Tulisan Jalan

Hidupku untuk mengharumkan nama-MU Jangan bersukcita ketika engkau berhasil dalam pelayanan, tetapi bersukcitalah karena namamu tercatat di Surga

Kau istimewa. Di seluruh dunia, tidak ada orang yang sepertimu. Sejak bumi diciptakan tidak ada orang lain yang sepertimu. Tidak ada orang lain yang memiliki senyummu, tidak ada yang memiliki matamu, hidungmu, rambutmu, tanganmu, suaramu. Kau istimewa. Tidak ada orang lain yang memiliki tulisan yang sama denganmu. Tidak ada orang lain yang memiliki selera akan makanan, pakaian, musik, atau seni sepertimu. Tidak ada orang lain yang memiliki cara pandang sepertimu. Sepanjang masa tidak ada orang lain yang tertawa sepertimu, tidak ada yang menangis sepertimu. Kaulah satu di antara seluruh ciptaan yang memiliki kemampuan seperti yang kau miliki. sampai selamanya, tidak akan ada orang yang akan pernah melihat, berbicara, berjalan, berpikir, atau bertindak seperti dirimu. Kau istimewa...kau langka. Tuhan telah menjadikanmu istimewa dengan satu tujuan yaitu MEMULIAKAN DIA

Cari Blog Ini

Jumat, 11 Mei 2012

Yesus Manusia sejati dan Allah Sejati

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Yesus ada sebelum dunia dijadikan
            Alkitab menulis bahwa Yesus Kristus sudah ada sebelum Ia dilahirkan ke dalam dunia ini (Yoh 1:1-5; 8:58; 17:5, 24; Kolose 1:13-17; Ibrani 1:2, 8; 2:10). Yesus tidak pernah diciptakan dan Ia selamanya ada, yaitu dari kekal sampai kekal. Keberadaan Yesus dari waktu kekekalan adalah ajaran yang sangat penting dalam kekristenan. Dikatakan demikian karena apabila Yesus tidak berada dalam kekekalan, berarti Yesus adalah ciptaan yang berada dalam waktu, dan ini menyatakan Yesus bukan Allah. Dalam Yohanes 8:58, Yesus berkata: “sebelum Abraham jadi, Aku ada”, pernyataan ini mengisyaratkan bahwa diri-Nya adalah kekal dan karena kekal berarti diri-Nya adalah Allah. Keberadaan Yesus yang sesungguhnya tidak dimulai dari dalam kandungan Maria, tetapi Yesus telah ada sebelum segala zaman ada (Yoh. 8:58; 17:5, 24; 8:23). Ini menunjukkan bahwa Yesus ada sebelum segala sesuatu ada, Ia tidak dibatasi materi, dan segala sesuatu adalah berasal dari pada-Nya. Eksistensi-Nya melampaui manusia dan tidak dibatasi oleh sejarah manusia. Ia adalah awal dari segala sesuatu dan Ia adalah akhir dari segala sesuatu (Wong, 1994:13)
Perjanjian Lama memberikan bukti-bukti tentang kekekalan Yesus, baik secara langsung maupun tidak langsung. Penampakan diri Yesus pada zaman Perjanjian Lama yang disebut “theophani” juga memberikan bukti tentang keberadaan-Nya dalam kekekalan. Nubuatan tentang diri-Nya (Mesias) dalam Perjanjian Lama dikatakan: “Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala” (Mikha 5:1). Ayat ini merupakan salah satu bagian yang berbicara tentang kekekalan-Nya. Semua nubuatan dalam Perjanjian Lama tentang kedatangan Mesias merupakan bukti bagi kekekalan-Nya. Yesaya 9:5, menyatakan bahwa Yesus tidak hanya dinyatakan sebagai Allah Perkasa tetapi juga dinyatakan sebagai Bapa yang kekal. Keberadaan Yesus dalam Perjanjian Lama mendukung bukti tentang kekekalan-Nya.
Kekekalan Yesus Kristus juga dinyatakan di dalam Perjanjian Baru. Pernyataan pada pendahuluan injil Yohanes menguatkan tentang kekekalan Yesus Kristus, “pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah (Yoh. 1:1)”. Kata “pada mulanya” (Yunani, en archei) agaknya menunjuk pada suatu waktu dalam masa kekekalan (Walvoord, Tt: 17). Di dalam surat-surat kiriman Paulus juga terdapat bukti kekekalan Yesus Kristus, seperti dalam Kolose 1:16-17, “karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia.” Ayat ini memberi pernyataan bahwa Yesus Kristus sudah ada sebelum segala sesuatu diciptakan. Jikalau Yesus Kristus sudah ada sebelum segala sesuatu diciptakan, berarti keberadaan Yesus bukan diciptakan tetapi pribadi yang kekal. Yesus sendiri menyatakan diri-Nya bahwa Dia adalah Alfa dan Omega, yang Awal dan Yang Akhir (Wahyu 1:8,17).

