Tulisan Jalan

Hidupku untuk mengharumkan nama-MU Jangan bersukcita ketika engkau berhasil dalam pelayanan, tetapi bersukcitalah karena namamu tercatat di Surga

Kau istimewa. Di seluruh dunia, tidak ada orang yang sepertimu. Sejak bumi diciptakan tidak ada orang lain yang sepertimu. Tidak ada orang lain yang memiliki senyummu, tidak ada yang memiliki matamu, hidungmu, rambutmu, tanganmu, suaramu. Kau istimewa. Tidak ada orang lain yang memiliki tulisan yang sama denganmu. Tidak ada orang lain yang memiliki selera akan makanan, pakaian, musik, atau seni sepertimu. Tidak ada orang lain yang memiliki cara pandang sepertimu. Sepanjang masa tidak ada orang lain yang tertawa sepertimu, tidak ada yang menangis sepertimu. Kaulah satu di antara seluruh ciptaan yang memiliki kemampuan seperti yang kau miliki. sampai selamanya, tidak akan ada orang yang akan pernah melihat, berbicara, berjalan, berpikir, atau bertindak seperti dirimu. Kau istimewa...kau langka. Tuhan telah menjadikanmu istimewa dengan satu tujuan yaitu MEMULIAKAN DIA

Cari Blog Ini

Rabu, 23 Januari 2013

KIAT-KIAT MENULIS RENUNGAN

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
KIAT-KIAT MENULIS RENUNGAN
==========================

Renungan adalah refleksi atas sebuah ayat dalam Alkitab yang
dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari dan kontekstual bagi pembaca.
Penulis memulai tulisan setelah melihat persoalan-persoalan yang
terjadi dalam realitas kehidupan. Dia lalu mencari jawabannya
melalui permenungan dan penelitian yang mendalam atas ayat-ayat
dalam Firman Tuhan. Setelah itu dia membagikan hasil permenungan itu
kepada pembaca.

Menulis renungan berbeda dengan menulis artikel. Di dalam menulis
artikel, penulis menyajikan dan memberikan pengetahuan serta
ketrampilan (memberi makanan bagi otak), sedangkan dalam menulis
renungan, penulis berbagi iman dan pengalaman kerohanian (memberi
makanan pada jiwa). Artikel berpusat pada satu tema dan menggunakan
lebih dari satu sumber tulisan, sedangkan renungan, berpusat pada
satu tema dan satu ayat Alkitab. Panjang artikel bisa mencapai 500-
2000 kata, sedangkan renungan, antara 250-300 kata. Artikel berasal
dari pengetahuan di kepala (head), sedangkan renungan adalah luapan
dari pengalaman batin (heart).

Tujuan akhir dari sebuah renungan adalah perubahan hidup. Seberapa
pun indah tulisan renungan itu, tetapi jika tidak bisa mendorong
pembaca untuk melakukan tindakan yang membuatnya semakin mengasihi
Tuhan dan sesama, maka tulisan itu tidak layak disebut renungan.

Ada beberapa tipe renungan, yaitu:
1. Renungan yang memberi inspirasi untuk bertindak dengan nyata.
Isinya biasanya berupa dorongan bagi pembaca untuk bertindak
sesuatu.
2. Renungan yang memberi ketenangan. Biasanya berisi kata-kata
penghiburan untuk menguatkan pembaca yang sedang mengalami
pergumulan.
3. Renungan yang memberikan teguran. Renungan ini memperingatkan
pembaca supaya tidak melakukan perbuatan tertentu yang bisa
mendatangkan dosa.
4. Renungan yang memberi paparan tentang suatu perikop tertentu.
Isinya hanya berupa informasi yang menjelaskan makna dari ayat-
ayat tertentu dan relevansinya bagi konteks kekinian.

Rumus 4 C
---------
Ada suatu formula yang dipakai untuk menulis renungan yang disebut
"rumus 4 C", yaitu Contextualize, Connect, Communicate, dan
Conclude. Berikut ini penjelasannya:

1. Contextualize.
"Daratkanlah" isi renungan Anda dengan peristiwa kehidupan
sehari-hari secara nyata. Pembaca renungan adalah manusia biasa
dengan pergumulan kehidupan yang tidak ringan. Mereka membutuhkan
penguatan rohani yang aplikatif. Karena itulah, tulisan Anda
sebaiknya menjawab kebutuhan pembaca secara nyata.

2. Connect.
Hubungkan persoalan kehidupan yang dibahas itu dengan Firman
Tuhan. Temukanlah jawaban Firman Tuhan atas persoalan yang
digumulkan oleh penulis dan pembaca renungan itu. Dalam hal ini,
selain harus berdoa meminta hikmat dari Tuhan, lebih baik lagi
jika Anda memiliki pengetahuan teologi yang memadai.

3. Communicate.
Komunikasikan hasil studi Alkitab itu kepada pembaca.
Komunikasikan tentang kasih dan karunia Tuhan serta penguatan
dari Roh Kudus. Jika diperlukan, pakailah ilustrasi untuk
menjelaskannya.

4. Conclude.
Simpulkan renungan ini dengan sebuah tindakan yang bisa dilakukan
oleh pembaca. Bagian ini sangat penting. Rumuskanlah kata-kata
yang bisa mendorong pembaca untuk membuat keputusan dan melakukan
tindakan. Inilah yang disebut perubahan hidup.

Tips Praktis Menulis Renungan
-----------------------------
Secara lebih praktis, berikut ini adalah kiat-kiat praktis yang
dapat diterapkan di dalam menulis renungan:

1. Siapkan semua bahan-bahan pendukung, seperti ilustrasi, data-
data, Alkitab (kalau ada beberapa versi terjemahan dalam bahasa
Indonesia, bahasa Inggris, dan bahasa lainnya) dan Konkordansi
Alkitab (Kalau punya komputer, lebih enak memakai Program SABDA).

2. Berdoalah meminta pimpinan Tuhan.

3. Bacalah perikop ayat itu berulang-ulang dan jika mungkin, bacalah
juga versi terjemahan dan bahasa yang berbeda. Temukan gagasan
utama yang menjadi pusat dari isi renungan Anda.

4. Tulislah draft tulisan Anda. Tuangkanlah semua isi kepala Anda
dengan bebas. Draft bukanlah tulisan yang sudah jadi. Untuk
itulah, Anda tidak usah memperhitungkan apakah tulisan ini akan
tampak buruk. Yang penting, Anda bisa menuangkan semua gagasan
Anda lebih dulu. Teknik ini disebut curah gagasan (brain
storming).

5. Setelah semua ide tampaknya sudah mengalir keluar, maka langkah
selanjutnya adalah menyusun ide-ide atau pokok pikiran itu supaya
menjadi teratur dan enak dibaca. Dalam bahasa kerennya, supaya
alur logika tulisan mengalir dengan lancar. Jika ada ide-ide yang
tidak relevan, jangan ragu-ragu untuk memangkasnya.

6. Tempatkan ilustrasi renungan yang sesuai. Jika Anda gagal
menemukan ilustrasi yang cocok, jangan cemas. Anda masih bisa
menyiasatinya dengan memasang kalimat pembuka yang menarik.

7. Jika sempat, mintalah tolong orang lain supaya memberikan kritik
dan saran atas tulisan Anda.

8. Perhatikan dengan cermat isi pengajaran atau teologi di dalamnya.
Sedapat mungkin, hindarilah tema-tema yang secara teologis masih
belum ada kata sepakat. Hindari juga pembahasan yang menyinggung
denominasi tertentu. Misalnya soal baptisan atau bahasa lidah.
Jika Anda ragu-ragu terhadap ketepatan Anda dalam merumuskan
pengajaran Alkitab, jangan segan-segan untuk berkonsultasi pada
pendeta atau orang lain yang lebih tahu.

Menulis renungan itu sebenarnya tidak lebih dari sebuah sharing
pengalaman rohani yang dialami oleh penulis. Pengalaman rohani
setiap orang itu unik, karena merupakan hasil dari perjumpaan
pribadinya dengan Allah. Pengalaman rohani seseorang selalu menarik
minat orang lain karena pengalaman rohani tiap-tiap orang berbeda.
Itulah sebabnya, kita tidak akan pernah kehabisan bahan penulisan
renungan.

Jika memang benar bahan-bahannya melimpah, mengapa hanya sedikit
saja orang yang mau menulis renungan? Kebanyakan orang beralasan
karena tidak mampu menulis dengan baik. Alasan ini kurang kuat,
karena kemampuan menulis sebenarnya bisa diasah melalui pelatihan
dan mempraktikkannya dengan sungguh-sungguh. Tidak ada seorang
penulis yang langsung mampu membuat tulisan yang indah tanpa melalui
latihan.

