakukan semua dimulai dari kerinduan hati
mereka untuk memberi bagi pekerjaan Tuhan.

Mungkin selama ini kita sudah banyak terlibat dalam membantu pekerjaan
Tuhan, tetapi apakah semua berangkat dari keterpanggilan hati kita?
Mungkin masih dibungkus dengan motivasi-motivasi yang lain. Mungkin
kita melibatkan diri dalam pekerjaan Tuhan karena terpaksa, karena
figur pemimpin, namun ketika tokoh yang menjadi figur itu tidak ada,
kita menjadi tidak semangat bahkan menjauhkan diri dari pelayanan
pekerjaan Tuhan. Mungkin juga pelayanan yang kita lakukan hanya untuk
menyenangkan seseorang. Mungkin juga kita melakukan pelayanan sekedar
untuk mendapat pujian, dlsb. Jelas sikap-sikap seperti ini akan
menghambat pekerjaan Tuhan. Namun jika pelayanan dimulai dengan
panggilan hati, maka apapun keadaannya akan tetap semangat dalam
melayani pekerjaan Tuhan.

Melalui keterpanggilan umat Israel, kita bisa belajar dari sikap
mereka, bagaimana keterlibatan mereka dalam membangun Kemah Suci. Saya
yakin dan sangat yakin, ketika kita memiliki sikap hati seperti umat
Israel dalam melibatkan diri untuk pekerjaan Tuhan, maka akan membawa
dampak yang luar biasa bagi pekerjaan Tuhan. Ketika kita memulai
segala sesuatu dengan dorongan dari hati atau memulai segala sesuatu
dengan hati yang tergerak, maka pekerjaan pelayanan Tuhan dimana pun
kita melayani akan membawa dampak yang luar biasa dan akan
menghasilkan hal-hal yang membawa kemuliaan bagi Tuhan. Jika jemaat
bekerjasama dan memulai semua pekerjaan Tuhan dengan hati yang
tergerak, baik dalam memberi sumbangan berupa materi maupun skill yang
dimiliki, maka apapun yang dibutuhkan dalam membangun pekerjaan Tuhan
akan tercukupi, bahkan bisa lebih dari apa yang dibutuhkan! Jika
sebagian besar jemaat memiliki pemahaman seperti ini, niscaya gereja
tidak perlu seperti "pengemis" seakan-akan tidak berdaya dalam
membangun pekerjaan Tuhan. Mau buktikan, mulailah aplikasikan firman
ini dalam pelayanan kita! Amin.
Baca Terusannya »»  

Senin, 04 Maret 2013

Hamba Puang

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***


HAMBA UANG ATAU HAMBA PUANG?

Ke mana saja, ku telah sedia, pimpinan-Mu tak akan pernah salah
Tolongku taat memikul salib-Mu, Tuhan pimpinan-Mu sempurna
Reff:
Dalam kota besar atau dalam rimba, jiwa sama berharga di mata-Mu
Ke mana saja, ku telah sedia, ku mau cinta yang dicinta-Mu

Sebuah lagu manis karya Pdt. Dr. Stephen Tong. Syair dan iramanya sangat menyentuh dan membakar hati untuk persembahkan hidup melayani-Nya. Sebagai orang berdosa - - yang selayaknya binasa dalam nyala api neraka abadi, namun mendapat anugerah keselamatan hidup kekal di surga melalui pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib, bahkan diangkat menjadi hamba-Nya bekerja sebagai partner-Nya menjalankan misi mulia-Nya - - lagu ini menjadi penting untuk direnungkan dan dijalankan sungguh-sungguh. Lagu ini mustinya menjadi komitmen perjuangan hidup pelayanan setiap hamba Tuhan. Ke mana saja, ke kota besar, kota sedang, kota kecil bahkan pedalaman terpencil, ke gereja elite maupun pailit, bila Tuhan mengutusnya, maka seorang hamba Tuhan harus taat, pergi, dan setia saja. Jangan banyak tanya. Jangan juga banyak berkalkulasi nanti Saya dapat gaji berapa, tunjangan dan fasilitas apa.  Atau mulai bergerilya mencari info lalu membanding-bandingkan mana gereja yang memberikan gaji dan fasilitas yang wah. Jangan. Abraham ketika dipanggil ke luar dari Ur Kasdim menuju tanah Kanaan juga kagak banyak cingcong sama Tuhan. Dia kagak belagu nanya: "Tuhan, Saya nanti pake kendaraan apa ya ke tanah Kanaan? Nanti kalau haus dan lapar, Saya dan keluargaku mampir di mana ya? Kalau udeh  nyampe di tanah Kanaan apa rumah dan kebun udeh siap blom? Anak-anakku nanti sekolahnya di mane Tuhan. Ada diskon berapa persen bayaran uang sekolahnya, kan Saya pendeta?" Kalo udeh nyampe di Kanaan berapa hektar tanah bakalan jadi milik gue. Gue kan dah berkorban ninggalin segalanya? Kagak nanya gitu-gituan si babe Abraham. Ia taat saja pada panggilan Tuhan. Ia tahu pimpinan Tuhan - yang memanggil dan menyuruhnya pergi – tak akan pernah salah alias sempurna. Titik.

Lagu di atas sangat terkenal di kalangan gereja-gereja berlatar belakang injili. Khususnya gereja-gereja mandarin. Saya percaya setiap jemaat di gereja-gereja ini pasti pernah menyanyikannya. Paling tidak pernah mendengarnya. Namun, permisi tanya, pernahkah kita berpikir sejenak saja, ada berapa banyak jemaat dan hamba Tuhan yang sering menyanyikan lagu ini dengan begitu syahdunya, lalu melakoni isinya? Bila kita memiliki talenta berkhotbah dalam kebaktian-kebaktian kebangunan rohani, adakah kita sangat terbeban, mau, dan rela berkhotbah ke desa-desa dan pedalaman terpencil seperti lagu tadi "Ke mana saja ku telah sedia…"? Ataukah kita hanya mau berkhotbah di kota-kota atau hanya di kota-kota besar? Ataukah kita hanya tertarik berkhotbah di gereja-gereja besar?  Gereja kecil, gereja desa, apalagi pedalaman terpencil seperti di Papua, Kalimantan, Sumatera, maukah? Kalau di gereja kecil yang hanya sepuluh jiwa, maukah kita berkhotbah dan ber-KKR ria?  Hayu neng, pilih mana, diutus Tuhan ke Kalimantan atau California? Ke pulau Rote atau ke Rotterdam? Hayu mang, mo makan papeda (sagu) dan singkong atau hamburger-ger-ger??? Tentu ke Rotterdam, California bukanlah tempat yang haram untuk diinjak oleh seorang hamba Tuhan. Tempat-tempat ini bukanlah surga. Di situ juga banyak jiwa yang harus dilayani.  Masalahnya apakah benar Saya diutus-Nya ke sono? Atau Saya mengutus diri sendiri ke situ, bukan Tuhan, karena ada pertimbangan-pertimbangan ekonomis, psikologis, romantis, hedonis, dan nis-nis lainnya? Yang jelas bukan alasan teologis. Ini yang harus diwaspadai dan dihati-hatii.

Sekali peristiwa di sebuah gereja besar yang jemaatnya rata-rata kaum berduit terjadi permutasian pelayanan. Pendeta  lama dipindahkan ke jemaat lain.  Permutasian merupakan sistim yang berlaku dalam tata gerejawi sinode gereja tersebut. Mau tidak mau, suka tidak suka, bila rapat elite sinode telah memutuskan seorang pendeta harus pindah ke gereja lain, maka seharusnya tidak ada seorang pendeta pun yang dapat menolak. Harap maklum saja. Namun berbeda dengan kisah di gereja besar yang Saya sebutkan tadi. Pendeta yang sudah cukup lama melayani di gereja tersebut - yang sudah menikmati manisnya persekutuan bersama jemaat dan yang juga telah menikmati manisnya berkat-berkat Tuhan - dengan sangat berat hati meninggalkan jemaat untuk melayani di gereja rintisan baru yang jemaatnya rata-rata sederhana hidupnya alias tidak berduit hanya berduet. Ya berduet, rata-rata jemaat di situ hanya makan nasi dan garam. Seolah-olah langit mau runtuh bila ia tidak lagi menjadi gembala di gereja lamanya. Maka dengan strategi jitu, otaknya mulai berputar. Ia mulai mendekati orang-orang  "kuat" yang  memiliki pengaruh di dalam jemaat, dengan cara menyebarkan isu bahwa pengganti dirinya itu adalah hamba Tuhan yang banyak kekurangan. Tidak mampu menggembalakan. Hanya Sayalah yang mampu. Beberapa dari orang-orang "kuat" itu terprovokasi juga dan akhirnya mereka berjihad menghadap pimpinan sinode supaya membatalkan surat keputusan mutasi tersebut. 

Saya bertanya, andaikata  ia dipindahkan ke gereja yang lebih besar dan  jemaatnya rata-rata konglomerat, maukah atau akankah ia memengaruhi jemaatnya untuk membatalkan perintah mutasi itu? Barangkali ia akan berkata pada jemaatnya: "Saya berat hati loh meninggalkan kalian, tapi apa boleh buat ini kan kehendak Tuhan. Mau apalagi?" Dan maukah ia menjelek-jelekkan rekan sepelayanannya yang akan menggantikan dirinya? Mungkin saja ia akan berkata pada teman yang menggantikannya: "Puji Tuhan, kamu pas sekali menggantikan  Saya. Kamu sangat diperlukan di sini. Talentamu sangat pas melayani di sini. Maju bro!" Saya pernah mendengar kalimat indah ini. Tuhan tidak memilih orang yang mampu, tetapi Dia akan memampukan orang yang dipilih-Nya untuk melayani Tuhan dan sesama manusia. Tatkala Tuhan menahbiskan seseorang menjadi pelayan-Nya, maka Ia pulalah yang akan menopangnya untuk menggembalakan jemaat-Nya. Benar sekali, Tuhan tidak memilih orang yang mampu, tetapi memampukan orang yang dipilih-Nya untuk menyelesaikan tugas-tugas yang dipercayakan Tuhan kepadanya. Ini prinsip penting! Jadi, orang yang menganggap dirinya hebat daripada yang lain, sejatinya ia telah meremehkan Tuhan. Dengan kata lain ia sedang mengandalkan dirinya sendiri dalam pelayanannya. Kalau begitu apa kata firman Tuhan terhadap orang yang demikian? Baca Yeremia 17:5-6. Apa isinya? Ya bacalah bro!

Lalu bagaimana dengan lagu Ke mana saja? Kalau Pdt. Stephen Tong mendengar kisah ini tentu hatinya akan menangis dan barangkali saja, barangkali loh, sebagai tanda protesnya kepada hamba Tuhan itu, maka ia akan mengubah lagunya begini:

Ke mana saja, ku telah sedia, asal saja jangan di ladang kering
Tolong ku taat, di sini saja Tuhan, biar kunikmati berkat-Mu
Reff:
Dalam greja besar atau greja kecil, jiwa sama berharga di mata-Mu
Namun kuyakin, kutelah diutus, selamanya di greja ini

Saya juga diceritakan seorang pendeta yang bernama Anton (bukan nama sebenarnya). Begini. Suatu kali gerejanya memerlukan seorang pelayan Tuhan. Lalu ia menghubungi kawan sealmamaternya bernama Ev. Ferry (juga bukan nama sebenarnya). Kemudian mereka bertemu dengan para majelis gereja dan membicarakan banyak hal tentang rencana bergabungnya Ev. Ferry. Akhirnya diputuskan bahwa majelis akan segera membuat surat resmi untuk mengundangnya. Mereka berpesan  agar surat itu setelah diterima dipelajari dulu selama satu minggu oleh Ev. Ferry. Setelah itu silakan memberikan jawaban kepada majelis gereja, jadi bergabung atau tidak. Setelah pertemuan usai malam itu dan para majelis pulang ke rumah masing-masing, maka Ev. Ferry bertanya kepada pendeta Anton. Ia bertanya secara detail  mengenai gaji, tunjangan, dan fasilitas apa saja yang bakal diterimanya, pokoknya segala tetek bengek ditanyanya. Maklum karena merasa sangat dibutuhkan - bukan membutuhkan - gereja. Dan semua pertanyaannya dijawab pendeta Anton. Lalu majelis gereja mengirimkan surat undangan resmi kepada Ev. Ferry. Tetapi waktu sudah lewat kurang lebih satu bulan tak kunjung datang jawaban dari Ev. Ferry. Saking penasaran, pendeta Anton menelepon Ev. Ferry, intinya menanyakan bagaimana keputusannya. Betapa kagetnya ia mendengar jawaban Ev. Ferry yang mengatakan bahwa dirinya sudah bergabung dengan salah satu gereja di kota itu. Ternyata selidik punya selidik Ev. Ferry menerima tawaran di gereja  lain karena gaji, tunjangan, dan fasilitas yang diberikan jauh lebih besar daripada yang dijanjikan gereja pendeta Anton.  Ternyata semua pertanyaan Ev. Ferry yang lalu itu kepada pendeta Anton adalah taktik untuk membanding-bandingkan informasi ekonomis, hedonis yang juga sedang ia cari dari gereja lain. Ternyata di gereja lain lebih prospektif dan menggiurkan. Di gereja pendeta Anton gaji hanya sekian juta perbulan, sedangkan di gereja lain  jauh lebih gede gajinya. Jangan tanya tunjangan dan fasilitasnya, jauh lebih empuk dan nikmat. Karena itu kagak perlu dijawab surat resmi yang dikirimkan majelis gereja pendeta Anton tersebut. Biarin deh! Tata krama dan etika sekaligus dilanggar bukan persoalan. Emangnya gue pikirin? Begitulah prinsip Ev. Ferry.

