Tulisan Jalan

Hidupku untuk mengharumkan nama-MU Jangan bersukcita ketika engkau berhasil dalam pelayanan, tetapi bersukcitalah karena namamu tercatat di Surga

Kau istimewa. Di seluruh dunia, tidak ada orang yang sepertimu. Sejak bumi diciptakan tidak ada orang lain yang sepertimu. Tidak ada orang lain yang memiliki senyummu, tidak ada yang memiliki matamu, hidungmu, rambutmu, tanganmu, suaramu. Kau istimewa. Tidak ada orang lain yang memiliki tulisan yang sama denganmu. Tidak ada orang lain yang memiliki selera akan makanan, pakaian, musik, atau seni sepertimu. Tidak ada orang lain yang memiliki cara pandang sepertimu. Sepanjang masa tidak ada orang lain yang tertawa sepertimu, tidak ada yang menangis sepertimu. Kaulah satu di antara seluruh ciptaan yang memiliki kemampuan seperti yang kau miliki. sampai selamanya, tidak akan ada orang yang akan pernah melihat, berbicara, berjalan, berpikir, atau bertindak seperti dirimu. Kau istimewa...kau langka. Tuhan telah menjadikanmu istimewa dengan satu tujuan yaitu MEMULIAKAN DIA

Cari Blog Ini

Sabtu, 12 Mei 2012

Doktrin Trinitas (bag.1)

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Sumber : Kompasiana

Catatan Pengantar
Beberapa waktu yang lalu salah seorang kawan saya mengajak diskusi tentang iman Kristen. Dalam diskusi itu kawan saya menanyakan salah satu doktrin Kristen yang sangat sulit dia paham, yaitu doktrin Tritunggal dan makna Ibnullah (Anak Allah) pada Yesus. Menurut dia iman Kristen saat ini sudah melenceng dari ajaran Yesus yang justru sangat menekankan tauhid (keesaan TUHAN). Apalagi soal doktrin Tritunggal yang menurut dia tidak ada dalam Injil atau ajaran Yesus.
Menurut saya adalah sangat wajar jika umat agama lain terkadang tidak memahami bahasa teologis agama kita. Dikarenakan mereka seringkali menggunakan “kacamata” atau pola pikir bahasa teologis mereka dalam memahami iman kita yang sulit mereka pahami. Salah satu contoh seperti kasus diatas. Dimana umat lain tidak mampu memahami bagaimana sebenarnya makna Tritunggal; bagaimana maksud Yasu’ al-Masih Ibnullah (Yesus Kristus Anak Allah) padahal jelas-jelas bahwa Allah tidak beranak dan diperanakkan; dsb.
Jika kita mencoba mencari kata “Tritunggal” di Alkitab memang tidak ditemukan secara letter leg. Tetapi apabila kita mencoba kembali pada ajaran Tauhid (Monoteisme) Yahudi pra Kristen, pada penciptaan langit dan bumi (kejadian 1) disana dikatakan: “Roh Allah melayang-layang diatas air” (Ruah Elohim atau Roh Kudus); “Berfirmanlah Allah” (Bar Elohim atau Firman Allah). Itu sebabnya hubungan antara Bapa (Allah); FirmanNya; dan RohNya dirumuskan oleh Theophilus dari Antiokhia di Gereja Timur dalam bahasa Yunani “Triados” dan oleh Tertulianus dari Gereja Barat dalam istilah bahasa latin “Trinitas” atau yang umum kita kenal dengan “Tritunggal”.
Doktrin Tritunggal tidak sama dengan Triteisme (penyembahan tiga tuhan). Dalam doktrin ini tidak menjelaskan “keberapaan” Allah, akan tetapi menjelaskan “kebagaimanaan” Allah itu lalu dirumuskan dalam Tritunggal. Karena Allah yang Esa harus memiliki Roh (Kudus) dan juga harus memiliki Firman atau dalam bahasa aslinya “Logos”.

Yasu’ al-Masih Ibnullah atau Yesus Kristus Putra Allah
Perlu ditekankan bahwa kata “Putra Allah” pada Yesus bukan berarti hasil hubungan sexual seperti yang ditentang oleh Bang Rhoma Irama. Kata “Anak Allah” ini bermakna kiasan dari “Firman Allah”. Dalam Qanun al-Iman (Syahadat Nikea/Konstantinopel tahun 325/381), yang mengatakan bahwa Putra Allah yang Tunggal telah “lahir dari Sang Bapa sebelum segala zaman” (Arab: al-maulud min al-Abi qabla kulli duhur). Pertanyaannya adalah apakah ada di dunia ini seseorang yang dilahirkan dari Bapa? Jawabnya, tentu saja tidak ada! Karena setiap orang lahir dari ibu. Karena itu, Yesus disebut Putra Allah jelas bukan kelahiran fisik, tetapi kelahiran ilahi-Nya sebagai Firman yang kekal sebelum segala zaman.
Kemudian kawan saya yang bertanya, ” Bukankah Yesus itu dilahirkan dari rahim Maryam? ” Itu adalah kelahiran kedua dalam daging atau wujud kemanusiaan Yesus. Makna kelahiran Yesus ini oleh bapa-bapa gereja dirumuskan demikian : ” As-Sayid al-Masih lahu miladain: Miladi azali min Ab bi ghayr umm qabla kulli ad-duhur, wa miladi akhara fi mal’i al-zamaan min umm bi ghayr ab”. Artinya: “Junjungan kita al-Masih mempunyai dua kelahiran: Kelahiran kekal- Nya dari Bapa tanpa seorang ibu, dan kelahiran-Nya dalam keterbatasan zaman dari ibu tanpa seorang bapa insani’ ”.
“Lahir dari Bapa tanpa seorang ibu “, menunjuk kepada kelahiran kekal Firman Allah dari Wujud Allah. Tanpa seorang ibu, untuk menekankan bahwa kelahiran itu tidak terjadi dalam ruang dan waktu yang terbatas, bukan kelahiran jasadi (bi ghayr jasadin) melalui seorang ibu.
Sebaliknya, “Lahir dari ibu tanpa bapa “, menekankan bahwa secara manusia Yesus dilahirkan dalam ruang dan waktu yang terbatas. Meskipun demikian, karena Yesus bukan manusia biasa seperti kita pada umumnya, melainkan Firman yang menjadi manusia, maka kelahiran fisik-Nya ditandai dengan mukjizat tanpa perantaraan seorang ayah insani. Kelahiran-Nya yang kedua ke dunia karena kuasa Roh Allah ini, menyaksikan dan meneguhkan kelahiran kekal-Nya “sebelum segala abad”. Dan karena Dia dikandung oleh kuasa Roh Kudus, maka Yesus dilahirkan oleh Sayidatina Maryam al-Adzra’ (Bunda Perawan Maria) tanpa seorang ayah.

Hubungan Yesus (Sang Firman) dengan Allah
Yohanes 1 : 1 dalam terjemahan aslinya (bhs Yunani) berbunyi demikian:
εν αρχη ην ο λογος και ο λογος ην προς τον θεον και θεος ην ο λογος
artinya :
En arche en ho Logos, kai Ho Logos en pros theon, kai theos en ho logos.
Logos itu artinya bukan sekedar kata-kata verbal. Tapi artinya pikiran yang merupakan sumber dari kata-kata & pernyataan. Pikiran itu adalah Logos; Logikos; Logic/akal. Pikiran ada dalam diri Allah, tidak mungkin pikiran Allah di luar. Karena pikiran Allah (Firman Allah) itu bukan “ilah yang lain” dan bukan “allah yang lain” daripada Allah Sang Bapa itu, maka dikatakan dalam bahasa aslinya adalah: “Firman itu bersama dengan Allah itu, dan Firman itu adalah Allah”. Artinya apa?? Sang pemilik Firman itu hanya satu, Allah itu hanya satu. Karena itu Kristen Arab kalau berdoa setelah “Bapa, Putera, dan Roh Kudu s” selalu ditutup dgn kata2 “al-Illahu wahid” yaitu Allah yg maha esa. Jadi tertutup segala kemungkinan ada dua sampai tiga allah. Karena “al-Illahu wahid” yaitu Allah yang maha esa.
Apakah Firman adalah makhluk/ciptaan dan pernah tidak ada ?
Menurut ajaran Arianisme bahwa pernah ada waktu Firman itu belum ada. Dan menurutnya Firman adalah ciptaan pertama yang membantu dalam penciptaan. Pertanyaan untuk ajaran Arianisme adalah: bagaimana mungkin sesuatu yang pernah tidak ada (makhluk) kemudian menciptakan sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada (makhluk)? Dan yang lebih parahnya lagi, dalam ajaran Arianisme ini, firman yang menurut mereka ciptaan itu membantu Allah dalam penciptaan langit dan bumi. Naudzubillah min zalik! Padahal dalam Alkitab sangat jelas dikatakan bahwa Allah membentangkan langit sendiri tanpa bantuan sekutu apalagi bantuan makhluknya yang dulu pernah tidak ada. Bukankah ini dosa syirik (mempersekutukan Allah dengan makhluknya)?
Lalu bapa-bapa Gereja menganathema ajaran Arianisme ini dalam Qanun al-Iman (Kaidah Iman):
“Inna alladzina yaquluna: Kana waqtun lam yakunfihi, wa qabla ‘an yulada lam yakun, wa qad khuliqa min al-‘adam, aw yujahiruna bi ‘anna ibna I-lahi huwa min ukhra, aw min jawharin akhirin, aw annahu makhluqun, aw qabila li at-taghiri wa al-fasad, fainna al-Kanisat al-kathuliqiyat wa ar-rasuliyyata tahramuhum. ”
Artinya:
“ sesungguhnya tentang mereka yg berkata : Pernah ada waktu dimana Firman Allah belum ada, dan sebelum Dia dilahirakan, Ia tidak ada, atau Firman Allah itu diciptakan dari tidak ada (creation ex nihilo), juga mereka yg menyangka bahwa Putera Allah mempunyai zat lain, atau jauhar (pokok, asal) lain selain dari Allah, dapat menerima perubahan dan kerusakkan, maka sesungguhnya gereja yg katolik/universal dan rasuli, dengan ini menyatakan anathema (pengharaman) atas ajaran mereka.”
Firman tidak diciptakan (ghayr al-makhluq) karena melalui Firman segala sesuatu diciptkan. Firman itu kekal bersama-sama dengan Allah (Yohanes 1). Jadi sangat tidak benar ajaran Arianisme yang sekarang menjelma menjadi sekte Saksi Yehova dan sekte Unitarian ini mengatakan bahwa firman adalah ciptaan pertama. Mereka sering mengutip Amsal 8:22 untuk membuktikan bahwa Firman/Hikmat adalah ciptaan.
Berakar dari Tauhid (Monoteisme) Yahudi pra Kristen, Allah berkarya melalui Firman-Nya yang dalam tradisi kesustraan disebut juga dengan Hokmah (Hikmat) yang bersifat pra-eksisten bersama Allah, seperti misalnya disebut dalam kitab Amsal dibawah ini:
“YHWH (Adonay) qenani reasith derekho”
“TUHAN memiliki aku sebagai permulaan pekerjaan-Nya” (Ams 8:22, teks Vulgata)
Berbeda dengan kata “bara” (“menciptakan”), yang menunjuk kegiatan Allah untuk “mengadakan dari yang tidak ada menjadi ada” (creation ex nihilo), kata Ibrani “qana” (“memiliki”, atau “memperoleh”), seperti kedua ayat lain dalam kitab Amsal: “..baiklah orang yang berpengertian memperoleh (yihneh) bahan pertimbangan” (Ams. 1:5). Lagi disebutkan dalam ayat lain:
“Qeneh hokmah, qeneh binah.”
“Perolehlah hikmat, perolehlah pengertian” (Ams 4:5)
Hikmat Allah, yg berperan dalam penciptaan itu, menyeru pada manusia untuk mengikuti jalan-Nya. Dalam 1 kor. 1:24, Kristus disebut kekuatan Allah dan Hikmat Allah. Tentu saja, ini tidak menunjuk kepada kemanusiaan Yesus, melainkan menunjuk kodrat ilahi-Nya sebagai Firman Allah, dan Firman itu Allah (Yoh. 1:1)
Dalam kemanusiaan-Nya, Yesus adalah anak-anak dari Hikmat. “Tetapi Hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya” (Luk. 7:35, teks asli: ton teknon autes panton, “oleh anak-anaknya”). Sebaliknya, dalam keilahian-Nya, Tuhan Yesus menyeru kepada manusia dengan seruan yang tidak pernah diucapkan manusia biasa dimanapun juga, kecuali oleh Hikmat (Yunani: Sophia) Allah sendiri: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu” (Mat. 11:28). Meskipun demikian, patut dicatat pula bahwa dogma keilahiam Yesus dan ketritunggalan Ilahi tidak hanya cukup didsarkan atas ayat-ayat Perjanjian Lama saja, tetapi harus lebih mengacu kepada ayat-ayat Perjanjian Baru. Sebab Perjanjian Lama “..hanya terdapat bayangan saja dari keselamatan yang akan datang, dan bukan hakikat keselamatan itu sendiri” (Ibr. 10:1). Seperti yang juga dikatakan Rasul Paulus, “…semuanya itu hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya adalah Kristus” (Kol. 1:7). Konkritnya, tidak bisa misalnya Yoh. 1:1 yang jelas tegas malah ditafsir berdasarkan “ayat puitis” dari Ams. 8:22, sebab Kitab Amsal ditulis sebelum zaman Yesus, sedangkan Injil Yohanes ditulis oleh Rasul Yohanes di Efesus, yang jelas-jelas berasal dari murid Yesus langsung.

