Tulisan Jalan

Hidupku untuk mengharumkan nama-MU Jangan bersukcita ketika engkau berhasil dalam pelayanan, tetapi bersukcitalah karena namamu tercatat di Surga

Kau istimewa. Di seluruh dunia, tidak ada orang yang sepertimu. Sejak bumi diciptakan tidak ada orang lain yang sepertimu. Tidak ada orang lain yang memiliki senyummu, tidak ada yang memiliki matamu, hidungmu, rambutmu, tanganmu, suaramu. Kau istimewa. Tidak ada orang lain yang memiliki tulisan yang sama denganmu. Tidak ada orang lain yang memiliki selera akan makanan, pakaian, musik, atau seni sepertimu. Tidak ada orang lain yang memiliki cara pandang sepertimu. Sepanjang masa tidak ada orang lain yang tertawa sepertimu, tidak ada yang menangis sepertimu. Kaulah satu di antara seluruh ciptaan yang memiliki kemampuan seperti yang kau miliki. sampai selamanya, tidak akan ada orang yang akan pernah melihat, berbicara, berjalan, berpikir, atau bertindak seperti dirimu. Kau istimewa...kau langka. Tuhan telah menjadikanmu istimewa dengan satu tujuan yaitu MEMULIAKAN DIA

Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Mei 2013

Di Polahi, Ibu Pun Bisa Kawini Anak Laki-lakinya

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***

Di Polahi, Ibu Pun Bisa Kawini Anak Laki-lakinya
Tribun Medan - Rabu, 8 Mei 2013 14:49 WIB


polahi.jpg

TRIBUN-MEDAN.com, GORONTALO— Bagi masyarakat umum, kawin dengan saudara kandung merupakan sebuah pantangan, dan bahkan tidak bisa ditoleransi. Namun, hal itu tidak berlaku bagi suku Polahi di pedalaman Gorontalo. Mereka hingga saat ini justru hanya kawin dengan sesama saudara mereka.

"Tidak ada pilihan lain. Kalau di kampung banyak orang, di sini hanya kami. Jadi kawin saja dengan saudara," ujar Mama Tanio, salah satu perempuan Suku Polahi yang ditemui di Hutan Humohulo, Pegunungan Boliyohuto, Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Boalemo, minggu lalu.

Suku Polahi merupakan suku yang masih hidup di pedalaman hutan Gorontalo dengan beberapa kebiasaan yang primitif. Mereka tidak mengenal agama dan pendidikan, serta cenderung tidak mau hidup bersosialisasi dengan warga lainnya.

Walau beberapa keluarga Polahi sudah mulai membangun tempat tinggal tetap, tetapi kebiasaan nomaden mereka masih ada. Polahi akan berpindah tempat, jika salah satu dari keluarga mereka meninggal.
Hal biasa bagi mereka ketika seorang ayah mengawini anak perempuannya sendiri, begitu juga seorang anak laki-laki kawin dengan ibunya.

Nah, salah satu kebiasaan yang hingga sekarang masih terus dipertahankan oleh suku Polahi adalah kawin dengan keluarga sendiri yang masih satu darah. Hal biasa bagi mereka ketika seorang ayah mengawini anak perempuannya sendiri, begitu juga seorang anak laki-laki kawin dengan ibunya.

Kondisi ini diakui oleh satu keluarga Polahi yang ditemui di hutan Humohulo. Kepala sukunya, Baba Manio, meninggal dunia sebulan lalu. Baba Manio beristri dua, Mama Tanio dan Hasimah. Dari perkawinan dengan Mama Tanio, lahir Babuta dan Laiya.

Babuta yang kini mewarisi kepemimpinan Baba Manio memperistri adiknya sendiri, hasil perkawinan Baba Manio dengan Hasimah. Hasimah sendiri merupakan saudara dari Baba Manio. Kelak anak-anak Babuta dan Laiya akan saling kawin juga.

"Kalau mau kawin, Baba Manio membawa mereka ke sungai. Disiram dengan air sungai lalu dibacakan mantra. Sudah, cuma itu syaratnya," ujar Mama Tanio dengan polosnya.

Keterisolasian mereka di hutan dan ketidaktahuan mereka terhadap etika sosial dan agama membuat suku Polahi tidak mengerti bahwa inses dilarang. Bagi mereka, kawin dengan sesama saudara kandung adalah salah satu cara untuk mempertahankan keturunan Polahi. "Yang mengherankan, tidak ada dari turunan mereka yang cacat sebagaimana akibat dari perkawinan satu darah pada umumnya," ujar Ebbi Vebri Adrian, seorang juru foto travel yang ikut menyambangi suku Polahi.

Memang belum ada penelitian yang bisa mengungkapkan akibat dari perkawinan satu darah yang terjadi selama ini di Suku Polahi. Namun, dibandingkan dengan suku-suku pedalaman lainnya di Indonesia, mungkin hanya Polahi yang mempunyai kebiasaan primitif tersebut. Sebuah ironi yang masih saja terjadi di belahan bumi Indonesia ini. 

Editor : Muhammad Tazli
Sumber : Kompas.com


--
In Christ's Love
Rev. Hans
"Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam! (Kisah Para Rasul 18:9b).
Baca Terusannya »»  

Selasa, 07 Mei 2013

Kartu Kuning utk Pemimpin Gereja dan Kekristenan Indonesia." Akankah Papua 'segera Hijau' dari sekarang ?

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
To: "Papuainheritance" <papuainheritance@googlegroups.com>
Subject:  Kartu Kuning utk Pemimpin Gereja dan Kekristenan Indonesia." Akankah Papua 'segera Hijau' dari sekarang ?
Reply-To: PapuaInheritance@googlegroups.com


Al Fatih Kafah Nusantara (AFKN) telah membawa 2.200 anak Papua ke Jawa, utk menjadi Mualaf sebagai bagian dari 'Islamisasi' Bumi Cenderawasih.
Kemiskinan dan kurangnya pendidikan di Papua menjadi kesempatan terbuka utk gerakan Islam Radikal mencuci otak Generasi Muda Papua.
(Ditambah cueknya kalangan Kristen, yg 'sekedar' memperhatikan Papua dgn setengah hati)

Nama anak2 ini diganti menjadi nama Muslim, diberikan pendidikan dengan doktrin 'keras'.
Foto2 mereka terdapat pada link dibagian akhir artikel ini.

Berikut adalah basis anak-anak Papua yg di'pesantrenkan' :
Sekolah Daarur Rasul, pinggiran Jakarta.
Ponpes Jamiyyah Al-Wafa Al Islamiyah Gunung Salak Bogor.

Investigasi dari Michael Bacheland 'Sydney Morning Herald' selengkapnya bisa dibaca di :

http://www.smh.com.au/lifestyle/theyre-taking-our-kids-20130429-2inhf.html#ixzz2SNnL4DMQ


Baca Terusannya »»  

Selasa, 16 April 2013

Anak Pendeta Ternama Amerika Serikat Bunuh Diri

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Minggu, 07/04/2013 11:11 WIB
Anak Pendeta Ternama Amerika Serikat Bunuh Diri
Syarifah Nur Aida - detikNews

Los Angeles - Matthew Warren (27), anak bungsu pendeta terkenal Amerika Serikat, Rick Warren, mengakhiri hidupnya sendiri pada Jum'at (5/4) karena mengalami depresi.

Dalam sebuah pernyataan tertulis yang dilansir Gereja Komunitas Saddleback Valley, Lake Forest, Rick menyebut bahwa Matthew bunuh diri akibat kesedihan yang mendalam.

"Hanya mereka yang cukup dekat dengannya yang bisa tahu bahwa sejak kecil ia sudah mengidap gangguan jiwa, depresi berat, juga pikiran untuk bunuh diri," tulis Rick sebagaimana dilansir AFP.

Meski mendapat perawatan, gangguan jiwa akhirnya mengalahkan perjuangan Matthew.

"Dokter terbaik AS, tim medis, doa dan konseling, semua tak mampu meniadakan siksaan gangguan jiwanya," kata pendeta yang memimpin doa dalam inagurasi Obama pada 2009 ini.

Rick Warren membangun Gereja Komunitas Saddleback Valley, di selatan Los Angeles, 23 tahun lalu. Dua puluh ribu jemaah per minggu mendatangi gereja ini, membuat Rick menjadi pendeta ternama di AS. Ia juga pernah memimpin forum bagi dua calon kandidat pada Pilpres 2008, yakni John McCain dan Barack Obama.



--
In Christ's Love
Rev. Hans
"Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam! (Kisah Para Rasul 18:9b).
Baca Terusannya »»  

Kamis, 11 April 2013

SEBERAPA PENTING DOA BAGIMU

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Doa adalah disiplin rohani yang menyangkut hubungan kita dengan Tuhan.
Doa adalah disiplin rohani yang paling sentral, karena doa merupakan
sarana komunikasi antara manusia dan pencipta-Nya. Doa mengantar kita
pada komunikasi yang terus menerus dengan Tuhan. Kita dapat
berkomunikasi dengan Tuhan melalui doa. Disiplin rohani yang satu ini
tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Kita dapat berdoa dimana saja,
kapan saja, untuk hal apa saja, dan bagaimana saja. Komunikasi yang
lancar dengan Tuhan, jauh lebih berarti dan kita butuhkan dalam hidup
kita, dibandingkan dengan segala sarana komunikasi lainnya di dunia
ini. Dengan terus berkomunikasi dengan Tuhan berarti kita terus berada
dihadirat Bapa, terus berhubungan dengan-Nya. Setiap kali kita
memerlukan untuk berkomunikasi dengan Tuhan, "sinyal telpon" tak
pernah hilang. Doa adalah persekutuan yang Mahakudus…, esensi dari
ibadah yang benar, saluran bagi segala berkat, dan rahasia bagi kuasa
dan kehidupan.

