Tulisan Jalan

Hidupku untuk mengharumkan nama-MU Jangan bersukcita ketika engkau berhasil dalam pelayanan, tetapi bersukcitalah karena namamu tercatat di Surga

Kau istimewa. Di seluruh dunia, tidak ada orang yang sepertimu. Sejak bumi diciptakan tidak ada orang lain yang sepertimu. Tidak ada orang lain yang memiliki senyummu, tidak ada yang memiliki matamu, hidungmu, rambutmu, tanganmu, suaramu. Kau istimewa. Tidak ada orang lain yang memiliki tulisan yang sama denganmu. Tidak ada orang lain yang memiliki selera akan makanan, pakaian, musik, atau seni sepertimu. Tidak ada orang lain yang memiliki cara pandang sepertimu. Sepanjang masa tidak ada orang lain yang tertawa sepertimu, tidak ada yang menangis sepertimu. Kaulah satu di antara seluruh ciptaan yang memiliki kemampuan seperti yang kau miliki. sampai selamanya, tidak akan ada orang yang akan pernah melihat, berbicara, berjalan, berpikir, atau bertindak seperti dirimu. Kau istimewa...kau langka. Tuhan telah menjadikanmu istimewa dengan satu tujuan yaitu MEMULIAKAN DIA

Cari Blog Ini

Senin, 29 Oktober 2012

TIGA MACAM TABIAT

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***

Jakarta, Selasa, 16 Juni 1970. Ruangan intensive care RSPAD Gatot Subroto dipenuhi tentara sejak pagi. Serdadu berseragam dan bersenjata lengkap bersiaga penuh di beberapa titik strategis rumah sakit tersebut. Tak kalah banyaknya, petugas keamanan berpakaian preman juga hilir mudik di koridor rumah sakit hingga pelataran parkir. Sedari pagi, suasana mencekam sudah terasa. Kabar yang berhembus mengatakan, mantan Presiden Soekarno akan dibawa ke rumah sakit ini dari rumah tahanannya di Wisma Yaso yang hanya berjarak lima kilometer. Malam ini desas-desus itu terbukti. Di dalam ruang perawatan yang sangat sederhana untuk ukuran seorang mantan presiden, Soekarno tergolek lemah di pembaringan. Sudah beberapa hari ini kesehatannya sangat mundur. Sepanjang hari, orang yang dulu pernah sangat berkuasa ini terus memejamkan mata. Suhu tubuhnya sangat tinggi. Penyakit ginjal yang tidak dirawat secara semestinya kian menggerogoti kekuatan tubuhnya.

Lelaki yang pernah amat jantan dan berwibawa, dan sebab itu banyak digila-gilai perempuan seantero jagad, sekarang tak ubahnya bagai sesosok mayat hidup. Tiada lagi wajah gantengnya. Kini wajah yang dihiasi gigi gingsulnya telah membengkak, tanda bahwa racun telah menyebar ke mana-mana. Bukan hanya bengkak, tapi bolong-bolong bagaikan permukaan bulan. Mulutnya yang dahulu mampu menyihir jutaan massa dengan pidato-pidatonya yang sangat memukau, kini hanya terkatup rapat dan kering. Sebentar-sebentar bibirnya gemetar. Menahan sakit. Kedua tangannya yang dahulu sanggup meninju langit dan mencakar udara, kini tergolek lemas di sisi tubuhnya yang kian kurus.

Sang Putera Fajar tinggal menunggu waktu. Dua hari kemudian, Megawati, anak sulungnya dari Fatmawati diizinkan tentara untuk mengunjungi ayahnya. Menyaksikan ayahnya yang tergolek lemah dan tidak mampu membuka matanya, kedua mata Mega menitikkan airmata. Bibirnya secara perlahan didekatkan ke telinga manusia yang paling dicintainya ini. "Pak, Pak, ini Ega…" Senyap. Ayahnya tak bergerak. Kedua matanya juga tidak membuka. Namun kedua bibir Soekarno yang telah pecah-pecah bergerak-gerak kecil, gemetar, seolah ingin mengatakan sesuatu pada puteri sulungnya itu. Soekarno tampak mengetahui kehadiran Megawati. Tapi dia tidak mampu membuka matanya. Tangan kanannya bergetar seolah ingin menuliskan sesuatu untuk puteri sulungnya, tapi tubuhnya terlampau lemah untuk sekadar menulis. Tangannya kembali terkulai. Soekarno terdiam lagi. Melihat kenyataan itu, perasaan Megawati amat terpukul. Air matanya yang sedari tadi ditahan kini menitik jatuh. Kian deras. Perempuan muda itu menutupi hidungnya dengan sapu tangan. Tak kuat menerima kenyataan, Megawati menjauh dan limbung. Mega segera dipapah keluar.