Bukankah Yesus berseru pada Allah: “Eli, Eli Lamma Sabakhtani”?
Dalam diskusi saya pernah ditanya demikian: “Bang Oland, bukankah Yesus pernah berseru: Eli, Eli Lamma Sabakhtani? Padahal Yesus adalah jelmaan dari Firman Allah sendiri. ” Sekali lagi perlu ditekankan bahwa Yesus mempunyai dua kodrat. Pertama, Dia adalah Firman Allah yang kekal bersama-sama dengan Allah dan yang adalah Allah. Tentu saja daging atau tubuh kemanusiaan Yesus atau wujud inkarnasi Yesus bukanlah Allah (Sang Bapa). Karena jika tubuh kemanusiaan Yesus adalah Allah (Sang Bapa), masakan Allah mati? Jika tubuh kemanusiaan Yesus adalah Allah, masakan Allah digantung di kayu salib? Inilah yang perlu ditekankan, bahwa ketika Yesus wafat yang merasakan kematiaan adalah tubuh kemanusiaan Yesus. Firman dan Allah Sang Pemilik Firman tidak ikut merasakan kematiaan tubuh kemanusiaan Yesus. Hal ini dapat saya analogikan berikut: hasil dari buah pikiran saya dicetak dalam buku atau direkam dalam pita kaset. Ketika buku atau pita kaset yang adalah penjelmaan dari buah pikiran saya itu sobek atau rusak, apakah pikiran saya dan saya ikut rusak juga? Tentu tidak! Karena kertasnya dan pitanya bukan saya. Meskipun dalam buku dan pita kaset itu adalah penjelmaan buah pikiran saya.
Begitu juga antara kemanusiaan dan keilahian-Nya sebagai Firman Allah juga “tidak terbagi dan tidak terpisah”. Maksudnya, sekalipun Firman Allah sama sekali tidak merasakan atau tidak dapat disentuh oleh maut, tetapi dengan kematian tubuh insani Yesus itu Allah turut “berbela rasa” dengan umat-Nya. Ibarat bendera suatu negara yang merupakan kebangaan seorang raja. Ketika bendera itu diinjak-injak oleh musuhnya, hati raja terasa tercabik-cabik meskipun tubuhnya sama sekali tidak terluka.
Jadi, sekalipun Allah tidak dapat mati, dalam kasih-Nya Dia tetap “turut merasakan” kematian Yesus, Putra-Nya. “Quddusu anta, yaa Ghayr al-maati “, demikian bunyi sebuah kidung berbahasa Arab yang lazim dinyanyikan di Gereja Ortodoks Syria dan masih dilafazkan hari ini: “Yaa man shulibta ‘ana irhamna “. Yang artinya : “Kuduslah Engkau, Wahai Firman Allah yang tidak Berkematian, yang disalibkan bagi kami, kasihanilah kami.”
Ketika Yesus (Sang Firman) nuzul (turun) ke bumi, lalu di Surga tinggal berapa?
Suatu ketika saya ditanya oleh kawan diskusi saya: “Ketika Yesus (Sang Firman) nuzul (turun) ke bumi, lalu di Surga tinggal berapa?”. Pertanyaan seperti ini akan muncul jika kita memahami Allah dengan matematis. Padahal untuk dapat mengerti bagaimana Allah kita tidak boleh menggunakan logika matematis seperti itu. Karena Allah itu Ruh, maka untuk dapat memahami Allah harus menggunakan pola pikir metafisik (dibalik yang kelihatan). Pertanyaan semacam itu dapat dijelaskan dengan menggunakan analogi seperti berikut: apabila saya mempunyai kemampuan untuk membuat roti, lalu saya bagi-bagikan keseribu orang. Apakah kemampuan saya akan berkurang? Tentu tidak! Kemampuan saya tetap ada dalam diri saya dan tidak berkurang sedikitpun meskipun telah saya bagi-bagikan pada seribu orang. Kemudian analogi yang lain: Jika buah pikiran saya dicetak dalam 100 buku atau direkam dalam 100 pita kaset, apakah pikiran saya akan berkurang? Tentu tidak! Pikiran saya tetap satu ada dalam diri saya dan tidak berkurang sedikitpun.
Begitu juga ketika Yesus yang adalah penjelmaan dari Firman Allah itu dibabtis, Firman Allah tetap ada dalam diri Allah dan tidak berkurang. Ada tertulis: “Allah bersama dengan orang sabar”. Jika di kota Jember ada 100 orang sabar dan Allah bersama dengan orang sabar, apakah dapat dikatakan ada 100 Allah? Tentu tidak! Allah tetap esa meskipun Dia bersama dengan orang yang berbeda dan ditempat yang berbeda. Karena Allah memang tidak dibatasi ruang dan waktu.
Demikian catatan sederhana saya, semoga dapat bermanfaat bagi para pembaca. Kemuliaan bagi Sang Bapa dan Sang Putra (Firman) serta Sang Roh Kudus, sekarang dan selalu serta sepanjang segala abad, amin.
Catatan kaki:
  1. Bambang Noorsena, Dari Kata Allah Hingga Lam Yalid Wa Lam Yulad , Institute for Syriac Christian Studies (ISCS), 2001.

  2. Bambang Noorsena, History of Allah , Penerbit ANDI, 2005, Yogyakarta.

  3. Romo Yohanes Bambang C.W, Sekitar Pertanyaan akan Kebenaran Iman Gereja Orthodox , Gereja Orthodox Indonesia Paroikia Js. Demetrios – Mojokerto – Jawatimur

  4. Ibid

Baca Terusannya »»  