Yesus Mesias, Anak Allah
 Kitab Suci mencatat kedatangan Mesias telah dinubuatkan ratusan tahun sebelum Yesus lahir. Dalam Kejadian sampai Maleaki banyak membicarakan pengharapan akan datangnya Mesias Israel. Perjanjian Lama mengandung 300 rujukan kepada Mesias yang terpenuhi di dalam Yesus Kristus (McDowell, 2007:232). Kata Mesias sendiri berasal dari bahasa Yunani “Messias” yang merupakan perubahan dari bentuk bahasa Aram dari bahasa Ibrani “Mashach”, artinya “mengurapi”. Kata yang searti dalam Perjanjian Baru ialah “Kristos” atau Kristus, artinya “Yang Diurapi”. Jadi Kristus dan Mesias artinya adalah “Yang diurapi”.
Salah satu konsep tentang Mesias adalah Dia akan menjadi Raja, Dia anak Daud yang diurapi, Singa Yehuda yang akan membangun kembali kerajaan Daud yang sudah runtuh. Aspek inilah yang menjadi pengharapan bangsa Israel, pengharapan Israel terletak pada kedatangan Seorang yang diurapi sebagai Raja dan Imam, di mana Israel menaruh pengharapan untuk melepaskan mereka dari dosa dan penindasan. Sejak kecil orang Yahudi telah diajarkan bahwa bila Mesias itu datang, Dia akan menjadi pemimpin politik yang akan memerintah dan mengalahkan segala musuh-Nya. Dia akan membebaskan orang-orang Yahudi dari penjajahan pemerintahan Romawi. Seorang Mesias yang menderita siksaan sama sekali asing bagi konsep Mesias Yahudi. Josh Mc Dowell dalam bukunya mengutip pendapat dari Joseph Klausner, seorang sarjana Yahudi, menulis, “Mesias itu kian lama bukan saja menjadi penguasa politis yang menonjol, melainkan juga orang laki-laki yang memiliki kualitas-kualitas moral yang menonjol.”  Josh juga mengutip apa yang dikatakan oleh Jacob Gartenhaus, “Orang-orang Yahudi menantikan Mesias sebagai orang yang akan membebaskan mereka dari penindasan Romawi, jadi pengharapan Mesianis pada dasarnya adalah demi kebebasan nasional” (McDowell, 2010:65). Jewis Encylopaedia menyatakan bahwa orang-orang Yahudi merindukan pembebasan yang dijanjikan akan datang dari keturunan Daud, yang akan membebaskan mereka dari kuk perampas-perampas asing yang dibenci itu, mengakhiri pemerintahan Romawi yang kafir itu, dan menggantikannya dengan mendirikan pemerintahan-Nya sendiri yang penuh damai dan keadilan (McDowell, 2010:65).
Orang Yahudi telah menaruh segala pengharapan mereka kepada Mesias yang dijanjikan itu. Namun Yesus begitu berbeda dengan apa yang mereka harapkan. Setelah Yesus disalibkan dan mati di Golgota, maka semua pengharapan mereka tentang Yesus sebagai Mesias lenyap. Kebangkitan-Nya telah meyakinkan pengikut-pengikut-Nya bahwa Yesuslah Sang Mesias. Alkitab mencatat bahwa Yesus Kristus sendiri menyatakan diri-Nya sebagai Mesias yang dinanti-nantikan dalam Perjanjian Lama. Dia menyatakan bahwa segenap pekerjaan-Nya adalah penggenapan nubuatan Perjanjian Lama. Mesias digunakan untuk menunjuk peran Yesus sebagai Raja dan Hamba yang menderita, Mesias adalah sebutan yang paling sering digunakan untuk Yesus. Salah satu murid  Yesus mengatakan bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah. Yesus bertanya kepada Petrus tentang Diri-Nya, Petrus mengakui bahwa “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup” (Mat. 16:16), Yesus menjawab, “Berbahagialah engkau Simon Bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, tetapi Bapa-Ku yang di sorga” (Mat. 16:17). Seorang sahabat Yesus yaitu Marta juga berkata kepada Yesus, “Ya Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah” (Yoh. 11:27). Natanael juga mengakui bahwa Yesus adalah Anak Allah, ”Kata Natanael kepada-Nya: "Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!" (Yoh. 1:49). Pengakuan Yesus kepada Imam Besar menjadi bukti yang menegaskan bahwa diri-Nya sebagai Mesias. Imam Besar bertanya kepada Yesus: Apakah Engkau Mesias, Anak dari yang Terpuji? Jawab Yesus, “Akulah Dia”.
            Demikian juga dengan nubuatan tentang Yesus sebagai Mesias dapat dilihat dari beberapa nubuatan yang terpenuhi dalam pribadi Yesus Kristus. Nubuatan tentang kelahiran-Nya dari keturunan seorang perempuan (Kej. 3:15) sudah digenapi melalui kelahiran Yesus dari seorang perempuan yaitu Maria (Galatia 4:4). Ada lusinan nubuatan dalam Perjanjian Lama tentang Mesias. Nubuatan ini ditulis ratusan tahun sebelum Yesus Kristus lahir. Nubuatan-nubuatan itu merujuk pada Yesus sebagai penggenapan nubuat tentang Mesias yang diurapi secara ilahi.