Doa adalah hak istimewa anak Tuhan untuk berjumpa dan berkomunikasi
dengan Tuhan, Bapa kita. Tanpa hak istimewa ini, tidak mungkin kita
bisa menerobos masuk ke hadirat Tuhan dan bercengkrama akrab
dengan-Nya. Doa adalah komunikasi dua arah yang terjadi antara kita
dan Tuhan. Saat kita menyatakan doa-doa dan permohonan kita dalam
ucapan syukur, Tuhan menganugerakan damai sejahtera-Nya kepada kita.
Jadi, bukan hanya permohonan yang merupakan inti dari doa, tetapi doa
adalah memasuki komunikasi untuk bergaul akrab dengan Tuhan. Tuhan
dapat mengkomunikasikan isi hati-Nya melalui firman, Roh-Nya, situasi
kehidupan sehari-hari, dan sebagainya. Dan, kita bisa berbicara kepada
Tuhan lewat pujian, penyembahan, pengakuan dosa, pengucapan syukur,
pernyataan kasih, penyerahan diri, dan sebagainya.

Melalui doa kita mencari wajah Tuhan. Namun yang sering terjadi adalah
kita hanya merindukan pemberian Tuhan tanpa merindukan wajah-Nya.
Betapa sering kita hanya memandang tangan Tuhan, bukan wajah Tuhan
ketika datang kepada Tuhan. Kita mencari tahu, apa yang Dia bawa untuk
kita? Berkat-berkat apa saja yang Dia siapkan saat berjumpa dengan
kita? Hal menyenangkan apa yang akan Dia berikan kepada kita? Hanya
itu yang kita ingat-ingat saat berjumpa dengan Tuhan. Kita lupa
memandang wajah-Nya, memahami perasaan-Nya, dan menanyakan
kerinduan-Nya. Berkatnya lebih penting bagi kita daripada kehadiran
dan diri-Nya sendiri. Raja Daud mengungkapkan kerinduannya yang
dituliskan dalam Mazmur 27:4, Raja Daud mengungkapkan kerinduannya
yang begitu besar akan hadirat Allah dalam hidupnya melebihi segala
pemberian-Nya. "satu hal yang kuminta kepada Tuhan, itulah yang
kuingini: diam di rumah Tuhan seumur hidupku, menyaksikan kemurahan
Tuhan dan menikmati bait-Nya." Allah tidak pernah menyembunyikan
wajah-Nya, Tuhan selalu rindu menyatakan kehadiran-Nya. Dia rindu
berbicara dengan kita melalui berbagai cara: mungkin melalui Alkitab,
firman yang tertulis. Mungkin lewat pemberitaan firman, perkataan,
nubuatan, lagu pujian, atau kata-kata seseorang. Mungkin lewat
pemikiran, gagasan, dan keinginan kudus yang muncul dihati kita.
Mungkin juga dengan damai sejahtera di tengah-tengah pergumulan hidup.
Atau, keyakinan yang menggugah dan menantang, gambaran mental,
penglihatan, mimpi; dan berbagai penyataan lainnya.

Tuhan tidak pernah jauh dari kita, Tuhan selalu dekat dan bisa
dijangkau. Dia selalu bersedia ditemui oleh orang yang mencari-Nya.
Tuhan selalu rindu agar kita mencari, berseru dan datang kepada-Nya
dengan segenap hati. Di mana pun, kapan pun, dan bagaimana pun keadaan
kita, Tuhan siap memberi diri-Nya ditemui dan mendengar doa kita.
Tuhan ingin umat-Nya mencari dan bersekutu dengan-Nya. Tuhan ingin
kita meminta kepada-Nya dan menikmati sukacita-Nya, Tuhan senang dan
bersukacita tatkala kita datang dan memohon segala sesuatu kepada-Nya.
Di dalam Yakobus 16:24, Yesus sendiri menganjurkan: mintalah, maka
kamu akan menerima, supaya penulah sukacitamu. Kita tidak memperoleh
apa-apa dari Allah karena kita tidak pernah meminta (Yakobus 4:2).
Doa adalah sarana kasih karunia Tuhan untuk mencurahkan
berkat-berkat-Nya. Berkat-berkat itu tentu saja tidak sebatas berkat
materi, tetapi juga berkat-berkat rohani, seperti damai sejahtera,
sukacita, keteguhan hati, kasih, dan sebagainya. Tujuan dari semua
berkat itu adalah agar manusia mengalami sukacita Tuhan, sukacita yang
dalam; yang tidak bergantung pada situasi dan kondisi sekitar kita.
Melalui doa Tuhan ingin kita terlibat dalam karya-Nya serta
memuliakan-Nya. Pekerjaan besar dimungkinkan terjadi ketika kita
berdoa kepada Tuhan. Dengan berdoa kita sesungguhnya tengah melibatkan
diri kita dalam karya Tuhan; kita sudah ikut ambil bagian dalam
hal-hal yang dilakukan Yesus. Semua ini memuliakan nama-Nya.

Dosa telah merusak persekutuan antara manusia dengan Allah. Blaise
Pascal mengatakan bahwa ada satu kekosongan di dalam hati setiap
manusia. Kekosongan ini tidak bisa diisi dengan benda ciptaan atau apa
pun yang lain, kecuali oleh Tuhan Sang Pencipta, yang dikenal melalui
Yesus Kristus. Hanya persekutuan dengan Tuhan yang dapat memuaskan
kehampaan hidup kita, karena memang demikianlah rancangan Tuhan atas
diri kita. Kita ditebus untuk kembali memiliki persekutuan dengan
Tuhan. Tuhan telah berusaha memanggil kita kembali kepada hakikat
semula Tuhan menciptakan kita, yaitu untuk menyembah dan menikmati
hadirat-Nya selama-lamanya. Ketika kita mendekat, bersekutu, dan diam
dipelataran-Nya, kita menjadi kenyang dengan segala yang baik di rumah
Tuhan. Melalui doa kita diubahkan, tatkala kita berdoa, kita
sesungguhnya tengah diubah. Doa menjadi salah satu sarana utama Tuhan
untuk mengubah kita untuk semakin serupa dengan Tuhan. Doa menolong
kita untuk berubah.

Doa yang benar adalah doa yang berpusat pada Tuhan dan Pribadi-Nya,
bukan pada diri sendiri, kesenangan, atau kepuasan kita. Yakobus 4:3
mengatakan bahwa kita kerap tidak mendapatkan atau menerima jawaban
doa, karena kita salah berdoa; karena kita hendak memuaskan hawa nafsu
kita sendiri. Lalu bagaimana kita membangun kehidupan doa yang
berpusat pada Tuhan? Banyak firman Tuhan yang akan membimbing kita
dalam mengungkapkan doa dan pokok-pokok doa yang berpusat pada Tuhan.
Untuk membantu kita mengingatnya kita bisa menggunakan jari-jari
tangan kita: jari jempol (yang biasa kita pakai untuk memuji, mengakui
suatu kehebatan) membawa kita pada kebesaran dan keagungan Tuhan.
Karenanya, kita memuji dan menyembah Dia (Mazmur 100). Kita
mengungkapkan pengakuan kita tentang siapa Dia yang berdaulat atas
hidup kita. Jari telunjuk ( yang biasa diacungkan untuk menyatakan
diri atau mengakui sesuatu) mengingatkan kita kepada kekudusan dan
keadilan Tuhan, serta menunjukkan keadaan diri kita yang berdosa.
Karenanya, kita perlu mengakui segala dosa kita dan memohon ampun dari
yang Mahakudus (1 Yohanes 1:9). Jari tengah (jari paling tinggi)
mengungkapkan kebaikan dan kemurahan Tuhan. Karenanya, kita
meninggihkan dan mengucap syukur atas pemberian yang Dia berikan
kepada kita (Lukas 17:11-19). Jari manis (tempat cincin kawin atau
pertunangan) mengungkapkan kasih dan kesetiaan Tuhan. Karenanya kita
menyatakan kasih dan cinta kita kepada-Nya (Mazmur 18:2-3). Jari
kelingking (melambangkan diri kita yang kecil dan berada di urutan
terakhir) mengingatkan kita kepada kedaulatan dan kebijaksanaan Tuhan,
sehingga kita patut menyerahkan diri, percaya dan taat kepada-Nya
(Matius 26:39).

Sementara jari-jari tangan kiri dapat kita pakai untuk mengingatkan
pokok-pokok yang perlu kita doakan: jari jempol, yang jika kita
melipat tangan untuk berdoa letaknya paling dekat ke dada,
melambangkan orang-orang yang dekat di hati kita (keluarga, teman).
Jari telunjuk, yang biasa dipakai untuk menunjuk, melambangkan
orang-orang yang menunjukkan jalan kepada kita (pendeta, pembimbing
rohani). Jari tengah, jari paling tinggi, melambangkan orang-orang
berotoritas atas kita (pimpinan, pemerintah). Jari manis, yang paling
sulit diangkat tatkala telapak tangan kita menapak pada bidang datar;
melambangkan orang-orang "lemah" yang perlu mendapatkan topangan dan
dukungan (orang belum percaya, bermasalah/sakit). Jari kelingking,
sebagai jari terkecil dan terakhir, melambangkan diri kita yang tidak
seharusnya selalu berada diurutan pertama dan terutama di dalam
doa-doa kita (yang meliputi pertumbuhan dan kebutuhan pribadi). Dengan
bantuan kelima jari tangan kanan dan kiri, doa-doa kita akan mencakup
pokok doa yang cukup menyeluruh dan mengungkapkan doa yang makin
berpusat pada Tuhan.