Sayang sekali, sikap yang amat tidak elok. Menyedihkan gereja menjadi sumber income, bukan wadah untuk mengabdi pada-Nya sebagai rasa ungkapan syukur kepada-Nya yang sudah menyelamatkan nyawa kita dari kebinasaan kekal. Rasul Paulus berkata: "Kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil" (1Korintus 9:18). Kalau kita bisa melayani-Nya itu sungguh hanyalah anugerah. Siapakah kita ini sehingga dilayakkan menjadi pelayan-Nya. Mengapa kita menuntut gaji, tunjangan, dan fasilitas pelayanan? Kita sungguh tidak tahu diri bahkan berlagak sebagai orang terhormat di hadapan Bapa. Seolah kita yang diperlukan-Nya. Kita lupa kalau Tuhan bisa menjadikan batu-batu untuk memuliakan Dia (Lukas 19:40). Tanpa kita Dia tetap Allah. Tanpa kita Kerajaan-Nya tetap dimashyurkan di seantero bumi ini. Tanpa Dia kita bangkrut total. Tanpa Saya dan Saudara, Tuhan bisa memakai binatang keledai untuk menjalankan kehendak Tuhan (Bilangan 22:21-34). Mengapa kita begitu sombong, kalau tak mau disebut kurang ajar di hadapan Tuhan, seolah-olah kita begitu penting sehingga Tuhan harus mengupah kita melayani-Nya?

Saya banyak menemukan orang-orang seperti ini. Saya pernah menjadi salah satu pimpinan dan pengajar di sebuah sekolah teologi yang spesial memersiapkan naradidiknya menjadi hamba Tuhan yang melayani di pedesaan. Tidak sedikit alumninya yang ketika ditawarkan pelayanan bukannya bersyukur dan bersukacita, malahan yang mereka tanyakan paling pertama adalah berapa gaji saya? Apakah ada listriknya di desa itu? Apakah disediakan motor untuk pelayanan? Saya kan udah bergelar S1? Kalau ditanya memangnya kamu mau melayani di tempat yang bagaimana, mereka jawab, "Kita kan perlu cari ladang pelayanan yang lebih baik!" Mantap-tap jawabannya! Wow… dia lupa selama kurang lebih lima tahun Tuhan Yesus membiayai cuma-cuma bin gratis kuliahnya, dijagai kesehatannya, diberikan uang saku untuknya, lalu setelah tamat, Tuhan mau utus ke ladang-Nya, tiba-tiba dia minta Tuhan harus bayar  pada dia dengan gaji yang besar, fasilitas yang lengkap. Apa ini, maaf, tidak kurang ajar namanya kepada Tuhan? Ini juga pelajaran amat berharga bagi pengurus yayasan sekolah teologia dan juga para pengajarnya. Harus introspeksi diri dengan serius. Jangan main-main mengelola sebuah sekolah teologia. Jangan berpikir yang penting belajar mengajarnya jalan. Gaji, tunjangan, dan fasilitas Saya sebagai pengajar it's ok. Oh tidak, sekali lagi, jangan main-main dengan uangnya Tuhan. Sekali waktu Dia meminta pertanggungjawaban kita. Pemantauan dan evaluasi serius yang berkesinambungan terhadap kegiatan belajar mengajar harus konsisten dilakukan agar sekolah-sekolah teologia menetaskan para hamba Tuhan yang rela pikul salib, pikul kuk, mampu menyangkal diri, dan menjadi agen transformasi bagi masyarakat, bangsa, dan negara. Bukan menjadi bosnya Tuhan. Sekarang ini tidak sedikit hamba Tuhan bergaya bos. Tuhan jadi hambanya. Main perintah Tuhan. Tuhan jadi pesuruh untuk menyiapkan ini dan itu. Doa mereka menjadi tongkat komando supaya Tuhan menuruti kemauan mereka.

Lalu kalau benar kita anak-Nya dan hamba-Nya sejati, kenapa pertimbangan pelayanan kita harus melulu uang dan fasilitas? Di mana iman kita? Ya di mana iman kita? Apakah kita sudah sedemikian ateis yang buta sama sekali dengan janji Tuhan Yesus? "Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya" (Matius 6:8). Apakah kita begitu tidak memercayai janji Tuhan Yesus ini,  "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal,  Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?  Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari." (Matius 6:25, 28, 31, 34)? Bukankah kita sedang menghina Tuhan ketika janji-Nya tak satupun kita percayai? Apa bedanya kita dengan si ateis? Memang kita bukan ateis teori, tapi kita acapkali ateis praktis. Kita harus bertobat!

Kalau begini faktanya, sejatinya hamba siapakah kita ini? Hamba UANG atau hamba PUANG? Oh ya, maaf saya lupa menjelaskan judul tulisan ini. Kata "PUANG" berasal dari bahasa Saudara kita dari suku Toraja yang berarti TUHAN. Mereka memanggil TUHAN YESUS adalah PUANG YESU'. TUHAN ALLAH dipanggil  PUANG MATUA. Ya, kita ini hamba UANG atau hamba PUANG? Kalau benar kita hamba PUANG tentu senanglah hati kita ketika menerima keputusan mutasi dari pimpinan yang adalah wakilnya PUANG untuk pindah ke mana saja? Dan apa faedahnya menjelek-jelekkan rekan sepelayanan yang ditugaskan menggantikan kita? Kalau benar jiwa sama berharga di mata PUANG, kenapa kita lebih cinta orang  yang banyak uangnya daripada "si janda miskin"? Kalau memang benar pimpinan PUANG itu sempurna dan tak pernah salah, kenapa kita tetap keukeuh bertahan mati-matian tidak mau beranjak dari gereja lama? Mengapa tidak mau pergi  ke ladang PUANG yang lain? Kalau kita hamba PUANG, mengapa harus membanding-bandingkan soal gaji, tunjangan, fasilitas yang akan diberikan oleh gereja X dan gereja Y? Masya Allah!!!  Astagfirullah!!!

Ada juga kisah lain. Seorang pendeta yang sudah memasuki masa emeritus bahkan sudah diupacarakan tapi masih saja mau menjadi gembala jemaat dengan berbagai macam alasan yang dibuat-buat supaya kelihatan logis dan nampak rohani nian. Hamba Tuhan tersebut lupa bin tak sadar bahwa dirinya telah menjadi sumbatan permanen terhadap karir para hamba Tuhan yang masih muda dan energik. Mereka yang sedang berkobar-kobar dan memiliki visi jauh ke depan untuk mengembangkan pelayanan gereja jadi tidak bisa maju-maju karena ia tak mau turun takhta. Ia bergeming. Tak mau mengakui emeritusnya. Karena apa? Benarkah karena PUANG atau karena UANG? Apakah keputusan majelis gereja memberikan hak emeritus kepadanya bukan kehendak PUANG? Jadi kehendak siapakah? Semoga benar memang karena PUANG bukan karena UANG! Hanya dia dan PUANG yang paling tahu bukan? Tapi paling tidak ini jelas merupakan suatu pelanggaran konstitusi gereja. Di mana-mana orang yang sudah emeritus ya emerituslah. Kasihlah kesempatan kepada yang muda untuk berkarya!!!

Kita perlu belajar dari nabi besar Musa yang sudah tahu waktunya emeritus dan memberikannya kepada Yosua yang masih muda untuk melanjutkan misi menuju tanah perjanjian. Musa tidak pernah beralasan bahwa Yosua masih muda, tak punya pengalaman, tak punya gelar, dan lain lain. Tetapi ia serahkan tongkat estafet kepada Yosua dengan hati yang tulus tanpa tedeng aling-aling. Musa taat pada PUANG MATUA saja. Pengkhotbah 5:9 berkata, "Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia." Sekali para hamba PUANG mulai mencintai uang bin kekayaan, maka pelayanan yang dikerjakannya tidak akan pernah memberikan kepuasan sejati. Pelayanan akan berubah menjadi alat, dan uang adalah tujuan akhirnya. Terbalikkan? Seharusnya uang bukan tujuan, melainkan hanyalah alat dalam pelayanan sedangkan pelayanan terbaik adalah tujuan akhir dari seorang hamba PUANG yang didedikasikan kepada PUANG MATUA-nya. Itu sebabnya acapkali seorang hamba UANG nampak begitu giat dan rajin melayani karena banyaknya uang yang diterimanya atau yang akan diterimanya dengan bonus-bonusnya. Sebaliknya ia nampak lemas, loyo, lunglai, letih, lelah, lesu, dan lembek karena tidak ada uang yang dihasilkan dalam pelayanan itu. Maka dari itu langka nian dijumpai orang-orang yang mau melayani di tempat-tempat pailit yang uangnya sulit. Karena di sana bukan saja tidak ada uangnya malah justru harus mengeluarkan uang. Kalau di wilayah elite yang uangnya tak pernah berkelit dan pelit, wow… siapa tak mau melayani di situ? Di sinilah letaknya bahaya di dalam melayani Tuhan. Jadi melayani Tuhan itu berbahaya Saudaraku.

Saya mengenal baik seorang pendeta senior. Tatkala memasuki masa pensiun dari sebuah gereja, ia mendapat visi dari PUANG untuk membuka gereja baru. Setelah gereja baru mulai berkembang, malah ia mengundurkan diri dan mengangkat hamba PUANG muda. Menariknya, ia memutuskan untuk tidak menerima gaji lagi. Gajinya ia minta kepada majelis gereja untuk ditambahkan kepada gaji pendeta baru itu. Jadi, ia mendapatkan gaji dua kali lipat dibandingkan  gaji pendeta senior sewaktu masih menjadi gembala. Sementara dirinya pensiun tanpa gaji apapun. Ada pula seorang hamba Tuhan senior yang sudah emeritus. Di masa lalu ia sangat berhasil memimpin sebuah Sekolah teologia. Dia adalah seorang yang sangat rendah hati, sebenarnya ia masih mampu memimpin sekolah teologia itu, namun ia memberikan kesempatan kepada yang muda berkarya. Ia tidak gila kuasa dan jabatan. Visi yang ia tangkap dari PUANG-nya jelas sehingga orang muda yang diberikan kesempatan pun benar-benar menunjukkan keberhasilannya memimpin sekolah teologia tersebut. Itulah hasil dari sebuah dada yang lebar. Bukan itu saja, ketika hamba PUANG ini jatuh sakit, maka banyak uang mengalir untuk membantu biaya pengobatannya. Tapi lagi-lagi kita melihat kebesaran jiwanya. Ia mengembalikan uang itu, bukan karena ia kaya, tetapi ia mempersembahkan untuk pekerjaan Tuhan yang lebih luas. Juga ada kisah lain lagi. Sekali waktu Saya dan istri serta anak-anak diundang berliburan di rumah orang tua rohani kami di Kudus Jawa Tengah. Beberapa hari kami di sana. Sekali waktu sesudah sarapan pagi, ayah rohani kami bercerita tentang pengalaman pelayanannya kepada seorang nonkristen. Singkat cerita, orang tersebut mengalami sukacita besar melalui pelayanan beliau sehingga orang itu menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Bukan hanya itu. Ternyata orang yang dilayani  itu mempersembahkan sebuah rumah kepada ayah rohani kami sebagai ungkapan terima kasih dan rasa syukurnya. Apakah ayah rohani kami senang dengan pemberian ini? Tentu senang. Menghargainya pula.  Pemberian itu diterimanya. Tetapi menarik sekali bagi Saya, ternyata rumah pemberian itu justru diserahkannya kepada gereja. Beliau tidak menerimanya karena gereja lebih membutuhkannya.  Bagaimana kalau itu terjadi dalam pelayanan kita? Saya sulit menjawabnya. Apalagi kalau hamba Tuhan yang belum memiliki rumah sama sekali?