Diedit dari tulisan "Purnawan Kristanto"
Penulis pernah menjadi jurnalis "BAHANA" dan pernah mengasuh
"Renungan Malam"
Baca Terusannya »»  

Senin, 14 Januari 2013

NILAI-NILAI DALAM DOA

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Nats : Mat. 6:5-14
Tema : NILAI-NILAI DALAM DOA

Perjalanan kehidupan manusia berkaitan erat dengan niai-nilai yang
dapat menjadi pengarah dan menjadi falsafah hidup. Nilai budaya, nilai
sosial, nilai adat istiadat dan nilai-nilai hukum merupakan suatu
penyangga kehidupan dalam terjadinya interaksi sosial. Dalam
kehidupan kekristenan memiliki nilai yang tidak dapat diabaikan yaitu
dalam interaksi dengan Tuhan (doa). Dalam renungan hari ini kita
dapat belajar bagaimana nilai doa yang Yesus Yesus memulai pengajaran
akan doa ketika Ia bebrbicara kepada orang-orang banyak saat
berkhotbah di bukit. Yesus memperingatkan kepada mereka tentang
berdoa, Ia katakan jaganlah berdoa seperti orang munafik. Orang
munafik Yesus sebut adalah orang yang tahu kebenaran bahkan
mengajarkannya kepada orang lain tetapi mereka sendiri tidak
melakukannya ( Mat. 23:1-7).
Orang munafik melaksanakan doa mereka supaya dilihat orang ( Mat. 6:5
). pada bagian ini Yesus mengajarkan kepada orang-orang banyak tentang
berdoa yang kemudian kita kenal sebagai Doa Bapa Kami. Dalam doa bapa
kami ini mengandung isi doa yang sangat konplit yang tentunya menjadi
pegangan setiap orang percaya dalam berelasi dengan Tuhan. Dalam ayat
9 merupakan sapaan yang sangat dalam untuk relasi kepada Tuhan. Dalam
Doa Bapa Kami Yesus memulai dengan kata yang sangat dekat dan sangat
ideal sekali menyebut Allah sebagai Bapa.
Dalam PL bapa memiliki makna yang lebih luas daripada kepala keluarga
inti di zaman modern. Mungkin ia adalah seorang kepala suku ( Kej
32:9), atau seorang nabi ( 2Raj 2:12). Bapalah merupakan sosok yang
dapat memimpin keluarga dalam memberikan pengajaran keagamaan. Dalam
PB Yesus menyebut Allah sebagai Bapa-Nya, dengan demikian Allah
menjadi Bapa yang ideal bagi semua umat manusia ( Ef 3:14-15). Kata
Bapa dalam doa dapat dikatakan sebagai kata pengagungan akan Allah,
memuliakan Allah dan memuji kebesaran Allah. Kemudian Yesus mengatakan
dikuduskanlah namamu, kata ini menunjukan penghormatan kepada Allah
yang kudus. Dalam doa kita prlu memperhatikan tentang nama baik
Allah, gereja-Nya, dan Injil-Nya. Setelah adanya pengagungan akan nama
Allah kemudian Yesus katakan "datanglah kerajaan-Mu, jadilah
Kehendak-Mu di bumi seperti di sorga" perkataan ini mengingatkan kita
agar kita mengingat akan kerajaan saat ini dan akan datang dalam
Kristus Yesus dan kita berdoa untuk kehadiran dan manifestasi rohani
dari kerajaan Allah sekarang ini, sehingga kuasa Allah nyata dalam
kehidupan umat-Nya untuk menghancurkan kuasa tipu muslihat iblis.
Jadilah kehendak-Mu berarti kita benar-benar ingin agar kehendak dan
rencana Allah yang terwujud dalam kehidupan kita. Selain adanya
pengagungan dan penyerahan kepada kehendak Allah dalam doa, kita juga
meminta pengampunan kepada Tuhan, hal ini berarti menyadari akan
kesalahan dosa yang dialami dihadapan Tuhan. Kasadaran akan dosa yang
kemudian mengakui keterbatasan atau kelemahan kita dihadapan Tuhan,
sangat penting dalam relasi kita kepada Allah, karena tanpa Allah kita
tidak dapat keluar dari kelemahan itu. Dosa membuat kita kuatir, dosa
membuat kita menderita, namun Rasul Paulus katakan kepada jemaat di
Filipi jangan kita kuatir tetapi serahkan segala kuatir dan pergumulan
kita kepada Tuhan dalam doa dan permohonan ( Fil. 4:6). Dengan
demikian apapun yang menjadi dalam pergumulan kita, persoalan kita,
dan kendala kita serahkanlah semuanya itu kepada Tuahan, karena hanya
dalam Tuhanlah solusi yang sejati pergumulan hidup kita. Dari renungan
hari ini memberi cara pandang bagi kita dalam melihat nilai dalam doa
yaitu; 1) adanya pengagungan kepada Tuhan. 2) adanya penyerahan diri
kepada kehendak Tuhan dan meminta pengampunan atas dosa kita. 3)
adanya ucapan syukur kepada Tuhan. 4) Adanya ungkapan permohonan
kepada Tuhan. Mulailah hari ini dengan berpegang pada seruan
pengagungan akan Allah serta ungkapkan syukur senantiasa kepada-Nya,
amin. By: Marthinus
Baca Terusannya »»  

Selasa, 08 Januari 2013

SIAPAKAH SESAMAKU

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Tempat tinggal kami tepat berada di pinggir jalan dan tidak jauh dari
kampus teologi. Karena berada di pinggir jalan, maka tentu jalan di
rumah kami merupakan jalan umum yang setiap saat dilalui oleh berbagai
macam orang, dan salah satunya adalah mahasiswa-mahasiswi yang sedang
studi di sekolah teologi tersebut. Beberapa waktu lalu saya membuat
jembatan supaya mobil bisa masuk ke dalam halaman rumah kami. Ketika
saya mempersiapkan beberapa bahan yang akan digunakan seperti pasir,
semen, kerikil, besi, dan papan. Hal ini tentu membutuhkan bantuan
tenaga, saya minta tolong ke beberapa mahasiswa dari sekolah teologi
dekat rumah kami, yang juga tempat saya melayani. Ketika kami sedang
mengerjakan jembatan itu, cukup banyak orang "Kristen"/mahasiswa yang
lalu lalang di tempat kami mengerjakan jembatan. Ada yang lewat begitu
saja, ada yang betanya, pak lagi buat apa?, ada juga yang singgah
untuk melihat-lihat, namun tidak satupun yang bertanya apa yang bisa
kami bantu alias tidak ada yang tergerak hatinya untuk membantu.

Saya jadi teringat akan kisah orang Samaria yang baik hati yang
ditulis di dalam Injil Lukas 10:25-38. Pada suatu kali berdirilah
seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: "Guru, apa yang
harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Jawab Yesus
kepadanya: "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di
sana?" Jawab orang itu: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap
hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan
dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti
dirimu sendiri." Kata Yesus kepadanya: "Jawabmu itu benar; perbuatlah
demikian, maka engkau akan hidup." Tetapi untuk membenarkan dirinya
orang itu berkata kepada Yesus: "Dan siapakah sesamaku manusia?" Jawab
Yesus: "Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh
ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan,
tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya
setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia
melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian
juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu,
ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria, yang
sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang
itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu
membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan
anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya
sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan
harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu,
katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan
menggantinya, waktu aku kembali. Siapakah di antara ketiga orang ini,
menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke
tangan penyamun itu?" Jawab orang itu: "Orang yang telah menunjukkan
belas kasihan kepadanya." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, dan
perbuatlah demikian!"

Bagaimana jadinya kalau orang percaya/seorang hamba Tuhan tidak
memiliki kepekaan dengan lingkungannya? Marilah kita belajar dari
orang Samaria, yang "tidak dianggap", tetapi memiliki hati hamba, yang
peduli dengan lingkungannya. Dari pada berlabel orang "Kristen"/hamba
Tuhan, tetapi hanya labelnya saja, bukti nyatanya tidak ada. By:
Adrianus Pasasa
Baca Terusannya »»  

Rabu, 02 Januari 2013

AROGANSI BEBEK SENIOR

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Bebek yang kami tetaskan beberapa bulan yang lalu, mulai beranjak
besar. Namun untuk menjaga keamanan antara bebek yang sudah dewasa
dengan bebek yang baru beranjak dewasa, maka kami pisahkan kandangnya.
Pada suatu hari saya mencoba untuk melepaskan semua bebek dari
kandangnya, tentu tujuannya supaya bebek yang senior dan junior ini
dapat hidup bersama. Tetapi apa yang tejadi, bebek yang merasa sudah
senior terus mengejar dan berusaha untuk mematuk bebek-bebek yang baru
beranjak dewasa itu. Ternyata mereka tidak bisa hidup bersama, mungkin
saja bebek-bebek senior ini merasa terancam dengan keberadaan bebek
yang masih muda dan enerjik itu. Atau mungkin ada alasan lain sehingga
keberadaan bebek junior ini menjadi ancaman bagi bebek-bebek senior.

Kisah ini tidak hanya terjadi dalam dunia hewan, tetapi kalau kita
perhatikan hal inipun terjadi dalam kehidupan umat manusia. Seseorang
yang merasa dirinya sudah eksis di suatu tempat, atau sukses dalam
menduduki jabatan tertentu. Namun ketika dia merasa posisinya atau
tempatnya terancam dengan kehadiran orang lain, dia mulai bersikap
arogan. Dengan berbagai cara ia berusaha untuk menyingkirkan
orang-orang yang merupakan ancaman bagi dirinya. Demikian juga dengan
manusia-manusia yang berlabel rohani, kadang hanya labelnya yang
rohani, tetapi isinya tidak ubahnya seperti kisah bebek di atas.
Hidupnya tidak tenang ketika ada orang lain yang lebih dari dirinya,
merasa diri paling hebat dan keinginannya hanya untuk mengatur,
mengkritik dan melihat kesalahan orang lain, tanpa mampu untuk melihat
dirinya sendiri. Tuhan Yesus bersabda: : Barangsiapa terbesar di
antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa
meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan
diri, ia akan ditinggikan (Matius 23:11-12). By: Adrianus Pasasa
Baca Terusannya »»  

NATAL BERSELIMUT KABUT

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Merayakan Natal adalah bagian yang tak terpisahkan dari hidup orang
Kristen. Memasuki bulan Desember pernak-pernik Natal mulai menghiasi
rumah, gereja dan beberapa sudut pusat pembelanjaan di berbagai kota.
Bahkan beberapa gereja sudah mulai merayakan Natal sebelum tanggal 25
Desember yang ditetapkan sebagai hari Natal. Suatu pagi ketika saya
memeriksa SMS yang masuk ke handphone, ternyata saya mendapat undangan
untuk menghadiri perayaan Natal di suatu gereja yang ada di daerah
Jawa Barat. Saya senang mendapat undangan tersebut, saya pun
mempersiapkan diri untuk menghadiri natal yang tinggal berselang dua
hari lagi. Pada saat perayaan Natal saya datang bersama istri saya,
karena kami datang agak terlambat maka kami duduk di bangku bagian
belakang.