Dan yang tidak kalah pentingnya adalah sikap hati dalam berdoa. Doa
adalah hubungan pribadi dengan Allah Yang Mahatahu, yang menyelidiki
sampai kedalaman hati kita. Karenanya doa memerlukan sikap hati yang
benar. Sikap hati yang benar adalah hati yang tertuju pada kemuliaan
dan kehendak Tuhan, bukan kepuasan diri sendiri. Doa kita harus
dibangun di atas hubungan yang hormat dan hangat, bukan sekedar
mekanisme dan rutinitas. Kita tidak dapat bergegas menghampiri hadirat
Tuhan dengan sikap angkuh. Atau, langsung menghujaninya dengan
permintaan-permintaan, tanpa menyadari siapa yang sedang kita hadapi.
Kita harus datang kepada-Nya dengan sikap hormat dan juga hangat. Kita
tidak boleh menghadap Tuhan hanya Karena kita sudah terpaku pada
rutinitas dan kebiasaan. Jika demikian, doa yang kita naikkan akan
terasa hambar dan tidak akan berdampak pada hidup kita. Kita harus
menentukan waktu yang teratur dan terus menerus dalam berdoa. Selain
waktu-waktu doa yang kita khususkan secara teratur, kita pun dapat
berdoa di mana dan kapan saja, saat mengantre, saat di rumah, saat
berjalan kaki, di sekolah, menonton berita, membaca surat kabar, dan
lain-lain. Cara mendisiplinkan tidak boleh tidak, kita mesti secara
sengaja melakukannya, membiasakannya di tengah-tengah setiap aktivitas
kita sehari-hari. Kita perlu tetap berada di jalur hubungan dengan
Tuhan. Soli Deo Gloria

Disadur dari buku: Berakar Dalam Kristus
Baca Terusannya »»  

Rabu, 03 April 2013

MENGENAL TUHAN MELALUI FIRMANNYA

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Tuhan dengan segala kemuliaan-Nya ingin mengajak kita terlibat dalam
pekerjaan-Nya, tetapi semua ini tidak bisa terjadi jika kita tidak
mengenal Dia. Pepatah mengatakan tak kenal maka tak sayang, tanpa
mengenal dan memahami Tuhan, tak mungkin kita dapat mengasihi, memuji,
menyembah, dan memuliakan Dia. Tanpa sungguh mengenal dan memahami
Tuhan, pujian kita bagi-Nya hanya akan menjadi aktivitas atau tradisi
yang kosong, yang tanpa kekuatan dan kedalaman. Pengenalan akan Tuhan
adalah hal yang utama dan menyukakan hati Tuhan. Dan, kita bisa
mendapatkannya secara berlimpah-lipah melalui penyataan Tuhan sendiri
yang tertulis di dalam Alkitab.

Setidaknya ada tiga manfaat mengenal Tuhan melalui firmannya di
Alkitab: menuntun kita kepada keselamatan, menolong kita dalam
pertumbuhan, dan memperlengkapi kita dalam pelayanan. Oleh karena
firman Tuhanlah kita mengenal keselamatan di dalam Yesus. Firman
menunjukkan kepda kita bagaimana mendapatkan keselamatan itu, meskipun
kita telah terbuang jauh dari hadapan Allah karena dosa. Tanpa firman,
kita tidak akan tahu bahwa ada penebusan bagi dosa kita, dengan
percaya dan menerima Yesus Kristus, yang sudah mati di salib untuk
menggantikan kita. Kita telah dilahirkan kembali bukan dari beni yang
fana, tetapi dari benih firman Allah yang hidup dan kekal (1 Petrus
1:23).

Setelah dilahirkan kembali ke dalam keluarga Allah, kita perlu terus
bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan. Tanpa pengenalan akan Tuhan,
yang kita peroleh melalui firman-Nya, kita tidak mungkin dapat makin
mencintai, menyerupai, dan memuliakan Dia. Cara paling ampuh untuk
tidak bertumbuh adalah dengan menjauhkan diri dari firman Tuhan.
Melalui firman-Nya orang-orang percaya diperlengkai Tuhan untuk
melakukan setiap perbuatan baik (2 Timotius 3:17).

Setiap kali kita membuka Alkitab, pada bagian manapun, kita
sesungguhnya sedang berhadapan dengan Tuhan sendiri; dengan
pikiran-pikiran-Nya, perasaan-perasaan-Nya, rencana-rencana-Nya,
kehendak-Nya, sabda-Nya, dan penyataan-Nya yang lain. Melalui Alkitab
Tuhan berkata-kata, meyingkapkan diri-Nya, agar kita makin mengenal
Dia. Oleh karena itu setiap kali kita membaca Alkitab, kita perlu
mengajukan pertanyaan: "Apa yang Engkau mau aku kenali tentang diri-Mu
melalui bagian firman ini? Apa yang mau Kau nyatakan tentang
Pribadi-Mu, rencana-Mu, perintah-Mu, kehendak-Mu, Janji-Mu?". Alkitab
tidak boleh diperlakukan seperti album foto. Karena saat kita membaca
Alkitab, bukan diri dan pemenuhan kebutuhan dan kerinduan kita sendiri
yang harus kita cari. Tetapi diri dan kerinduan Tuhan atas kitalah
yang perlu kita tanggapi.

Rasa lapar merupakan "bumbu masak" terhebat dalam membuat makanan
lezat. Masakan terlezat, yang disajikan menarik oleh ahli masak
jempolan pun, tak akan dapat menggugah selera orang yang sedang
kenyang. Sebaliknya nasi dengan kerupuk saja bisa terasa nikmat bagi
orang yang lapar. Rasa lapar bahkan bisa membuat orang mau dan mampu
melakukan apa saja, agar bisa mendapatkan makanan. Rasa lapar dan haus
dialami oleh orang yang sehat. Orang yang tidak merasa haus dan lapar,
meskipun tidak makan atau minum berhari-hari, pasti sedang terganggu
kesehatannya (entah secara fisik maupun mental). Rasa lapar dan haus
sebenarnya merupakan sinyal bahwa tubuh sedang kekurangan asupan gizi
dan cairan. Membiarkan diri kehausan dan kelaparan dalam waktu lama
berbahaya bagi kesehatan. Begitu pula dengan kehidupan rohani kita.
Kesehatan dan pertumbuhan kita pasti terganggu jika kita terus menerus
mengabaikan kebutuhan kita akan asupan firman Tuhan. Hati yang keras,
merasa diri sendiri paling benar, justru akan menghalangi kita untuk
terus bertumbuh ke arah yang Tuhan kehendaki. Namun kita juga tidak
boleh asal makan. Makan sembarang makanan bisa membuat kita keracunan,
sakit perut, bahkan celaka. Kita perlu bijak di dalam memilih makanan.
Sesungguhnya yang kita perlukan adalah makanan sehat, bukan yang
sekedar nikmat. Pengajaran firman Tuhan yang keras, jauh lebih baik
dan berguna bagi kehidupan dan pertumbuhan rohani kita, karena
seringkali mengandung kebenaran, dari pada pengajaran yang hanya
memuaskan telinga saja.

Kita tidak akan memiliki kerinduan yang besar, atau pemahaman yang
benar akan firman Tuhan, jika kita tidak rendah hati atau mau
menundukkan diri pada penyataan Roh Kudus. Hanya Dia yang memungkinkan
kita mengalami hal-hal itu. Rendah hati dan taat merupakan sikap hati
yang perlu kita miliki juga dalam memahami firman Tuhan. Salah satu
sikap rendah hati adalah bersedia dikoreksi. Sungguh menarik jika
dikatakan bahwa mendengar firman itu ibarat orang bercermin. Saat kita
bercermin pada firman Tuhan, kita akan melihat jelas segala kekurangan
dan ketidakberesan pada diri kita. Namun introspeksi ini baru membawa
hasil jika disertai dengan kerendahan hati untuk mau dikoreksi,
diperbaiki, dibersihkan dari segala kotoran dan ketidakpantasan yang
tampak itu.

Kita harus terus membangun hidup kita di atas dasar firman Tuhan, dan
hubungan pribadi yang erat dengan Sang Firman Hidup. Dengan setia dan
tekun melakukan setiap firman yang kita dengar, kita makin lama akan
makin menjadi seperti yang Tuhan mau. Kita akan mengalami berbagai
perubahan hidup yang membawa kemuliaan bagi Tuhan, mejadi berkat bagi
sesama, dan memberi kepenuhan hidup bagi kita sendiri. Soli Deo Gloria
Baca Terusannya »»  

Kamis, 21 Maret 2013

SEBERAPA PENTING SAAT TEDUH BAGIMU?

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Banyak orang percaya yang sering memilih untuk mengenal pribadi dan
karya Tuhan Yesus melalui pengalaman orang lain. Mereka lebih suka
mendengar pengalaman orang lain dari pada mengalaminya sendiri.
Seandainya kita diperhadapkan pada kisah-kisah seperti ini, bagaimana
tanggapan kita? Misalnya: Dalam hal liburan, maukah kita berlibur
dengan cara meminta orang lain menikmati liburan, lalu ia
menceritakannya kepada kita? Dalam berpacaran, maukah kita berpacaran
dengan cara meminta seorang sahabat berkencan dengan pacar kita, lalu
ia menceritakan kepada kita? Dalam menikmati makanan, maukah kita
makan dengan cara meminta orang lain mewakili kita makan, lalu ia
menceritakannya kepada kita? Tentu untuk semuanya itu, kita mau
mengalaminya langsung, bukan hanya diceritakan orang lain atau melalui
perantara. Bagaimana dengan hubungan kita bersama Tuhan?