Yesus adalah Allah Sejati
Keilahian Yesus merupakan  esensi dari Injil Kristus dalam Perjanjian Baru.  Keilahian Yesus Kristus terus menjadi isu penting dan terus menerus diperdebatkan dalam gereja. C.S. Lewis dalam bukunya Mere Christianity menulis:
“Saya berusaha mencegah orang dari mengatakan hal-hal yang bodoh yang biasanya orang katakan mengenai Dia [Yesus Kristus]: “Saya siap untuk menerima Dia sebagai seorang pengajar moral yang agung, tapi saya tidak menerima klaim bahwa Dia adalah Allah” (McDowell, 2010:18).    

Konsili Nicea tahun 325 Masehi, gereja menyatakan bahwa “Yesus dilahirkan bukan diciptakan”, dan sifat ilahi-Nya mempunyai esensi yang sama (homo ousios) dengan Bapa (Sproul, 2000:103). Pengakuan Nicea ini menyatakan bahwa Pribadi kedua dari Allah Tritunggal mempunyai esensi yang sama dengan Allah Bapa. Keberadaan Yesus adalah keberadaan Allah, Yesus bukan hanya seperti Allah, tetapi Dia adalah Allah. Pengakuan tentang keilahian Yesus didasarkan pada berbagai pernyataan di dalam Perjanjian Baru.
Beberapa pernyataan Yesus tentang diri-Nya yang ilahi, “Aku dan Bapa adalah satu (Yoh. 10:30), Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku (Yoh. 14:10), barang siapa melihat Aku, ia melihat Dia yang telah mengutus Aku (Yoh.12:25), Akulah jalan kebenaran dan hidup (Yoh.14:6). Yesus juga menegaskan, “Jikalau sekiranya kamu mengenal Aku, kamu mengenal juga BapaKu” (Yoh. 8:19); “Barangsiapa melihat Aku, ia melihat Dia, yang telah mengutus Aku” (Yoh. 12:45); “Barangsiapa membenci Aku, ia membenci juga BapaKu” (Yoh.15:23); “Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa, yang mengutus Dia” (Yoh.5:23). Ayat-ayat ini sangat jelas menunjukkan bahwa Yesus memandang diri-Nya lebih dari sekedar manusia. Pernyataan Yesus ini memberikan gambaran diri-Nya sebagai Allah dapat diartikan bahwa Yesus bukan hanya sekedar nabi, guru yang baik, atau orang saleh. Pernyataan ini mengacu kepada pribadi Yesus yang menyatakan diri-Nya sebagai yang Ilahi. Demikian juga dengan pernyataan Yesus yang mampu mengampuni dosa (Markus 2:5; Luk. 7:48-50). Bagi orang Yahudi hanya Allah saja yang dapat mengampuni dosa, tak seorangpun  di bumi ini memiliki wewenang atau hak untuk mengampuni dosa, kecuali Allah. Bila Kristus mampu mengampuni dosa, berarti Dia juga menyatakan diri-Nya sebagai Allah.