Acara natal malam itu tidak ubahnya seperti acara pertunjukan yang
menampilkan kemampuan anggota-anggota jemaat yang silih berganti naik
ke atas panggung. Dalam hati kecil saya bertanya, apakah ini yang
Tuhan Yesus inginkan? Ketika memasuki pertengahan acara, muncul bau
yang kurang sedap dan itu sangat menggangu. Saya berusaha mencari
sumber bau itu, oh…ternyata bau asap rokok beberapa kaum bapak yang
duduk di bagian luar gereja. Batin saya semakin bertanya,
jangan-jangan jemaat disini dibebaskan untuk merokok, padahal setau
saya denominasi gereja ini sangat "pantang" terhadap rokok. Dan apa
yang timbul di batin saya semakin terjawab ketika rangkain perayaan
natal sudah selesai, tanpa rasa canggung, hampir sebagian kaum bapak
duduk melingkar di depan gereja dengan asap rokok yang mengepul dari
mulutnya. Sungguh natal malam itu, menjadi natal yang berselimutkan
asap rokok. Firman Tuhan di dalam 1 Korintus 6:19-20, mengatakan…Atau
tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di
dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, -- dan bahwa kamu
bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah
lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!
Pertanyaannya, bagaimana jadinya kalau bait Roh Kudus ini, tiap hari
diasapi dengan asap rokok? By: Adrianus Pasasa
Baca Terusannya »»  

Jumat, 21 Desember 2012

KESUKAAN BESAR BAGI SELURUH BANGSA

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***


KESUKAAN BESAR BAGI SELURUH BANGSA
Lukas 2:1-20
Rev. Andrias Hans

--------------------

1. Ayat 1-3:  Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia.  Inilah pendaftaran yang pertama kali diadakan sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria. 3  Maka pergilah semua orang mendaftarkan diri, masing-masing di kotanya sendiri.

            Kaisar Agustus ini telah melakukan peribahasa "Sekali mendayung dua tiga pulau terlewati. Apa yang dirancang Kaisar Agustus ini mungkin untuk memuaskan keangkuhannya secara politis. Dia ingin mengetahui berapa sebenarnya jumlah rakyatnya untuk diumumkan ke seluruh dunia karena pada waktu itu Kerajaan Romawi merupakan Negara adidaya yang menguasai dunia. Juga program Kaisar Agustus ini memiliki tujuan utama yaitu agar dengan menaati perintahnya mengikuti sensus penduduk, maka itu merupakan suatu pengakuan kepada kekaisaran Romawi bahwa mereka tunduk sebagai bangsa jajahan. Dan ini sekaligus menjadi jalan ke depan untuk menjadi mesin pencetak uang melalui penerimaan  pajak dari rakyat jajahan bangsa Romawi.

2. Ayat 4-5:  Demikian juga Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem, —karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud— supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria, tunangannya, yang sedang mengandung.

            Benar apa yang dikatakan firman Tuhan dalam Yesaya 55:8-9, "Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu." (Bandingkan Yeremia 29:11). Juga Tuhan berkata dalam Yesaya 66:18, "Aku mengenal segala perbuatan dan rancangan mereka, dan Aku datang untuk mengumpulkan segala bangsa dari semua bahasa, dan mereka itu akan datang dan melihat kemuliaan-Ku."

            Man proposes but God disposes (manusia membuat rencana tetapi Tuhan yang menentukan). Itulah yang terjadi pada Kaisar Agustus. Ia merancang dan menetapkan program sensus penduduk di seluruh dunia wilayah kekuasaannya untuk memuaskan ambisi pribadinya yang penuh ketamakan dan keangkuhan itu, tetapi Allah yang mahabesar dan mahakuasa telah menggunakan ambisi manusia menjadi misi mulia untuk menghadirkan Sang penasihat ajaib, Allah yang perkasa, Bapa yang kekal, dan Raja damai (Yesaya 9:5) ke dalam dunia yang penuh kegelapan. Begitu juga dengan Yusuf dan Maria yang bersiap-siap melahirkan anak yang dikandungnya di kota Nazaret di Galilea tetapi Tuhan membawa mereka ke Betlehem di Yudea sesuai yang dinubuatkan oleh Daniel 2:44, "Tetapi pada zaman raja-raja, Allah semesta langit akan mendirikan suatu kerajaan yang tidak akan binasa sampai selama-lamanya, dan kekuasaan tidak akan beralih lagi kepada bangsa lain: kerajaan itu akan meremukkan segala kerajaan dan menghabisinya, tetapi kerajaan itu sendiri akan tetap untuk selama-lamanya." Juga seperti yang dinubuatkan Mikha 5:1, "Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata[1], hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala." (bandingkan dengan ahli Taurat: Matius 2:5-6).

            Betapa hebatnya Allah kita. Rancangan Kaisar Agustus yang egoistis itu dibelokkan  Tuhan untuk menggenapi rencana agung-Nya sendiri yaitu mengutus Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat umat manusia dari cengkeraman dosa yang membinasakan. "Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah" (Roma 8:28). Soli Deo Gloria!!!
           
3. Ayat 6-7:  Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin,  dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.

            Yesus Kristus lahir dalam kehinaan dan kemiskinan. Tidak ada  orang yang mau menerima kelahiran bayi Yesus pada natal yang pertama ini. Semua menolak-Nya. Hanya kain lampin dan palungan yang menerima bayi Yesus. Matthew Henry memberikan penafsiran yang sangat indah.  Lampin berarti merobek. Ini menunjukkan bahwa kain alas tidur yang baik untuk bayi Yesus  tidak tersedia. Yang ada hanyalah kain kasar yang sudah koyak di sana sini. Juga Yesus dilahirkan di sebuah palungan, tempat untuk meletakkan makanan ternak. Yesus adalah Allah yang mahamulia, namun  rela menjadi manusia hina dina. Dia adalah Allah yang mahakaya, namun  rela menjadi manusia miskin. Dia adalah Allah yang mahakuasa dan yang tidak dapat dibatasi oleh ruang dan waktu, namun rela menjadi manusia yang lemah tak berdaya dan dibatasi oleh ruang dan waktu. Betapa Yesus datang ke dunia ini meninggalkan segala kemuliaan-Nya sebagai Allah demi menyelamatkan umat manusia yang sedang menuju kepada kematian kekal. Rasul Paulus dengan indahnya mengatakan dalam 2Korintus 8:9, "Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya."  Dalam Filipi 2: 6-8 Paulus berkata, "yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,  melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.  Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib."

            Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, natal memberikan pelajaran yang amat berharga bagi kita yang hidup di zaman postmo ini. Di zaman di mana manusia amat mengagungkan kenikmatan materi dan kebebasan absolut serta individualistik, kelahiran Yesus mengingatkan kita bagai lonceng yang amat keras berdentang bahwa hidup yang sejati adalah hidup yang rela membagi bagi sesama manusia yang malang dan miskin yang sedang menuju kepada kebinasaan kekal. Kita rela dan siap menjadi miskin, haus, dan lapar, demi kesejahteraan hidup manusia yang sejati (jasmani dan rohani). Demi kesejahteraan jasmani dan keselamatan hidup yang kekal bagi kemuliaan nama Tuhan. Inilah panggilan kita sebagai hamba Tuhan dulu, masa kini, dan selamanya. Hamba Tuhan yang tidak mengejar kenikmatan duniawi. Hamba Tuhan yang tidak tercemar dengan roh profesinalisme yang kadang kala jemaat tidak bisa lagi bedakan hamba Tuhan sebagai gembalanya atau bosnya sehingga sulit sekali untuk ditemui untuk dimintai nasihat atau pertolongan.

Inilah misi hidup yang sejati. Bukan mengejar harta duniawi. Bukan mengejar ambisi untuk popularitas diri sendiri. Dan bukan untuk menikmati kesenangan dunia. Karena harta, popularitas, dan kenikmatan sejati hanya ada dan tersedia di dalam persekutuan dengan Tuhan Yesus Kristus baik di dunia ini maupun di dalam kekekalan surgawi kelak. Tuhan Yesus mengatakan, "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah."(Matius 4:4, Lukas 4:4).

            Natal adalah sebuah peristiwa amat penting di mana Tuhan Sang penguasa surga dan bumi datang menjadi miskin untuk memerkaya manusia. Membuat hidup manusia hidup berkelimpahan (sejahtera jasmani dan selamat jiwa). Tuhan Yesus berkata dalam Yohanes 10:10-11, "Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.  Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya."

            Berita natal pertama disampaikan kepada orang-orang  miskin. Orang-orang  yang tidak diperhitungkan oleh dunia ini.

4. Ayat 8-12:  Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam.9  Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan.10  Lalu kata malaikat itu kepada mereka: "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: 11  Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.12  Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan."