Waktu teduh adalah waktu pertemuan pribadi. Kita menanggapi kerinduan
Tuhan dengan menyediakan waktu khusus untuk bertemu dengan-Nya. Kita
mencurahkan isi hati dan memperhatikan perkataan-Nya. Kita datang
menghadap Dia, mendengarkan Dia, dan menanggapi Dia. Waktu teduh
adalah suatu undangan pribadi, yang tak dapat diwakilkan. Seberapa
banyak waktu yang akan kita berikan untuk membangun hubungan seperti
ini?
Tuhan Yesus selalu memakai perumpamaan pohon dan ranting untuk
menjelaskan betapa pentingnya hubungan pribadi dengan Tuhan. Sebuah
ranting daunnya bisa rontok dan tak berbuah, entah karena belum
waktunya, karena musim berganti atau karena diserang hama. Namun,
selama masih menempel pada batang utama, ranting itu masih tetap punya
harapan untuk bertunas kembali. Tetapi jika dipatahkan atau terpisah
dari batang utama, maka betapapun rimbunnya, ranting itu lambat laun
akan kering dan mati.

Waktu teduh akan terasa hambar dan kering jika hanya menjadi kewajiban
agamawi belaka. Namun, jika kita melihatnya sebagai sarana yang
dibutuhkan untuk membangun hubungan yang erat dengan Tuhan, tidakkah
kita akan mengusahakannya dengan segenap jiwa? Sama seperti ketika
kita lapar dan butuh makanan, haus dan butuh segelas air. Kehujanan
dan mencari tempat berteduh. Mencintai dan rindu bertemu dengan yang
dicintai. Tentu kita akan menjalani prosesnya dengan hasrat yang kuat
dari dalam diri sendiri, bukan hanya karena dorongan orang lain.

Waktu teduh dengan Tuhan akan membawa dampak pada pola kehidupan kita,
seperti persekutuan dengan rekan seiman dipengaruhi oleh persekutuan
pribadi kita dengan Tuhan. Bersaksi juga menjadi lebih mudah jika kita
mengalami Tuhan setiap hari. Perkataan maupun perbuatan kita akan
makin selaras dengan kehendak Tuhan jika kita bergaul karib
dengan-Nya. Pendek kata, waktu teduh dapat membuat hidup seseorang
menjadi berbeda.
Memilih untuk mengutamakan Tuhan melalui waktu teduh, tanpaknya
sederhana tetapi pilihan untuk membina hubungan pribadi dengan Tuhan
akan membawa kita kepada pilihan-pilihan berikutnya. Misalnya, ketika
kita memilih untuk menyediakan waktu secara khusus untuk bertemu
dengan Tuhan setiap pukul enam pagi, kita akan diperhadapkan pada
berbagai pilihan yang mengikuti. Seperti pukul berapa saya harus tidur
jika saya ingin bersaat teduh pukul enam esok pagi? Jam berapa saya
harus berhenti menonton televisi agar bisa bangun tepat waktu? Apakah
saya akan mandi sebelum atau sesusah waktu teduh? Di mana saya akan
bersaat teduh? Dan lain sebagainya. Kita perlu menetapkan
batasan-batasan dengan sengaja untuk dapat memiliki waktu yang
berkualitas bersama Tuhan.

Pilihan-pilihan semacam ini hanya dapat dihasilkan oleh hati yang
benar-benar mengasihi Tuhan, yang memandang hubungan pribadi dengan
Tuhan sebagai hal yang utama dan paling berharga. Waktu teduh adalah
bagian terbaik di mata Tuhan, sekaligus merupakan waktu yang menuntut
ketetapan hati. Apakah kita berketetapan untuk memilih yang terbaik
ini setiap hari?

Kalau kita mau jujur pada saat apa kita paling mengharapkan kehadiran
Tuhan? Saat ditimpah kesusahan? Saat sakit keras? Butuh pertolongan
segera? Namun, bagaimana ketika kita dalam keadaan baik-baik saja?
Adakah kerinduan yang sama meliputi kita setiap kali kita memulai
waktu teduh? Salah satu hambatan dalam menikmati waktu teduh bisa saja
bersumber dari tidak adanya hasrat yang kuat untuk datang menghadap
Tuhan. Pertemuan biasa saja berjalan, tetapi sekedarnya, karena hati
tidak siap diarahkan ke Tuhan. Jika kita benar-benar menghargai dan
mengharapkan kehadiran seseorang, kita tentu mempersiapkan diri dan
segala sesuatunya dengan baik. Apalagi terhadap Tuhan!
Persiapan apa yang biasanya kita lakukan untuk datang menghadap Tuhan?
Jangan datang dengan pikiran kosong. Datanglah dengan mempersiapkan
tubuh, jiwa dan roh untuk menghadap Tuhan. Ingat bahwa kita hendak
datang menghadap pribadi yang sangat penting! Demikian juga dengan
peranan Roh Kudus, mohonlah Roh Kudus memberi hikmat agar kita dapat
mengenal Tuhan dan kebenaran-Nya. Kita membutuhkan pertolongan Roh
Kudus supaya kita tidak menjadi seperti "robot" dalam berwaktu teduh.
Robot bisa diprogram agar setiap pukul 6 pagi berdoa dan membaca
Alkitab, menyanyikan pujian bagi Tuhan. Namun, apakah doa dan pujian
robot yang serba teratur ini didengarkan oleh Tuhan? Jelas tidak,
karena yang dilakukan robot ini hanyalah sesuatu yang mekanis saja,
tidak ada jiwanya, tidak ada roh yang berhubungan dengan Roh Tuhan.

Kadangkala kita juga bisa masuk ke dalam suatu mekanisme rohani.
Kelihatannya saja kita membaca Alkitab dan berdoa, namun sebenarnya
jiwa kita tidak ada didalamnya. Pertanyaannya, seberapa banyak peran
Roh Kudus dalam waktu teduh kita selama ini?
Waktu teduh adalah juga waktu untuk mendengarkan Tuhan. Bagaimana
caranya? Dengan memberikan perhatian yang sungguh-sungguh kepada
firman-Nya. Alkitab dapat memberikan hikmat, menuntun pada keselamatan
oleh iman, bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan,
memperbaiki kelakuan, dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Ketika
membaca Alkitab, ingatlah bahwa kita sedang mendengarkan Tuhan, bukan
sedang membaca makalah atau menganalisis tulisan seseorang. Mintalah
kepada Tuhan untuk menunjukkan kepada kita apa yang ia ingin sampaikan
kepada kita secara pribadi pada saat itu. Sayangnya, kita seringkali
tidak merespon sebagaimana mestinya terhadap apa yang Tuhan nyatakan.
Hidup kita tak ada bedanya sebelum dan sesudah mendengarkan Dia.
Yakobus menyebut orang yang demikian sebagai pendengar firman saja,
bukannya pelaku firman.

Tanpa kita sadari, kerap kali kita menempatkan Tuhan seperti penyiar
televisi yang menyampaikan berita satu arah. Pendengar merasa tidak
perlu menyampaikan tanggapan langsung, karena sang penyiar berada di
tempat yang jauh. Kita lupa bahwa sesunggunya Tuhan hadir dan
menantikan kita menanggapi Dia. Kita dapat menanggapi Tuhan melalui
tindakan yang spesifik. Tuhan mungkin menggerakkan hati kita untuk
mengerjakan sesuatu ketika kita membaca firman-Nya. Misalnya berdamai
dengan seseorang, menolong seseorang. Bersegeralah melakukannya!
Mintalah Tuhan menunjukkan tindakan spesifik yang dapat kita lakukan
untuk menaati-Nya.
Sampai disini apakah kita masih menganggap waktu teduh tidak penting?????

Diringkas dari buku BERAKAR DALAM KRISTUS, Yayasan Gloria
Baca Terusannya »»  

Senin, 11 Maret 2013

Menjadi Profesor di Usia 26, Irwin Yousept Siap Membangun Indonesia

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Senin, 11/03/2013 07:38 WIB
Menjadi Profesor di Usia 26, Irwin Yousept Siap Membangun Indonesia
Mega Putra Ratya - detikNews

http://images.detik.com/customthumb/2013/03/11/608/074030_irwinyousept.jpg?w=460
Irwin Yousept (dok pribadi)
Jakarta - Irwin Yousept (31) meraih gelar profesornya di usia yang masih muda yakni 26 tahun. Kini dia bekerja di Technischen Universitat Darmstadt, Universitat in Hessen, Jerman sebagai pengajar.

Irwin tidak lupa dengan tanah kelahirannya, Indonesia. Dia mengaku siap jika suatu saat dibutuhkan untuk membangun tanah air Indonesia.

"Saya sangat bangga sekali, saya akan siap balik ke Indonesia apabila Indonesia membutuhkan," saat berbincang dengan sejumlah wartawan termasuk detikcom di Hotel Adlon Kempinski, Berlin, Jerman, Selasa (6/3/2013). Irwin adalah salah satu Diaspora Indonesia yang hadir dalam pertemuan dengan Presiden SBY yang sedang melakukan kunjungan kerja di negara tersebut.

Pria yang akrab disapa Yousept ini mengambil jurusan Matematika di Technische Universit
t Berlin. Yousept hanya membutuhkan waktu 2,5 tahun untuk merampungkan sarjana strata I dan II, serta 2,5 tahun untuk mendapatkan gelar Doctor of Philosophy (Phd).

Usai lulus dari SMA Tarakanita, Pluit, Jakarta Utara, pria kelahiran Jakarta 14 April 1982 ini mengaku mantap memilih melanjutkan studinya di Jerman. Alasannya karena negara ini memiliki teknologi yang jauh lebih baik dari Indonesia.