Selain pernyataan Yesus sendiri, Alkitab memberikan cukup banyak bukti tentang keilahian-Nya, seperti Alkitab secara terang-terangan menyatakan keilahian Yesus (Yoh. 1:1; 20:28; Rom. 9:5; Filipi 2:6; Titus 2:13; 1 Yoh. 5:20,2), Alkitab memberikan nama-nama Ilahi kepada Yesus (Yes. 9:5; 40:3; Yer. 23:5, 6; Yoel 2:32), Alkitab mengenakan sifat-sifat Ilahi kepada Yesus, seperti keberadaan-Nya yang kekal (Yes. 9:5; Yoh. 1:1, 2; Wahyu 1:8; 22:13), berada di mana-mana (Mat.18:20; Yoh. 3:13), maha tahu (Yoh. 2:24, 25; 21:17; wahyu 2:23), maha kuasa (Yes. 9:5; Filipi 3:21; wahyu 1:8), tak berubah (Ibr. 1:10-12; 13:8), Alkitab menyebutkan bahwa Yesus yang mengerjakan karya-karya Ilahi, misalnya penciptaan (Yoh. 1:3,10; Kolose 1:16; Ibr 1:2; 1:10), berdaulat penuh (Luk.10:22; Yoh. 3:35; 17:2; Efs. 1:22; Kolose 1:17; Ibr. 1:3), mengampuni dosa (Mat. 9:2-7; Mark. 2:7-10; Kolose 3:13) (Walvoord, Tt:98). Yesus menerima penyembahan dan penghormatan yang hanya boleh diterima Allah, Yesus menerima penyembahan sebagai Allah (Mat. 14:33; 28:9), dan kadang menuntut supaya disembah sebagai Allah (Yoh. 5:23). Segala kekayaan Allah ada di dalam Yesus, hanya Yesus yang dapat menampung segala kekayaan Allah, sebab Yesus sendiri adalah Allah dan bersatu dengan Allah. Yesus dapat mewujudkan kemuliaan Allah, hikmat, pengetahuan dan kuasa Allah. Ini membuktikan bahwa segala keberadaan Allah ada di dalam Yesus. Jadi jelas bahwa Yesus bukan menyerupai Allah, melainkan Ia adalah Allah sejati.  Yesus menyatakan diri-Nya sebagai hakim atas semua manusia (Mat.25:31; Yoh.5:27), Yesus memiliki kuasa untuk membangkitkan dan menghakimi orang mati (Yoh.5:21). Demikian juga dengan pernyataan Stefanus ketika di rajam, “ia berseru dengan suara nyaring, ‘Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku!’” (KPR. 7:59). Pernyataan Stefanus mengindikasikan bahwa Yesus adalah Allah,  karena roh manusia akan kembali kepada pencipta-Nya yaitu Allah. Stefanus menyerahkan kembali rohnya kepada Tuhan Yesus sebagai Allah penciptanya. Apa yang  telah dipaparkan di atas menjelaskan begitu banyak pernyataan Alkitab mengenai Yesus Kristus sebagai Allah Sejati.