Jumat, 11 Mei 2012

Kematian dan Kebangkitan Yesus

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***

Bukti-Bukti Kematian Yesus
            Bagaimana membuktikan bahwa Yesus benar-benar telah mati di kayu salib?  Alkitab mencatat beberapa peristiwa  disekitar penyaliban yang membuktikan bahwa Yesus telah mati. Para prajurit Romawi tidak mematahkan kaki Yesus karena mereka melihat bahwa "Ia telah mati" (Yohanes 19:33). Para prajurit menikam lambung Yesus dengan tombak dan dari dalam lambungnya keluar air dan darah (Yohanes 19:34). Yusuf dari Arimatea meminta tubuh Kristus sehingga ia dan Nikodemus dapat mengubur-Nya, Pontius Pilatus memerintahkan seorang kepala pasukan untuk membuktikan bahwa Yesus telah mati (Markus 15:43-45). Gubernur Romawi tidak akan memberikan tubuh itu kepada Yusuf sebelum kepala pasukan itu yakin bahwa sudah tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan pada tubuh Yesus.  Ketika penjaga-penjaga memeriksa kedua penjahat yang disalibkan dengan Yesus, mereka masih hidup sehingga kedua kakinya harus dipatahkan. Sedangkan Yesus sudah mati sehingga kaki-Nya tidak dipatahkan, untuk lebih meyakinkan bahwa Yesus telah mati, tentara Romawi menombak lambung-Nya. Saat ditombak Yesus sama sekali tidak bereaksi, jadi sangat jelas bahwa Yesus sudah mati saat itu. Pilatus mendapat laporan dari penjaga-penjaga tentara Romawi bahwa Yesus telah mati sehingga ia mengizinkan Jusuf Arimatea menguburkan mayat Yesus (Yoh.19:38).
Yusuf dan Nikodemus mempersiapkan penguburan bagi jasad tersebut secara adat Yahudi, termasuk mengafani-Nya dengan "kain lenan yang putih bersih" (Matius 15:46), mengurapi Tubuh itu dengan "campuran minyak mur dengan minyak gaharu" (Yohanes 19:39), dan membaringkan-Nya "di dalam kubur yang digali di dalam bukit batu" (Markus 15:46). Mereka tentu saja tidak akan menguburkan Yesus yang masih hidup. Menurut peraturan Yahudi, saat memasuki jam enam, tidak boleh ada mayat yang tergantung di salib. Bagi orang Yahudi penyaliban adalah suatu kutuk, jadi memasuki hari Sabat tidak boleh ada mayat, kalau pun ada harus segera di kuburkan pada hari itu juga. Kalau orang yang disalibkan masih hidup, maka harus di bunuh dengan cara dipatahkan tulang pahanya.
            Rasul-rasul dan murid-murid Tuhan Yesus meyakinkan bahwa Yesus benar-benar mati di atas kayu salib. Demikian juga dengan pengakuan kepala pasukan, prajurit-prajurit dan Pilatus, membuktikan bahwa Yesus benar-benar mati (Mark. 15:44-45; Yoh. 19:33). Metherell seorang mantan ilmuwan riset yang mengajar di The University of California mendeskripsikan detil-detil kematian Yesus. Dalam penjelasannya ia mengatakan bahwa keguncangan hipovolemik akan menyebabkan jantung berdebar kencang terus-menerus yang akan mengakibatkan kegagalan jantung, menyebabkan terkumpulnya cairan dalam membran-membran di sekitar jantung, yang disebut pericardial effusion, dan juga disekitar paru-paru, yang disebut pleural effusion. Apa yang dilakukan serdadu Roma dengan menusukkan sebuah tombak dan keluar sejumlah cairan pericardial effusion dan pleural effusion (Strobel,2002:257), ini membuktikan bahwa Yesus telah mati. Apa yang Yesus katakan, “Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, selama-lamanya” (Wahyu 1:18) benar-benar terjadi.
Bukti lain di luar Alkitab yaitu dari sejarawan Yahudi akhir abad pertama, Josephus, ia menulis dalam bukunya Antiquities: "Pada kira-kira waktu ini, hiduplah Yesus, seorang yang bijaksana, jika memang seseorang seharusnya menyebut dia seorang manusia. Karena ia adalah seseorang yang mengadakan hal-hal yang mengejutkan dan adalah seorang guru bagi orang-orang yang menerima kebenaran dengan senang hati. Ia memenangkan banyak orang Yahudi dan banyak orang Yunani. Ia adalah Sang Kristus. Ketika Pilatus, karena mendengar bahwa ia dikenai tuduhan oleh orang-orang dengan jabatan tertinggi di antara kami, telah menjatuhkan hukuman salib kepadanya, mereka yang dari mulanya sudah mengasihi dia tidak melepaskan kasih sayang mereka kepadanya. Pada hari ketiga ia menampakkan diri kepada mereka dalam keadaan kembali hidup, karena nabi-nabi Tuhan telah menubuatkan hal-hal ini dan tak terhitung banyaknya hal-hal menakjubkan lainnya mengenai dia. Dan suku Kristen, demikian mereka disebutkan menurut namanya, sampai saat ini masih ada." Walaupun sebagian para ahli meragukan apakah kalimat itu benar-benar dari Josephus sendiri ataukah hasil interpolasi penyalin Kristen. Namun, tidak diragukan bahwa Josephus menyebutkan fakta bahwa Pilatus telah menghukum Yesus di kayu salib .

Kebangkitan Yesus Kristus
            Kebangkitan adalah langkah pertama pemuliaan Yesus Kristus dan merupakan penggenapan dari nubuatan dalam Mazmur 16:10 maupun ramalan Kristus sendiri tentang kebangkitan-Nya (Mat. 16:21; 20:19; 26:32; Mark. 9:9; 14:28; Yoh. 2:19). Paulus menalar jelas kebangkitan Yesus sangat penting, Alkitab menuliskan bahwa “Andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan tentang Yesus Kristus dan sia-sialah juga kepercayaan kepada Yesus Kristus” (1 Korintus 15:14). Jika Yesus Kristus tidak benar bangkit, maka tidak ada pembenaran dihadapan Allah, tidak ada pengampunan atas dosa. Jadi realitas kebangkitan Yesus mempunyai makna yang sangat dalam. Demikian juga dengan keselamatan orang percaya sangat erat hubungannya dengan kebangkitan, tanpa kebangkitan tidak akan ada keselamatan orang percaya, atau dengan kata lain keselamatan orang percaya bukanlah sesuatu yang terlepas dari kebangkitan Yesus Kristus.
Orang-orang Kristen pertama meyakini sepenuhnya bahwa kebangkitan merupakan suatu kejadian yang nyata dan historis (Drane, 2005:111). Perjanjian Lama juga meramalkan kebangkitan Yesus, dapat dilihat dari perikop-perikop khusus yang dikutip para rasul, seperti Mazmur 16:8-11, dikutip dalam Kis. 2:25-31. Perikop ini juga yang digunakan  Paulus untuk  menunjukkan kepada orang Yahudi bahwa Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati (Kis.1:2-3). Apa yang dilukiskan dalam 1 Korintus 15:3-7, tentang kesaksian penting kepercayaan umat Kristen pertama, menyatakan bahwa Yesus telah bangkit dari kematian dan telah menampakkan diri kepada banyak pengikut-Nya.
            Yesus sendiri menubuatkan tentang kebangkitan-Nya, misalnya Ia berkata, “Rombak bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali” (Yoh.2:19). Dalam Matius 12:40, Ia berkata, “Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam”. Yesus juga mengajarkan bahwa Anak Manusia akan menanggung banyak penderitaan…lalu di bunuh dan bangkit sesudah tiga hari” (Mrk. 8:31). Yesus juga mengajar bahwa Ia akan membangkitkan Diri-Nya sendiri dari kematian, Yesus mengatakan “Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali” (Yoh. 10:18). Ini memperlihatkan bahwa Yesus Kristus berdaulat dan berkuasa atas keadaan. Kebangkitan Yesus sangat penting, karena mempertaruhkan kejujuran Yesus didalamnya.
Kebangkitan membuktikan kalau kematian Yesus cukup untuk membayar segalanya. Jika Yesus tidak dibangkitkan dari kematian, maka kematian-Nya merupakan sebuah kegagalan. Paulus berkata: ”Jika Kristus tidak bangkit, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah kepercayaan kamu” (1 Kor. 15:44).

Bukti-Bukti Kebangkitan Yesus
            Alkitab Perjanjian Baru menjelaskan bahwa Kristus disalibkan, mati, dan dikuburkan, pada hari yang ketiga bangkit dari kuburnya. Murid-murid adalah saksi kebangkitan Yesus Kristus. Lukas, mencatat dalam Kisah Para Rasul 1:3, "Kepada mereka Ia menunjukkan diri-Nya setelah penderitaan-Nya selesai, dan dengan banyak tanda Ia membuktikan, bahwa Ia hidup. Sebab selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah."
Seringkali muncul sangkalan bahwa Yesus Kristus tidak pernah bangkit. Ada yang mendalihkan bahwa murid-murid-Nya pergi kekuburan yang salah, di mana seorang muda berpakaian putih berkata, “Ia tidak ada di sini,” yang berarti Ia ada di kuburan yang lain. Demikian juga dengan anggapan bahwa para murid-Nya yang telah menyingkirkan tubuh Yesus. Jika ada anggapan bahwa mayat Yesus diambil oleh para murid-Nya, maka hal ini tidak mungkin, karena tidak ada pikiran tentang kebangkitan dalam benak para murid-Nya saat itu. Justru pada saat itu mereka tak berpengharapan dan putus asa, kalah, bersembunyi karena ketakutan terhadap orang-orang Yahudi. Lagi pula, Matius menceritakan bahwa penjaga ditempatkan diseberang kuburan Yesus, sehingga tidak mungkin mereka mencuri mayat Yesus (Douglas, 2008:14).
Namun sangkalan itu tidak pernah bertahan terhadap bukti-bukti berupa fakta-fakta nyata tentang kebangkitan Yesus Kristus. Menurut J.R.W Stott ada empat hal yang membuktikan bahwa Yesus telah bangkit yaitu pertama, kubur yang kosong. Sekiranya Yesus Kristus tidak dibangkitkan, maka dimanakah tubuh-Nya? Para pengikut-Nya telah melihat kubur-Nya telah kosong dan malaikat-malaikat mengisyaratkan bahwa Yesus telah bangkit dari kematian seperti yang dikatakan-Nya (Mat.28:5-7). Kedua, kain kafan yang masih utuh dan tidak berantakan, hanya didalamnya sudah tidak ada tubuh Yesus karena sudah bangkit. Ketiga, penampakan Yesus kepada murid-murid-Nya. Kitab Injil mencatat Yesus menampakkan diri-Nya kepada banyak orang diberbagai tempat dalam situasi yang berlainan setelah Ia bangkit dari kematian. Penampakan ini dapat dilihat antara lain: penampakan diri-Nya kepada Maria Magdalena (Yoh.20:11-18; Mrk.16:9-11), kepada perempuan-perempuan ketika mereka pulang dari kuburan (Mat.28:9-10), pada Petrus (Luk.24:34; 1 Kor.15:5), dua murid yang berjalan ke Emaus (Mrk. 16:12-13; Luk.24:13-35), sepuluh murid (Mrk.16:14), kesebelas murid (Yoh.20:26-29), tujuh murid di danau Galilea (Yoh.21:1-23), lima ratus orang (1 Kor.15:6), Yakobus saudara tiri Yesus (1 Kor.15:7), sebelas murid di bukit Galilea (Mat.28:16-20; Mrk.16:15-18), kepada murud-murid-Nya pada saat Ia naik ke surga (Luk.24:36-53; Kis.1:1-9), Stefanus ketika ia dirajam batu (KPR.7:55-56), Paulus pada jalan ke Damaskus (KPR. 9:3-6; 22:6-11; 26:13-18), Paulus di tanah Arab (KPR. 20:24; 26:17, Gal. 1:17), Paulus di Yerusalem (KPR.22:17-21), Paulus di penjara sebelum ke Kaisarea (KPR.23:11), Yohanes di pulau Patmos (Wahyu 1:12-20). Perkataan Yesus ketika berjumpa dengan murid-Nya, “Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendiri ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku” (Luk.24:39; Yoh.20:20), dan perkataan Yesus kepada Thomas,”Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah” (Yoh.20:27). Penampakan-penampakan ini merupakan fakta sejarah yang menunjukkan bahwa Yesus benar-benar telah bangkit.
           