"Menurut saya, Indonesia harus gigih, bekerja keras, dan harus siap mengejar ketinggalan. Teknologi Indonesia memang beda, tapi saya pikir step by step kita bisa mempelajari, teknologi itu harus diturunkan," ungkap Yousept yang logat Indonesianya mulai berkurang ini.

Ada alasan tersendiri mengapa Yousept belum mau kembali ke Indonesia saat ini. Salah satunya dia masih ingin terus menimba ilmu di Jerman meski sudah meraih gelar tertinggi.

"Networking saya tidak begitu kuat di Indonesia, saya mau menambah ilmu lagi di jerman. Teknologi yang saya pelajari masih banyak yang perlu dipelajari, saya masih cukup muda dan masih bisa menambah ilmu lagi, kalau saya bisa berkontribusi untuk Indonesia itu saya senang sekali," papar Yousept.

Yousept memberi pesan kepada seluruh pelajar dan mahasiswa di Indonesia agar dapat seperti dirinya saat ini. Sarannya, yang terpenting adalah mau bekerja keras dan tidak mudah putus asa.

"Tidak mudah putus asa, kalau mengalami kegagalan kita harus gigih, dan berjuang keras. Menurut saya kita semua sama, yang penting satu, kita mau kerja keras atau tidak, kalau kita mau bekerja keras kita pasti bisa mencapai apapun. Semua pasti ada halangannya, kita harus berani menghadapi halangan tersebut, berani gagal," saran Yousept.

Sekilas Curiculum Vitae Irwin Yousept:

Di Bidang Profesional:

July 2012 – Now: Professor for "Optimization". Graduate School of Excellence Computational Engineering (CE) TU-Darmstadt, Germany

October 2009 – June 2012: Postdoc in DFG Research Center MATHEON, TU Berlin. Project C9: Simulation and Optimization of Semiconductor. Crystal Growth from the Melt Controlled by Travelin Magnetic Fields.

October 2008 – September 2009: Guest Professor for "Numerics and Scientific Computing", Universitat Augsburg, Germany

June 2006 – September 2008: Researcher in DFG Research Center MATHEON, TU-Berlin

February 2006 – Mei 2006: Assistant Researcher, TU Berlin, SFB 557: Control of complex turbulent shear flows

October 2005 – January 2006: Assistant Researcher, TU Berlin

Pendidikan

August 2008: Doctorate Degree: Dr. rer. nat. (TU Berlin)
Final Grade: summa cum laude
Supervisor: Prof. Dr. Fredi Troltzsch

October 2005: Diplom Degree in Mathematics: Dipl.-Math. (TU Berlin)
Final Grade: 1.0 (summa cum laude)

April 2002 – August 2005: Study in Mathematics, TU Berlin


(mpr/mpr)



--
In Christ's Love
Hans
"Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam! (Kisah Para Rasul 18:9b).
Baca Terusannya »»  

Rabu, 23 Januari 2013

KIAT-KIAT MENULIS RENUNGAN

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
KIAT-KIAT MENULIS RENUNGAN
==========================

Renungan adalah refleksi atas sebuah ayat dalam Alkitab yang
dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari dan kontekstual bagi pembaca.
Penulis memulai tulisan setelah melihat persoalan-persoalan yang
terjadi dalam realitas kehidupan. Dia lalu mencari jawabannya
melalui permenungan dan penelitian yang mendalam atas ayat-ayat
dalam Firman Tuhan. Setelah itu dia membagikan hasil permenungan itu
kepada pembaca.

Menulis renungan berbeda dengan menulis artikel. Di dalam menulis
artikel, penulis menyajikan dan memberikan pengetahuan serta
ketrampilan (memberi makanan bagi otak), sedangkan dalam menulis
renungan, penulis berbagi iman dan pengalaman kerohanian (memberi
makanan pada jiwa). Artikel berpusat pada satu tema dan menggunakan
lebih dari satu sumber tulisan, sedangkan renungan, berpusat pada
satu tema dan satu ayat Alkitab. Panjang artikel bisa mencapai 500-
2000 kata, sedangkan renungan, antara 250-300 kata. Artikel berasal
dari pengetahuan di kepala (head), sedangkan renungan adalah luapan
dari pengalaman batin (heart).

Tujuan akhir dari sebuah renungan adalah perubahan hidup. Seberapa
pun indah tulisan renungan itu, tetapi jika tidak bisa mendorong
pembaca untuk melakukan tindakan yang membuatnya semakin mengasihi
Tuhan dan sesama, maka tulisan itu tidak layak disebut renungan.

Ada beberapa tipe renungan, yaitu:
1. Renungan yang memberi inspirasi untuk bertindak dengan nyata.
Isinya biasanya berupa dorongan bagi pembaca untuk bertindak
sesuatu.
2. Renungan yang memberi ketenangan. Biasanya berisi kata-kata
penghiburan untuk menguatkan pembaca yang sedang mengalami
pergumulan.
3. Renungan yang memberikan teguran. Renungan ini memperingatkan
pembaca supaya tidak melakukan perbuatan tertentu yang bisa
mendatangkan dosa.
4. Renungan yang memberi paparan tentang suatu perikop tertentu.
Isinya hanya berupa informasi yang menjelaskan makna dari ayat-
ayat tertentu dan relevansinya bagi konteks kekinian.

Rumus 4 C
---------
Ada suatu formula yang dipakai untuk menulis renungan yang disebut
"rumus 4 C", yaitu Contextualize, Connect, Communicate, dan
Conclude. Berikut ini penjelasannya:

1. Contextualize.
"Daratkanlah" isi renungan Anda dengan peristiwa kehidupan
sehari-hari secara nyata. Pembaca renungan adalah manusia biasa
dengan pergumulan kehidupan yang tidak ringan. Mereka membutuhkan
penguatan rohani yang aplikatif. Karena itulah, tulisan Anda
sebaiknya menjawab kebutuhan pembaca secara nyata.

2. Connect.
Hubungkan persoalan kehidupan yang dibahas itu dengan Firman
Tuhan. Temukanlah jawaban Firman Tuhan atas persoalan yang
digumulkan oleh penulis dan pembaca renungan itu. Dalam hal ini,
selain harus berdoa meminta hikmat dari Tuhan, lebih baik lagi
jika Anda memiliki pengetahuan teologi yang memadai.

3. Communicate.
Komunikasikan hasil studi Alkitab itu kepada pembaca.
Komunikasikan tentang kasih dan karunia Tuhan serta penguatan
dari Roh Kudus. Jika diperlukan, pakailah ilustrasi untuk
menjelaskannya.

4. Conclude.
Simpulkan renungan ini dengan sebuah tindakan yang bisa dilakukan
oleh pembaca. Bagian ini sangat penting. Rumuskanlah kata-kata
yang bisa mendorong pembaca untuk membuat keputusan dan melakukan
tindakan. Inilah yang disebut perubahan hidup.

Tips Praktis Menulis Renungan
-----------------------------
Secara lebih praktis, berikut ini adalah kiat-kiat praktis yang
dapat diterapkan di dalam menulis renungan:

1. Siapkan semua bahan-bahan pendukung, seperti ilustrasi, data-
data, Alkitab (kalau ada beberapa versi terjemahan dalam bahasa
Indonesia, bahasa Inggris, dan bahasa lainnya) dan Konkordansi
Alkitab (Kalau punya komputer, lebih enak memakai Program SABDA).

2. Berdoalah meminta pimpinan Tuhan.

3. Bacalah perikop ayat itu berulang-ulang dan jika mungkin, bacalah
juga versi terjemahan dan bahasa yang berbeda. Temukan gagasan
utama yang menjadi pusat dari isi renungan Anda.

4. Tulislah draft tulisan Anda. Tuangkanlah semua isi kepala Anda
dengan bebas. Draft bukanlah tulisan yang sudah jadi. Untuk
itulah, Anda tidak usah memperhitungkan apakah tulisan ini akan
tampak buruk. Yang penting, Anda bisa menuangkan semua gagasan
Anda lebih dulu. Teknik ini disebut curah gagasan (brain
storming).

5. Setelah semua ide tampaknya sudah mengalir keluar, maka langkah
selanjutnya adalah menyusun ide-ide atau pokok pikiran itu supaya
menjadi teratur dan enak dibaca. Dalam bahasa kerennya, supaya
alur logika tulisan mengalir dengan lancar. Jika ada ide-ide yang
tidak relevan, jangan ragu-ragu untuk memangkasnya.

6. Tempatkan ilustrasi renungan yang sesuai. Jika Anda gagal
menemukan ilustrasi yang cocok, jangan cemas. Anda masih bisa
menyiasatinya dengan memasang kalimat pembuka yang menarik.

7. Jika sempat, mintalah tolong orang lain supaya memberikan kritik
dan saran atas tulisan Anda.

8. Perhatikan dengan cermat isi pengajaran atau teologi di dalamnya.
Sedapat mungkin, hindarilah tema-tema yang secara teologis masih
belum ada kata sepakat. Hindari juga pembahasan yang menyinggung
denominasi tertentu. Misalnya soal baptisan atau bahasa lidah.
Jika Anda ragu-ragu terhadap ketepatan Anda dalam merumuskan
pengajaran Alkitab, jangan segan-segan untuk berkonsultasi pada
pendeta atau orang lain yang lebih tahu.

Menulis renungan itu sebenarnya tidak lebih dari sebuah sharing
pengalaman rohani yang dialami oleh penulis. Pengalaman rohani
setiap orang itu unik, karena merupakan hasil dari perjumpaan
pribadinya dengan Allah. Pengalaman rohani seseorang selalu menarik
minat orang lain karena pengalaman rohani tiap-tiap orang berbeda.
Itulah sebabnya, kita tidak akan pernah kehabisan bahan penulisan
renungan.