                                               Yesus adalah Manusia Sejati
            Kemanusiaan Yesus Kristus sama penting dengan keilahian-Nya. Pentingnya kemanusiaan Yesus karena  manusia adalah orang yang berdosa, maka yang harus menebus adalah seorang manusia yang dapat mati (Roma 8:3; Ibr. 2:14-17). Jika Yesus hanya Allah saja, maka Dia tidak bisa mati untuk menanggung dosa manusia. Yesus memasuki situasi manusia untuk bertindak sebagai penebus manusia, Dia menjadi pengganti manusia, Dia menanggung dosa manusia dan menderita menggantikan manusia, dan yang layak menjadi pengganti adalah manusia yang tidak berdosa.
Pada tahun 451 Masehi, konsili oikumene besar Chalcedon meneguhkan bahwa Yesus Kristus adalah benar-benar manusia dan benar-benar Allah dan bahwa kedua natur dari Yesus Kristus merupakan suatu kesatuan yang tanpa pencampuran (Sproul, 2000:111). Walaupun bidat-bidat yang menyangkal kemanusiaan Yesus terus merongrong, tetapi fakta-fakta bahwa  membuktikan Yesus Kristus adalah manusia sejati, misalnya dapat dilihat bahwa Ia memiliki tubuh manusia sejati yang terdiri dari daging dan darah. Tubuh-Nya sama dengan manusia, kecuali satu yang berbeda dengan manusia adalah tidak berdosa. Yesus datang sebagai manusia (Yoh. 1:14; 1Tim. 3:16; Fil. 2:7-8; Ibr. 2:14; 1Yoh. 4:2).Yesus memiliki tubuh (Mat. 26:26, 28; Luk. 24:39; Ibr. 2:14) maupun psuche-jiwa/roh (Mat. 26:38; 27:50; Luk. 23:46; Yoh.11:33; 12:27; 13:21; 1Yoh. 3:16).Yesus memiliki pikiran manusia (Mat. 24:36; Luk. 2:40, 52), perasaan manusia (Mat. 8:10; 9:36; 26:37-38; Mar. 3:5; 6:6; Luk. 7:9; Yoh. 11:33, 35; 12:27) dan kehendak manusia (Mat. 26:39). Yesus mengalami pertumbuhan/perkembangan (Luk. 2:40, 52). Yesus mengalami semua pengalaman manusia, seperti: lahir (Luk. 2:7), lapar (Mat. 4:2), haus (Yoh. 4:7; 19:28), letih (Yoh. 4:6), tidur (Mat. 8:24), menderita (Ibr. 2:10, 18; 5:8) dan mati (Yoh. 19:30). Sama seperti manusia, Yesus juga dibatasi oleh ruang dan waktu, Yesus tidak bisa berada lebih dari satu tempat pada saat yang sama. Yesus juga mengalami segala macam emosi manusia, seperti kegembiraan (Luk.10:21), kesedihan (Mat.26:37), kasih (Yoh.11:5), belas kasihan (Mat.9:36), rasa heran (Luk.7:9), marah (Mrk. 3:5) (Milne, 2002:179). Alkitab begitu  banyak memberikan bukti tentang kemanusiaan Yesus Kristus.
Natur manusia Yesus memiliki keterbatasan seperti halnya dengan manusia, kecuali dalam hal ketidakberdosaan-Nya. Yesus tidak hanya mempunyai badan dan jiwa insani, tetapi Ia juga mengambil bagian di dalam sejarah dan kebudayaan bangsa-Nya. Tata pakaian-Nya dan bahasa adalah sama dengan orang Yahudi. Fakta-fakta ini juga membuktikan bahwa Yesus adalah manusia sejati.
Dengan mengambil rupa manusia, Ia menyatakan diri-Nya kepada manusia. Yesus telah merendahkan diri-Nya mengambil rupa seorang hamba, menjadi seorang manusia. Dengan mempunyai rupa manusia yang sejati, barulah Yesus bebas berhubungan dengan manusia. Jika Yesus tidak memiliki sifat kemanusiaan yang sejati, maka Ia tidak mungkin dapat berhubungan dengan manusia, dan manusia pun tidak mungkin dapat mengenal dia. Dengan rupa seorang manusia, ini membuktikan bahwa Ia adalah manusia sejati
                                                                                                          