Hakekat Kebangkitan Yesus
            Kebangkitan Yesus menegaskan bahwa apa yang pernah Yesus katakan kepada orang Yahudi dan murid-murid-Nya benar-benar terjadi. Kepada orang Yahudi Yesus mengatakan, "Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali (Yoh 2:18-19), dan kepada murid-murid-Nya, Yesus berkata Ia akan dibangkitkan pada hari yang ketiga (Mat. 16:21; Luk.9:22). Kebangkitan membenarkan jalan yang telah Yesus tempuh, sekalipun salib mula-mula tanpak sebagai kegagalan Yesus serta misi-Nya, tetapi kebangkitan-Nya telah mengubahkan semua persepsi itu. Kebangkitan telah mengubahkan para murid-Nya, mereka menjadi rasul yang percaya diri dan berani menyaksikan berita Injil kepada dunia, mereka bersedia mati martir dan bersukacita sebagai utusan Yesus Kristus.
            Essensi kebangkitan Yesus Kristus merupakan fakta kemenangan dari kuasa terbesar yaitu kematian. Paulus menyatakan, “Hai maut dimanakah kemenanganmu? Hai maut, dimanakah sengatmu?" (1 Kor.15:55). Kebangkitan Yesus Kristus merupakan kemenangan atas kematian, kemenangan atas jerat atau belenggu dosa. Kebangkitan-Nya telah mengalahkan kuasa dosa, sengat dosa yang menakutkan sudah dihancurkan. Kebangkitan Yesus telah memberikan pengharapan yang bersifat mutlak. Melalui kebangkitan-Nya kita memperoleh kepastian dan jaminan keselamatan. Pengharapan Kristen didasarkan di atas kemenangan Kristus yang bangkit dari kematian. Kebangkitan-Nya telah memberikan pengharapan yang pasti.
            Kebangkitan Yesus membuktikan Pribadi-Nya adalah Tuhan. Kebangkitan-Nya adalah bukti utama akan keilahian-Nya dan ketuhanan-Nya. Kebangkitan-Nya sangat perlu bagi pekerjaan-Nya dalam kematian, karena tanpa kebangkitan-Nya, kematian-Nya akan menjadi tidak ada artinya. Jika Yesus tidak bangkit dari antara orang mati, berarti Dia bukanlah Anak Allah, akibatnya kematian-Nya di kayu salib merupakan kematian orang biasa dan tidak mempunyai nilai apa-apa bagi orang lain. Sebaliknya bila Yesus benar-benar bangkit dari antara orang mati, maka Ia tidak hanya menunjukkan bahwa apa yang dikatakan benar terjadi dan apa yang dikemukakan di dalam Alkitab benar adanya yaitu Yesus sebagai korban pengganti bagi dosa seluruh dunia. Melalui kebangkitan-Nya, pernyataan Yesus tentang diri-Nya sebagai anak Allah terbukti benar. Petrus mengatakan pada hari Pentakosta bahwa kebangkitan merupakan bukti jelas, “Allah telah membuat Yesus yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus” (Kis.2:36). Kebangkitan Yesus merupakan karya Allah dalam membentuk hidup yang baru. Paulus menekankan kebangkitan Yesus Kristus membawa kepada hidup yang baru, “Bagiku hidup adalah Kristus” (Filipi 1:21). Kebangkitan Yesus akan berimplikasi bagi orang yang percaya kepada-Nya. Kebangkitan Yesus adalah jaminan dan janji kepada pengikut-pengikut-Nya mengenai hidup abadi setelah kematian.
            Kebangkitan Yesus membuat orang yang percaya kepada-Nya diterima serta dibenarkan oleh Allah (Roma 4:25). Orang berdosa yang bertobat serta percaya kepada Yesus Kristus akan dibenarkan di hadapan Allah. Kebangkitan-Nya mengesahkan pekerjaan-Nya selaku Imam Besar. Sebagai iman Besar Yesus duduk disebelah kanan Allah Bapa dan menjadi pembela bagi kita orang percaya (Roma 8:34). Kebangkitan Yesus Kristus merupakan alasan bagi persekutuan rohani yang baru, persekutuan di dalam jemaat Kristus yaitu tubuh-Nya sendiri. Pada hari kebangkitan-Nya Yesus Kristus menjadi anak sulung di antara banyak saudara (Roma 8:29), orang yang percaya kepada-Nya akan diangkat menjadi anak-Nya (Efesus 1:5).
            Kebangkitan-Nya membawa orang yang percaya mendapat kuasa yang cukup untuk hidup dan bekerja. Kuasa  kebangkitan Yesus Kristus memberikan kepada kita hidup yang baru dan kuasa untuk mengeluarkan buah-buah bagi Allah. Kebangkitan-Nya telah memberikan suatu hidup yang penuh dengan pengharapan. Kebangkitan-Nya telah memberikan kepastian bagi kebangkitan semua manusia. Kebangkitan-Nya memberi kepastian bahwa orang-orang berdosa juga akan dibangkitkan (1 Korintus 15:22) untuk menerima hukuman.

Baca Terusannya »»  

Yesus Manusia sejati dan Allah Sejati

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Yesus ada sebelum dunia dijadikan
            Alkitab menulis bahwa Yesus Kristus sudah ada sebelum Ia dilahirkan ke dalam dunia ini (Yoh 1:1-5; 8:58; 17:5, 24; Kolose 1:13-17; Ibrani 1:2, 8; 2:10). Yesus tidak pernah diciptakan dan Ia selamanya ada, yaitu dari kekal sampai kekal. Keberadaan Yesus dari waktu kekekalan adalah ajaran yang sangat penting dalam kekristenan. Dikatakan demikian karena apabila Yesus tidak berada dalam kekekalan, berarti Yesus adalah ciptaan yang berada dalam waktu, dan ini menyatakan Yesus bukan Allah. Dalam Yohanes 8:58, Yesus berkata: “sebelum Abraham jadi, Aku ada”, pernyataan ini mengisyaratkan bahwa diri-Nya adalah kekal dan karena kekal berarti diri-Nya adalah Allah. Keberadaan Yesus yang sesungguhnya tidak dimulai dari dalam kandungan Maria, tetapi Yesus telah ada sebelum segala zaman ada (Yoh. 8:58; 17:5, 24; 8:23). Ini menunjukkan bahwa Yesus ada sebelum segala sesuatu ada, Ia tidak dibatasi materi, dan segala sesuatu adalah berasal dari pada-Nya. Eksistensi-Nya melampaui manusia dan tidak dibatasi oleh sejarah manusia. Ia adalah awal dari segala sesuatu dan Ia adalah akhir dari segala sesuatu (Wong, 1994:13)
Perjanjian Lama memberikan bukti-bukti tentang kekekalan Yesus, baik secara langsung maupun tidak langsung. Penampakan diri Yesus pada zaman Perjanjian Lama yang disebut “theophani” juga memberikan bukti tentang keberadaan-Nya dalam kekekalan. Nubuatan tentang diri-Nya (Mesias) dalam Perjanjian Lama dikatakan: “Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala” (Mikha 5:1). Ayat ini merupakan salah satu bagian yang berbicara tentang kekekalan-Nya. Semua nubuatan dalam Perjanjian Lama tentang kedatangan Mesias merupakan bukti bagi kekekalan-Nya. Yesaya 9:5, menyatakan bahwa Yesus tidak hanya dinyatakan sebagai Allah Perkasa tetapi juga dinyatakan sebagai Bapa yang kekal. Keberadaan Yesus dalam Perjanjian Lama mendukung bukti tentang kekekalan-Nya.
Kekekalan Yesus Kristus juga dinyatakan di dalam Perjanjian Baru. Pernyataan pada pendahuluan injil Yohanes menguatkan tentang kekekalan Yesus Kristus, “pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah (Yoh. 1:1)”. Kata “pada mulanya” (Yunani, en archei) agaknya menunjuk pada suatu waktu dalam masa kekekalan (Walvoord, Tt: 17). Di dalam surat-surat kiriman Paulus juga terdapat bukti kekekalan Yesus Kristus, seperti dalam Kolose 1:16-17, “karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia.” Ayat ini memberi pernyataan bahwa Yesus Kristus sudah ada sebelum segala sesuatu diciptakan. Jikalau Yesus Kristus sudah ada sebelum segala sesuatu diciptakan, berarti keberadaan Yesus bukan diciptakan tetapi pribadi yang kekal. Yesus sendiri menyatakan diri-Nya bahwa Dia adalah Alfa dan Omega, yang Awal dan Yang Akhir (Wahyu 1:8,17).