Para gembala pada zaman dulu biasanya berkelana dari satu tempat ke tempat ke tempat lain. Ada yang menginap di tenda dan ada juga yang tinggal di desa-desa. Para gembala yang hidup setengah menetap di sebuah desa, berhak membiarkan domba-domba mereka makan di padang rumput pinggiran desa. Kalau persediaan pangan menipis, ternak akan segera dipindahkan ke padang rumput yang lebih tinggi (saat musim panas) atau ke lembah yang lebih hangat (saat musim dingin). Tidak mudah menjadi gembala. Para gembala menghabiskan sebagian besar waktu mereka di alam bebas untuk mengawasi kawanan ternak. Dan mereka seringkali harus tidur dekat hewan-hewan itu untuk melindungi mereka dari perampok atau serangan binatang buas. Ketika malam tiba, ternak dimasukkan ke kandang berdinding batu buatan para gembala sendiri atau ke kandang alami, misalnya sebuah gua. Sambil dimasukkan ke kandang, jumlah ternak dihitung dengan cara memisahkan antara kambing dan domba. Hewan-hewan itu dihitung kembali esok harinya ketika akan dilepas ke padang rumput. Status sebagai gembala dipandang rendah dalam masyarakat pada zaman Yesus.

Berdasarkan kasta dalam bait Allah, maka  yang menempati urutan pertama yang layak masuk ke bait Allah adalah imam besar, para imam/Farisi/ahli Taurat, pria dewasa. Sedangkan yang tidak dapat masuk ke bait Allah adalah para wanita, orang-orang cacat, dan orang bukan Yahudi.  Dalam natal pertama ini kita melihat bahwa Tuhan mengutus seorang malaikat  untuk menyampaikan kabar baik kelahiran Kristus bukan kepada kasta terhormat dalam pandangan manusia, tetapi justru kepada mereka yang tidak terdaftar dalam kasta itu, yaitu mereka yang tidak diperhitungkan, para gembala miskin. Kedatangan Tuhan Yesus adalah untuk mengangkat harkat dan martabat orang-orang yang miskin dan yang terhilang. Tuhan Yesus berkata, "Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang."(Lukas 19:10). 

Waktu melihat malaikat datang dan mengabarkan berita gembira dari Tuhan, para gembala menjadi sangat ketakutan. Manusia berdosa memang tidak akan mungkin  dapat bertahan bila bertemu dengan Tuhan. Ketika Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa mereka  bersembunyi dari hadapan Tuhan karena mereka ketakutan (Kejadian 3:10). Para gembala ini juga menjadi sangat ketakutan (Yunani: Phobeo = merasa takut, menjadi takut, menkhawatirkan, takut kepada [Allah])) karena kemuliaan Tuhan bersinar mengelilingi (Yunani: Perilampo, 2 kali dalam PB [Kisah 26:13]) mereka.

Kehadiran dosa menjadikan manusia menjadi sangat ketakutan. Tetapi kehadiran Tuhan mendatangkan sukacita dan damai sejahtera. Awalnya para gembala ini memang menjadi sangat ketakutan karena kemuliaan Tuhan bersinar mengepung mereka. Namun utusan Tuhan berkata kepada mereka, "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud." (Ayat 10-11).

Inilah berita agung dalam sejarah umat manusia yang telah jatuh ke dalam dosa dan tertawan dalam belenggu maut kekal. Inilah berita yang sejatinya dinanti-nantikan seluruh bangsa di muka bumi ini.  Inilah penggenapan yang telah dinubuatkan oleh Allah sendiri dalam Kejadian 3:15, "Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya." Dan inilah yang dikatakan Tuhan Yesus sendiri dalam Lukas 4:18-19, "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku  untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang."

Inilah berita yang mahaagung dari surga. Dan tidak akan pernah ada berita seagung ini lagi di yang akan dikabarkan di bumi ini. Berabad-abad lamanya bangsa-bangsa hidup dalam kegelapan dibelenggu dosa dan bayang-bayang  maut kekal. Manusia dijajah oleh kuasa iblis sehingga semua umat manusia hidup dalam dosa. Manusia tak berdaya meleapskan diri dari cengkeraman maut kekal.  Pengetahuan manusia, kekuatan manusia, kebaikan manusia, dan apa saja yang dimiliki manusia, tidak akan mampu melepaskannya dari belenggu kematian kekal itu.  Dari zaman ke zaman dan dari waktu ke waktu, manusia yang hidup dalam dosa menjadikannya tidak dapat membedakan tangan kiri dari tangan tangan. Manusia tidak mampu hidup dalam kebenaran sejati. Mamnusia tahu harus hidup yang benar dan kudus, tetapi pada faktanya manusia tidak berdaya untuk mlakukannya. Itulah kuasa dosa yang membelenggu manusia.  Manusia terus saling irihati, dendam, dan saling membunuh satu dengan yang lain. Itulah fakta, upah dosa ialah maut (Roma 6:23).

Inilah kondisi bangsa-bangsa di bumi hingga detik ini. Berita terkini, Adam Lanza, 20 tahun, seseorang  yang memiliki masalah kejiwaan yang tinggal di Newtown AS, menembak 20 anak di sekolah Sandy Hook, Connecticut dan 8 orang dewasa, semuanya tewas. Termasuk ibunya sendiri ditembak mati oleh pelaku. Ini fenomena yang sering terjadi di Amerika, negara yang dijuluki negara adidaya, negara yang makmur secara ekonomi, negara yang canggih teknologinya termasuk teknologi persenjataannya.  Tetapi ada fakta yang tidak bisa dibantah. Di dalam negara yang seperti ini ada begitu banyak manusianya yang hidup dalam kekosongan jiwa. Ini membuktikan kepada kita bahwa kemakmuran ekonomi, kehebatan teknologi, dan tingginya pendidikan bukan jalan keselamatan dan damai sejahtera bagi manusia.  Benar apa yang dikatakan Blaise Pascal, "Di dalam jiwa manusia ada suatu kekosongan yang tidak dapat diisi oleh apapun juga kecuali oleh Tuhan."  Bangsa-bangsa sampai hari ini masih hidup dalam kegelapan. Tetapi bersyukurlah, Matius menyaksikan dalam Matius 4:14-16, "supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya:  "Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain, —  bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang." Tuhan mengutus malaikat-Nya di hari natal pertama dan pada mala mini kepada seluruh umat manusia dan kepada kita saat ini, "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud." (Ayat 10-11).

Yesus adalah Tuhan. Dia berkuasa atas surga dan bumi. Dialah penguasa yang sesungguhnya di bumi ini dan di surga. Para pemegang kuasa yang sekarang ini ada di seluruh negara dikendalikan Tuhan Yesus kristus. Yesus yang menagkat dan menurunkan pemerintah-pemerintah yang ada di dunia ini. Itu sebabnya penguasa yang mau berkuasa dengan bebas sebebas-bebasnya pasti dilengserkan dari kursi kekuasaannya. Hitler si jagal, Saddam Hussein, Marcos, om Ato (yang pernah dijuluki bapak pembangunan), Moammar Khadafi, dan  para pemimpin lainnya, menjadi bukti yang tak terbantahkan. Nabi Yesaya dalam Yesaya 9:5-6 menubuatkan sekitar 700 tahun sebelum Yesus datang ke dunia, "Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya, karena ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya."

Dan Yesus bukan saja sebagai Tuhan, tetapi Ia juga adalah Juruselamat satu-satunya bagi umat manusia yang berada dalam kuasa dosa dan maut. Rasul Petrus dengan berkobar-kobar di hadapan para pemimpin Yahudi, tua-tua, dan ahli-ahli Taurat, dengan Imam Besar Hanas dan Kayafas, Yohanes dan Aleksander dan semua orang lain yang termasuk keturunan Imam Besar, dengan penuh dengan Roh Kudus rasul Petrus menantang: "Hai pemimpin-pemimpin umat dan tua-tua,  jika kami sekarang harus diperiksa karena suatu kebajikan kepada seorang sakit dan harus menerangkan dengan kuasa manakah orang itu disembuhkan,  maka ketahuilah oleh kamu sekalian dan oleh seluruh umat Israel, bahwa dalam nama Yesus Kristus, orang Nazaret, yang telah kamu salibkan, tetapi yang telah dibangkitkan Allah dari antara orang mati—bahwa oleh karena Yesus itulah orang ini berdiri dengan sehat sekarang di depan kamu.  Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan—yaitu kamu sendiri—,namun ia telah menjadi batu penjuru.  Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan." (Kisah Para Rasul 4:5-12). Dan Tuhan Yesus sendiri dengan tegas berkata dalam Yohanes 14:6, ""Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku."

Saudaraku, jangan pernah percaya kepada pepatah klasik yang berkata, "banyak jalan menuju Roma karena itu juga banyak jalan menuju Surga." Ini peribahasa omong kosong. Peribahasa yang amat menyesatkan manusia. Juga ada filosofi yang menyesatkan (mendaki gunung bisa dari sebelah barat, utara, Timur, dan Selatan, tapi pada akhirnya sampai juga ke puncak. Juga aliran sungai bisa dari mana-mana tetapi akhirnya juga menuju ke satu tempat, laut).  Ini bukan peribahasa dan filosofinya Tuhan. Peribahasa yang benar adalah, "Banyak jalan menuju ke neraka, tetapi hanya satu jalan menuju ke surga yaitu hanya melalui Tuhan Yesus Kristus saja." Inilah pepatah yang benar 100%! Orang-orang dunia ini seringkali suka menghina Tuhan kita. Mereka berkata, "Allahnya orang Kristen itu katanya mahakuasa tetapi koq picik dan sempit hanya menyediakan satu jalan menuju surga?" R.C. Sproul mengatakan dengan indahnya, "Pertanyaan orang-orang dunia ini keliru. Seharusnya manusia itu bertanya, "mengapa masih ada jalan untuk manusia bisa selamat masuk ke dalam surga?"  Jadi, pertanyaan mengapa hanya ada satu jalan yang disediakan Allah menuju surga, adalah pertanyaan yang salah. Yang seharusnya manusia pertanyakan adalah mengapa masih ada jalan bagi manusia berdosa menuju ke surga?