Yesus adalah Allah Sejati dan Manusia Sejati
            Yesus Kristus memiliki tabiat Ilahi dan tabiat manusiawi, kedua tabiat ini sempurna dalam satu pribadi. Bagaimana kedua pernyataan ini digabungkan dalam satu pribadi, tentu ini akan selalu menjadi misteri. Ini adalah rahasia Allah yang besar (1 Tim. 3:16). Namun tetap harus dipahami bahwa keduanya tidak berdiri sendiri atau terpisah. Kita tidak bisa berkata bahwa Yesus adalah Allah dan manusia, melainkan Ia adalah Allah-Manusia yaitu Allah dan manusia yang dipersatukan.  Tabiat Ilahi dan tabiat manusia-Nya selalu bekerja bersama-sama dan kedua tabiat tersebut tidak pernah bertentangan. Dalam keilahian-Nya Ia menyatakan kemanusiaan-Nya, kuasa ilahi-Nya diekspresikan melalui sifat kemanusiaan-Nya. Dalam kemanusiaan-Nya Ia memiliki sifat keilahian, sehingga dari diri-Nya manusia dapat mengenal Allah. Yesus memiliki sifat Ilahi, maka Ia pun mulia dan berkuasa sama dengan Allah Bapa. Ia memiliki sifat kemanusiaan, maka Ia dapat bersimpati kepada manusia, dan dapat menyelami kesusahan manusia. Yohanes 1:14 mencatat bahwa Firman itu telah menjadi manusia, Yohanes menekankan bahwa Firman itu benar-benar termasuk umat manusia.  Kristus, Allah yang kekal itu menjadi manusia (Filipi 2:5-9). Kemanusiaan dan keilahian berpadu di dalam diri-Nya. Dengan merendahkan diri-Nya Ia memasuki hidup kemanusiaan dengan segala keterbatasan dari pengalaman manusia.
Pada zaman purba sudah muncul pandangan-pandangan yang berbeda, seperti: Ebonisme, cabang Kristen Yahudi ini menghapuskan sama sekali keilahian Yesus. Mereka menganggap Yesus hanya manusia meskipun diangkat oleh Allah sebagai Mesias (Milne, 2002:201). Gerakan Doketisme yang hanya mengakui keilahian Yesus dan menghilangkan kemanusian-Nya. Mereka berpandangan bahwa Yesus hanya menyerupai manusia (2002:201). Gerakan Gnostisisme, gerakan ini mengakui Yesus bukan Allah sejati atau pun manusia sejati. Gerakan Arianisme yang menolak keilahian Yesus Kristus. Gerakan Apolinarianisme yang menyangkal kemanusian Yesus Kristus. Gerakan Nestorianisme yang memisahkan kedua kodrat Yesus Kristus (2002:2003).
            Pada tahun 451 diadakan suatu konsili di Chalcedon guna menyelesaikan perdebatan-perdebatan terhadap kedua kodrat pribadi Yesus Kristus.Walaupun konsili ini tidak memuaskan semua pihak, tetapi telah menghasilkan dasar perumusan ortodoks mengenai pribadi Yesus. Pasal utamanya menegaskan, “kita harus mengakui bahwa Tuhan kita Yesus Kristus adalah anak tunggal yang sama…sempurna dalam keilahian…sempurna dalam kemanusiaan…sehakikat (homoousios) dengan Bapa dalam keilahian, sehakekat (homoousios) dengan kita dalam kemanusiaan…diperkenalkan kepada kita dalam dua kodrat (fuseis), tanpa pembauran, tanpa perubahan, tanpa pembagian, tanpa pemisahan…sifat-sifat kedua kodrat tetap terpelihara dan berada sekaligus dalam satu pribadi (prosopon) dan satu hakikat (hupostasis).” (2002:204)
            Kedua kodrat yaitu kodrat manusia sepenuhnya dan kodrat ilahi sepenunya menyatu dalam satu pribadi, tanpa pembauran, tanpa perubahan, tanpa pembagian, dan tanpa pemisahan.Walaupun dalam satu kesatuan, tetapi masing-masing mempertahankan sifat-sifat hakikatnya. Kedua kodrat ini sama-sama bekerja dalam tiap-tiap pikiran, perkataan, perbuatan-Nya, dan kedua kodrat ini bekerja dalam satu pribadi. Lebih jauh, Kevin J. Conner dalam bukunya menulis, “Dalam satu pribadi Yesus Kristus, ada dua hakikat, manusia dan ilahi, yang bisa dibedakan tetapi tidak bisa dipisahkan (Conner, 2004:365).

Tidak ada komentar:

Berita Terkini

« »
« »
« »
Get this widget

Daftar Blog Saya

Komentar