Yesus Mesias, Anak Allah
 Kitab Suci mencatat kedatangan Mesias telah dinubuatkan ratusan tahun sebelum Yesus lahir. Dalam Kejadian sampai Maleaki banyak membicarakan pengharapan akan datangnya Mesias Israel. Perjanjian Lama mengandung 300 rujukan kepada Mesias yang terpenuhi di dalam Yesus Kristus (McDowell, 2007:232). Kata Mesias sendiri berasal dari bahasa Yunani “Messias” yang merupakan perubahan dari bentuk bahasa Aram dari bahasa Ibrani “Mashach”, artinya “mengurapi”. Kata yang searti dalam Perjanjian Baru ialah “Kristos” atau Kristus, artinya “Yang Diurapi”. Jadi Kristus dan Mesias artinya adalah “Yang diurapi”.
Salah satu konsep tentang Mesias adalah Dia akan menjadi Raja, Dia anak Daud yang diurapi, Singa Yehuda yang akan membangun kembali kerajaan Daud yang sudah runtuh. Aspek inilah yang menjadi pengharapan bangsa Israel, pengharapan Israel terletak pada kedatangan Seorang yang diurapi sebagai Raja dan Imam, di mana Israel menaruh pengharapan untuk melepaskan mereka dari dosa dan penindasan. Sejak kecil orang Yahudi telah diajarkan bahwa bila Mesias itu datang, Dia akan menjadi pemimpin politik yang akan memerintah dan mengalahkan segala musuh-Nya. Dia akan membebaskan orang-orang Yahudi dari penjajahan pemerintahan Romawi. Seorang Mesias yang menderita siksaan sama sekali asing bagi konsep Mesias Yahudi. Josh Mc Dowell dalam bukunya mengutip pendapat dari Joseph Klausner, seorang sarjana Yahudi, menulis, “Mesias itu kian lama bukan saja menjadi penguasa politis yang menonjol, melainkan juga orang laki-laki yang memiliki kualitas-kualitas moral yang menonjol.”  Josh juga mengutip apa yang dikatakan oleh Jacob Gartenhaus, “Orang-orang Yahudi menantikan Mesias sebagai orang yang akan membebaskan mereka dari penindasan Romawi, jadi pengharapan Mesianis pada dasarnya adalah demi kebebasan nasional” (McDowell, 2010:65). Jewis Encylopaedia menyatakan bahwa orang-orang Yahudi merindukan pembebasan yang dijanjikan akan datang dari keturunan Daud, yang akan membebaskan mereka dari kuk perampas-perampas asing yang dibenci itu, mengakhiri pemerintahan Romawi yang kafir itu, dan menggantikannya dengan mendirikan pemerintahan-Nya sendiri yang penuh damai dan keadilan (McDowell, 2010:65).
Orang Yahudi telah menaruh segala pengharapan mereka kepada Mesias yang dijanjikan itu. Namun Yesus begitu berbeda dengan apa yang mereka harapkan. Setelah Yesus disalibkan dan mati di Golgota, maka semua pengharapan mereka tentang Yesus sebagai Mesias lenyap. Kebangkitan-Nya telah meyakinkan pengikut-pengikut-Nya bahwa Yesuslah Sang Mesias. Alkitab mencatat bahwa Yesus Kristus sendiri menyatakan diri-Nya sebagai Mesias yang dinanti-nantikan dalam Perjanjian Lama. Dia menyatakan bahwa segenap pekerjaan-Nya adalah penggenapan nubuatan Perjanjian Lama. Mesias digunakan untuk menunjuk peran Yesus sebagai Raja dan Hamba yang menderita, Mesias adalah sebutan yang paling sering digunakan untuk Yesus. Salah satu murid  Yesus mengatakan bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah. Yesus bertanya kepada Petrus tentang Diri-Nya, Petrus mengakui bahwa “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup” (Mat. 16:16), Yesus menjawab, “Berbahagialah engkau Simon Bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, tetapi Bapa-Ku yang di sorga” (Mat. 16:17). Seorang sahabat Yesus yaitu Marta juga berkata kepada Yesus, “Ya Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah” (Yoh. 11:27). Natanael juga mengakui bahwa Yesus adalah Anak Allah, ”Kata Natanael kepada-Nya: "Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!" (Yoh. 1:49). Pengakuan Yesus kepada Imam Besar menjadi bukti yang menegaskan bahwa diri-Nya sebagai Mesias. Imam Besar bertanya kepada Yesus: Apakah Engkau Mesias, Anak dari yang Terpuji? Jawab Yesus, “Akulah Dia”.
            Demikian juga dengan nubuatan tentang Yesus sebagai Mesias dapat dilihat dari beberapa nubuatan yang terpenuhi dalam pribadi Yesus Kristus. Nubuatan tentang kelahiran-Nya dari keturunan seorang perempuan (Kej. 3:15) sudah digenapi melalui kelahiran Yesus dari seorang perempuan yaitu Maria (Galatia 4:4). Ada lusinan nubuatan dalam Perjanjian Lama tentang Mesias. Nubuatan ini ditulis ratusan tahun sebelum Yesus Kristus lahir. Nubuatan-nubuatan itu merujuk pada Yesus sebagai penggenapan nubuat tentang Mesias yang diurapi secara ilahi.

Yesus adalah Allah Sejati
Keilahian Yesus merupakan  esensi dari Injil Kristus dalam Perjanjian Baru.  Keilahian Yesus Kristus terus menjadi isu penting dan terus menerus diperdebatkan dalam gereja. C.S. Lewis dalam bukunya Mere Christianity menulis:
“Saya berusaha mencegah orang dari mengatakan hal-hal yang bodoh yang biasanya orang katakan mengenai Dia [Yesus Kristus]: “Saya siap untuk menerima Dia sebagai seorang pengajar moral yang agung, tapi saya tidak menerima klaim bahwa Dia adalah Allah” (McDowell, 2010:18).    

Konsili Nicea tahun 325 Masehi, gereja menyatakan bahwa “Yesus dilahirkan bukan diciptakan”, dan sifat ilahi-Nya mempunyai esensi yang sama (homo ousios) dengan Bapa (Sproul, 2000:103). Pengakuan Nicea ini menyatakan bahwa Pribadi kedua dari Allah Tritunggal mempunyai esensi yang sama dengan Allah Bapa. Keberadaan Yesus adalah keberadaan Allah, Yesus bukan hanya seperti Allah, tetapi Dia adalah Allah. Pengakuan tentang keilahian Yesus didasarkan pada berbagai pernyataan di dalam Perjanjian Baru.
Beberapa pernyataan Yesus tentang diri-Nya yang ilahi, “Aku dan Bapa adalah satu (Yoh. 10:30), Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku (Yoh. 14:10), barang siapa melihat Aku, ia melihat Dia yang telah mengutus Aku (Yoh.12:25), Akulah jalan kebenaran dan hidup (Yoh.14:6). Yesus juga menegaskan, “Jikalau sekiranya kamu mengenal Aku, kamu mengenal juga BapaKu” (Yoh. 8:19); “Barangsiapa melihat Aku, ia melihat Dia, yang telah mengutus Aku” (Yoh. 12:45); “Barangsiapa membenci Aku, ia membenci juga BapaKu” (Yoh.15:23); “Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa, yang mengutus Dia” (Yoh.5:23). Ayat-ayat ini sangat jelas menunjukkan bahwa Yesus memandang diri-Nya lebih dari sekedar manusia. Pernyataan Yesus ini memberikan gambaran diri-Nya sebagai Allah dapat diartikan bahwa Yesus bukan hanya sekedar nabi, guru yang baik, atau orang saleh. Pernyataan ini mengacu kepada pribadi Yesus yang menyatakan diri-Nya sebagai yang Ilahi. Demikian juga dengan pernyataan Yesus yang mampu mengampuni dosa (Markus 2:5; Luk. 7:48-50). Bagi orang Yahudi hanya Allah saja yang dapat mengampuni dosa, tak seorangpun  di bumi ini memiliki wewenang atau hak untuk mengampuni dosa, kecuali Allah. Bila Kristus mampu mengampuni dosa, berarti Dia juga menyatakan diri-Nya sebagai Allah.
Selain pernyataan Yesus sendiri, Alkitab memberikan cukup banyak bukti tentang keilahian-Nya, seperti Alkitab secara terang-terangan menyatakan keilahian Yesus (Yoh. 1:1; 20:28; Rom. 9:5; Filipi 2:6; Titus 2:13; 1 Yoh. 5:20,2), Alkitab memberikan nama-nama Ilahi kepada Yesus (Yes. 9:5; 40:3; Yer. 23:5, 6; Yoel 2:32), Alkitab mengenakan sifat-sifat Ilahi kepada Yesus, seperti keberadaan-Nya yang kekal (Yes. 9:5; Yoh. 1:1, 2; Wahyu 1:8; 22:13), berada di mana-mana (Mat.18:20; Yoh. 3:13), maha tahu (Yoh. 2:24, 25; 21:17; wahyu 2:23), maha kuasa (Yes. 9:5; Filipi 3:21; wahyu 1:8), tak berubah (Ibr. 1:10-12; 13:8), Alkitab menyebutkan bahwa Yesus yang mengerjakan karya-karya Ilahi, misalnya penciptaan (Yoh. 1:3,10; Kolose 1:16; Ibr 1:2; 1:10), berdaulat penuh (Luk.10:22; Yoh. 3:35; 17:2; Efs. 1:22; Kolose 1:17; Ibr. 1:3), mengampuni dosa (Mat. 9:2-7; Mark. 2:7-10; Kolose 3:13) (Walvoord, Tt:98). Yesus menerima penyembahan dan penghormatan yang hanya boleh diterima Allah, Yesus menerima penyembahan sebagai Allah (Mat. 14:33; 28:9), dan kadang menuntut supaya disembah sebagai Allah (Yoh. 5:23). Segala kekayaan Allah ada di dalam Yesus, hanya Yesus yang dapat menampung segala kekayaan Allah, sebab Yesus sendiri adalah Allah dan bersatu dengan Allah. Yesus dapat mewujudkan kemuliaan Allah, hikmat, pengetahuan dan kuasa Allah. Ini membuktikan bahwa segala keberadaan Allah ada di dalam Yesus. Jadi jelas bahwa Yesus bukan menyerupai Allah, melainkan Ia adalah Allah sejati.  Yesus menyatakan diri-Nya sebagai hakim atas semua manusia (Mat.25:31; Yoh.5:27), Yesus memiliki kuasa untuk membangkitkan dan menghakimi orang mati (Yoh.5:21). Demikian juga dengan pernyataan Stefanus ketika di rajam, “ia berseru dengan suara nyaring, ‘Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku!’” (KPR. 7:59). Pernyataan Stefanus mengindikasikan bahwa Yesus adalah Allah,  karena roh manusia akan kembali kepada pencipta-Nya yaitu Allah. Stefanus menyerahkan kembali rohnya kepada Tuhan Yesus sebagai Allah penciptanya. Apa yang  telah dipaparkan di atas menjelaskan begitu banyak pernyataan Alkitab mengenai Yesus Kristus sebagai Allah Sejati.