Benar Saudaraku, status, sifat-sifat, dan perilaku dosa manusia yang melekat dalam dirinya tidak mungkin ada lagi jalan menuju surga. Kita semua pantas dilemparkan dalam api neraka yang bernyala-nyala. Kita sudah terlalu jahat di mata Tuhan yang mahakudus. Namun karena cinta kasih-Nya semata, Ia rindu menyelamatkan kita dari penderitaan kekal. Itu sebabnya Yesus diutus datang ke dunia ini pada malam natal yang pertama sebagai jawaban atas suluruh kebutuhan manusia akan keselamatan kekalnya.

Terhadap pribadi Yesus Kristus yang tiada bandingan-Nya, yang tiada saingan-Nya, dan yang tiada tandingan-Nya serta yang tiada sandingan-Nya inilah para malaikat dan bala tentara sorga yang besar menaikkan puji-pujian.

5. Ayat 13-14:  Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya:  "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya."

            Dan selanjutnya kita lihat

6. Ayat 15-20:  Setelah malaikat-malaikat itu meninggalkan mereka dan kembali ke sorga, gembala-gembala itu berkata seorang kepada yang lain: "Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita."16  Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan.17  Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu.18  Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka.19  Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.20  Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.

            Para gembala dengan segala kepolosan dan kesederhanaan mereka, mereka percaya akan kabar mulia yang disampaikan malaikat Tuhan. Dan tidak sekadar berhenti pada iman secara kognitif (akaliah = to believe) semata, tetapi mereka langsung mengaplikasikan iman itu melalui tindakan mereka (to trust). Mereka dengan cepat pergi menjumpai Yesus Sang Raja Damai itu. Dan juga tidak berhenti di situ saja, setelah mereka menemukan Yesus mereka pulang menyaksikan kepada dunia ini tentang Yesus dan mereka memuji dan memuliakan Allah. Dis ini kita melihat ada empat langkah yang dilakukan para gembala yaitu: 1. Percaya sungguh-sungguh kepada firman Tuhan. 2. Melakukan pesan firman Tuhan. 3. Bersaksi kepada dunia tentang kebenaran firman Tuhan. Dan 4. Hidup memuji dan memuliakan Tuhan.

            Oh ini adalah damai sejahtera yang tak tertandingi dengan apapun juga. Para gembala ini miskin secara materi, kuasa, dan jabatan, tetapi mereka begitu amat kaya dalam sukacita dan damai sejahtera. Hal ini tidak pernah dimiliki oleh raja Herodes yang punya kedudukan besar di Yudea. Juga tidak dimiliki oleh orang-orang terhormat pada waktu itu, seperti para iman besar dan ahli-ahli agama Yahudi saat itu.

            Bagaimana dengan kita ketika merayakan natal saat ini? Apakah kita sungguh menyadari bahwa kita adalah manusia berdosa yang pantas dibawa ke dalam penghukuman mengerikan dalam neraka kekal? Maukah Saudara dan Saya menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat  satu-satunya dalam hidup pribadi kita? Dan maukah kita menyaksikan kepada dunia ini bahwa Yesus telah datang ke dunia untuk menyelamatkan orang-orang berdosa dari maut kekal? Dan maukah kita di sepanjang hidup ini memuji dan memuliakan Tuhan Yesus yang sudah menjadi Tuhan dan Juruselamat kita?

            Jika Saudara dan Saya mau melakukan empat hal ini di hari natal ini, marilah kita nyatakan dengan sungguh-sungguh di hadapan Tuhan Yesus melalui doa kita saat ini. Mari kita berdoa ……        

Merry Christmas 25 Desember 2012 and happy New Year 1 januari 2013
Immanuel!!!!!!! 



[1] Betlehem (Ibrani: Rumah roti) adalah sebuah kota kecil yang terletak di kawasan pertanian sekitar 8 km selatan Yerusalem. Efrata adalah nama sebuah suku yang tinggal di Betlehem atau daerah sekitarnya (Rut 1:2;4:11; 1Samuel 17:12) dan mungkin nama lain untuk kota itu. Bethlehem adalah kampung halaman Daud, raja Israel (1Samuel 16:1). Dalam PB, kelahiran Yesus di Bethlehem dilihat sebagai penggenapan nubuat Mikha dalam 5:1-4 (Matius 2:1-6, Lukas 2:4-7, Yohanes 7:42).

Baca Terusannya »»  

Senin, 12 November 2012

Ahok wakil gubernur DKI Jakarta saksi Kristus

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
-->
Salom Saudara Saudariku seiman di dalam Yesus Kristus. Silakan klik ini:
http://www.youtube.com/watch?v=ipsJ4nEbXbU&feature=g-logo-xit

Kita melihat seorang Ahok sebagai murid Kristus dengan penuh keberanian menjadi seorang pemimpin (Wakil Gubernur DKI Jakarta) yang melayani rakyat. Ini menjadi suatu teladan bagaimana menjadi garam dan terang sejati di tengah kondisi yang sudah busuk, membusuk, dan membusukkan ini. Dan kita harus mendoakan Ahok karena banyak dimusuhi para pendosa yang tidak menyukai pemikiran, perkataan, dan perilakunya yang melibas habis ketidakbenaran dan ketidakadilan di negeri ini. Kita bersyukur Ahok (juga Jokowi) telah menjadi model kepemimpinan baru di Indonesia. Pemimpin yang melayani rakyat, jujur, bersih, transparan, profesional, berani, tegas, keras, dan takut akan Tuhan. Saya percaya mereka sanggup membawa kesejahteraan dan kemakmuran bagi Indonesia. Indonesia masih ada harapan bangkit dari keterpurukan dengan gaya kepemimpinan yang demikian. Inilah waktunya kita para murid Kristus bangkit tanpa takut dan gentar menjalankan fungsi kita sebagai garam dan terang bagi Indonesia!!! Buang segala sikap mental multiminder yang selama ini kita pegang kuat-kuat! Bersama Yesus Tuhan dan Juruselamat kita, kita melayani bangsa tercinta ini demi kemuliaan-Nya! Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin!!!


--
In Christ's Love
Hans
"Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam! (Kisah Para Rasul 18:9b).
Baca Terusannya »»  

Sabtu, 10 November 2012

SUMPIT

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Pepatah mengatakan "ala bisa karena biasa". Suatu hari ketika
menghadiri undangan pelayanan di salah satu gereja di Tasikmalaya,
setelah kebaktian pertama selesai kami diajak untuk sarapan pagi di
lobi gereja. Pada waktu itu hamba Tuhan di gereja tersebut telah
memesan sarapan pagi yaitu mie yang tentu rasanya enak. Walaupun
makanannya enak, tetapi beberapa diantara teman-teman ketika hendak
makan mengalami kesulitan karena alat yang dipakai makan bukan sendok
tetapi sumpit. Bahkan ada di antara mereka yang pergi ke tempat
penginapan untuk makan, karena mungkin dia malu karena tidak bisa
menggunakan sumpit.

Pengalaman ini mengingatkan saya bahwa segala sesuatu ketika tidak
dibiasakan maka kita akan mengalami kesulitan atau kendala saat
menghadapi sesuatu hal. Sama halnya dengan penggunaan sumpit di atas,
ketika kita melihat orang yang sudah terbiasa menggunakan sumpit, maka
mereka sungguh menikmati makan dengan sumpit. Demikian juga dalam hal
kerohanian, jika kita membiasakan diri dalam hal-hal yang bersifat
rohani maka kita akan menikmati persekutuan yang manis dengan Tuhan.
Misalnya saat teduh, jika kita sudah terbiasa melakukan saat teduh,
maka kita akan merasa kehilangan sesuatu jika kita tidak melakukan
saat teduh. Jika kita membiasakan diri membaca Alkitab, maka rasanya
ada sesuatu yang kurang jika tidak membaca Alkitab. Jika kita
membiasakan diri untuk setia dalam beribadah, maka akan terbangun
hubungan yang harmonis dengan Tuhan. Dengan membiasakan diri terhadap
hal-hal rohani, akan mengantarkan kita mengalami keintiman dengan
Tuhan. Firman Tuhan katakan: Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari
pada-Nyalah keselamatanku. Hanya Dialah gunung batuku dan
keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah. Hanya pada Allah
saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku. Hanya
Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan
goyah. Pada Allah ada keselamatanku dan kemuliaanku; gunung batu
kekuatanku, tempat perlindunganku ialah Allah. Percayalah kepada-Nya
setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah
ialah tempat perlindungan kita. By: Adrianus Pasasa
Baca Terusannya »»  