 Oh ketiga orang ini jelas bukan hamba UANG. Mereka hamba PUANG.  Jelas. Bagi saya sangat luar biasa mereka ini! Ini teladan yang sangat indah bagi kita yang menyebut diri sebagai hamba PUANG di mana dan kapan saja kita melayani, ke kota besar atau kota sedang atau kota kecil bahkan ke pedalaman terpencil! Berbeda dengan kisah seorang hamba Tuhan dan anaknya  yang sedang heboh sekarang ini di salah satu gereja di Surabaya. Uang gereja triliunan rupiah dipakai untuk kenikmatan diri dan keluarganya sendiri. Puluhan mobil mewah, rumah mewah, dan barang-barang antik, lahan-lahan besar, dan harta dunia lainnya telah dikumpulkannya selama puluhan tahun dan telah menjadi bagian dari pelayanannya.  Memilukan sekaligus amat memalukan perilaku seorang yang menyebut dirinya hamba PUANG tetapi sejatinya hamba UANG!

Mari kita semua yang menyebut diri sebagai hamba PUANG, janganlah lupa pada pesan firman Tuhan ini, "Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.  Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan" (1Timotius 6:10-11)?  Kita WAJIB bertanya, kita ini hamba siapakah? Hamba PUANG atau hamba UANG?  Bapa Surgawi mendengar jawaban kita yang jujur di hadapan-Nya. Kiranya Tuhan berbelaskasihan kepada kita sehingga Dia memampukan kita yang lemah ini menjadi hamba Puang sejati bukan hamba Uang.  Amin! (Rev. Hans).



Baca Terusannya »»  

Selasa, 05 Februari 2013

Dampak Dari Tugas Seorang Pelayan Tuhan

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Nats: Lukas 13:6-9
Ibadah Pagi STT SAPPI, 06 Februari 2013
Oleh : Adrianus Pasasa, S.T, MA

Waktu saya masih sekolah di sekolah menegah atas (SMA), saya tinggal
di asrama yang dikelolah oleh kakak sepupu saya. Setiap akhir pekan
saya harus membantu dia untuk memelihara kebun cengkehnya. Tugas saya
adalah mengecek pohon-pohon yang batangnya digerogoti oleh ulat
penggerek. Biasanya pohon yang batangnya digerogoti ulat tidak akan
berbuah, kadang ada tetapi itupun buahnya tidak baik. Setelah beberapa
waktu kakak sepupu saya akan datang mengecek seluruh pohon cengkeh
yang ada di kebunnya, ketika dia mendapati pohon-pohon cengkeh yang
tidak menghasilkan buah, dia memintah suapaya dipotong.

Dalam bacaan kita pada hari ini, Tuhan Yesus memeberikan suatu
perumpamaan. Dalam perumpamaan yang di sampaikan Tuhan Yesus, ada dua
tokoh yang berperan di dalamnya yaitu pemilik kebun anggur dan
penggarap kebun anggur. Masing-masing tokoh memiliki peran
masing-masing. Di dalam kebun anggur itu, tumbuh pohon ara. Tuan
tanah atau pemilik kebun anggur mempercayakan kebun anggurnya kepada
penggarap supaya dioleh dengan baik supaya dapat memberikan hasil.
Tetapi apa yang terjadi, dikatakan bahwa sudah tiga (gambaran
pelayanan Tuhan Yesus) tahun pemilik kebun anggur datang untuk mencari
buah, tetapi ia tidak pernah menemukan buah dari pohon ara yang tumbuh
di kebun anggurnya.

Perumpamaan yang disampaikan oleh Yesus ini adalah sebuah gambaran
antara Allah dan umat-Nya. Kebun anggur dapat digambarakan sebagai
dunia, di mana di dalamnya terdapat pohon ara yang menggambarkan
orang-orang percaya atau dalam bacaan ini pohon ara juga terutama
menunjuk kepada Israel (Luk 3:9; Hos. 9:10; Yoel 1:7; Yesaya 5:2).
Kebun itu dipercayakan kepada penggarap atau pengurus kebun yang dapat
menggambarkan hamba-hamba Tuhan yang diutusnya untuk memelihara
kebun-Nya. Setelah sekian lama kebun itu dipercayakan kepada
hamba-hamba-Nya, maka Dia datang untuk mencari buah pada pohon ara,
apa yang terjadi Dia tidak menemukan buah pada pohon itu.

Kita akan lihat satu bagian di dalam Matius 21:18-22, dimana Yesus
mengutuk pohon ara karena Dia tidak mendapati buahnya. Pohon ara
merupakan pohon yang rindang. Pohon ini bisa tumbuh setinggi 4,5
sampai 6 meter. Ranting atau cabang-cabangnya bisa merentang 7,5
sampai 9 meter ke samping. Oleh karena itu, banyak orang yang suka
berteduh di bawah pohon ini karena keteduhannya. Selain itu juga,
pohon ini memiliki daun yang lebat.

Dalam perikop ini dikatakan bahwa Yesus tidak mendapati buah pada
pohon ara itu. Penampilan luar dari pohon ara yang hijau dan lebat
tidak menjamin bahwa pohon ara ini berbuah lebat juga. Begitu juga
dengan kehidupan Kekristenan, penampilan luar tidak menentukan apakah
orang Kristen itu berbuah atau tidak. Dari perikop ini, kita bisa
melihat bahwa Kekristenan bukanlah soal penampilan luar tetapi soal
buah dari kehidupan. Berdasarkan hal ini kita bisa mengetahui bahwa
penghakiman mutlak berada di tangan-Nya. Yesus berkuasa memelihara.
Yesus berkuasa menjaga. Akan tetapi, Yesus juga berkuasa untuk
menghancurkan dan membinasakan. Dalam hal ini, Yesus membinasakan
pohon ara itu melalui perkataan-Nya. Akan tiba saatnya, bahwa Yesus
datang bukan untuk memelihara atau menjaga, tetapi Yesus akan datang
sebagai hakim yang membinasakan bagi orang yang tidak berbuah dalam
kehidupannya.

Kembali ke perikop semula yang kita bahas, Sang pemilik kebun
memanggil orang yang dipercayakan menggarap kebun anggurnya, lalu Ia
berkata, karena pohon ara ini tidak menghasilkan buah, tebang saja
pohon ini. Hidup pohon ini tidak berguna, percuma karena tidak
menghasilkan buah. Sebagai pelayan-pelayan Tuhan, kita sudah
dipercayakan suatu pelayanan, kita harus menggarap pelayanan itu
dengan semaksimal mungkin, supaya menghasilkan buah. Ketika Sang
pemilik pelayanan itu datang ia akan mendapati buah-buah dari hasil
pelayanan kita, yaitu buah kebaikan (Galatia 5:16-25). Buah dari hasil
pertobatan.

Seperti cerita yang saya sampaikan diawal, dari beberapa pohon cengkeh
yang sudah dirawat sedemikian rupa, ada yang sembuh dan kembali
menghasilkan buah, tetapi ada juga yang belum menghasilkan buah
walaupun sudah dirawat sedemikian rupa. Ada beberapa pohon yang sudah
diperintahkan untuk di potong saja, tetapi saya katakan coba kita
rawat dulu, nanti kalau tidak ada perkembangan lagi baru kita potong.
Memang di dalam pelayanan terkadang juga kita mengalami hal-hal
seperti ini, ada orang-orang yang kita layani suadah berkali-kali
tetapi belum menunjukkan perubahan/pertobatan. Apakah kita menyerah?
Lalu apa yang harus kita lakukan ketika mengalami hal demikian! Dalam
bacaan kita pada pagi ini, kita akan meneliti apa yang dilakukan
pengurus kebun anggur itu ketika diperhadapkan pada kasus seperti ini?
Hal pertama yang ia lakukan adalah meminta kepada pemilik kebun anggur
supaya pohon ara yang tidak menghasilkan buah itu dibiarkan tumbuh
setahun lagi. Yesus secara tidak langsung mengatakan bahwa bangsa itu
(Yahudi) mendapat kesempatan terakhir sebelum Allah menghukum mereka
karena pemberontakan mereka dan karena keadaan mereka yang tidak
menghasilkan. Jadi yang harus kita lakukan sebagai pelayan-pelayan
Tuhan ketika menghadapi persoalan seperti itu adalah meminta kepada
Tuhan sang pemilik pelayanan supaya diberi kesempatan untuk merawat
orang-orang yang kita layani supaya dapat menghasilkan buah. Jika
kesempatan itu Tuhan berikan dan kita telah berusaha semaksimal
mungkin, namun belum juga menghasilkan buah alias tidak bertobat juga
(Lukas 13:3), ditebang saja. Dalam bacaan ini penggarap kebun meminta
kepada Tuannya, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan
mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin
tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!". Jadi tidak hanya
meminta untuk tidak ditebang, tetapi ada usaha yang dilakukan supaya
pohon yang tidak berbuah itu, dapat menghasilkan buah. Dikatakan
bahwa, ia akan merawat dengan mencangkul tanah sekelilingnya dan
memberi pupuk kepadanya.

Jadi tugas kita sebagai pelayan-pelayan Tuhan hanya memelihara dan
merawat pelayanan yang Tuhan telah percayakan. Karena kita bukan
pemilik pohon itu, jadi kita tidak dapat sewenang-wenang menebang
pohon itu, walaupun kelihatannya tidak akan menghasilkan buah. Tetapi
dengan setia kita terus pelihara sampai menghasilkan buah. Dampak dari
tugas kita sebagai pelayan-pelayan Tuhan adalah membawa orang-orang
yang kita layani kepada suatu pertobatan. Membawa orang-orang yang
kita layani mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Allah memberikan
kesempatan secukupnya kepada setiap orang untuk bertobat, ia tidak
akan selama-lamanya membiarkan dosa. Saatnya akan datang ketika kasih
karunia Allah akan ditarik dan orang-orang yang tidak mau bertobat
akan dihukum tanpa belas kasihan (Lukas 20:16; 21:20-24). Hukuman
adalah satu-satunya jawaban bagi orang-orang yang tidak berbuah.


Lalu mungkin akan muncul pertanyaan, apa yang menjadi upah atau bagian
dari penggarap kebun? Jaminan akan diberikan oleh Sang pemilik kebun.
Pertanyaannya adalah siapa pemilik kebun itu? Siapa yang kita layani?
Amin.
Baca Terusannya »»  

Jumat, 02 November 2012

Sikap Hidup Seorang Utusan/Pelayan Tuhan

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***

Nats: Kisah Para Rasul 20:17-38
Ibadah Pagi STT SAPPI, 24 Oktober 2012
Oleh : Adrianus Pasasa, S.T, MA



1. Melayani Tuhan dengan segala kerendahan hati (ayat 19)
Paulus dalam memulai pelayanannya semua memulai dari kerendahan hati,
kalau kita melihat, dalam setiap surat kirimannya Paulus mengatakan
bukan karena manusia, tetapi oleh Yesus Kristus, di bagian lain Paulus
mengatakan oleh karena Allah ia dipanggil menjadi rasul Kristus. Kita
bias melihat walaupun Paulus memiliki kapasitas dalam pelayanannya,
tetapi tetap memiliki sikap kerendahan hati, dia mengatakan bukan
karena saya, tetapi semua karena Tuhan. Harusnya sebagai pelayan
Tuhan, kita juga berani berkata bahwa keberhasilan-keberhasilan yang
kita capai dalam pelayanan, bukan karena kemampuan kita semata, tetapi
semua itu terjadi karena campur tangan Tuhan di dalamnya.
2. Fokus pada tugas panggilannya.
Orang yang focus pada tugas panggilannya, tidak akan melalaikan
tugasnya, walaupun banyak menghadapi tantangan dalam pelayanan. Rasul
Paulus dalam pelayanannya di Asia (Efesus), Paulus banyak mencucurkan
air mata dan banyak mengalami pencobaan dari berbagai pihak (dalam hal
ini orang Yahudi yang mau membunuh dia. yat 29 b). Tetapi kita dapat
melihat tanggapan Paulus terhadap persoalan yang dia hadapi. Kitab
Roma mencatat bahwa Paulus tidak melalaikan tugas panggilannya untuk
memberitakan dan mengajarkan Injil di segala tempat (umum, di
rumah-rumah); Paulus terus bersaksi kepada orang-orang yang menolak
(Yahudi, Yunani) supaya mereka bertobat dan percaya kepada Tuhan
Yesus. Di sini kita dapat melihat bahwa sungguhpun Paulus menghadapi
banyak tantangan dalam pelayanannya, tetapi dia tidak menyerah
terhadap tantangan, melainkan tetap focus dan sedikitpun tidak
melalaikan tugas panggilannya untuk memberitakan dan mengajarkan Injil
kepada orang Efesus.
3. Menyerahkan hidup sepenuhnya di bawah kuasa Roh Kudus (ayat 22-35)
Seorang pelayan Tuhan harus menyerahkan hidup sepenuhnya di bawah
otoritas kuasa Roh Kudus. Seperti Rasul Paulus yang menyerahkan diri
sepenuhnya di bawah kuasa Roh Kudus, dikatakan sebagai "tawanan Roh".
Yerusalem adalah pusat agama Yahudi dan tempat lahirnya jemaat
perdana. Paulus mengetahuio bahwa para pemimpin Yahudi dan para
pengikut Yesus Kristus mungkin masih terus berdebat satu dengan yang
lain. Paulus menyadari resiko yang akan terjadi pada dirinya jika ia
pergi ke Yerusalem. Tetapi sebagai tawanan Roh dia harus pergi ke
sana. Seorang pelayan yang menyerahkan dirinya sepenuhnya di bawah
tawanan Roh, maka:
a. Berani bayar harga (walaupun penjara dan sengsara menanti)
b. Focus pada garis akhir yaitu menyelesaikan pelayanan yang di
tugaskan oleh Tuhan Yesus untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih
karunia
c. Menyerahkan pelayanannya ke dalam tangan Tuhan dengan kata lain
tidak mengandalkan kekuatannya sendiri
d. Memiliki motivasi yang murni dalam pelayanannya (Tuhan yang
mencukupkan), menjadi teladan, peduli dengan orang lain, mendoakan,
berbagi, dll.
Seorang pelayan Tuhan, yang memiloiki sikap kerendahan hati, dia akan
focus pada tugas panggilannya dan akan menyerahkan hidup sepenuhnya di
bawah kuasa Roh Kudus. Jika ketiga hal ini menjadi sikap hidup seorang
pelayan Tuhan, maka hasilnya adalah menjadi pelayan yang membawa
berkat di tengah-tengah lading di mana Tuhan mengutusnya. Ketika
Paulus mengucapkan kata-kata terakhir dengan jemaat di Efesus, Paulus
berlutut dan mendoakan mereka. Maka menangislah mereka semua
tersedu-sedu dan sambil memeluk Paulus, mereka beulang-ulang mencium
Paulus. Mereka sangat berdukacita, terlebih-lebih karena dia
mengatakan, bahwa mereka tidak akan melihat mukanya lagi. Lalu mereka
mengantar Paulus ke kapal.