                                               Yesus adalah Manusia Sejati
            Kemanusiaan Yesus Kristus sama penting dengan keilahian-Nya. Pentingnya kemanusiaan Yesus karena  manusia adalah orang yang berdosa, maka yang harus menebus adalah seorang manusia yang dapat mati (Roma 8:3; Ibr. 2:14-17). Jika Yesus hanya Allah saja, maka Dia tidak bisa mati untuk menanggung dosa manusia. Yesus memasuki situasi manusia untuk bertindak sebagai penebus manusia, Dia menjadi pengganti manusia, Dia menanggung dosa manusia dan menderita menggantikan manusia, dan yang layak menjadi pengganti adalah manusia yang tidak berdosa.
Pada tahun 451 Masehi, konsili oikumene besar Chalcedon meneguhkan bahwa Yesus Kristus adalah benar-benar manusia dan benar-benar Allah dan bahwa kedua natur dari Yesus Kristus merupakan suatu kesatuan yang tanpa pencampuran (Sproul, 2000:111). Walaupun bidat-bidat yang menyangkal kemanusiaan Yesus terus merongrong, tetapi fakta-fakta bahwa  membuktikan Yesus Kristus adalah manusia sejati, misalnya dapat dilihat bahwa Ia memiliki tubuh manusia sejati yang terdiri dari daging dan darah. Tubuh-Nya sama dengan manusia, kecuali satu yang berbeda dengan manusia adalah tidak berdosa. Yesus datang sebagai manusia (Yoh. 1:14; 1Tim. 3:16; Fil. 2:7-8; Ibr. 2:14; 1Yoh. 4:2).Yesus memiliki tubuh (Mat. 26:26, 28; Luk. 24:39; Ibr. 2:14) maupun psuche-jiwa/roh (Mat. 26:38; 27:50; Luk. 23:46; Yoh.11:33; 12:27; 13:21; 1Yoh. 3:16).Yesus memiliki pikiran manusia (Mat. 24:36; Luk. 2:40, 52), perasaan manusia (Mat. 8:10; 9:36; 26:37-38; Mar. 3:5; 6:6; Luk. 7:9; Yoh. 11:33, 35; 12:27) dan kehendak manusia (Mat. 26:39). Yesus mengalami pertumbuhan/perkembangan (Luk. 2:40, 52). Yesus mengalami semua pengalaman manusia, seperti: lahir (Luk. 2:7), lapar (Mat. 4:2), haus (Yoh. 4:7; 19:28), letih (Yoh. 4:6), tidur (Mat. 8:24), menderita (Ibr. 2:10, 18; 5:8) dan mati (Yoh. 19:30). Sama seperti manusia, Yesus juga dibatasi oleh ruang dan waktu, Yesus tidak bisa berada lebih dari satu tempat pada saat yang sama. Yesus juga mengalami segala macam emosi manusia, seperti kegembiraan (Luk.10:21), kesedihan (Mat.26:37), kasih (Yoh.11:5), belas kasihan (Mat.9:36), rasa heran (Luk.7:9), marah (Mrk. 3:5) (Milne, 2002:179). Alkitab begitu  banyak memberikan bukti tentang kemanusiaan Yesus Kristus.
Natur manusia Yesus memiliki keterbatasan seperti halnya dengan manusia, kecuali dalam hal ketidakberdosaan-Nya. Yesus tidak hanya mempunyai badan dan jiwa insani, tetapi Ia juga mengambil bagian di dalam sejarah dan kebudayaan bangsa-Nya. Tata pakaian-Nya dan bahasa adalah sama dengan orang Yahudi. Fakta-fakta ini juga membuktikan bahwa Yesus adalah manusia sejati.
Dengan mengambil rupa manusia, Ia menyatakan diri-Nya kepada manusia. Yesus telah merendahkan diri-Nya mengambil rupa seorang hamba, menjadi seorang manusia. Dengan mempunyai rupa manusia yang sejati, barulah Yesus bebas berhubungan dengan manusia. Jika Yesus tidak memiliki sifat kemanusiaan yang sejati, maka Ia tidak mungkin dapat berhubungan dengan manusia, dan manusia pun tidak mungkin dapat mengenal dia. Dengan rupa seorang manusia, ini membuktikan bahwa Ia adalah manusia sejati
                                                                                                          
Yesus adalah Allah Sejati dan Manusia Sejati
            Yesus Kristus memiliki tabiat Ilahi dan tabiat manusiawi, kedua tabiat ini sempurna dalam satu pribadi. Bagaimana kedua pernyataan ini digabungkan dalam satu pribadi, tentu ini akan selalu menjadi misteri. Ini adalah rahasia Allah yang besar (1 Tim. 3:16). Namun tetap harus dipahami bahwa keduanya tidak berdiri sendiri atau terpisah. Kita tidak bisa berkata bahwa Yesus adalah Allah dan manusia, melainkan Ia adalah Allah-Manusia yaitu Allah dan manusia yang dipersatukan.  Tabiat Ilahi dan tabiat manusia-Nya selalu bekerja bersama-sama dan kedua tabiat tersebut tidak pernah bertentangan. Dalam keilahian-Nya Ia menyatakan kemanusiaan-Nya, kuasa ilahi-Nya diekspresikan melalui sifat kemanusiaan-Nya. Dalam kemanusiaan-Nya Ia memiliki sifat keilahian, sehingga dari diri-Nya manusia dapat mengenal Allah. Yesus memiliki sifat Ilahi, maka Ia pun mulia dan berkuasa sama dengan Allah Bapa. Ia memiliki sifat kemanusiaan, maka Ia dapat bersimpati kepada manusia, dan dapat menyelami kesusahan manusia. Yohanes 1:14 mencatat bahwa Firman itu telah menjadi manusia, Yohanes menekankan bahwa Firman itu benar-benar termasuk umat manusia.  Kristus, Allah yang kekal itu menjadi manusia (Filipi 2:5-9). Kemanusiaan dan keilahian berpadu di dalam diri-Nya. Dengan merendahkan diri-Nya Ia memasuki hidup kemanusiaan dengan segala keterbatasan dari pengalaman manusia.
Pada zaman purba sudah muncul pandangan-pandangan yang berbeda, seperti: Ebonisme, cabang Kristen Yahudi ini menghapuskan sama sekali keilahian Yesus. Mereka menganggap Yesus hanya manusia meskipun diangkat oleh Allah sebagai Mesias (Milne, 2002:201). Gerakan Doketisme yang hanya mengakui keilahian Yesus dan menghilangkan kemanusian-Nya. Mereka berpandangan bahwa Yesus hanya menyerupai manusia (2002:201). Gerakan Gnostisisme, gerakan ini mengakui Yesus bukan Allah sejati atau pun manusia sejati. Gerakan Arianisme yang menolak keilahian Yesus Kristus. Gerakan Apolinarianisme yang menyangkal kemanusian Yesus Kristus. Gerakan Nestorianisme yang memisahkan kedua kodrat Yesus Kristus (2002:2003).
            Pada tahun 451 diadakan suatu konsili di Chalcedon guna menyelesaikan perdebatan-perdebatan terhadap kedua kodrat pribadi Yesus Kristus.Walaupun konsili ini tidak memuaskan semua pihak, tetapi telah menghasilkan dasar perumusan ortodoks mengenai pribadi Yesus. Pasal utamanya menegaskan, “kita harus mengakui bahwa Tuhan kita Yesus Kristus adalah anak tunggal yang sama…sempurna dalam keilahian…sempurna dalam kemanusiaan…sehakikat (homoousios) dengan Bapa dalam keilahian, sehakekat (homoousios) dengan kita dalam kemanusiaan…diperkenalkan kepada kita dalam dua kodrat (fuseis), tanpa pembauran, tanpa perubahan, tanpa pembagian, tanpa pemisahan…sifat-sifat kedua kodrat tetap terpelihara dan berada sekaligus dalam satu pribadi (prosopon) dan satu hakikat (hupostasis).” (2002:204)
            Kedua kodrat yaitu kodrat manusia sepenuhnya dan kodrat ilahi sepenunya menyatu dalam satu pribadi, tanpa pembauran, tanpa perubahan, tanpa pembagian, dan tanpa pemisahan.Walaupun dalam satu kesatuan, tetapi masing-masing mempertahankan sifat-sifat hakikatnya. Kedua kodrat ini sama-sama bekerja dalam tiap-tiap pikiran, perkataan, perbuatan-Nya, dan kedua kodrat ini bekerja dalam satu pribadi. Lebih jauh, Kevin J. Conner dalam bukunya menulis, “Dalam satu pribadi Yesus Kristus, ada dua hakikat, manusia dan ilahi, yang bisa dibedakan tetapi tidak bisa dipisahkan (Conner, 2004:365).
Baca Terusannya »»  

Jumat, 27 April 2012

Hidup Yang Berpusatkan Kristus

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Minggu, 15 April 2012;
Ibdah Umum GPdI Pasirnangka Ciranjang, Cianjur
Nats: Matius 10:34-42
Adrianus Pasasa, S.T, M.A

Yesus tidak selalu memberi janji yang manis, tetapi Dia selalu
memberi janji apa adanya. Matius 10:34-42 ada makna khusus yang ingin
Yesus sampaikan kepada pengikut-Nya yaitu Tuhan Yesus ingin agar orang
percaya selalu memprioritaskan Yesus di atas segalanya, bahkan
melebihi keluarganya sendiri. Bagaimana kriteria orang yang
memprioritaskan Yesus dalam hidupnya:
1. Mazmur 37: 2-9, dia akan berusaha hidup sesuai kehendak Tuhan yaitu
dengan hidup percaya kepada Tuhan, melakukan yang baik, setia, selalu
bergembira karena Tuhan dan memiliki penyerahan hidup total hanya
kepada Tuhan Yesus. Sehingga kebenarannya akan muncul (Mazmur 37:6).
Orang yang berusaha hidup berkenan kepada Tuhan juga akan berdiam diri
di kaki Tuhan saat diterpa masalah.
2. Matius 10:38, memikul salib. Menyatakan bahwa ada harga yang harus
dibayar saat mengikut Tuhan tetapi Tuhan berjanji akan selalu
menyertai, jika tetap bertahan pasti selamat (Matius 10:22,16)
3. Matius 10:39, rela mempertahankan iman. Orang yang memprioritaskan
Yesus akan berani membayar harga untuk mempertahankan imannya, bahkan
mau bersaksi kepada orang lain tentang keselamatan di dalam Yesus.
4. Matius 10:40-44, menerima orang lain apa adanya dan mau berbagi
dengan orang lain. Banyak berkat akan diperoleh orang-orang yang mau
berbagi dengan orang lain (Amsal 11:24-25, Amsal 28:27). Bahkan saat
kita berbuat baik kepada orang lemah kita seperti memberi surat
piutang kepada Tuhan, dan akan membayarkan kepada kita (Amsal 19:17).