Jumat, 09 November 2012

DI RUMAH TUHAN BANYAK ORANG TIDAK TAKUT TUHAN

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
-->
DI RUMAH TUHAN BANYAK ORANG TIDAK TAKUT TUHAN

Hari Minggu, 1 Agustus 2010 jam 8.00 WIB saya bersama Sekretaris umum Sinode Gereja-Gereja Reformasi Indonesia (GGRI) Papua, Pdt. Yan Wambraw menghadiri ibadah di GKRI Abdi Kasih Bandung. Kami berdua, tentu juga seluruh jemaat sangat diberkati firman Tuhan yang disampaikan Pdt. Haeli Hia yang hari itu berkhotbah. Dalam khotbahnya, beliau menceritakan pengalaman masa kecilnya yang sangat berkesan. Papanya mengajarkan kepadanya bagaimana belajar hidup takut akan Tuhan. Ia menceritakan masa kecilnya di kampung halamannya di Pulau Nias ketika berumur enam tahun. Sekali waktu ia bersama beberapa teman sebayanya sedang bermain-main di halaman rumahnya. Tiba-tiba sebuah kelapa tua jatuh ke tanah di halaman sebelah. Dan mereka berlari berjuang untuk mendapatkannya. Akhirnya kelapa tua itu dapat diraih oleh Pdt. Haeli kecil. Lalu kelapa itu dibawanya ke rumahnya dengan senangnya. Pada waktu kelapa itu sampai di rumahnya, papanya bertanya, "Nak, dari mana kelapa itu kau dapat?" "Dari rumah kakek di sebelah pa", jawabnya. "Oh kalau begitu kelapa itu miliknya kakek. Itu bukan milik kita! Jadi sekarang simpan kelapa itu di sini, nanti kakek pulang engkau harus kembalikan kepadanya. Walaupun kakek tidak lihat kelapanya jatuh, tapi Tuhan melihatnya. Jangan mencuri milik orang lain", demikian jawaban papanya. Saudara, menurut Pdt. Haeli ajaran papanya beberapa puluh tahun lampau tentang takut akan Tuhan itu sangat berkesan sampai hari ini. Ini sangat membekas di ingatannya, sehingga dalam pelayanan ia takut mengambil yang bukan miliknya termasuk takut korupsi uang gereja. Sungguh pada hari Minggu itu kami berdua sangat diberkati. Sampai di rumah saya, kami berdua masih terus mendiskusikan tema tentang takut akan Tuhan itu. Tema ini begitu penting dan sentral dalam menjalani jalan persembahan melayani-Nya. Kami rindu di sinode gereja kami masing-masing hidup takut akan Tuhan menjadi komitmen perjuangan pelayanan kami hingga akhir. Kami rindu bilakah seluruh pemimpin gereja Indonesia dan semua orang Kristen Indonesia hidup takut akan Tuhan? Indonesia pasti berubah. Indonesia pasti akan memuliakan Tuhan Yesus Kristus!!!

Begitu banyak ayat-ayat firman Tuhan tentang takut akan Tuhan tersebar di dalam Alkitab. Takut akan Tuhan mengandung makna menghormati dan mengagumi Tuhan sebagai pribadi yang Maha segalanya. Bukan sekadar takut seperti seorang Muhammad Nazaruddin yang melaikan diri sampai ke Kolombia karena takut kepada Abaraham Samad dan kawan-kawannya di KPK yang akan menghukumnya karena kasus-kasus korupsi yang dilakukannya. Bukan begitu. Sejatinya si koruptor tidak pernah takut berbuat dosa. Ia hanya takut mendapat hukuman penjara karena sudah terlanjur merampok uang negara atau uang perusahaan. Seseorang yang takut akan Tuhan, tidak akan mau mencuri barang sekecil apapun karena ia mengenal Tuhannya. Ia tidak tega melukai hati Tuhan. Ia tidak mau merampok bukan karena takut pada hukuman penjara tetapi karena ia sangat menghormati Tuhan yang disembahnya. Orang yang demikian tidak berani berbuat dosa, meskipun ada kesempatan baginya baik ada atau tidak ada orang yang melihatnya.

Di sebuah kampung Kristen, ada seorang pendeta yang suka sekali memelihara pohon mangga arum manis. Ia merawatnya dengan rajin dan telaten. Setiap hari ia menyiram pohon mangganya dengan air dan memberikan pupuk secara teratur. Ia sangat menyayangi pohon mangganya. Tidak lama kemudian pohon mangganya mulai berbunga. Akhirnya berbuah sepuluh buah. Pak pendeta begitu girangnya. Saking senangnya, ia membungkus buah-buah mangga itu dengan plastik. Namun ketika bangun di suatu pagi, betapa kagetnya ia. Lima buah mangga telah hilang dicuri orang. Hatinya gundah gulana. Dalam hatinya ia berkata, "Siapa yang kurang ajar mencuri buah mangga kesayangan Saya ini?" Tiba-tiba idenya muncul. Ia mengambil spidol dan menulis di sebuah papan tripleks lalu ia pakukan di batang pohon mangga tersebut. Harapannya, si pencuri tidak akan berani lagi mencuri lima buah mangga yang tersisa itu. Besoknya ia cepat-cepat bangun pagi untuk melihat mangganya. "Oh haleluyah, manggaku selamat!", demikian serunya dengan gembira. Lusanya juga demikian. Mangganya masih tetap utuh lima buah. Pak pendeta sengaja belum mau memetiknya karena ingin mangga-mangga yang tersisa itu matang di pohon. Tinggal sehari lagi mangga itu matang untuk dipetik. Besoknya ketika bangun pagi, ternyata lima mangga itu raib semuanya. Pak pendeta kecewa bercampur marah. Dan ia menjadi lebih marah lagi karena ia menemukan ada tulisan baru yang ditulis oleh si pencuri di bawah tulisannya terdahulu. Rupanya pak pendeta menulis begini, "Biar Saya tidak melihat engkau mencuri, tetapi Tuhan di atas melihatmu!!!" Dan si pencuri ternyata menambahkan sebuah tulisan di bawah tulisan itu, "Biar Tuhan lihat, tetapi Dia tidak marah karena Dia sayang pada Saya hehehe…."

Pada faktanya, di rumah Tuhan banyak orang tidak takut Tuhan. Acapkali gereja dipandang oleh sebagian besar orang Kristen bahkan para hamba Tuhan sebagai tempat yang penuh kasih dan pengampunan. Itu sebabnya gereja atau ladang pelayanan merupakan tempat yang paling aman dan nyaman untuk berbuat dosa dan kesalahan. Ya, karena kalau berbuat dosa dan salah pasti ada maaf bin maklum yang berlimpah ruah. Ada kasih dan ampunan. Tidak ada penghukuman. Apalagi sekarang tidak ada disiplin gerejawi bagi yang berdosa. "Kalau kena disiplin gerejawi langsung pindah saja ke gereja lain. Gitu aja koq repot?", demikian kata para petualang dosa dalam gereja. Mana mungkin pak pendeta atau majelis atau jemaat tega memperkarakan masalah perzinahan, poligami, korupsi, perjudian, pemfitnahan, sampai di pengadilan dunia. Itukan hanya mempermalukan nama Kristen alias nama Tuhan Yesus. Juga  tidak sedikit pendeta yang tidak mau peduli dengan jemaatnya berdosa. Yang penting jemaat itu beruang harus dipelihara. Dia sumber income yang wah. Tiang penopang gereja bukan? Bukan Yesus yang kepala gereja. Beberapa waktu lalu ada guru TK Kristen menceritakan pada Saya bahwa di sekolahnya para guru menemukan VCD porno. Entah itu milik siapa. Yang jelas bukan milik guru-guru di TK Kristen tersebut. Karena kalau itu punya mereka, ya mana mungkin mereka ekspose berita ini. Jadi, VCD porno itu milik siapa? Yang jelas ada yang punya. Pemiliknya adalah setan di rumah Tuhan bukan?

Itu sebabnya memang enak sekali berbuat dosa di dalam gereja atau di ladang pelayanan. Ahoy melayani di ladang Tuhan. Betapa manisenya, karena bermalas-malasan, seenak udel melayani, mengadu domba supaya terjadi perpecahan dalam jemaat, mencuri uang gereja atau yayasan pelayanan, menonton film porno, memfitnah sana-sini, menipu sana-sini, melanggar aturan yang ada, tidak mau membesuk jemaat, membanting-banting meja dan kursi dalam rapat gereja, berjudi di ruangan gereja, memakai uang kas gereja untuk modal usaha pribadi, memakai persembahan perpuluhan untuk membeli mobil, rumah, dan vila mewah pribadi, saling jegal menjegal sesama pelayan Tuhan, datang ibadah telat (padahal kalau ke kantor atau ke sekolah takut sekali telat. Lebih takut bos atau guru daripada takut sama Tuhan), tokh tidak ada yang akan memarahi dan tidak ada yang akan melapor ke polisi. Bahkan Tuhan pun pasti memberikan ampunan, sebab Dia maha panjang sabar dan penuh belaskasihan. Tak terukur kasih-Nya. Pokoknya aman dan nyaman deh berbuat dosa di dalam rumah Tuhan.