Jika memang benar bahan-bahannya melimpah, mengapa hanya sedikit
saja orang yang mau menulis renungan? Kebanyakan orang beralasan
karena tidak mampu menulis dengan baik. Alasan ini kurang kuat,
karena kemampuan menulis sebenarnya bisa diasah melalui pelatihan
dan mempraktikkannya dengan sungguh-sungguh. Tidak ada seorang
penulis yang langsung mampu membuat tulisan yang indah tanpa melalui
latihan.

Diedit dari tulisan "Purnawan Kristanto"
Penulis pernah menjadi jurnalis "BAHANA" dan pernah mengasuh
"Renungan Malam"
Baca Terusannya »»  

Selasa, 05 Juli 2011

Honesty (Kejujuran)

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Oleh : Adrianus Pasasa

Pengertian


Honesty (Kejujuran). Kejujuran kata dasarnya jujur yang artinya : Lurus hati, tidak curang . Jujur : Lurus hati, tidak berbohong (berkata apa adanya), tidak curang (mis. Dlm permainan mengikuti peraturan yang berlaku), tulus, iklas. Jadi Kejujuran adalah sifat jujur, sifat yang suka akan kebenaran, dan ketulusan hati.

Sinonim: tulus, Ikhlas, jujur, bersih, putih hati, mulus, sungguh-sungguh, tidak pura-pura; ikhlas, jujur, tulus, rela, memiliki loyalitas tinggi .

Antonim: dusta, berbohong . Jadi kebohongan adalah kebalikan dari kejujuran, dimana berbohong atau bedusta tidak mau mengatakan yang sebenarnya.

sinonim : andal, benar, bersih, bonafide, cengli, kredibel, lempeng hati, lurus hati, putih hati, mukhlis, mustakim, sadik, safi, sportif, blak-blakan, terang-terangan, terbuka, terus terang, ikhlas, tulus kejujuran integritas, kebenaran, kelurusan (hati), kepolosan, keterbukaan, ketulusan, kredibilitas, moral, validitas,

antonim : kecurangan,

Penguraian

Kejujuran atau jujur artinya apa-apa yang dikatakan seseorang sesuai dengan hati nuraninya, apa yang dikatakan sesuai dengan kenyataan yang ada. Sedang kenyataan yang ada itu adalah kenyataan yang benar-benar ada. Jujur juga berarti seseorang bersih hatinya dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh agama dan hukum. Untuk itu dituntut satu kata dan perbuatan, yang berarti bahwa apa yang dikatakan harus sama dengan perbuatannya. Karena itu jujur berarti juga menepati janji atau kesanggupan yang terlampir melalui kata-kata ataupun yang masih terkandung dalam hati nuraninya yang berupa kehendak, harapan dan niat.

Secara sederhana, kejujuran bisa diartikan sebagai sebuah kemampuan untuk mengekpresikan fakta-fakta dan keyakinan pribadi sebaik mungkin sebagaimana adanya. Sikap ini terwujud dalam perilaku, baik jujur terhadap orang lain maupun terhadap diri sendiri (tidak menipu diri), serta sikap jujur terhadap motivasi pribadi maupun kenyataan batin dalam diri seorang individu. Kualitas kejujuran seseorang meliputi seluruh perilakunya, yaitu, perilaku yang termanifestasi keluar, maupun sikap batin yang ada di dalam. Keaslian kepribadian seseorang bisa dilihat dari kualitas kejujurannya.

Kejujuran melibarkan motivasi-motivasi kita yang terdalam dan meliputi setiap segi kehidupan kita secara pribadi atau umum. Kejujuran mencakup kebenaran dalam setiap pengertiannya, dan integritas di dalam batin seseorang. Kejujuran menuntut seseorang untuk mengesampingkan dusta, penipuan, penyontekan, fitnah dan tipu daya.


Dampak dari Kejujuran

• Dapat Dipercaya

• Mencegah perseteruan, pertengkaran, percekcokan, perselisihan dan berujung pada penghilangan nyawa seorang manusia. Mencegah kehancuran alam, ilegal logging yang berujung pada kemurkaan alam dengan longsor, banjir, semburan gas alam, semburan lumpur.

• Masyarakat hidupnya akan sejahtera, kejujuran dalam menjalankan roda pemerintahan akan berdampak pada kesejahteraan hidup masyarakat. Transparansi dalam penggelolaan keungan, akan mencegah terjadinya ketidakjujuran.

• Pelayanan kita diberkati dan berkenan dihadapan Tuhan. Pelayanan yang mengutamakan kejujuran adalah hal yang berkenan dihadapan Tuhan. Pelayanan yang penuh dengan manipulasi tentu tidak berkenan dihadapan Tuhan.

• Menghindari kita dari mementingkan diri sendiri/serakah. Orang memiliki sifat jujur cendeerung akan peduli kepada kepentingan orang lain, dan tidak mementingkan diri sendiri atau kelompoknya.


Pandangan Alkitab

Alkitab tidak memberikan suatu standar mutlak tentang kejujuran. Kita tidak menemukan satu bagian Alkitab yang memberi jawaban yang jelas yang berhubungan dengan kejujuran. Tetapi Alkitab banyak memberi petunjuk dan perintah yang berhubungan dengan kejujuran, terutama yang berhubungan dengan prinsip-prinsip umum. Roh kudus dapat menggunakan setiap-prinsip itu untuk menggerakkan hati nurani kita supaya dapat membedakan apa yang jujur dan benar.

Ada beberapa contoh dalam Alkitab yang berhubungan dengan kejujuran:

Tokoh Alkitab yang memiliki Kejujuran:

• Yesus (1 Petrus 2:22). Kita mempunyai Yesus sebagai teladan, khususnya dalam hal kejujuran. Surat Petrus mencatat bahwa “tipu tidak ada dalam mulut-Nya”. Setiap orang percaya perlu memiliki kejujuran, seperti Yesus Kristus.

• Hizkia. Ia adalah salah satu raja Yehuda yang terkemuka. Hizkia terkenal karena kesalehannya yang luar biasa. Alkitab mencatat: “Ia melakukan apa yang baik, apa yang jujur, dan apa yang benar di hadapan TUHAN, Allahnya (2 Taw 31:20-21; Yes 38:3). Kesungguhan dan kepasrahannya kepada Tuhan tidak dapat diragukan (2 Raja-raja 18:5,6).

• Natanael. Dia berasal dari Kana di Galilea. Dia dibawa oleh Filipus kepada Yesus. Dia mengakui bahwa Yesus adalah Allah dan Raja Israel. Ini pengakuan dari orang Israel sejati, yang tidak ada kepalsuan didalamnya. Yesus sendiri mengatakan bahwa tidak ada kepalsuan di dalamnya (Yoh 1:4)

• Paulus. Ia menulis komitmennya untuk mengurus secara jujur uang yang diberikan orang-orang percaya untuk suatu dana bantuan bagi orang-orang kekurangan (2 Kor 8:21). Paulus juga mengatakan bahwa aku mengatakan kebenaran dalam Kristus, aku tidak berdusta (Roma 9:1). Paulus menyebut hati nuraninya dan Roh Kudus sebagai saksi-saksi bahwa ia mengatakan kebenaran.

• Ayub. Ayub 1: 8, Kitab Ayub menceritakan bahwa ayub adalah orang yang saleh dan jujur (1:1). Ayub taat dan setia beribadah kepada Allah, bermoral, takut akan Allah dan menjauhi kejatahan. Kebaikan, kejujuran dan kesalehan ayub tidak disangsikan lagi karena Allah sendiri yang memuji kejujuran Ayub (1:8).


Kejadian dalam Alkitab yang berhubungan dengan kejujuran

• Keluaran 3:9; Efesus 4:25; dusta merusak kepercayaan seseorang kepada orang yang mendustainya. Dan setelah kepercayaan itu hilang, maka akan sangat sulit memulihkan hubungan itu kembali. Kebiasaan berdusta biasanya berkembang secara halus sehingga kebiasaan tersebut terus berlangsung tanpa diperhatikan. Kita mulai berdusta tentang hal-hal kecil yang kita pikir tidak jadi masalah

• Kis 5:1-11, belajar dari kisah Ananias dan Safira, di mana kebohongan mereka akan mempengaruhi orang-orang Kristen mula-mula. Suami-istri menjual sebidang tanah dan menyimpan sebagian uangnya untuk mereka sendiri serta membawa sisanya kepada rasul sebagai persembahan. Apa yang salah dalam kasus ini, mereka tidak salah karena menyimpan sebagian uangnya, tetapi yang salah adalah tipu daya yang mereka lakukan. Mereka berusaha membuat orang-orang percaya bahwa mereka telah memberikan segalanya.

• Yeremia 9:1-9, kondisi masyarakat yang didirikan atas dasar penipuan.

• Titus 2:; Paulus menasehatkan kita harus menjadi contoh dalam hal kejujuran. Jujur dalam menyampaikan pengajaran, dengan bersikap jujur maka akan menutup celah untuk kita mendapat malu, atau hal-hal yang dapat menjatuhkan kita.


Prinsip Pengembangan

Proses pengembangan kejujuran harus dimulai dari keluarga. Keluarga merupakan tempat ideal untuk menanamkan sifat kejujuran. Jika sifat jujur sudah ditanamkan sejak dini dalam keluarga, maka dampaknya akan membentuk setiap anggota keluarga, khususnya dalam kejujuran. Anak yang dari kecil diajarkan untuk berkata jujur, maka sifat tersebut akan membentuk pola hidupnya untuk selalu berkata jujur. Untuk mencapai hasil tersebut, tentu harus dimulai dari orangtua yang akan menjadi contoh bagi anak-anaknya, tetapi sering kali yang terjadi adalah orangtua tidak dapat menjadi contoh bagi anggota keluarganya.