ilustrasi:
saudaraku yang dikasihi Tuhan Yesus. Saya mendengar sharing dari salah
satu mahasiswa yang pulang pelayanan dari gunung willis selama dua
bulan. Ketika hendak pulang karena masa pelayanan dua bulan telah
berakhir, dikatakan jemaat dan hamba Tuhan semua menangis ketika dia
pamit untuk pulang. Hal ini menandakan bahwa selama ini pelayanannya
menjadi berkat. Dan sebaliknya, ketika meninggalkan lading pelayanan
dan semua jemaat malah bersyukur, hal ini menandakan bahwa pelayanan
kita tidak menjadi berkat. Sama halnya dengan kampus kita jika besok
pagi, tiba-tiba kampus STT SAPPI tidak ada , apakah ada orang sekitar
palalangon yang merasa kehilangan, atau malah mereka bersyukur, STT
SAPPI sudah tidak ada. Bagaimana dengan kehidupan kita masing-masing,
apakah kita sudah menjadi berkat di tengah-tengah pelayanan di mana
Tuhan mengutus kita. Menjadi perenungan bagi kita semua: Apakah kita
sudah melayani Tuhan dengan segala kerendahan hati, apakah kita tetap
focus pada panggilan pelayanan kita walaupun banyak pencobaan yang
kita alami dalam pelayanan, dan apakah kita sudah menyerahkan
sepenuhnya kehidupan dan pelayanan kita di bawah kuasa Roh Kudus. Amin
Baca Terusannya »»  

Peringatan bagi para pemimpin/gembala

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Teks Alkitab : Yehezkiel 34:1-16
Tujuan : Pendengar dapat memahami peran dan tanggung jawab seorang pemimpin/gembala.
Renungan: Rapat Yayasan Mitra Pengembangan Desa (YMPD) Bandung, Senin, 03 Sept. 2012
Oleh : Adrianus Pasasa

Dalam dunia militer ketika seseorang diberi mandat, tetapi tidak
melakukan mandat atau perintah dari atasannya, atau menyalagunakan
mandat tersebut, maka orang itu akan mendapat sanksi. Sanksi itu bisa
berupa penurunan pangkat, tidak naik pangkat, dibebastugaskan, atau
bahkan dikeluarkan dari dinas kemiliteran. Dalam bacaan ini kita
melihat para pemimpin/gembala Israel yang diberi mandat atau perintah
oleh Tuhan untuk menggembalakan domba-dombanya (bangsa Israel), tetapi
mereka tidak menjalankan mandat dari Tuhan, akibatnya Tuhan melawan
para pemimpin/gembala Israel yang lebih condong melakukan kejahatan
dan penindasan dari pada melakukan tugas yang seharusnya mereka
lakukan sebagai pemimpin/gembala.

Tugas para gembala adalah melindungi kawanan dombanya agar tidak
dicuri atau dibunuh oleh binatang liar, atau menjaganya agar tidak
tersesat. Namun, para pemimpin Israel tidak bertindak sebagai gembala
yang baik. Kejahatan dan kelalaian mereka menyebabkan kawanan domba
(bangsa Israel) dibunuh atau terpencar-pencar di negeri-negeri asing.
Tuhan akan menghukum para gembala (pemimpin) yang gagal menjadi
gembala yang baik. Para pemimpin Israel adalah para raja, para imam,
dan pejabat kerajaan.

Adapun kelakuan pemimpin/gembala Israel waktu itu:
1. Menggembalakan dirinya sendiri, tidak peduli dengan domba-dombanya.
2. Hanya mau menikmati susu dan bulunya dibuat untuk pakaian, tetapi
mereka tidak mengembalakan domba-domba dengan baik.
3. Mereka membiarkan domba, jika ada domba yang lemah mereka tidak
kuatkan, domba yang sakit mereka tidak obati, domba yang luka mereka
tidak balut, domba yang sesat mereka tidak cari dan membawanya pulang,
domba yang hilang mereka tidak cari, mereka menginjak-injak domba
dengan kekerasan dan kekejaman.

Akibatnya yang terjadi pada domba:
1. Kondisi domba jadi kacau karena gembala tidak berperan.
2. Karena gembala tidak berperan akhirnya domba tersesat.
3. Domba jadi mangsa binatang-binatang di hutan (mangsa setan)
4. Dalam segala aspek domba mengalami ketersesatan
Peranan pemimpin/gembala sangan penting di dalam suatu pelayanan yang
Tuhan percayakan. Apabila pemimpin/gembala tidak menjalankan perannya,
maka dampak atau akibat yang ditimbulkan sangat buruk.
Pemimpin/gembala yang telah dipercayakan suatu pelayanan, tetapi dia
tidak mempertanggungjawabkan atau tidak menjalankan pelayanan yang
telah dipercayakan, maka pemimpin/gembala tersebut akan mendapat
ganjaran dari Sang pemilik pelayanan yaitu Tuhan.

Ganjaran bagi pemimpin/gembala yang tidak melakukan tugasnya:
1. Tuhan yang akan menjadi lawan mereka
2. Tuhan akan memberhentikan mereka dari tugasnya, Tuhan akan
mengambil pelayanannya kembali. Dibebastugaskan, Tuhan dapat memakai
berbagai cara untuk membebastugaskan pemimpin/gembala yang mangkir
dari tugasnya.
3. Tuhan akan melepaskan domba-domba dari mereka, supaya domba tidak
terus lagi menjadi makanan gembala. Tuhan akan mengambil pelayanan
yang selama ini dipercayakan.
4. Tuhan sendiri yang akan mejadi gembala dan mencari domba-domba.
Dengan cara-Nya, Tuhan akan mengambil alih pelayanan yang selama ini
dipercayakan kepada pemimpin/gembala.

Bagaimana aplikasinya bagi pelayanan kita di YMPD/STT SAPPI
Menjadi seorang pemimpin/gembala bukanlah hal yang mudah, seorang
pemimpin/gembala akan selalu diiperhadapakan pada berbagai tantangan
dan persoalan. Namun, apa yang akan kita lakukan ketika menghadapi
setiap tantangan dan persoalan tersebut. Dalam konteks pelayanan
YMPD-STT SAPPI, kurang lebih 12 tahun saya dipercayakan Tuhan
bergabung melayani di YMPD/STT SAPPI, sepanjang itu saya melihat
selalu ada tantangan dan persoalan, entah itu malasah personil,
masalah finansial, dll. Tetapi satu hal yang kita yakini bersama bahwa
YMPD/STT SAPPI adalah milik Tuhan.
1. Saya percaya para pendiri yayasan YMPD tidak ada yang mengkalim
bahwa ini milik saya, tetapi YMPD adalah milik Tuhan. Karena milik
Tuhan maka Tuhan yang menolong untuk mampu keluar dari setiap
tantangan dan persoalan tersebut. Hal ini sudah kita lihat bersama
bagaimana campur tangan Tuhan dalam pelayanan YMPD/STT SAPPI sampai
saat ini. Saya teringat ketika malam Visi Misi yang diadakan di Setra
Duta beberapa tahun yang lalu, ketika bendahara membacakan laporan
keuangan, beliau berkata "heran" melihat pelayanan YMPD yang secara
real tidak ada dana, tetapi masih tetap eksis, jawabannya itulah
TUHAN. Oleh karena YMPD/STT SAPPI adalah milik Tuhan maka harus
dikelolah dengan baik. Tuhan memberi kepercayaan kepada setiap kita,
baik itu unsur yayasan maupun unsur pelaksana yaitu STT SAPPI. Marilah
kita bersama-sama bergandengan tangan, kita semua dipanggil dan
dipercayakan untuk mengelolah YMPD/STT SAPPI sebagai milik-Nya.
2. Tuhan telah mempercayakan pelayanan ini, kalau kita tidak
memperhatikan pelayanan yang Tuhan telah percayakan, maka Tuhan
sendiri akan menjadi lawan kita (ayat 11). Tuhan akan mengambil
miliknya (pelayanan) karena tidak dikelolah dengan baik/bertanggung
jawab.
3. Tuhan telah mempercayakan pelayanan kepada kita semua. Unsur
yayasan dipercaya untuk mengelolah STT SAPPI, para dosen dipercaya
untuk membina calon-calon hamba Tuhan yang Tuhan panggil untuk di
bentuk di STT SAPPI.
4. Marilah kita melakukan dengan sepenuh hati (ayat 16) pelayanan yang
Tuhan percayakan. Ketika ada yang terhilang marilah kita cari, ketika
ada yang tersesat marilah kita bawa pulang, kalau ada yang luka
marilah kita balut, dan kalau ada yang sakit marilah kita kuatkan.
Semua itu kita lakukan dengan satu tujuan yaitu demi hormat dan
kemuliaan Sang pemilik pelayanan ini.
5. Firman Tuhan yang akan selalu menjadi penghiburan bagi kita semua
yaitu: Filipi 1:6, Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang
memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai
pada akhirnya pada hari Kristus Yesus. Filipi 4:12-13, Aku tahu apa
itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan
dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku;
baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal
kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat
kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. Demikian juga
dengan pelayanan kita di YMPD/STT SAPPI, Ia yang memulai dan Dia juga
yang akan mengakhirinya. Marilah kita berkata bahwa bersama Tuhan
segala perkara dapat kita lalui. Amin
Baca Terusannya »»  

Senin, 15 Oktober 2012

Sikap Hidup Orang Yang Sudah Ditebus

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Nats: Roma 6:1-14
Ibadah Remaja, 13 Oktober 2012: GPdI Pasir Nangka
Oleh : Adrianus Pasasa, S.T, MA

Beberapa bulan lalu saya mengalami kejadian di mana dua orang
mahasiswa teologi dari dua kampus yang berbeda membohongi saya.
Berselang dua bulan kemudian saya kembali mengalami hal yang sama
dibohongi oleh orang yang lebih tinggi lagi yaitu orang yang sudah
berlabel "hamba Tuhan/pelayan Tuhan". Hati kecil saya bertanya,
mengapa hal ini masih bisa dilakukan oleh orang-orang yang seharusnya
menjadi contoh dan harusnya berada di garis depan dalam memberi
pemahaman tentang hidup yang benar dan berkenan di dalam Yesus
Kristus.