Orang yang memprioritaskan Yesus dalam hidupnya tidak
memiliki tujuan lain selain memuliakan Tuhan dalam segala aspek
hidupnya (1 Kor.10:31, Yoh 4:34). Dan orang-orang yang memprioritaskan
Yesus dalam hidupnya sesungguhnya adalah orang-orang yang terkaya
karena hidupnya ada dalam jaminan Tuhan. Amin.
Baca Terusannya »»  

Senin, 12 Maret 2012

BERTUMBUH MELALUI PENDERITAAN

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***

Nats: Ibrani 12:7-11; 1 Petrus 4:12-16
Tujuan : Jemaat dapat memahami bahwa melalui pederitaan jemaat dapat mengalami petumbuhan.
Ibadah Kapel STT SAPPI: Rabu, 07 Maret 2012
Oleh : Adrianus Pasasa, S.T, MA

Pernahkan Anda mengalami kesukaran, penderitaan atau kesedihan? Apapun bentuknya, pernahkah Anda mengalami masa- masa keterpurukan? Saya yakin Anda pernah mengalaminya. Entah itu kesukaran karena masalah keuangan atau tekanan dalam pelayanan, entah itu penderitaan karena sakit, atau kesedihan karena putus cinta, ditinggal pergi atau meninggal orang yang dicintai, dan masih banyak lagi.
Lalu bagaimana Saudara menghadapinya? Apakah Saudara dapat bertumbuh melalui penderitaan itu?
Pada bagian pembukaan di atas telah dijelaskan macam-macam penderitaan yang dapat melanda manusia. Tentu penderitaan itu ada unsur penyebabnya, tidak mungkin datang sendiri. Penderitaan dapat disebabkan banyak hal, misalnya: Karena diri sendiri (Yakobus 1:13-14), Karena orang lain (, Karena lingkungan/alam. Lalu bagaimana sikap kita dalam mengahdapi penderitaan itu? Ada dua cara pandang yang dapat kita pelajari pada pagi ini yaitu:

1.      Cara pandang orang duniawi terhadap penderitaan:
a.      Menyerah, berarti pasrah, tidak mampu berbuat apa-apa lagi, dalam hal ini pasrah terhadap keadaan. Pasrah terhadap nasib, lalu berkata sudah nasibnya begini mau apa lagi. Menyerah dalam pandangan dunia berarti pasrah pada nasib dan keadaan.
b.      Bertahan dan penderitaan itu lewat,
c.       Berusaha keluar dari penderitaan itu, banyak cara orang dunia untuk keluar dari penderitaan, misalnya melalui minuman keras, narkoba, rokok, dll. Hal ini dapat memberikan kenyamanan sesaat, dapat melupan penderitan sesaat.
d.      Lari dari penderitaan…. bunuh diri
e.      Sebagai sebuah malapetaka/nasib lagi sial

2.      Cara pandang orang percaya terhadap penderitaan:
a.  Penderitaan sebagai sebuah proses .....Ibrani 12:7-11, ketika penderitaan itu datang sebagai orang percaya harus memandangnya sebagai suatu proses pembentukan. ketika kita mengalami pembentukan kadang tidak menyenangkan, tetapi kalau kita melihat akhirnya akan mendatangkan sukacita. 
      suatu ketika, ada percakapan antara keramik lantai dan patung yang ada di museum. Suatu sore ketika semua pengunjung sudah pulang, mereka mulai bercakap-capak. Kata si keramik kepada patung, mengapa sepanjang hari ini banyak sekali orang yang memuji dan mengagumi kamu, sedangkan saya tidak ada yang memuji dan mengagumi, malah saya hanya diinjik-injak orang. Si Patung menjelaskan kepada keramik, waktu kita dibentuk, kamu tidak pernah mengalami penderitaan, sedangkan saya luar biasa penderitaan yang saya alami. saat mata saya dibentuk, telinga saya dibentuk, tubuh saya dibentuk, semuanya mendatangkan penderitaan, belum lagi di amplas itu hal yang sangat menyakitkan. Namun pada akhirnya saya menyadari bahwa semua pembentukan membawa saya pada keadaan sekarang ini....bagaimana dengan kita, apakah kita juga siap untuk dibentuk melalui penderitaan? ingat bahwa terkadang Tuhan mengijinkan kita mengalami penderitaan untuk memproses/membentuk kita supaya kita semakin memahami rencana-Nya dalam hidup kita.
b.      Penderitaan sebagai Panggilan hidup orang Kristen ... 1 petrus 4:12-14
·    Kesulitan tidak akan menenggelamkan orang percaya karena dia memandang Yesus. Matius 14 : 25 – 33
·        Hanya orang yang pandang kepada Yesus yang dapat mengucap syukur.Ayub 1 : 21 – 22
·         Memandang  masalah dengan pujian Kisah Para Rasul 16 : 23 – 26
·        Doa adalah kunci dalam menghadapi penderitaan. Sikap Tuhan Yesus dalam menghadapi penderitaan amat kontras dengan sikap para murid. Tuhan Yesus bergumul dalam doa, sedangkan para murid memilih untuk tidur. Doa membuat Tuhan Yesus sanggup menghadapi penderitaan tanpa mengeluh, sedangkan para murid lari ketakutan saat musuh datang. Doa merupakan sumber kekuatan saat kita menghadapi penderitaan. Apakah Anda sudah memanfaatkan sumber kekuatan tersebut?

Saudaraku yang dikasihi dalam Tuhan Yesus, untuk bertumbuh di dalam penderitaan sangat dipengaruhi oleh cara pandang kita terhadap penderitaan itu. Jika kita memandang penderitaan dari sudut pandang duniawi, maka kita tidak akan pernah mengalami pertumbuhan melainkan akan semakin terjerumus di dalam penderitaan itu. Jika kita memandang dari sudut pandang orang percaya, maka kita akan memahami bahwa penderitaan itu sebagai sebuah proses pembentukan, penderitaan adalah sebuah panggilan hidup. Pilihan ada di tangan kita? Selamat menentukan pilihan, dan selamat bertumbuh di dalam Kristus. Tuhan Yesus Memberkati. Amin
Baca Terusannya »»  

Sabtu, 18 Februari 2012

Tanggung Jawab Seorang Utusan Tuhan

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Nats: Yehezkiel 2:1-8; 3:4-10; 3:17-20
Tujuan : Jemaat memahami bahwa setiap orang percaya diutus untuk tugas
yang mulia dari Tuhan Yesus, yaitu mengingatkan umat-Nya untuk
bertobat.
Ibadah Misi GPdI Pasir Nangka, Minggu 19 Februari 2012
Oleh : Adrianus Pasasa, S.T, MA

Hari sabtu kemarin waktu saya mengajar ke Ciranjang, saya tinggalakan
anak yang pertama untuk jaga rumah. Sebelum berangkat saya memberi
pesan yaitu dia tidak boleh keluar rumah untuk main sepeda. Setelah
selesai mengajar saya pulang dan menanyakan apakah dia melakukan apa
yang saya perintahkan, ternyata dia melakukan seperti apa yang saya
perintahkan. Dengan demikian dia dapat mempertanggung jawabkan amanat
yang saya perintahkan.

Dalam bacaan kita pada sore ini, kita melihat seseorang yang dipanggil
oleh Tuhan untuk diutus ke tengah-tengah umat-Nya. Yehezkiel dipanggil
Allah dan akan diutus Tuhan ke tengah-tengah umat-Nya Israel. Dalam
konteks ini dijelaskan bahwa Israel sebagai umat Tuhan telah
memberontak, sehingga Tuhan menyebut mereka sebagai bangsa
pemberontak. Mereka telah melanggar apa yang menjadi ketetapan Tuhan
bagi mereka. Mereka melakukan penyembahan berhala, menyembelih
anak-anak mereka untuk dijadikan korban persembahan. Hal ini menjadi
kekejian bagi Tuhan dan menyakiti hati Tuhan. Di tengah-tengah kondisi
Umat-Nya yang memberontak, Allah memanggil Yehezkiel untuk
mengingatkan umat-Nya supaya bertobat dari kelakuannya yang jahat.
Menjadi pertanyaan bagi kita, mengapa Yehezkiel diutus bukan kepada
bangsa-bangsa yang lain? Kenapa Yehezkiel harus di utus kepada bangsa
Israel, kepada bangsa yang tegar tengkuk, bangsa pemberontak.
Jawabannya dapat kita lihat pada ayat 5-6, disitu dijelaskan bahwa
Yehezkiel tidak diutus kepada bangsa asing yang dia tidak mengerti
bahasanya, karena sekiranya Yehezkiel di utus kepada bangsa lain
mereka pasti mendengar dia, tetapi Yehezkiel diutus kepada bangsanya
sendiri yang sudah dia kenal, baik itu karakter maupun bahasa dan
budayanya. dengan memahami karakter dan budaya bangsanya, hal ini akan
mempermudah untuk mengkomunikasikan apa yang Tuhan kehendaki dari
umat-Nya Israel. Yehezkiel diutus kembali kepada bangsanya supaya dia
mengingatkan mereka kembali berpaling kepada Allah (bertobat), dan
meninggalkan kejahatan mereka.

Saudaraku yang dikasihi Tuhan Yesus, kita sebagai orang-orang yang
sudah hidup dalam kasih Yesus, kita dipanggil untuk membawa kabar
keselamatan di dalam Yesus kepada orang-orang terdekat kita, kepada
orang-orang yang kita pahami karakter, bahasa dan budayanya. Kita
diutus kepada orang-orang yang dekat dengan kita, kita diutus untuk
mengingatkan orang-orang terdekat dengan kita supaya mereka berpaling
kembali ke jalan Tuhan. Kita diutus kepada kaum keluarga kita, mungkin
ada di antara mereka ada yang sudah bertahun-tahun tidak beribadah,
karena sibuk dengan urusan duniawi, kita diutus untuk mengingatkan
mereka. Tentu hal ini bukanlah hal yang mudah, pasti akan banyak
banyak tantangan yang dapat kita alami sebagai konsekuensi dari tugas
sebagai seorang utusan.

Walaupun Yehezkiel sudah diutus kepada bangsanya, bukan berarti tidak
ada hambatan yang dia alami. Dikatakan bahwa Israel tetap menolak
untuk mendengarkan suara Tuhan. Mereka tetap mengeraskan hati mereka.
Walaupun demikian Allah tetap mengasihi Israel (umat-Nya), dengan
jalan tetap meneguhkan hati orang yang diutus-Nya. Allah tidak mau
umat-Nya mengalami kebinasaan. Demikian juga ketika kita diutus ke
tengah-tengah lingkungan yang sudah kita kenal, bukan berarti tidak
ada hambatan, mungkin kita akan ditolak, dihina, dibenci, dianggap
enteng, dikatakan sok suci, dan lain sebagainya. Namun harus tetap
kita ingat bahwa Allah tetap mengasihi mereka, kita harus tetap maju
dan tidak boleh putus asa.
Israel tetap menolak untuk bertobat, Allah tetap meneguhkan hati
utusannya (Yehezkiel) untuk terus mengingatkan mereka. Allah tetap
menbajakan semangat Yehezkiel untuk tetap mengingatkan mereka untuk
bertobat. Kedua hal ini adalah modal yang Tuhan berikan kepada setiap
utusannya. Hal inilah yang akan selalu menguatkan kita untuk terus
maju dalam menjangkau orang-orang yang kita kasihi. Diayat 6 Tuhan
memberi janji kepada setiap utusan-Nya yaitu, Tuhan akan menyertai
setiap orang yang diutus-Nya, walaupun di tengah-tengah onak dan duri,
tinggal dekat kalajengking. Janji inilah yang akan membuat kita tidak
gentar dalam melakukan tugas yang Tuhan Percayakan. Melalui janji ini,
Tuhan menegaskan bahwa jangan pernah gentar kepada kaum pemberontak,
tetapi kita harus mengasihi jiwa mereka supaya tidak mengalami
kebinasaan.