Contoh kasus yang terjadi dalam keluarga, disadari atau tidak disadari bohong kecil sudah dianggap lumrah, misalnya dalam keluarga, karena malas untuk menemui tamu, kita meminta tolong kepada anak kita untuk mengatakan kepada tamu bahwa kita tidak ada. Bagi orangtua hal ini tidak apa-apa, tetapi tanpa orangtua sadari, apa yang mereka lakukan akan ditiru oleh anaknya. Jadi tidak heran kalau kelak hal yang sama juga dilakukan anak ketika sudah dewasa dan berkeluarga. Orangtua harus menyadari resikonya.

Hal lain, seperti kebiasaan orang tua menjanjikan sesuatu yang pastinya tidak dapat ditepati, untuk menutupi kesalahannya orang tua sering kali memberi alasan yang berbohong. Anak kecil pintar sekali meniru apa yang dilihat, dan kebohongan dari tingkah laku dan perkataan yang dilakukan orang tua juga akan menanamkan kebohongan dalam mental anak kecil tersebut. Apapun itu bentuk kebohongannya sekalipun dalam hal kecil, itu semua terekam dalam memori sang anak.

Dampak dari apa yang dialami oleh anak di dalam lingkungan keluarga, akan terbawa ketika anak-anak sudah dewasa dan terjun ke dalam masyarakat, misalnya, nyontek sudah dianggap hal biasa, ketidakjujuran akademis seperti kegiatan jiplak-menjiplak, serta contek-mencontek dalam ujian, sudah dianggap lumrah.

Pakar Etika Lewis Smedes berpendapat bahwa kejujuran penting karena: kejujuran membangun kepercayaan, kejujuran mengembangkan masyarakat, dan kejujuran melindungi martabat penontonnya. Tanpa kejujuran dalam komunikasi, maka kepercayaan itu tidak mungkin ada. Reputasi baik yang dibentuk bertahun-tahun dapat hancur dalam sekejap hanya karena satu tindakan ketidakjujuran. Kejujuran dapat melindungi masyarakat dalam arti jika individu dalam masyarakat saling percaya, maka jaringan hubungan akan terbentuk. Kejujuran harus diperjuangkan, jika kejujuran rusak, maka masyarakat secara keseluruhan akan menderita. Masyarakat yang tidak memiliki sikap jujur akan berubah menjadi masyarakat yang berbudaya penipu.

Peran keluarga sangat sentral dalam pembentukan watak dan tata nilai, masih ada generasi berikutnya yang harus kita jaga. Biarkan anak-anak tumbuh dalam iklim kejujuran yang mendukungnya. Dimulai dari anak yang jujur, keluarga yang jujur, akan melahirkan masyarakat yang jujur. Dan tentu kita inginkan masyarakat yang jujur akan melahirkan pemerintahan dan aparat yang jujur.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan supaya nilai kejujuran itu terus mewarnai kehidupan kita.

• Nilai Kejujuran seharusnya mulai dibina dari sejak kecil. Dengan menanamkan nilai kejujuran sejak usia dini, kelak anak akan bertumbuh menjadi pribadi yang utuh.

• Menempatkan kejujuran sebagai suatu nilai yang sangat penting dalam kehidupan keluarga. Kejujuran adalah modal dasar dan utama untuk dapat dipercaya. Tanpa kejujuran, maka akan sulit untuk memperoleh kepercayaan.

• Hidup dalam kebenaran (Yes. 33:15; Amsal 11:3). Kejujuran melibatkan cara hidup yang benar dan pola pemikiran yang patut yang akan menghasilkan gaya hidup yang patut dipuji dan dihormati.

• Hidup dalam takut akan Tuhan. Banyak warga negara yang menipu pemerintah dengan menyerahkan laporan keuangan yang palsu ketika mereka akan membayar pajak. Mereka lebih takut kepada pemerintah dari pada takut kepada Tuhan.

• Membiasakan diri untuk berkata jujur. Jika kita membiasakan diri berkata jujur kita tidak akan terperangkap dalam kebohongan. Dengan selalu berkata jujur akan membawa ketenangan dalam hati. Dengan selalu berkata jujur kita akan menemukan diri kita yang sebenarnya

• Kita harus berani menyatakan kebenaran tanpa peduli akibat-akibatnya. Petrus dan Yohanes berkata: “Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar" (Kis 4:20).

• Melawan hikmat duniawi 2 Kor 1:12; meghindari hal-hal yang bertentangan dengan Firman Tuhan. Berani berkata jujur walaupun secara duniawi akan merugikan dirinya. Misalnya dalam dunia usaha dengan memanipulasi harga yang dapat merugikan orang lain.


Aplikasi bagi saya

Bagi saya pribadi kejujuran adalah sesuatu yang sangat penting, karena tanpa kejujuran dalam menjalani kehidupan ini hanya akan dipenuhi dengan kemunafikan dan topeng-topeng kepalsuan. Saya akui bahwa belum sempurna dalam hal ini, tetapi saya terus berusaha belajar memperbaiki ketika melakukan hal-hal yang tidak jujur. Mungkin yang masih menjadi pergumulan saya adalah tanpa saya sadari seringkali saya tidak menepati apa yang saya janjikan kepada anak-anak saya. misalnya, saya janji mereka untuk jalan-jalan pada sore hari, tetapi karena kelelahan dan kesibukan kerja akhirnya saya tidak menepati apa yang telah dijanjikan. Hal ini sudah terjadi beberapa kali dan anak saya selalu mengatakan papa bohong. Saya menyadari hal ini salah, saya terus belajar dari kesalahan-kesalahan ini dengan berusaha untuk menepati apa yang saya janjikan kepada anak-anak saya.

Sering kali tanpa saya sadari, anak terus mengamati dan meniru apa yang saya lakukan. Anak melihat saya sebagaimana adanya saya sebagai orang tuanya. Saya terus berusaha menanamkan hal-hal yang baik berhungan dengan pembentukan watak dan tata nilai, karena saya menyadari ketika kelak mereka dewasa anak akan membandingkan norma-norma yang diajarkan kepada mereka dengan norma-norma kehidupan orangtua mereka. Tindakan-tindakan orangtua membawa kesan yang dalam pada diri anak-anak yang tidak dapat diubah dengan kata-kata. Sebagai kepala keluarga, saya terus berdoa Tuhan mampukan supaya dapat menjadi teladan yang baik bagi istri dan kedua anak saya dalam hal kejujuran.

Walaupun kejujuran sering tidak mudah atau tidak menguntungkan, namun harus disadari bahwa kejujuran merupakan jalan kehidupan yang penuh kekudusan, keadilan, dan kasih.
Baca Terusannya »»  