Semua manusia telah jatuh di dalam dosa dan berada di bawah kuasa dosa
(Roma 3:9-10), dan akibat dari dosa adalah maut. Tidak seorangpun di
bawah kolong langit ini yang dapat membebaskan dirinya atau sesamanya
dari kuasa dosa. Manusia yang hidup di bawah kuasa dosa, kecenderungan
hidupnya adalah melakukan yang jahat di mata Tuhan. Dosa telah membuat
hubungan manusia dengan Tuhan terputus. Karena dosa manusia semakin
menjauh dirinya dari Tuhan, dosa telah membutakan manusia, dosa telah
mengakibatkan manusia menyerahkan hidupnya pada jalan pikiran mereka
sendiri yang kecenderungannya melakukan kejahatan. Itulah gambaran
manusia lama kita yang belum di baharui di dalam Yesus Kristus. Kita
sungguh bersyukur atas anugerah pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib
untuk membebaskan kita dari tawanan dan memerdekakan kita dari
perbudakan dosa. Yesus telah menyelesaikan dan mengalakan kuasa dosa
dengan mati di kayu salib, dikuburkan dan bangkitn pada hari yang
ketiga. Dengan demikian kita tidak hidup lagi dibawah kuasa dosa,
malainkan kita hidup di bawah kasih karunia, di mana Yesus adalah
pusat dari segala kehidupan kita. Jika demikian, sikap apa yang
selayaknya kita miliki sebagai orang yang telah ditebus:
1. Jangan memperhambakan diri lagi pada dosa
Ketika kita menjadi hamba dosa, kita di bawah kuasanya. Hidup kita
dipenuhi dengan keinginan daging. Tetapi dengan kematian Yesus di kayu
salib, berarti manusia lama kita juga telah turut disalibkan, supaya
tubuh dosa kita hilang kuasanya. Kematian Yesus di kayu telah
membebaskan kita dari kuasa dosa. Jadi orang yang telah di tebus
dengan darah Yesus, dia tidak diperhamba lagi oleh dosa, sehingga
ketika ada godaan untuk berbuat dosa, dia akan memiliki kemampuan
untuk menolak atau berkata tidak kepada dosa. Roh Kudus akan
memampukan dia untuk berkata tidak kepada perbuatan-perbuatan yang
akan melahirkan dosa.

Namun menjadi pertanyaan: terkadang kita dibuat merenung ketika dalam
realita kehidupan, kita menjumpai kejadian-kejadian yang seharusnya
menurut akal sehat kita hal itu tidak mungkin terjadi, tetapi toh
terjadi juga. Maka munculah pertanyaan, bukankah dia itu orang yang
memakai label "hamba Tuhan" yang harusnya lebih tahu tentang firman,
mengapa dia masih bisa diperdaya oleh dosa. Hidupnya dipenuhi dengan
kebohongan, kemunafikan, hawa nafsu, keserakahan, dll. Seperti di awal
saya katakana, beberapa waktu lalu saya dibohongi oleh orang-orang
yang berlabel "hamba Tuhan", menyedihkan, mengapa tidak berkata jujur,
apakah dia tidak tahu berbohong itu dosa! Kenapa hal ini masih
terjadi? Di mana letak persoalannya? Rasul Paulus mengatakan: "Jadi
jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku
yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku (Roma 7:20).
Supaya kita tidak diperhamba oleh dosa, maka hal yang kita lakukan
adalah mematikan perbuatan-perbuatan dosa dalam tubuh kita.

2. Mematikan perbuatan-perbuatan dosa dalam tubuh
Jika kita kompromi dengan perbuatan-perbuatan dosa, dan tidak
mematikan perbuatan-perbuatan dosa dalam tubuh kita, atau hanya
mematikan sebagian saja dan tetap memelihara yang sebagian, maka dosa
itu akan tetap ada dan menguasai tubuh kita, dan tubuh kita akan tetap
mengikuti keinginannya. Seharusnya ketika kita sudah ditebus, maka
dosa itu tidak berkuasa lagi atas tubuh kita, kuasa dosa itu sudah
dimatikan. Ketika kuasa dosa tidak berkuasa lagi di dalam tubuh kita
yang fana ini, maka kitapun tidak akan bisa lagi mengikuti
keinginannya. Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati;
tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu
akan hidup (Roma 8:13). Dengan kemampuan sendiri, kita tidak akan
mampu mematikan perbuatan-perbuatan dosa dalam tubuh kita, tetapi
Tuhan Yesus yang telah memerdekakan kita dari kuasa dosa, melalui Roh
Kudus-Nya akan memampukan kita untuk mematikan perbuatan-perbuatan
dosa dalam tubuh kita.

3. Menjaga anggota tubuh supaya tidak dipakai sebagai senjata kelaliman
Walaupun kuasa dosa telah dikalahkan dan perbuatan-perbuatan dosa
telah kita matikan di dalam tubuh kita, tetapi kita harus tetap
waspada dan berjaga-jaga. Iblis selalu mencari kesempatan untuk
merongrong orang-orang yang sudah hidup di bawah kasih karunia Tuhan
Yesus. Firman Tuhan dalam Matius 26:41 Berjaga-jagalah dan berdoalah,
supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut,
tetapi daging lemah." Orang yang sudah ditebus harus terus waspada dan
berjaga-jaga. Rasul Paulus menyadari benar bahwa ada dua hukum yang
bertentangan di dalam tubuhnya, Paulus mengatakan, "Sebab di dalam
batinku aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota
tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku
dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam
anggota-anggota tubuhku. Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan
melepaskan aku dari tubuh maut ini? Syukur kepada Allah! oleh Yesus
Kristus, Tuhan kita (Roma 7:22-25). Orang yang sudah ditebus harus
menjaga dan tidak menyerahkan anggota-anggota tubuhnya kepada
perbuatan-perbuatan dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman.
Orang yang sudah ditebus menyadari bahwa seluruh anggota tubuhnya
bukan milik dia lagi, tetapi milik Kristus. Dengan demikian seluruh
anggota tubuhnya akan diserahkan kepada Tuhan untuk dipakai menjadi
senjata-senjata kebenaran. Seluruh anggota-anggota tubuhnya akan
dipakai untuk membawa keharuman nama Tuhan, seluruh anggota tubuhnya
dipakai untuk menjadi berkat bagi orang lain. Sehingga melalui semua
itu nama Tuhan dipuji dan dipermuliakan.

Saudaraku yang dikasihi Tuhan Yesus, ketiga sikap inilah yang perlu
kita miliki dan terapkan dalam kehidupan kita sebagai orang-orang yang
telah ditebus dari belenggu dosa. Kematian Tuhan Yesus di kayu Salib
adalah kematian terhadap dosa kita, sekali untuk selama-lamanya. Dulu
kita telah mati terhadap dosa, kini hidup di bawah kasih karunia Tuhan
Yesus. Karena kita sudah hidup di bawah kasih karunia, maka jangan
kita mau lagi diperhamba dan diperbudah dosa. Supaya tidak jatuh lagi
ke dalam perbudakan dosa, maka matikanlah perbuatan-perbuatan dosa
yang ada dalam tubuh kita, dan tetap menjaga anggota-anggota tubuh
kita supaya tidak dipakai sebagai senjata kelaliman melainkan sebagai
senjata-senjata kebenaran. Percayalah bahwa ditengah ketidakberdayaan
kita, Roh Kudus yang akan memampukan. Amin.
Baca Terusannya »»  

Sabtu, 13 Oktober 2012

PEMIMPIN AUTIS

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Perdana Menteri Jepang , Naoto Kan (66 tahun) mengumumkan pengunduran dirinya pada Jumat, 26 Agustus  2011. Ia mundur karena terus-menerus mendapatkan kecaman dari publik bahkan partainya sendiri, akibat tidak memperlihatkan kepemimpinan yang baik pasca gempa dan tsunami  tanggal 11 Maret 2011. Ia juga dinilai tidak memiliki gebrakan dalam kebijakan politik luar negeri dan ekonomi Jepang. Inilah potret pemimpin yang penuh integritas yang patut dipuji dan diteladani. Seharusnya sikap kesatria ini diikuti para pemimpin kita. Namun sayang sejuta sayang, para pemimpin  kita jauh sekali bedanya dengan para pemimpin di Jepang. Pemimpin kita banyak yang autis. Autisme adalah suatu kondisi mengenai seseorang sejak lahir ataupun saat masa balita, yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal.
Ini  yang sedang terjadi di depan mata seluruh rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke, dari Pulau Rote hingga Pulau Miangas.  Rakyat sudah muak semuak-muaknya menyaksikan tontonan para pemimpin autis. Celakanya, mereka tetap saja asyik dengan dirinya sendiri. Mereka tidak peduli apalagi ada yang mau mundur karena gagal menjalankan fungsinya sebagai pemimpin. Alih-alih mundur, mengaku salah saja tidak.  Yang terjadi justru tanpa rasa malu bermuka badak mereka membela diri habis-habisan di depan media massa. Berani berbohong, tidak mengenal si anu dan si ani, padahal jelas-jelas si anu dan si ani adalah kaki tangan mereka untuk melibas habis dana-dana proyek yang ada di tangan mereka.
Kondisi bangsa yang sudah terseok-seok dan menebar aroma anyir perilaku korup ke seluruh tanah air, tidak membuat para pemimpin negeri ini siuman. Mereka tetap masih saja bergeming (tidak  bergerak sedikit juga, hanya berdiam saja). Terutama Presiden kita ibarat bebek lumpuh yang  hanya mengangakan mulutnya ketika melihat para pembantunya sedang  terindikasi korupsi. Dengan alasan basi, "Saya tidak mau intervensi hukum." Presiden kita mungkin harus belajar lagi tentang manka "intervensi" tersebut. Jangan hanya penuh retorika semata di depan kamera para jurnalis media massa, "Saya ada di garda terdepan dalam pemberantasan korupsi."  Juga sebagai pucuk pimpinan partai, ia  berperilaku  autis yang hanya asyik dengan dirinya sendiri, tidak peduli  dengan pejabat-pejabat di partainya yang tidak sedikit tersandung  kasus korupsi.  Rakyat Indonesia sudah muak dengan gaya pencitraan.
Negeri kita sedang sakit parah. Silakan saja kita mau mengakuinya atau tidak. Namun yang jelas  kondisi negeri kita makin memprihatinkan. Ini makin diperburuk  dengan ulah para pemimpin saat ini yang semakin memuakkan hati rakyat.  Pemimpin yang semestinya menjadi teladan kebajikan dan kebijakan bagi rakyat, kini telah edan. Sesama aparat hukum saling menggigit. Lihat saja perseteruan KPK dengan Polri dalam kasus simulator SIM terbaru saat ini. Sangat memilukan dan memalukan apa yang dikemukakan seorang ahli Indonesia dari Northwestern University AS, Prof. Jeffry Winters bahwa negeri ini sudah dikuasai para maling. (http://www.rakyatmerdekaonline.com/, Selasa, 09 Agustus 2011 , 15:51:00 WIB. Dilaporkan oleh Soemitro, RMonline). Bukan cuma itu. Camkan baik-baik, hutang Indonesia sudah mencapai Rp 1796 Triliun. Bila dibebankan kepada setiap rakyat Indonesia, maka setiap orang harus menanggung utang sebesar Rp. 74 juta (RMOL, Ninding Julius Permana, Kamis, 28 Juli 2011 , 10:50:00 WIB). Hutang sudah seabrek-abrek begitu masih dirampok lagi oleh para pejabat.  Ada 17 orang Gubernur dari 33 orang tersangka korupsi. Bayangkan ada 50% dari jumlah seluruh Gubernur di Indonesia (33 Propinsi) adalah maling. Dan ada 138 orang Bupati/Wali Kota dari 497 Kabupaten/kota yang juga berstatus tersangka korupsi. (http://sosbud.kompasiana.com/2011/01/18/138-bupatiwalikota-17-gubernur-tersangka-korupsi-fantastik/). Belum lagi para maling yang merajalela dalam proyek-proyek APBN.  Contoh terkini yang terjadi di Kementerian Negara Pemuda Olahraga, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, serta Kementerian Agama dalam proyek pengadaan Al Qur'an. Saya mengamini apa yang pernah dikatakan Romo Franz. Romo Franz Magnis Suseno, delapan tahun yang lalu (di Yogyakarta, tepatnya pada hari Jumat, 26/9/2003) pernah berkata, "Bangsa Indonesia kini tinggal menunggu waktu masuk ke jurang karena korupsi bukan hanya dilakukan pejabat di tingkat pusat, melainkan merata di seluruh daerah dan semua tingkatan. Masyarakat yang melakukan korupsi adalah masyarakat yang berada di dataran miring yang licin, yang lama-kelamaan meluncur ke bawah dengan semakin cepat. "Tinggal menunggu waktu kapan semuanya jatuh ke jurang."
Saat ini kita punya pemimpin tapi tanpa kepemimpinan. Bahkan tidak sedikit yang sudah tidak bermoral lagi. Salah satu contoh, ada seorang elite partai politik yang suka berkoar-koar dan suka bikin heboh rakyat. Yang sangat memalukan, dia seorang Kristen. Ia sejatinya sudah beristri dan punya anak. Namun tanpa punya rasa malu dan takut, ia membuat surat pernyataan di bawah sumpah  bahwa dirinya masih bujangan demi untuk menikah lagi sesuai ajaran agamanya. Mengerikan sekali. Demikian bunyi surat pernyataannya, "Dengan ini saya menyatakan di bawah sumpah bahwa sesungguhnya sampai saat ini saya belum pernah menikah dengan siapa pun juga dan saat ini saya masih jejaka. Demikianlah surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya. Dan bila kemudian hari saya tidak benar atau saya berdusta saya tanggung segala akibatnya sesuai dengan hukum yang berlaku baik hukum Tuhan maupun hukum negara sesuai UU yang berlaku di Indonesia. Saya tidak akan melibatkan aparat yang terkait khususnya aparat kelurahan. Jakarta, 6 Mei 2008. Yang membuat pernyataan:  R.S, SH.(Reformata Edisi 143 tahun IX 1-30 September 2011, halaman 18).
Tuhan saja berani ia dustai apalagi rakyat kecil? Indonesia benar-benar sudah dekat sekali di ambang kolaps dengan moralitas pemimpin yang  hancur etika, moral, dan spiritual begini, meskipun nampaknya kapal-kapal masih nampak berlayar di lautan. Pesawat-pesawat masih terbang mengangkasa. Mobil-mobil dan kereta api masih terus mendarat di jalanan. Para nelayan masih melaut. Para petani masih membajak sawahnya. Pedagang asongan masih menjajahkan jualan di  bawah panas terik mentari. Para pemulung masih memungut sisa-sisa barang di sampah-sampah. Dan para buruh masih giat bekerja di pabrik-pabrik.  Seharusnya para pemimpin makin bijak dan cerdas membaca tanda-tanda zaman. Tetapi sayang sejuta sayang. Para pemimpin kita autis. Ya autis! Lihat saja fakta-fakta  ini dan bagaimana respon mereka? Sekarang ini ada 70 juta jiwa yang masih terseok-seok bergumul saban hari untuk mencari sesuap nasi. (Vivanews. Rabu, 12 Januari 2011, 12:56 WIB.Nur Farida Ahniar). Apakah mereka  berjuang mati-matian untuk menolong  jutaan rakyat yang lapar, yang  sakit tapi tak  bisa ke rumah sakit, yang  tak bisa menyekolahkan anak-anaknya  ini? Yang mereka lakukan justru tidak peduli dengan keadaan parah ini. Pertunjukan mereka terus berjalan. Korupsi makin menggila di mana-mana. Tak ada rasa malu. Tak ada rasa takut baik kepada manusia maupun Tuhan. Urat malu, urat takut, dan urat peduli sudah putus dari tubuh mereka. Mengerikan!
 Kalau para pemimpin kekinian tak ada yang serius berjuang untuk para campesinos ini, jangan menyesal  kalau sekali  waktu mereka  mengalami  putus  urat sabar dan sadarnya,  lalu mengambil alih negeri  ini dengan cara mereka sendiri.  Jadi, solusinya bagaimana? Kalau kalian para elite sadar diri bahwa sudah tak mampu berbuat  lagi untuk rakyat, mundurlah dengan kesatria dari tampuk kekuasaanmu.  Angkat kakilah! Kalian pasti akan dihormati. Dan dikenang sejarah. Saya hanya mau mengingatkan, "Hai para pemimpin, berhentilah dari sikap autisme kalian. Siumanlah, ada jutaan rakyat negeri  yang kini sedang mengerang kesakitan. Jadilah teladan bukan telah edan. Berhentilah merampok uang rakyat. Cintailah mereka  seperti  cintanya Yesus terhadap para kaum miskin [yang ketika melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala (Mat 9:36)]. Hai para pemimpin, sejahterakanlah rakyat  yang  memilih kalian sehingga kalian menjadi pemimpin. Dan akhirnya, berubahlah kalian dari pemimpin autis menjadi pemimpin altruis."  Pemimpin altruis inilah yang diperkenankan-Nya sebab Dia Allah yang altruis, Allah yang rela menjadi manusia demi kepentingan orang lain. "Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya", 2Korintus 8:9.
Kota kembang, Selasa, 13 September 2011. Rev. Andrias Hans .