Bagi Yehezkiel, walaupun tugas ini berat, tetapi baginya perintah yang
diberikan rasanya manis seperti madu. Karena dibalik tugas yang berat
ini campur tangan dan penyertaan Tuhan selalu ada. Bagaiman dengan
kita, apakah kita juga dapat berkata seperti Yehezkiel, walaupun tugas
ini berat saya dapat menjalani dengan penuh sukacita, karena
dibaliknya ada janji penyertaan Tuhan. Ingat Tuhan tidak mau
orang-orang yang kita kasihi mengalami kebinasaan.

Sebagai seorang utusan satu hal perlu kita ingat bahwa kita tidak
hanya sekedar diutus tetapi pada akhirnya Tuhan juga akan meminta
pertanggung jawaban dari kita, apakah kita sudah melaksanakan tugas
dengan baik atau sebaliknya tidak melakukan tugas sebagai utusan. Pada
ayat 17-18 salah satu hal yang akan Tuhan tanyakan apa yang telah kita
lakukan ketika kita melihat orang jahat dan kita tidak memperingatkan
dan orang itu binasa atau mati dalam kebinasaannya, maka Tuhan akan
menuntut pertanggung jawaban atas nyawanya. Dan sebaliknya jika kita
melakukan tugas dengan mengingatkan orang jahat tersebut, tetapi dia
sendiri mengeraskan hatinya, tidak mau berbalik/bertobat berarti dia
mati dalam kesalahannya. Dengan demikian sebagai utusan kita tidak
akan diminta pertanggungjawaban (tidak di hukum).

Saudaraku yang dikasihi Tuhan Yesus, sebagai seorang utusan jangan
pernah ragu dan takut untuk menegur umat Tuhan jika mereka melakukan
hal-hal yang tidak sesuai dengan kehendak Allah, melakukan hal-hal
yang menyakitkan hati Tuhan. Tugas kita untuk mengingatkan mereka
supaya mereka tidak binasa melainkan bertobat dan berbalik pada jalan
Tuhan. Percayalah bahwa walaupun kita mengahadapi orang-orang yang
sudah membeku hatinya, mengeraskan hatinya, yang rasanya sudah tidak
mungkin lagi untuk bertobat. Ingat bahwa Tuhan tidak menghendaki
mereka binasa. Jika kita membiarkan dan tidak peduli pada mereka,
Tuhan akan minta perhitungan atas kebinasaan orang tersebut. Seberat
apapun tugas itu, yakinlah bahwa Tuhan yang memilih kita, Tuhan yang
mengutus kita dengan satu janji yaitu Dia akan selalu menyertai sampai
apda kesudahannya. Apa yang kita takutkan jika Tuhan bersama kita.
Selamat menunaikan tugas sebagai seorang utusan. Amin
Baca Terusannya »»  

Bertanggungjawablah Atas Hidupmu

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Nats: Yehezkiel 18:1-32
Tujuan : Pemuda memahami bahwa kelak masing-masing orang akan
mempertanggung jawabkan setiap perbuatan yang mereka lakukan di
hadapan Tuhan.
Ibadah Pemuda GPdI Pasir Nangka, Sabtu 28 Januari 2012
Oleh : Adrianus Pasasa, S.T, MA
Saudaraku yang di kasihi Tuhan Yesus, jika salah satu diantara
keluarga mengalami sakit gigi, apakah keluarga yang lain juga
merasakan giginya sakit? Tentu tidak. Dalam perikop ini juga nabi
Yehezkiel mendapat perintah dari Tuhan, untuk disampaikan kepada
umat-Nya Israel di mana digambarkan bahwa orang yang berbuat dosa akan
menangung dosanya sendiri. Pada ayat 1 dikatakan bahwa ada apa,
sehingga kamu mengucapkan kata sindiran ini di tanah Israel: ayah-ayah
makan buah mentah dan gigi anak-anaknya menjadi ngilu? Tuhan katakan
bahwa kata-kata itu tidak akan terdengar lagi di Israel, karena bagi
Tuhan setiap manusia harus bertanggung jawab atas dirinya sendiri.
Bagaimana jika hal ini terjadi:
Ayah yang berbuat dosa apakah anak juga menanggung?
Sesungguhnya, kalau ia melahirkan seorang anak dan anak ini melihat
segala dosa yang dilakukan ayahnya, tetapi menginsafi hal itu,
sehingga tidak melakukan seperti itu: ia tidak makan daging
persembahan di atas gunung dan tidak melihat kepada berhala-berhala
kaum Israel, tidak mencemari isteri sesamanya, tidak menindas orang
lain, tidak mau meminta gadai, tidak merampas apa-apa, memberi makan
orang lapar, memberi pakaian kepada orang telanjang, menjauhkan diri
dari kecurangan, tidak mengambil bunga uang atau riba, melakukan
peraturan-Ku dan hidup menurut ketetapan-Ku -- orang yang demikian
tidak akan mati karena kesalahan ayahnya, ia pasti hidup. Ayahnya,
yang melakukan pemerasan, yang merampas sesuatu, dan yang melakukan
hal-hal yang tidak baik di tengah-tengah bangsanya, sungguh, ia akan
mati karena kesalahannya. Tetapi kamu berkata: Mengapa anak tidak
turut menanggung kesalahan ayahnya? -- Karena anak itu melakukan
keadilan dan kebenaran, melakukan semua ketetapan-Ku dengan setia,
maka ia pasti hidup.
Anak yang berbuat dosa apakah Ayah juga menanggung?
Demikian juga sebaliknya jika anak yang berbuat dosa, bapak tidak ikut
menanggung kesalahan anaknya. Orang yang berbuat dosa, itu yang harus
mati. Anak tidak akan turut menanggung kesalahan ayahnya dan ayah
tidak akan turut menanggung kesalahan anaknya. Orang benar akan
menerima berkat kebenarannya, dan kefasikan orang fasik akan
tertanggung atasnya. Masing-masing akan mempertanggung jawabkan
perbuatannya.
Bagaimana kalau orang fasik bertobat?
Tetapi jikalau orang fasik bertobat dari segala dosa yang dilakukannya
dan berpegang pada segala ketetapan-Ku serta melakukan keadilan dan
kebenaran, ia pasti hidup, ia tidak akan mati. Segala durhaka yang
dibuatnya tidak akan diingat-ingat lagi terhadap dia; ia akan hidup
karena kebenaran yang dilakukannya. Apakah Aku berkenan kepada
kematian orang fasik? demikianlah firman Tuhan ALLAH. Bukankah kepada
pertobatannya supaya ia hidup? Sebaliknya, kalau orang fasik bertobat
dari kefasikan yang dilakukannya dan ia melakukan keadilan dan
kebenaran, ia akan menyelamatkan nyawanya. Ia insaf dan bertobat dari
segala durhaka yang dibuatnya, ia pasti hidup, ia tidak akan mati.
Bagaimana kalau orang benar melanggar?
Jikalau orang benar berbalik dari kebenarannya dan melakukan
kecurangan seperti segala kekejian yang dilakukan oleh orang fasik --
apakah ia akan hidup? Segala kebenaran yang dilakukannya tidak akan
diingat-ingat lagi. Ia harus mati karena ia berobah setia dan karena
dosa yang dilakukannya
Allah Menghendaki pertobatan
Oleh karena itu Aku akan menghukum kamu masing-masing menurut
tindakannya, hai kaum Israel, demikianlah firman Tuhan ALLAH.
Bertobatlah dan berpalinglah dari segala durhakamu, supaya itu jangan
bagimu menjadi batu sandungan, yang menjatuhkan kamu ke dalam
kesalahan. Buangkanlah dari padamu segala durhaka yang kamu buat
terhadap Aku dan perbaharuilah hatimu dan rohmu! Mengapakah kamu akan
mati, hai kaum Israel? Sebab Aku tidak berkenan kepada kematian
seseorang yang harus ditanggungnya, demikianlah firman Tuhan ALLAH.
Oleh sebab itu, bertobatlah, supaya kamu hidup!"
Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus, Allah menghendaki umat-Nya bertobat
supaya umat-Nya memperoleh hidup kekal di dalam kerajaan-Nya. Ingat
bahwa apa yang kita lakukan akan kita pertanggungjawabkan kelah pada
pengadilan Tuhan. Bagaimana dengan saudara dan saya?
Ciri-ciri orang yang benar di hadapan Tuhan:
Kalau seseorang adalah orang benar dan ia melakukan keadilan dan
kebenaran, dan ia tidak makan daging persembahan di atas gunung atau
tidak melihat kepada berhala-berhala kaum Israel, tidak mencemari
isteri sesamanya dan tidak menghampiri perempuan waktu bercemar kain,
tidak menindas orang lain, ia mengembalikan gadaian orang, tidak
merampas apa-apa, memberi makan orang lapar, memberi pakaian kepada
orang telanjang, tidak memungut bunga uang atau mengambil riba,
menjauhkan diri dari kecurangan, melakukan hukum yang benar di antara
manusia dengan manusia, hidup menurut ketetapan-Ku dan tetap mengikuti
peraturan-Ku dengan berlaku setia -- ialah orang benar, dan ia pasti
hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH
Seperti apa orang yang mau dibinasakan Tuhan:
Tetapi kalau ia melahirkan seorang anak yang menjadi perampok, dan
yang suka menumpahkan darah atau melakukan salah satu dari hal-hal
itu-- walaupun ayah tidak melakukan satu pun -- juga makan daging
persembahan di atas gunung dan mencemari isteri sesamanya, menindas
orang sengsara dan miskin, merampas, tidak mengembalikan gadaian
orang, melihat kepada berhala-berhala dan melakukan kekejian, memungut
bunga uang dan mengambil riba, orang yang demikian tidak akan hidup.
Segala kekejian ini dilakukannya, ia harus mati; darahnya tertimpa
kepadanya sendiri. Amin
Baca Terusannya »»  

Berita Terkini

« »
« »
« »
Get this widget

Daftar Blog Saya

Komentar