Saya punya pengalaman menarik. Saya bertemu dengan pasutri pelayan Tuhan yang waktu itu baru saja di "PHK" dari sebuah gereja. Suami istri ini sangat stres. Teman-teman mereka sepelayanan semuanya diceritakan serba negatif. Karena prihatin, Saya mengajak mereka untuk merintis bersama sebuah gereja baru di Indonesia yang dipercayakan seorang pendeta senior. Saya dan pendeta senior sepakat menjadikannya gembala jemaat.  Begitu juga Saya mengajak  mendirikan sebuah yayasan untuk pelayanan pendidikan murah. Dan kami sepakat agar istrinya menjadi ketua yayasan dan untuk sementara merangkap kepala sekolah. Ini semua demi mengangkat mereka kembali tegar dalam melayani Tuhan. Singkat cerita, setahun kemudian ia dipendetakan. Betapa senangnya ia. Kalau dulu sebagai "kondektur" maka sekarang ia menjadi "sopir." Setelah memasuki tahun ketiga pelayanan, ada seorang jemaat menceritakan pada Saya bahwa ia heran dan sedih, karena si pendeta baru ini dan istrinya menjelek-jelekan Saya. Ia bilang, "Koq kenapa pendeta menjatuhkan pendeta ya?" Hehehe... rupanya jemaat ini baru tahu kalau ada pendeta yang melayani di rumah Tuhan tetapi tidak takut pada Tuhan. Begitu juga istrinya sebagai ketua yayasan pada akhirnya merapatkan barisan dan mulai mengadakan rapat-rapat terselubung meninggalkan anggota yayasan lainnya seolah-olah dia yang paling berjasa dalam yayasan itu. Padahal tidak mampu bekerja. Laporan keuangan tidak beres. Dana-dana yang Saya cari sampai ke luar negeri untuk kepentingan pembelian lahan dan pembangunan gedung, akhirnya  tidak jelas dikemanakan. Padahal sudah ada kesepakatan bahwa dana-dana khusus tersebut tidak boleh dipakai untuk alasan apapun. Saya minta laporan tetapi sampai hari ini tidak pernah diberikan. Pada akhirnya mereka kewalahan tidak mampu meneruskan pelayanan itu. Terakhir ada kabar bahwa sekolah itu akan diserahkan kepada yayasan gereja lainnya. Sebenarnya ada banyak kisah pilu di rumah Tuhan. Pendek kata, di rumah Tuhan ada banyak orang tidak takut Tuhan.

Itu sebabnya kita dapat memaklumi apa yang dikatakan Friedrich Nietzsche, "Saya akan percaya pada Sang Penebus bila orang Kristen sedikit saja terlihat sebagai orang yang telah ditebus." Dan Mahatma Gandhi mengatakan, "Saya menyukai Kristus mereka, tetapi Saya tidak menyukai orang-orang Kristennya." Bagaimana dengan Saudara dan Saya? Bisakah kita mematahkan tudingan Nietzsche dan Gandhi itu? Apakah di dalam dada kita masih ada rasa takut, hormat, dan kagum akan Tuhan? Ya, Tuhan yang sudah berkorban bahkan mati di kayu salib demi keselamatan kekal kita? Ataukah kita masih suka bersembunyi di dalam rumah Tuhan untuk bermain-main dengan dosa dan tidak ada rasa takut secuilpun akan Tuhan? Saudaraku, camkanlah dan peganglah firman Tuhan ini seumur hidup kita, "Malaikat TUHAN berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia, lalu meluputkan mereka. Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya! Takutlah akan TUHAN, hai orang-orang-Nya yang kudus, sebab tidak berkekurangan orang yang takut akan Dia! (Mazmur 34:8-10).

Mari, sekarang juga, kita jadikan Rumah Tuhan, gereja, ladang pelayanan sebagai tempat kita berteduh dan melayani Dia dan sesama dalam takut akan Tuhan. Dan ingatlah, tubuhku dan tubuhmu sejatinya adalah Rumah Tuhan. "Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, —dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!" (1Korintus 6:19-20). Sudahkah kita memuliakan Allah dengan tubuh kita ini? Benarkah? Kiranya Tuhan menopang kita untuk semakin memuliakan-Nya sampai akhir hidup kita kelak. Amin! (Rev. Andrias Hans).
Baca Terusannya »»  

Senin, 05 November 2012

Membangun Kehidupan Keluarga Yang Beriman

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
-->
Membangun Kehidupan Keluarga Yang Beriman

"Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN,
pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah;
allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat,
atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini.
Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!"
(Yosua 24:15) 
--------------------------

Musa memimpin orang Israel di padang gurun selama empat puluh tahun sesudah mereka dibebaskan dari perbudakan di Mesir. Ketika mereka berkemah di dataran Moab di sebelah timur Sungai Yordan, Musa meninggal dunia. Dan Yosua dipilih Tuhan untuk menjadi pemimpin yang baru menggantikan Musa (Yosua 1:1-3). Janji Tuhan kepada Abram lima ratus tahun sebelumnya (Kejadian 12:1-2, 15:7-21) dan diulangi lagi kepada Yosua (Yosua 1:1-8) akan segera digenapi. Keturunan Abram, orang Israel, siap mengambil alih negeri Kanaan. Namun ini bukanlah hal yang mudah karena orang-orang lain sudah tinggal di Kanaan selama ribuan tahun. Mereka sudah membangun kota-kota berbenteng, mengolah tanahnya, dan tentunya mereka tidak mau memberikan begitu saja tanah mereka kepada orang Israel.

Nama "YOSUA" berarti "Tuhan menyelamatkan." Kitab Yosua bercerita tentang bagaimana suku-suku Israel menaklukkan dan membagi-bagi tanah Kanaan. Tanah yang dijanjikan Tuhan. Peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam kitab Yosua terjadi sekitar tahun 1250-1225 SM (BC = Before Christ).

Dalam kitab Yosua kita melihat Tuhan sendiri adalah pahlawan yang menolong umat Israel melalui kepemimpinan Yosua untuk menaklukkan tanah Kanaan. Tuhan menolong mereka dengan cara yang ajaib. Sama seperti Tuhan menolong Musa dengan membelah Laut Teberau (Keluaran 14) demikian juga Tuhan membuat aliran Sungai Yordan berhenti mengalir ketika para imam Israel menjejakkan kaki mereka ke dalam air sungai itu (Yosua 3:1-17).  Dan sesudah menyeberangi sungai dan tiba di Gilgal, mereka membuat sebuah tugu peringatan menggunakan 12 batu. Satu batu untuk setiap suku Israel. Lalu mereka berkemah di sana.

Setelah ini, orang Israel mempersiapkan diri untuk merebut Yerikho, kota berbenteng di atas bukit di jalur perdagangan yang subur. Penaklukkan kota Yerikho terjadi dengan sangat ajaib. Sesudah para imam dan tentara Israel berjalan mengelilingi kota selama 7 hari sesuai perintah Tuhan, para imam membunyikan terompet dan orang Israel berteriak, maka tembok kota Yerikho runtuh total (Yosua 6:1-20). Dari Yerikho, Yosua dan seluruh orang Israel bergerak masuk ke bagian-bagian wilayah Kanaan yang lain. Salah satunya pertempuran di Gibeon. Di sini Tuhan melempari tentara musuh dengan batu-batu besar dari langit dan menghancurkan mereka (Yosua 10:11).

Karya Tuhan sangat spektakuler  dalam kehidupan bangsa Israel yang sedang menuju ke tanah Kanaan di bawah kepemimpinan Yosua. Bangsa Israel dapat terus memiliki tanah Kanaan hanya dengan mematuhi hukum Tuhan. Hal ini ditekankan dalam dua pidato Yosua yang terdapat dalam Yosua 23:1-24:28. Namun di zaman kepemimpinan Yosua, belum semua tanah Kanaan dapat direbut oleh bangsa Israel (lihat Hakim-Hakim 1). Seluruh wilayah itu baru bisa diambil alih pada zaman raja Daud (sekitar tahun 1000 SM) yakni ketika seluruh suku Israel sudah bersatu dalam sebuah kerajaan yang berdiri di tanah Kanaan.

Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus. Ada hal yang sangat menarik untuk dipelajari dari kisah Yosua ketika mereka telah berada di tanah Kanaan. Ini pelajaran yang sangat penting untuk menjadi peringatan keras bagi kita umat Tuhan di zaman ini. Pada waktu itu, kebudayaan dan agama Kanaan sangat berpengaruh terhadap orang-orang Israel selama berabad-abad lamanya. Ibadah kepada ilah-ilah bangsa Kanaan inilah yang merupakan salah satu penyebab runtuhnya kerajaan utara (Israel) pada tahun 722 SM dan kerajaan selatan (Yehuda) pada tahun 586 SM.  Orang Kanaan menyembah banyak dewa-dewi yang tergabung dalam suatu dewan ilahi. El (allah), bapa dari dewa-dewi lainnya dan seluruh manusia, merupakan kepala dewan itu. Dia tinggal dalam sebuah surga kosmik di mana dewa-dewi lain bisa datang untuk menjumpainya. Baal ("tuan") juga dikenal sebagai Hadad, sebagai dewa yang paling populer. Perlahan-lahan Baal mengambil alih kebanyakan peran dan sifat El. Baal disembah sebagai dewa hujan badai dan kesuburan.

Dewa-dewa Kanaan lain yang serupa dengan Baal adalah Melkar (dewa orang Tirus), Kemos (dewa orang Moab),  Milkom, Molek/Molokh (dewa orang Amon), Tamus (dewa orang Siria sebagai dewa yang membuat alam hampir mati tetapi menghidupkannya lagi), dan Dagon (dewa orang Filistin sebagai dewa tumbuh-tumbuhan). Juga ada dewi-dewi Kanaan terutama berperan sebagai dewi-dewi kesuburan yang dipercaya akan memberikan panen yang subur, berlimpah, dan juga memperbanyak jumlah ternak. Asyera/Asytoret adalah ibu tujuh puluh dewa-dewi dan istri El dalam mitos-mitos kuno. Istilah Asyera juga dipakai untuk tugu atau pohon (tiang) berhala yang dipasang sebagai simbol kesuburan (1Raja-Raja 14:23, Ulangan 16:21). Lalu, ada Anat. Dia adalah Saudari perempuan Baal sekaligus istrinya. Ia sebagai dewi perang yang terkenal dengan tindakannya yang keras, kejam, dan penuh lumuran darah terhadap mereka yang melawannya.