Baca Terusannya »»  

Senin, 01 Oktober 2012

DAMPAK PERTOBATAN

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Nats: Lukas 15:1-32
Ibadah Misi GPdI Pasirnangka-Ciranjang: Minggu, 30 September 2012

Dalam bacaan ini diceritakan para pemungut cukai dan orang-orang
berdosa datang kepada Yesus untuk mendengarkan pengajaran yang
disampaikan oleh Tuhan Yesus. Namun ahli-ahli Taurat dan orang-orang
Farisi bersungut-sungut. Katanya Ia menerima orang-orang berdosa dan
makan bersama-sama dengan mereka.

Menjadi pertanyaan, mengapa orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut?
Ada tiga hal yang membuat mereka bersungut-sungut.

1. Mereka menganggap diri lebih baik dan lebih suci dari orang lain
(orang berdosa)
2. Mereka tidak senang jika orang lain diselamatkan (datang kepada Yesus)
3. Mereka tidak peduli dengan keselamatan orang lain

Lalu bagaimana respon Tuhan Yesus terhadap ahli Taurat dan orang
Farisi, Tuhan Yesus memberikan 3 perumpamaan, yaitu:
1. Perumpamaan tentang seekor domba yang hilang.
Ia meninggalkan yang Sembilan puluh sembilan ekor dan mencari yang
sesat sampai Ia menemukan. Yesus datang untuk mencari yang terhilang
dari kawanan domba-Nya. Di sini kita melihat bahwa begitu berharganya
1 jiwa bagi Tuhan. Setelah ditemukan ia bersukacita bersama dengan
tetangga-tetangganya karena domba yang hilang itu telah ditemukan.
Demikian halnya, jika satu orang berdosa bertobat akan ada sukacita di
Surga, lebih daripada sukacita karena 99 orang benar yang tidak
memerlukan pertobatan. Di sini kita melihat bahwa pertobatan itu
sangat penting, inti pengajaran Tuhan Yesus adalah pertobatan.
2. Perumpamaan tentang Dirham yang hilang.
10 dirham, hilang satu diantaranya. Ia menyalakan pelita, menyapu
dengan cermat sampai ia menemukannya. Setelah ditemukan ia mengundang
tetangganya untuk bersukacita bersama-sama sebab dirham yang hilang
telah ditemukan. Ada sukacita pada malaikat-malaikan Allah karena satu
orang berdosa yang bertobat.
3. Perumpamaan tentang anak yang hilang.
Ada tiga pemeran yaitu, ayah pemilik harta, anak bungsu, dan anak
sulung. Anak bungsu meminta bagian terlebih dahulu. Setelah ayahnya
membagikan, si bungsu menjual seluruh bagiannya lalu pergi ke negeri
jauh, ia memboroskan harta miliknya dengan hidup berfoya-foya. Setelah
semua habis, timbulah bencana kelaparan dan ia mulai melarat. Ia
bekerja menjaga babi, dan ia ingin mengisi perutnya dengan ampas
makanan babi tetapi tidak ada yang memberikan. Dalam kondisi demikian
ia menyadari keadaannya (awal pertobatan), ia mengingat kepada rumah
bapaknya yang berlimpah-limpah makanan. Ia berkomitmen untuk kembali
ke rumah bapaknya, dan ia mau mengakui bahwa ia telah berdosa terhadap
Surga dan terhadap Bapa (ada tindakan pengakuan dosa), mengaku diri
tidak layak disebut anak Bapa.

Sikap bapaknya: masih jauh ayahnya telah melihat, lalu tergeraklah
hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya berlari mendapatkan dia lalu
merangkul dan mencium dia. Dipakaikannya jubah yang terbaik, cincin
pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Sembelih anak lembuh tambun,
makan dan bersukacita sebab anak yang hilang telah didapatkan kembali.
Di sini kita melihat bahwa walaupun orang sudah meninggalkan Tuhan,
tetapi kalau dia menyadari dan mau bertobat dan kembali kepada Tuhan,
maka tangan Tuhan sangat terbuka untuk menyambut dia. Bagaimana dengan
keadaan kita, apakah masih ada orang dekat kita yang terhilang, apa
yang akan kita lakukan untuk mereka. Ingat, Tuhan selalu menunggu
mereka untuk kembali ke Rumah Tuhan.

Sikap sulung: marah (tidak peduli dengan adiknya yang hilang), telah
bertahun-tahun aku melayani Bapa dan belum pernah aku melanggar
perintah Bapa, tetapi kepadaku belum pernah memberikan seekor anak
kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Si sulung cemburu
dengan perlakuan pada adiknya, tetapi ayahnya menjawab: engkau selalu
bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaamu adalah kepunyaanku.
Kita patut bersukacita dan begembira karena adikmu telah mati dan
menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan di dapatkan kembali.

Bagaimana dengan kita? Seberapa besar kita punya kepedulian terhadap
jiwa-jiwa yang hilang? Bagaimana sekap kita terhadap jiwa-jiwa yang
hilang? Apakah kita masih seperti orang Farisi dan ahlih-ahli Taurat
bersungut-sungut alias tidak senang melihat orang lain bertobat,
ataukah kita seperti si sulung yang menganggap diri lebih baik/suci
dari pada adiknya, sehingga ia tidak senang melihat adiknya bertobat?
Tetapi yang pasti Yesus mengutus orang-orang percaya untuk mencari dan
membawa kembali orang-orang yang terhilang/berdosa supaya mereka
bertobat. Amin.
Baca Terusannya »»  

Minggu, 15 Juli 2012

PELITA TUBUH

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Nats: Lukas 11:33-36
Ibadah Remaja, 14 Juli 2012: GPdI Pasir Nangka
Oleh : Adrianus Pasasa, S.T, MA

Masa kecil saya lalui di kampung, di mana belum ada penerangan seperti
di kota. Tiap malam kami menggunakan obor yang terbuat dari bambu
dengan bahan bakar minyak tanah. Obor inilah yang kami gunakan sebagai
sarana penerangan untuk melakukan aktifitas di malam hari termasuk
belajar. Supaya seisi rumah mendapat terang, maka obor atau pelita
tersebut harus diletakkan pada tempat yang tinggi, seperti di atas
meja supaya bisa menerangi seisi rumah.

Firman Tuhan pada malam hari ini, mengajak kita untuk melihat suatu
perumpamaan yang disampaikan oleh Tuhan Yesus tentang pelita tubuh.
Pelita adalah lampu dengan bahan bakar minyak. Tuhan Yesus
mengumpamakan mata sebagai pelita tubuh, atau lampu tubuh. Lampu
fungsinya untuk menerangi, jadi mata adalah pelita tubuh atau lampu
tubuh yang berfungsi untuk menerangi seluruh tubuh.

Supaya seluruh tubuh dapat diterangi, maka lampu itu harus diletakkan
di atas kaki dian. Kaki dian adalah alat untuk menyangga lampu supaya
cahanya dapat dilihat oleh semua orang. Orang yang menyalakan lampu
tidak akan meletakkan lampu itu di bawah kolong rumah/meja, karena
cahanya tidak akan kelihatan. Tuhan Yesus mengatakan bahwa mata
adalah pelita tubuh, jika mata baik, maka teranglah seluruh tubuh.
Jika mata jahat, maka gelaplah seluruh tubuh. Dapat disimpulkan bahwa
mata memiliki peran yang sangat penting bagi tubuh. Kenapa dikatakan
demikian? Kita akan melihat dua hal yang ingin di sampaikan oleh Tuhan
Yesus:
1. Mata dalam arti jasmani
Mata secara jasmani jika digunakan dengan baik, maka akan membawa
dampak yang baik bagi seluruh tubuh. Segala sesuatu dimulai dari
penglihatan, kejahatan dapat muncul dalam hati seseorang ketika mata
melihat sesuatu, dan sebaliknya seseorang dapat berbuat kebaikan
ketika matanya melihat sesuatu. Mata diberikan untuk melihat banyak
hal, ketika kita menutup atau memejamkan mata maka yang kelihatan
hanya satu yaitu kegelapan. Tetapi ketika kita membuka mata, maka akan
kelihatan banyak hal. Jika kita tidak bijaksana dalam menggunakan
mata, maka mata dapat membawa kebinasaan bagi seluruh tubuh. Ketika
saya hendak ke luar rumah, saya selalu mendapat pesan dari istri,
pakai "kaca mata" kuda. Artinya jaga matamu, karena matamu adalah
pelita tubuhmu. Jika mata kita pakai untuk memandang hal-hal yang
baik/terang, maka seluruh tubuh kita dengan sendirinya melakukan
hal-hal yang baik/terang. Jika tubuh kita terang, maka orang yang
melihatnya akan memuliakan Tuhan (Matius 5:16). Tuhan menghendaki
hidup kita sempurna (Matius 5:29). Marilah kita memulai dengan belajar
menjaga mata.

2. Mata dalam arti rohani
Mata secara rohani yaitu kemampuan untuk melihat dan mengerti hal-hal
rohani. Tuhan Yesus dalam pelayanannya berusaha untuk membuka mata
rohani orang yang dilayaninya supaya mereka mengerti dan memahami apa
yang Tuhan Yesus ajarkan. Jika mata rohani kita baik, maka kita akan
mampu untuk memahami dan mengerti firman Tuhan, mengerti akan
rancangan Tuhan dalam kehidupan, mampu membedakan mana yang menjadi
kehendak Tuhan, memiliki hati yang takut akan Tuhan. Banyak orang yang
tidak memahami Injil, bukan karena mereka bodoh, tetapi mereka tidak
mempunyai penglihatan rohani atau buta secara rohani, sehingga mereka
tidak mengerti perkara-perkara rohani.