Kamis, 24 Maret 2011

Pendidikan Karakter

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Pendidikan budi pekerti sangat penting karena akan sangat mempengaruhi kehidupan seorang anak dimasa yang akan datang. Pendidikan budi pekerti harus dimulai dari usia dini karena anak masih mudah dibentuk. Supaya dapat memberikan hasil yang positif, maka pendidikan budi pekerti harus mengacu kepada Alkitab sebagai firman Allah. Anak harus dibawa untuk mengalami perjumpaan pribadi dengan Yesus Kristus. Dalam membentuk anak supaya menjadi pribadi yang memiliki watak, karakter yang baik, maka dibutuhkan kerjasama antara guru agama, guru sekolah Minggu dan orang tua. Ketiga komponen ini harus menjadi contoh yang baik, karena anak memiliki kecenderungan untuk menjadikan media belajar orang-orang yang dekat dengan mereka.
Keluarga adalah tempat awal pembentukan watak, karakter anak. Sebelum anak menerima dari lingkungan komunitas sekolah, atau teman sebaya, anak terlebih dahulu menerima dari lingkungan keluarga. Jadi, Semua bermula dari keluarga. Keluarga memiliki peran sangat penting dalam pembentukan watak, karakter seorang anak. Anak banyak belajar dari orang tua, apa yang orang tua lakukan akan ditiru oleh anak, baik sifat orang tua, tingkah laku orang tua, semua akan menjadi model bagi sang anak. Demikian juga dengan perlakuan orang tua terhadap anak akan sangat berpengaruh terhadap pembentukan watak, karakter anak ketika mereka sudah menjadi dewasa kelak. Di sini orang tua dituntut untuk banyak belajar, karena semua bermula dari keluarga. Baik tidaknya anak kelak sangat tergantung pada bagaimana orang tua menangani anak dimasa kecilnya.
Pembentukan watak, karakter anak pada dasarnya sudah mulai sejak anak dalam kandungan. Peran orang tua sangat menentukan keberadaan watak, karakter anak ketika sudah lahir nanti. Demikian juga dengan Kondisi seorang ibu sangat bepengaruh pada keberadaan anak dalam kandungan. Hubungan bapak dan ibu juga ikut berpengaruh pada anak melalui kondisi ibunya. Perlakuan terhadap anak sejak dalam kandungan sangat berdampak pada anak ketika kelak sudah lahir dan dibesarkan. Perlakuan terhadap anak tidak hanya dari kandungan tetapi, perlakuan itu harus terus berkesinambungan ketika anak sudah lahir. Orangtua seharusnya memiliki pengetahuan yang memadai supaya anak yang akan diasuh dan dibesarkan nantinya memiliki watak dan karakter yang baik. Orang tua sangat berperan dalam mencukupi apa yang menjadi kebutuhan anak, baik itu jasmani, sentuhan, perlakuan terhadap anak, cara menangani jika anak mengalami persoalan, menananamkan rasa percaya kepada anak, ini semua sangat menentukan kepribadian anak kelak ketika sudah dewasa. Jadi keterlibatan orang tua sejak anak dalam kandungan sampai anak lahir dan memasuki masa-masa pertumbuhan, itulah masa-masa orang tua harus mengorbankan waktu demi masa depan anak khususnya dalam hal pembentukan watak dan karakter. Perilaku-perilaku yang menyimpang ketika anak dewasa kelak, biasanya diakibatkan oleh kesalahan atau kurangnya keterlibatan orang tua dalam pengasuhan di masa anak-anak.
Memasuki tahun-tahun pembentukan (usia 3-5 tahun), orang tua lebih dituntut lagi keterlibatannya dalam mengarahkan anaknya. Masa-masa pembentukan adalah masa-masa di mana anak sangat mudah untuk meniru dan menerima apa yang dilihat dan didengar dari lingkungannya. Masa-masa ini anak sangat membutuhkan arahan dari orang tuanya. Pada masa ini pula anak mulai mengalami pertumbuhan dan mulai belajar untuk mandiri yang kadang sikap ingin mandiri sering kali membuat anak menjadi lebih aktif. Keadaan aktif inilah yang kadang membuat orangtua kewalahan untuk mengarakan sang anak. Dalam kondisi seperti ini orangtua diperhadapkan pada pilihan, apakah bersikap tegas atau mengikuti keinginan anak. Kedua pilihan ini tentu akan membawa konsekuensi pada masa depan sang anak. Jika kedua pilihan ini dijalankan dengan benar tentu akan membawa dampak yang baik pada masa depan anak. Namun sebaliknya jika kedua pilihan ini dijalankan dengan tidak benar maka dampaknya akan buruk bagi masa depan sang anak. Jadi keterlibatan orang tua pada masa-masa pembentukan sangat penting dan berarti, alasannya karena pembentukan dimasa ini akan membawa dampak pada kehidupan sang anak di masa remaja atau dewasanya.
Memasuki usia prasekolah dunia anak semakin luas, pada usia ini jika  penanganan pada anak kurang baik, maka dampaknya juga akan terlihat dikemudian hari. Pada usia ini pula anak membutuhkan pengarahan dari orang tua dan guru, karena keinginan yang muncul dari dalam diri anak semakin banyak dan beragam. Munculnya keingintahuan dari diri anak akan membuat orang tua, guru, pengasuh, akan kerepotan. Kembali lagi orangtua dituntut kesabarannya dalam mengarahkan sang anak, sehingga keinginannya dapat terpenuhi. Pada usia ini pula momen paling baik untuk membentuk identitas anak. Orangtua harus merelahkan waktunya untuk mengajari dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari dalam diri anak akibat keingintahuannya yang besar itu. Penghargaan dan pengakuan yang diberikan orang tua kepada anak sangat bermanfaat bagi pembangunan kepercayaan diri sang anak. Anak membutuhkan penghargaan dari orangtua, bahwa dirinya berharga walaupun pernah melakukan kesalahan. Demikian juga dengan pembentukan identitas seksual, sangat dibutuhkan anak pada usia prasekolah. Kesungguhan orangtua dalam menjelaskan masalah perbedaan seksual, sangat menolong anak untuk tidak mengalami penyimpangan seksual di kemudian hari. Perlakuan orangtua yang salah pada usia prasekolah akan berdampak negatif pada diri anak di kemudian hari.
Tugas orang tua yang tidak kalah penting adalah memenuhi kebutuhan rohani anak. Anak tidak hanya dituntut untuk sukses secara inteletual, tetapi bagaimana menjadikan anak yang memiliki intelektual dan kerohanian yang baik. Kemampuan intelektual tidak dapat menjadi jaminan bagi pertumbuhan kepribadian anak. Anak juga memerlukan kebutuhan rohani. Kebutuhan ini akan terpenuhi jika anak diajarkan untuk memiliki relasi yang hidup dengan Allah. Pengenalan akan akan Allah berdampak positif pada pertumbuhan dan perkembangan watak dan moral anak. Anak harus diajarkan taku akan Tuhan, dampaknya akan sangat luar biasa bagi kehidupan sang anak. Kembali lagi orang tua yang harus berperan aktif, keluargalah yang menjadi pemeran penting dalam pertumbuhan rohani anak. Pertumbuhan rohani dalam keluarga (orangtua) akan menjadi acuan bagi anak. Pertumbuhan rohani anak, adalah cerminan dari pertumbuhan rohani orang tua. Hubungan yang harmonis dalam keluarga sangat menolong anak untuk bertumbuh dalam kerohaniannya. Sebagai imam, ayah harus menjalankan perannya dengan baik yaitu membawa anak datang mengenal Allah. Keharmonisan hubungan dalam keluarga menjadi cerminan hubungan keluarga dengan Tuhan.
Selain orangtua guru sangat penting peranannya dalam pembentukan anak. Seorang guru tidak hanya bertugas membentuk anak memiliki kemampuan kognitif, tetapi guru dituntut lebih dari itu. Guru dituntut untuk membantu anak dalam memahami konsep dirinya dengan benar. Tentu dalam hal ini kesabaran seorang guru dalam menghadapi berbagai karakter dan latar belakang anak merupakan poin penting. Seorang guru harus menanamkan konsep positif dalam diri anak, sehingga anak tetap merasa dikasihi, diperhatikan dan merasa berharga dan berarti. Sebaliknya guru yang tidak peduli atau cenderung mananamkan konsep negatif akan berakibat fatal bagi diri anak, anak akan merasa tertolak, tersisihkan, tak berguna, tidak berarti dan tidak pernah merasa puas. Anak yang sudah terlanjur memiliki konsep diri yang negatif akan memiliki kecenderungan menarik diri, menghindar ketika menghadapi hambatan atau konflik, sehingga anak tidak akan pernah bersikap dewasa. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi terbentuknya konsep diri anak, mulai dari keluarga, media massa cetak maupun elektronik, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat, iblis dan kuasa kegelapan. Bukanlah pekerjaan yang mudah, oleh sebab itu dibutuhkan kerjasama antara orangtua dan guru. Orangtua dan guru harus menanamkan kebenaran firman Tuhan kepada anak bahwa pada dasarnya anak berharga dihadapan Tuhan. Guru dituntut untuk memberikan contoh hidup yang benar.
Orangtua tidak hanya memberikan perhatian dan kasih sayang kepada anaknya. Orangtua juga harus tegas dalam mendisiplinkan anak supaya anak mengalami pembentukan dan pengembangan watak secara sehat. Dalam mendisiplinkan anak orangtua harus memahami batas-batas pendisiplinan. Pendisiplinan yang benar adalah pendisiplinan yang tegas dan disertai dengan kasih, pendisiplinan yang tidak tegas akan menyebabkan anak menjadi manja sedangkan pendisiplinan yang keras tanpa kasih akan membawa dampak pada diri anak yaitu timbulnya akar pahit pada diri anak. Pendisiplinan yang kurang pada anak akan berdampak kemudian hari, di mana anak menjadi pemberontak, sulit dikendalikan, melakukan segala cara untuk menyenangkan dirinya. Dalam mendisiplinkan anak orang tua tidak perlu ragu-ragu, karena pendisiplinan merupakan perintah Tuhan. Banyak narasi dalam Alkitab yang menceritakan bagaimana Allah mendisiplinkan umat-Nya. Supaya anak hidup berdisiplin, maka kembali lagi orangtua yang dituntut untuk berperan aktif dalam mendisiplinkan anak, orangtua haru memahami apa yang menjadi kebutuhan anak, dan melibatkan anak dalam berbagai kegiatan. Dalam mendisiplinkan anak orangtua harus banyak belajar supaya dapat memahami kebutuhan anak. Orangtua tidak dapat memperlakukan semua anak dengan pola didikan yang sama karena anak pertama dan anak selanjutnya memiliki sifat dan karakter yang berbeda. Orangtua harus mendisiplinkan anak sesuai dengan kapasitas si anak. Anak yang dibiasakan disiplin kelak akan mudah mengatur dirinya, sebaliknya anak yang hidup tanpa disiplin dalam berbagai hal kelak akan mengalami kesulitan dalam mengatur dirinya.
Pertumbuhan anak yang semakin berkembang tentu membuat orangtua akan semakin banyak belajar untuk mengikuti perkembangan anak. Dengan memahami sifat-sifat anak akan sangat menolong orangtua maupun pengasuh untuk menangani perkembangan anak yang terus bertumbuh dan berkompetensi. Anak yang hiperatif dan autis tentu penanganannya akan sangat berbeda dengan anak yang normal. Perlakuan, penerimaan, dan penilaian orangtua, pengasuh, dan guru akan sangat menentukan masa depan anak-anak yang mengalami hal demikian. Orangtua, guru, dan pengasuh sangat berpengaruh dalam membentuk watak dan moral, dan keimanan anak.
Memasuki masa remaja anak akan memiliki pandangan yang semakin luas. Orangtua dituntut untuk bijaksana dalam memperlakukan anak yang sudah masuk masa remaja. Orangtua tidak dapat lagi memperlakukan seperti pada masa anak-anak. Orangtua harus berupaya untuk memahami dan mengerti dunia anak remaja, orangtua harus memiliki pengetahuan yang memadai mengenai dunia mereka sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman antara anak dan orangtua, dengan demikian konflik antara anak dan orangtua dapat terhindarkan. Masa remaja adalah masa transisi, oleh karena itu orangtua, gereja, sekolah, berperan penting dalam memberi bimbingan, arahan, supaya mereka tidak salah melangkah dalam pergaulan.
Sumber: Disarikan dari Buku Membesarkan Anak Secara Kreatif  Karya BS. Sidjabat
Baca Terusannya »»  

Berita Terkini

« »
« »
« »
Get this widget

Daftar Blog Saya

Komentar