Ketika orang Israel mendiami Kanaan dan menjadi petani, sebagian dari mereka mulai menyembah Baal, bukan menyembah Tuhan yang sejati. Ini mereka lakukan karena mereka berharap bahwa Baal akan memberikan panen yang berlimpah dan kawanan ternak yang banyak.

Itu sebabnya ketika Yosua semakin tua dan sebelum meninggal dunia, Yosua memanggil semua suku (12 suku) untuk hadir dalam pertemuan di Sikhem. Dalam pidato perpisahannya yang dapat kita baca mulai dari Yosua 23-24, Yosua menantang umat Israel untuk tetap setia kepada Tuhan dan tidak akan pernah menyembah ilah yang lain (Yosua 24:14-24). Yosua menantang bangsanya dengan berkata:

1.      Kuatkanlah benar-benar hatimu dalam memelihara dan melakukan segala yang tertulis dalam kitab hukum Musa, supaya kamu jangan menyimpang ke kanan atau ke kiri,  dan supaya kamu jangan bergaul dengan bangsa-bangsa yang masih tinggal di antaramu itu, serta mengakui nama allah mereka dan bersumpah demi nama itu, dan beribadah atau sujud menyembah kepada mereka.  Tetapi kamu harus berpaut pada TUHAN, Allahmu, seperti yang kamu lakukan sampai sekarang (Yosua 23:6-8).

2.      Bukankah TUHAN telah menghalau bangsa-bangsa yang besar dan kuat dari depanmu, dan akan kamu ini, seorangpun tidak ada yang tahan menghadapi kamu sampai sekarang.  Satu orang saja dari pada kamu dapat mengejar seribu orang, sebab TUHAN Allahmu, Dialah yang berperang bagi kamu, seperti yang dijanjikan-Nya kepadamu.  Maka demi nyawamu, bertekunlah mengasihi TUHAN, Allahmu (Yosua 23:9-11).

3.      Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN.Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!"(Yosua 24:14-15) 

Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus, dalam pidatonya yang terakhir kalinya di hadapan bangsa Israel, Yosua menyampaikan komitmennya yang sangat kokoh, tegas, dan jelas. Bahwa apapun yang terjadi dan sekalipun seluruh bangsa Israel mau menyembah dewa-dewi Kanaan bahkan apabila mereka mau seperti nenek moyang mereka waktu di Mesir menyembah lembu suci yang melambangkan Apis (dewa kesuburan), Yosua tetap akan beribadah hanya kepada Allah saja. Yosua berseru kepada bangsa Israel, "tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!

Bagi Yosua, orang yang dipilih Tuhan, Tuhan adalah harga mati. Yosua adalah seorang pribadi yang memiliki iman kepada Tuhan yang sangat kokoh. Ia begitu memelihara iman pribadinya. Tidak saja itu, ia juga berkomitmen sangat tinggi terhadap bangunan iman keluarganya. Dia menegaskan kepada seluruh umat Israel, "Aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan! Yosua berpuluh-puluh tahun telah melihat bagaimana Tuhan yang Musa, dan dia serta bangsa Israel ikuti  itu belum pernah mengecewakannya. Sebaliknya Yosua mengalami dan merasakan sendiri betapa Tuhan sangat baik. Ia mahakasih dan mahaadil dalam memelihara hidup bangsa Israel. Tuhan memelihara bangsanya dengan begitu ajaib. Pada waktu siang ada tiang awan yang melindungi mereka dari panasnya terik matahari dan pada waktu malam ada tiang api yang menghangatkan mereka dari dinginnya padang gurun serta menerangi jalan mereka menuju tanah Kanaan. Dan pada waktu Yosua sendiri emmimpin israel memasuki tanah Kanaan, ia pun mengalami mujizat demi mujizat Tuhan sehingga mereka berhasil menduduki tanah Kanaan yang dijanjikan Tuhan itu.

Itu sebabnya, Yosua menantang bangsa Israel untuk tetap beriman hanya kepada Allah saja. Bukan kepada dewa-dewi yang ada di sekeliling mereka. Yosua berhasil membangun kehidupan keluarga yang beriman hanya kepada Allah saja. Yosua taat kepada firman Tuhan sehingga ia mengajarkan firman Tuhan itu berulang-ulang kepada anak-anaknya dan istrinya. Dan pada waktu Yosua berada di rumah, ia membicarakan kebenaran-kebenaran firman Tuhan. Bahkan ketika ia sedang dalam perjalanan memasuki wilayah demi wilayah, ia tidak pernah luput berbicara tentang fiorman Tuhan. Dalam setiap kesempatan Yosua terus mengajarkan firman Tuhan kepada keluarganya.

Sehingga dari keluarganya yang beriman kuat kepada Allah, mereka memberikan pengaruh yang sama kepada keluarga-keluarga orang Israel. Dan pada akhirnya seluruh bangsa Israel beriman kepada Tuhan. Hal ini dijelaskan dalam Yosua 24:31, "Orang Israel beribadah kepada TUHAN sepanjang zaman Yosua dan sepanjang zaman para tua-tua yang hidup lebih lama dari pada Yosua, dan yang mengenal segenap perbuatan yang dilakukan TUHAN bagi orang Israel."

Inilah teladan yang sangat indah dari kehidupan Yosua. Dirinya, keluarganya, dan bangsanya yang hidup di tengah-tengah agama dan kebudayaan Kanaan yang penuh berhala tidak membuat mereka terbawa arus, hanyut, dan terhilang. Justru mereka konsisten dengan setia beribadah hanya kepada Allah. Yosua telah berhasil membangun kehidupan keluarganya beriman kepada Allah. Mereka tidak dapat dipengaruhi dengan budaya dan agama duniawi yang menyesatkan.

Saudaraku yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, benar pendapat ini. Jatuh bangunnya suatu bangsa terletak pada jatuh bangunnya sebuah keluarga. Keluarga yang kuat menciptakan suatu bangsa yang kuat pula. Dan keluarga yang kuat hanya bisa terjadi bila anggota keluarganya hidup beriman hanya kepada Tuhan saja. Firman Tuhan berkata dalam Yeremia 17:7-8, "Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah."

Kita sekarang hidup sama dengan hidup Yosua dan keluarganya serta  umat Tuhan pada waktu itu. Kita tinggal di tengah-tengah banyaknya berhala-berhala postmodern yang setiap detik mengancam iman kita kepada Tuhan Yesus. Kita hidup di dalam dunia yang semakin bobrok. Manusia tidak lagi hidup dengan standar Tuhan. Saat ini kita hidup di hari-hari terakhir masa yang penuh kesukaran. Kita hidup di antara manusia yang mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Yang membual dan menyombongkan diri, pemfitnah. Kita hidup dengan lingkungan anak-anak yang suka memberontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik,  suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah. Kita hidup di tengah-tengah orang yang secara lahiriah menjalankan ibadah, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Dan kita sedang hidup di dalam dunia yang tidak pernah dapat mengenal kebenaran (2Timotius 3:1-7).

Saudaraku, bagaimana dengan hidup Saudara dan Saya? Bagaimana dengan hidup keluarga Saudara dan keluarga Saya? Apakah kita sama dengan Yosua dengan memegang prinsip hidup yang kuat? Apakah kita khususnya kaum pria sebagai pemimpin dan imam bagi keluarga kita, masih konsisten membangun kehidupan keluarga yang beriman kepada Tuhan Yesus saja? Ataukah kita sedang menanamkan filosofi dunia kepada keluarga kita? Mengejar kekayaan dunia ini lebih dari pada mengejar iman yang sejati kepada Tuhan Yesus saja? Ingatlah Saudaraku, Tuhan Yesus pernah berkata dan Ia masih terus berkata kepada kita sampai saat ini, "Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?(Matius 16:26).  Sekarang evaluasilah motivasi hidupmu yang paling dalam saat ini. Ketika engkau melayani saat ini, apa sejatinya yang engkau cari? Popularitaskah? Sanjungankah? Dihormatikah? Tuhan atau berkat Tuhan? Beda tipis Saudaraku. Murnikan motivasi pelayanan Saudara dan Saya bila kita mau menikmati hari-hari indah dijalan perembahan ini.

Saudaraku, apakah kita seperti Yosua berani berkata, "Aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan!" Apakah kita juga seperti Yosua dan keluarganya yang dapat mempengaruhi bangsanya? Sehingga bangsanya juga dengan tegas berkata, "Jauhlah dari pada kami meninggalkan TUHAN untuk beribadah kepada allah lain!  Sebab TUHAN, Allah kita, Dialah yang telah menuntun kita dan nenek moyang kita dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan, dan yang telah melakukan tanda-tanda mujizat yang besar ini di depan mata kita sendiri, dan yang telah melindungi kita sepanjang jalan yang kita tempuh, dan di antara semua bangsa yang kita lalui,  TUHAN menghalau semua bangsa dan orang Amori, penduduk negeri ini, dari depan kita. Kamipun akan beribadah kepada TUHAN, sebab Dialah Allah kita. Hanya kepada TUHAN saja kami akan beribadah. Kepada TUHAN, Allah kita, kami akan beribadah, dan firman-Nya akan kami dengarkan (Yosua 24:16-18, 21, 24).

Tuhan Yesus kiranya berbelas kasihan kepada kita hamba-hamba-Nya yang tidak becus ini. Amin! (Rev. Hans).




Baca Terusannya »»  

Berita Terkini

« »
« »
« »
Get this widget

Daftar Blog Saya

Komentar