Alangkah indahnya jika kita memiliki penglihatan jasmani yang baik dan
juga memiliki penglihatan rohani yang baik. Apa yang firman Tuhan
katakan akan tergenapi dalam kehidupan kita yaitu seluruh tubuhmu akan
menjadi terang, tidak akan ada bagian yang gelap lagi. Dengan demikian
orang akan melihat gambaran Yesus ada dalam diri kita dan orang yang
melihatnya akan memuliakan Bapa di Surga (Matius 5:16).

Apa yang harus dilakukan? Walaupun kita sudah hidup dalam terang, kita
harus selalu waspada. Terang yang sudah ada pada kita harus tetap
dipertahankan dan selalu dipelihara, sehingga tidak menjadi kegelapan,
tetap konsisten. Jangan sampai habis gelap terbitlah terang, habis
terang terbitlah gelap, tentu hal ini tidak dikehendaki Tuhan, Ia mau
supaya kita terus bertumbuh di dalam terang yang sudah kita miliki.
Bagaimana caranya? Belajar untuk meletakkan pelita pada tempat yang
benar. Bagaimana dengan saudara, apakah pelitanya sudah ada pada
posisi yang benar? Jika belum perbaiki sekaranglah saatnya, supaya
terang itu menjadi bagian hidupmu selamanya. Amin
Baca Terusannya »»  

Kamis, 05 Juli 2012

KEKUATAN SEORANG MURID

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Nats: Lukas 9:1-6; 10:1-12
Ibadah: Malam Pujian dan Penyembahan (MPP Palalangon), Selasa: 3 Juli 2012
Oleh: Adrianus Pasasa, M.A

Dalam sistim birokrasi pemerintahan ada pemimpin dan ada bawahan.
Seorang pemimpin dapat mendelegasikan atau memberi mandat kepada
bawahannya untuk melakukan suatu tugas. Mandat yang diberikan oleh
pimpinan biasanya disertai dengan surat kuasa yang akan memberikan
wewenang kepada bawahannya supaya tugas yang diperintahkan dapat
dijalankan tanpa dihalangi oleh orang lain. orang yang diberi wewenang
oleh pimpinannya sebelum menjalankan tugas, terlebih dahulu mereka
dibekali supaya tugas yang akan diembannya dapat terlaksana sesuai
dengan perintah atasannya.
Dalam pembacaan kita pada hari ini, Tuhan Yesus dalam mengutus kedua
belas murid-Nya, telah membekali mereka dengan memberi tenaga dan
kuasa. Mengapa Tuhan Yesus membekali mereka dengan tenaga dan kuasa?
Kenapa bukan bekal dalam perjalanan!

TENAGA: Menurut KBBI tenaga adalah daya atau kekuatan yang dapat
menggerakkan sesuatu. Tuhan Yesus memberikan tenaga supaya para murid
memiliki daya atau kekuatan untuk menggerakkan pemberitaan Injil
(memberitakan Kerajaan Allah), kabar baik tentang keselamatan dari
Allah. Lukas 10:9, dan sembuhkanlah orang-orang yang ada disitu dan
katakanlah kepada mereka bahwa Kerajaan Allah sudah dekat padamu.
Proses pemberitaan Kerajaan Allah bukanlah hal yang mudah dan akan
mengalami banyak tantangan, tetapi dengan tenaga yang diberikan Tuhan
Yesus tantangan dan persoalan bukan lagi menjadi penghambat bagi
proses pemberitaan Kerajaan Allah. Tenaga itu akan menjadi kekuatan
yang selalu mendorong para murid untuk terus menyampaikan Injil
Kerajaan Allah.

KUASA: menurut KBBI Kuasa adalah kemampuan atau kesanggupan untuk
berbuat sesuatu, diberi wewenang untuk berbuat sesuatu. Tuhan Yesus
memberikan kuasa kepada para murid-Nya supaya mereka memiliki
kemampuan, kesanggupan, wewenang untuk menguasai setan-setan dan
menyembuhkan penyakit-penyakit. Melalui berbagai cara Setan selalu
berusaha untuk menyesatkan manusia, tetapi dengan kuasa yang diberikan
Tuhan Yesus setan itu tidak punya kemampuan lagi untuk menguasai
murid-Nya, justru sebaliknya setan-setan itu dibawah kekuasaan
murid-Nya. Demikian juga dengan sakit penyakit akan dipulihkan oleh
para murid dengan kuasa yang telah diberikan oleh Tuhan Yesus. Dalam
Lukas 10:19 Tuhan Yesus juga memberikan kuasa untuk menginjak ular dan
kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh. Tenaga dan kuasa
yang diberikan oleh Tuhan Yesus, itulah yang akan memampukan seorang
murid dalam menjalankan tugas panggilannya.

SYARAT SEORANG YANG DIUTUS (Lukas 10:4-11)
Tuhan Yesus memberikan persyaratan kepada para murid-Nya yang akan
diutus yaitu: jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, jangan membawa
tongkat atau bekal, roti atau uang, dua helai baju. Syarat seorang
utusan hanya boleh menaruh pengharapan kepada pengutusnya yaitu Tuhan
Yesus, tidak mengandalkan kekuatan sendiri dan tidak menaruh
pengharapannya kepada kekuatan manusia. Tuhan Yesus adalah sumber
kebutuhan yang akan mencukupi apa yang diperlukan oleh orang yang
diutus-Nya. Tuhan Yesus mengatakan kalau kamu diterima dalam suatu
rumah, tinggalah disitu sampai kamu berangkat dari situ, kalau kamu
ditolak keluarlah dari kota mereka dan kebaskanlah debunya dari kakimu
sebagai peringatan kepada mereka ( Luk 10:5-11; Kis 13:51). Tuhan
dapat memakai siapa saja dan apa saja untuk menolong orang yang akan
diutusnya. Jadi intinya seorang yang diutus pasti kebutuhannya akan
selalu dicukupi oleh pengutus-Nya.

DIUTUS KE MANA?
Setelah dibekali dengan tenaga dan kuasa dan sudah memahami
persyaratan-persyaratan, pertanyaan selanjutnya akan diutus ke mana?
Dalam Lukas 10:3, TUhan Yesus katakan akan diutus ke tengah-tengah
serigala. Walaupun diutus ke medan yang berat, tetap ingat bahwa
seorang utusan hanya bersandar sepenuhnya kepada pengutusnya, bukan
bersandar setengah hati. Ingat bahwa sebelum diutus sudah diberi
tenaga dan kuasa untuk mengalahkan musuh baik setan-setan,
penyakit-penyakit, maupun kekuatan-kekuatan musuh yang lainnya. Jadi
kemanapun diutus, bukanlah suatu persoalan atau masalah karena seorang
pengutus tidak pernah salah mengutus. Jika diutus ketempat yang
menurut pandangan manusia tidak menguntungkan, tetapi menurut
pandangan Sang Pengutus, Dia telah merancangkan sesuatu yang baik bagi
tempat itu. Intinya seorang utusan setia saja pada rancangan Sang
Pengutus.

BAGAIMANA HASILNYA?
Murid yang taat dan setia menjalankan apa yang diamanatkan oleh
pengutusnya akan menuai hasilnya, dalam pembacaan kita hari ini dapat
kita lihat bukti-buktinya: mereka memiliki kemampuan untuk
memberitakan Injil di berbagai tempat, mereka mengelilingi
semua/segala desa untuk memberitakan Injil. Mereka memiliki kemampuan
untuk menyembuhkan penyakit, mereka menyembuhkan orang sakit di segala
tempat. Mereka memiliki kemampuan untuk menguasai setan-setan,
setan-setan takluk karena nama Yesus (Luk 10:17). Satu pesan Tuhan
Yesus (Luk 10:20), jangan bersukacita karena berhasil dalam
pelayananmu, tetapi bersukacitalah karena namamu tercatat di Surga.

Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus, yakin dan percayalah bahwa ke mana
pun kita pergi diutus oleh Tuhan, jangan pernah takut dan kuatir
karena kita telah diperlengkapi dengan tenaga dan kuasa. Hal inilah
yang akan memampukan kita sebagai seorang murid untuk terus berkarya
bagi kemuliaan nama-Nya. Amin
Baca Terusannya »»  

Senin, 02 Juli 2012

KRISTEN BURUNG WALET DAN KRISTEN POHON KARET

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Oleh: Rev. Hans Andrias

"Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus,
bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya,
supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya" (2Korintus 8:9).

Pada suatu waktu saya mendapat kesempatan dari Tuhan Yesus melayani di
Propinsi Bengkulu. Kesempatan yang begitu indah. Berkesan manis. Saya
menginap di rumah seorang ketua majelis jemaat sebuah gereja di sana.
Orangnya ramah dan murah senyum. Ia memiliki sebuah toko berlantai
lebih dari dua. Mungkin empat lantai semuanya. Saat sarapan pagi
bersama keluarga ini, si ketua majelis menjelaskan panjang lebar
tentang sarang burung walet - karena rumahnya yang paling atas
dijadikannya sebagai tempat burung-burung walet bersarang - sambil
memperlihatkan sarang walet kepada saya. Nampaknya ini bisnis
sampingannya yang mendatangkan berkat tidak sedikit. Sarang burung
walet terkenal disukai orang-orang berduit sebagai makanan kesehatan.
Khususnya di negeri China sana. Sudah tentu harganya per kilogram
jangan ditanya. Bunyinya berjut-jut sampai orang terkejut-jut….

Tak lama setelah mendengar cerita sarang walet itu, terlintas dalam
benak saya, seolah-olah Tuhan Sang Pencipta bertanya di relung hati
saya terdalam: "Hans bisakah engkau menjadi seorang Kristen seperti
burung walet itu?" Kristen walet? Wow… pagi itu Tuhan Yesus sangat
luar biasa mengajari saya melalui burung Walet. Ternyata ada beberapa
hal indah yang bisa saya teladani dari burung walet. Apa itu? Pertama,
si burung walet itu tidak pernah menuntut dilayani, diberikan minum,
makan, pakaian, dan pelayanan yang sangat memuaskan sebagai tamu yang
sangat spesial dari si empunya rumah, padahal ia datang membawa uang
yang begitu banyak kepada si tuan rumah. Sejatinya ia layak dilayani
seperti tamu hotel berbintang lima bukan? Si burung walet membuat
sarang dengan air liurnya. Setelah sarang itu jadi, si pemilik rumah
tinggal naik ke atas rumah dan mengambil sarang itu, lalu menjualnya
dengan harga puluhan juta bahkan ratusan juta rupiah. Kedua, si walet
tidak pernah menggerutu ketika sarangnya diambil untuk dijual. Ia
tidak pernah marah bin ngambek meninggalkan rumah si pemilik gedung
itu kemudian ngacir mencari tempat yang baru. Tidak juga ia
memprovokasi teman-temannya untuk berdemonstrasi agar tidak bersarang
lagi di sana. Tidak. Ia bersama kawan-kawannya tetap saja memberikan
keuntungan ratusan juta rupiah kepada si pemilik rumah. Ketiga, si
walet tetap dapat berkicau merdu walaupun hidupnya hanya dimanfaatkan
orang. Baginya hidup adalah untuk melayani, memberi dan memberi
semata. Keempat, keuntungan yang diberikan si walet bukan sehari dua
hari saja tetapi dalam jangka yang panjang kepada si pemilik gedung.
Banyak orang bisa menolong orang lain dengan pergorbanan yang besar
bahkan sangat besar bila waktunya sekali dua kali saja. Tetapi adakah
orang yang mau berkorban terus menerus meskipun dia seorang
konglomerat? Yang acapkali terjadi, belum membantu sesenpun sudah
banyak alasan keluar dari bibir mulut kita, bukan? Yang parahnya
seringkali bukan kita berkorban melainkan mengorbankan orang lain demi
kepentingan diri sendiri. Beda dengan si walet. Walet sudah teruji.
Ia tidak pernah bosan membagi berkat terus menerus. Dalam jangka
panjang.

Bagaimana dengan kita sebagai jemaat, pendeta, penginjil, majelis, dan
aktifis gereja? Sudahkah kita menjadi seperti burung walet yang hanya
melayani tanpa menuntut untuk dilayani? Sudah dan sudikah kita
melayani tanpa bersungut-sungut? Adakah sukacita di hati terdalam
ketika kita melayani Tuhan dan sesama? Ketika seseorang datang kepada
kita untuk meminta pertolongan bagaimana reaksi kita? Apakah kita
berkata dalam hati, "Puji Tuhan, Tuhan percayakan saya melayani
saudara ini." Ataukah reaksi kita langsung memancarkan "wajah nenas"?
Adakah kita dapat menangis dengan orang yang menangis? Bersedih dengan
orang yang bersedih? Ataukah kita berharap agar orang itu segera pergi
saja dari hadapan kita? Seperti burung walet, akan terus bertahankah
kita dalam jangka panjang untuk menjadi saluran berkat, kebaikan, dan
keuntungan bagi mereka yang butuh pertolongan? Atau kita berkata dalam
hati, "Ya… dia lagi, dia lagi, bosan euy lihat mukanya!"

Bagaimana dengan hidup kita selama ini? Barangkali gaya hidup kita
berbalikpunggung dengan hidup si walet. Seharusnya binatang yang
belajar dari manusia bukan? Tetapi jangan malu bila memang kita harus
belajar dari binatang. Tuhan sendiri pernah menyuruh manusia agar
belajar dari binatang (Amsal 30:24-32). Mari kita jujur pada diri kita
sendiri, adakah kita melayani seperti si walet yang sehari-harinya
selalu bergairah memberi dan memberi sambil bernyanyi? Ataukah kita
selalu berpikir, "saya mendapat untung apa bila melayani dia?" Saya
akan diberi "amplop" atau tidak ya, kalau saya pergi mendoakan jemaat?
Sebagai jemaat, pengurus, aktifis, dan hamba Tuhan di gereja ataupun
di lembaga-lembaga pelayanan, seberapa rajinkah kita saling
memerhatikan, mengunjungi, menanyakan keadaan, dan memberikan
perhatian kasih kepada yang lain? Ketika seseorang sedang bergumul
kesusahan, penuh air mata, adakah hati kita tergerak oleh belaskasihan
untuk menyeka air mata mereka? Atau justru kita sebaliknya menggerutu
dan menghakimi, "Siapa suruh? Rasakan akibatnya sekarang!" Dan yang
menyedihkan bukannya menolong malah kita menjadi juru bisik sehingga
situasi makin tidak kondusif. Pernahkah kita merenungkan siapakah yang
Tuhan suruh kita layani? Yesus berkata: "Sesungguhnya segala sesuatu
yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina
ini, kamu telah melakukannya untuk Aku." (Matius 25:40). Sekarang kita
sudah tahu siapa yang kita perlu layani. Nah, lebih suka mana,
mengunjungi dan melayani si elite atau si pailit? Kita sendirilah yang
paling tahu jawabannya!

Lalu, beberapa hari kemudian saya berkesempatan lagi mengunjungi
sebuah desa yang tidak terlalu jauh dari kota Bengkulu. Di sepanjang
perjalanan saya melihat ribuan pohon karet berdiri berderet-deret
rapi. Indah nian pemandangannya. Sebagian pohon karet itu terlihat
sedang disayat-sayat oleh pisau sadap di tangan sang petani. Dari
sayatan itu keluarlah cairan getah karet yang berwarna putih. Pada
hari-hari tertentu para petani karet mengambil getah karet lalu
dijual. Di sepanjang perjalanan siang itu, seolah Tuhan bertanya
kepada saya: "Bisakah engkau menjadi orang Kristen seperti pohon karet
itu?" Wow pertanyaan yang berat. Ya, berat sekali untuk dijawab.
Adakah di antara kita yang rela tegak berdiri menerima sayatan demi
sayatan yang membuat batin ini berdarah-darah tanpa secuilpun rasa
untuk memberontak paling tidak melepaskan diri darinya? Ya Tuhan,
betapa dalamnya hikmat dan tantangan yang Engkau berikan. Pohon karet
itu rela terluka-luka. Sudi berdarah-darah. Sakit. Sungguh amat sakit.
Bukan sekali dua kali, tetapi sepanjang hidupnya ia menerima sayatan
demi sayatan untuk menghidupi petani dan keluarganya bahkan berguna
bagi kebutuhan umat manusia di bumi ini. Pohon karet paling tidak bagi
saya adalah lambang pengorbanan yang sejati dan tiada putus-putusnya
sampai akhir hidup. Petani memang merawat dan memberikan pupuk sebagai
makanan bagi pohon karet supaya ia tetap hidup. Namun itu semata-mata
supaya sang petani dapat mengambil cairan getahnya. Tubuh pohon karet
menjadi tidak mulus, kasar, penuh bekas luka sayatan yang tak elok
dipandang mata. Akhirnya ia tidak dapat lagi menghasilkan getah karet
buat si petani dan ia pun mati ketuaan.

Lagi-lagi bagaimana dengan kita? Sudah berapa lama kita melewati
jalan persembahan kita melayani di ladang Tuhan? Sudahkah kita menjadi
orang Kristen seperti pohon karet itu? Barangkali Saudara dan saya
pernah mengalami atau mungkin sekali Anda yang sedang membaca tulisan
ini sedang tersayat-sayat dan terluka-luka dengan tutur kata, sikap,
dan perilaku orang-orang lain? Mungkin Anda sedang dalam kepahitan
bahkan sekarangpun air matamu masih terus membasahi pipimu? Saya hanya
bisa berpesan melalui tulisan ini, kuatkanlah hatimu. Berjalanlah
terus dalam imanmu yang berfokus hanya kepada Tuhan Yesus. Layani Dia
terus setia sampai akhir. Saya pun pernah mengalami sayatan-sayatan
hingga terluka-luka, berdarah-darah. Seorang pendeta memborbardir saya
dengan fitnahannya ke mana-mana. Saya pernah diboikot tatkala akan
berkhotbah di suatu kebaktian oleh karena tajamnya fitnahannya. Ia
menyebarluaskan fitnahannya bahwa saya telah memerkaya diri dengan
mencuri uang bantuan gereja. Saya dikatakan telah memanfaatkan
pelayanan orang-orang miskin demi memberi makan dan minum istri dan
anak-anakku. Saya dituduh telah menjual kemiskinan orang-orang miskin
demi mempertahankan hidup saya dan keluarga. Yang paling perih, saya
dikutuknya akan menjadi seperti Ananias dan Safira yang menipu Roh
Kudus karena tidak mengakui bahwa saya telah mencuri uang bantuan
gereja. Betapa amat perih, sedih, dan pahit hati saya. Hampir saja
saya terjatuh dalam dosa. Saya sungguh berhasrat memberontak dan
membalas dengan cara-cara yang lebih hebat. Tetapi puji Tuhan, Dia
menghalangi hasrat iblis itu untuk membalas kejahatan dengan
kejahatan. Sebaliknya diberikan-Nya hati baru yang berbelaskasihan
pada si pemfitnah itu. Ajaib Tuhanku! Sang pendeta kini mengalami
kemunduran pelayanan yang amat memprihatinkan. Doa saya kiranya Tuhan
mengampuni dan mau memakainya kembali di ladang Tuhan. Semoga doa saya
dijawab Tuhan.

Puji Tuhan, saya boleh merenungkan hidup si pohon karet itu yang rela
diam meski disayat-sayat hingga terluka-luka. Bahkan terus
menghasilkan kebaikan demi kebaikan dan keuntungan demi keuntungan
bagi yang menyayat dan melukainya. Sejatinya Yesuslah yang telah
terlebih dulu merasakan betapa pahitnya diperlakukan kejam dan tak
adil. Ia telah meninggalkan teladan sempurna kepada kita. Kita
belajar dari kitab Yesaya 53:7: "Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan
diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang
dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan
orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya."
Yesus Kristus dengan rela telah menjadikan diri-Nya yang amat kaya,
penuh kuasa dan kemuliaan itu sebagai hamba yang sangat miskin dan
menderita hingga tergantung mati di kayu salib disamakan dengan para
penjahat terkutuk. Sengsara dan kematian Yesus di salib memberikan
dampak yang maha dahsyat bagi kita. Ya kita yang penuh kejijikan dosa,
yang tiada berguna sama sekali karena menjadi seteru Allah, yang hanya
pantas dilemparkan ke dalam bara api neraka kekal. Tetapi melalui
karya-Nya di salib itulah kita diselamatkan dari kematian yang
mengerikan bahkan oleh karena cucuran darah-Nya kita dapat menikmati
kepuasan sejati yang tiada tara bersama-Nya di surga permai.

Sampai di sini saya merenung sedalam-dalamnya, mengapa umat Kristen
zaman ini sebagian besar jatuh terkapar dan tidak mampu menghasilkan
buah-buah yang mampu menyejahterakan bangsanya dan umat manusia di
bumi ini? Hanya ada satu jawabannya. Memang kita seringkali tidak
diajari oleh para pengkhotbah bahwa mengikut Kristus bukan hanya
beriman tetapi juga berjuang dan menderita di dunia ini demi Dia.
Filipi 1:29 mengatakan demikian: "Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan
saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita
untuk Dia." "Kata-Nya kepada mereka semua: "Setiap orang yang mau
mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap
hari dan mengikut Aku" (Lukas 9:23). Barangsiapa tidak memikul
salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku" (Lukas
14:27). Saudaraku, tunggu dulu! Mengikut Yesus tidak melulu
menderita. Ingat pada akhirnya saudara dan saya akan menikmati puncak
kenikmatan sejati dalam keabadian masa. Firman Tuhan dalam Wahyu
2:7,11,17; 2:26; 3:5, 12,21; 21:7 berkata: Siapa bertelinga,
hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat:
Barangsiapa menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang
ada di Taman Firdaus Allah." Siapa bertelinga, hendaklah ia
mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Barangsiapa
menang, ia tidak akan menderita apa-apa oleh kematian yang
kedua."Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan
Roh kepada jemaat-jemaat: Barangsiapa menang, kepadanya akan Kuberikan
dari manna yang tersembunyi; dan Aku akan mengaruniakan kepadanya batu
putih, yang di atasnya tertulis nama baru, yang tidak diketahui oleh
siapapun, selain oleh yang menerimanya." Dan barangsiapa menang dan
melakukan pekerjaan-Ku sampai kesudahannya, kepadanya akan
Kukaruniakan kuasa atas bangsa-bangsa; Barangsiapa menang, ia akan
dikenakan pakaian putih yang demikian; Aku tidak akan menghapus
namanya dari kitab kehidupan, melainkan Aku akan mengaku namanya di
hadapan Bapa-Ku dan di hadapan para malaikat-Nya. Barangsiapa menang,
ia akan Kujadikan sokoguru di dalam Bait Suci Allah-Ku, dan ia tidak
akan keluar lagi dari situ; dan padanya akan Kutuliskan nama Allah-Ku,
nama kota Allah-Ku, yaitu Yerusalem baru, yang turun dari sorga dari
Allah-Ku, dan nama-Ku yang baru. Barangsiapa menang, ia akan
Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana
Akupun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas
takhta-Nya. Barangsiapa menang, ia akan memperoleh semuanya ini, dan
Aku akan menjadi Allahnya dan ia akan menjadi anak-Ku. Inilah daftar
penghiburan sejati untuk mereka yang mengikuti Yesus dalam iman yang
benar dan yang ikut menderita bagi-Nya.

Maafkan saya saudaraku, izinkanlah saya mengatakan suatu kebenaran.
Sekarang ini terlalu banyak orang yang menamakan diri hamba Tuhan yang
mengajarkan kepalsuan. Menyimpang dari ajaran Alkitab. Mereka
berkhotbah bahwa menjadi orang Kristen harus mengklaim janji-janji
Tuhan bagi kesejahteraan, kesehatan, kekayaan yang bersifat jasmaniah
dan materialistis. Dan terlalu banyak orang Kristen saat ini yang
tersesat oleh khotbah-khotbah hamba Tuhan demikian. Khotbah-khotbah
zona nyaman telah membius jutaan umat Kristen saat ini. Mereka menolak
pikul salib dan kuk dalam mengiring Yesus dan menggantikannya dengan
kenikmatan-kenikmatan palsu yang diiming-imingi para pendeta
materialistis ini. Betapa memilukan dan memalukan kekristenan zaman
ini.

Izinkan saya dipenghujung tulisan ini menyampaikan kepada Anda yang
pernah terluka dan yang sedang terluka-luka serta tersayat-sayat perih
hingga saat ini demi mengiringi Tuhan Yesus. Mari, tinggalkan segera
segala kepahitanmu. Belajarlah dari pohon karet itu dan terutama
pandanglah Tuhan kita Yesus Kristus yang telah terlebih dulu merasakan
betapa sakitnya disayat-sayat hingga terluka-luka dan berdarah-darah,
bahkan mati. Semua itu dilakukan-Nya demi kebahagiaan sejati buat
saudara dan saya. Ingat berkat-berkat bagi orang yang mengikut Yesus
setia hingga akhir dalam Mazmur 126:5-6, Wahyu 2:7,11,17; 2:26; 3:5,
12,21; 21:7.

Marilah kita menjadi Kristen burung walet dan Kristen pohon karet yang
tercermin jelas dan bening dalam kehidupan Yesus Kristus. Sekalipun Ia
kaya, namun karena kita yang berdosa ini, Ia rela menjadi miskin
supaya kita menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya. Dia dianiaya,
tetapi Dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulut-Nya"
(2Korintus 8:9, Yesaya 53:7). Hidup seperti inilah yang sangat
didambakan-Nya dari kita. Amin! Rev. Hans Andrias
Baca Terusannya »»  

Berita Terkini

« »
« »
« »
Get this widget

Daftar Blog Saya

Komentar