Jarum jam terus bergerak. Di luar kamar, sepasukan tentara terus berjaga lengkap dengan senjata. Malam harinya ketahanan tubuh seorang Soekarno ambrol. Dia coma. Antara hidup dan mati. Tim dokter segera memberikan bantuan seperlunya. Keesokan hari, mantan wakil presiden Muhammad Hatta diizinkan mengunjungi kolega lamanya ini.
Hatta yang ditemani sekretarisnya menghampiri pembaringan Soekarno dengan sangat hati-hati. Dengan segenap kekuatan yang berhasil dihimpunnya, Soekarno berhasil membuka matanya. Menahan rasa sakit yang tak terperi, Soekarno berkata lemah. "Hatta.., kau di sini..?" Yang disapa tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Namun Hatta tidak mau kawannya ini mengetahui jika dirinya bersedih. Dengan sekuat tenaga memendam kepedihan yang mencabik hati, Hatta berusaha menjawab Soekarno dengan wajar. Sedikit tersenyum menghibur. "Ya, bagaimana keadaanmu, No ?" Hatta menyapanya dengan sebutan yang digunakannya di masa lalu. Tangannya memegang lembut tangan Soekarno. Panasnya menjalari jemarinya. Dia ingin memberikan kekuatan pada orang yang sangat dihormatinya ini. Bibir Soekarno bergetar, tiba-tiba, masih dengan lemah, dia balik bertanya dengan bahasa Belanda. Sesuatu yang biasa mereka berdua lakukan ketika mereka masih bersatu dalam Dwi Tunggal. "Hoe gaat het met jou…?" Bagaimana keadaanmu? Hatta memaksakan diri tersenyum. Tangannya masih memegang lengan Soekarno. Soekarno kemudian terisak bagai anak kecil. Lelaki perkasa itu menangis di depan kawan seperjuangannya, bagai bayi yang kehilangan mainan. Hatta tidak lagi mampu mengendalikan perasaannya. Pertahanannya bobol. Airmatanya juga tumpah. Hatta ikut menangis.
Kedua teman lama yang sempat berpisah itu saling berpegangan tangan seolah takut berpisah. Hatta tahu, waktu yang tersedia bagi orang yang sangat dikaguminya ini tidak akan lama lagi. Dan Hatta juga tahu, betapa kejamnya siksaan tanpa pukulan yang dialami sahabatnya ini. Sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh manusia yang tidak punya nurani. "No…" Hanya itu yang bisa terucap dari bibirnya. Hatta tidak mampu mengucapkan lebih. Bibirnya bergetar menahan kesedihan sekaligus kekecewaannya. Bahunya terguncang-guncang. Jauh di lubuk hatinya, Hatta sangat marah pada penguasa baru yang sampai hati menyiksa bapak bangsa ini. Walau prinsip politik antara dirinya dengan Soekarno tidak bersesuaian, namun hal itu sama sekali tidak merusak persabatannya yang demikian erat dan tulus. Hatta masih memegang lengan Soekarno ketika kawannya ini kembali memejamkan matanya.

Jarum jam terus bergerak. Merambati angka demi angka. Sisa waktu bagi Soekarno kian tipis. Sehari setelah pertemuan dengan Hatta, kondisi Soekarno yang sudah buruk, terus merosot. Putera Sang Fajar itu tidak mampu lagi membuka kedua matanya. Suhu badannya terus meninggi. Soekarno kini menggigil. Peluh membasahi bantal dan piyamanya. Malamnya Dewi Soekarno dan puterinya yang masih berusia tiga tahun, Karina, hadir di rumah sakit. Soekarno belum pernah sekali pun melihat anaknya. Minggu pagi, 21 Juni 1970. Dokter Mardjono, salah seorang anggota tim dokter kepresidenan seperti biasa melakukan pemeriksaan rutin. Bersama dua orang paramedis, Dokter Mardjono memeriksa kondisi pasien istimewanya ini. Sebagai seorang dokter yang telah berpengalaman, Mardjono tahu waktunya tidak akan lama lagi.

Dengan sangat hati-hati dan penuh hormat, dia memeriksa denyut nadi Soekarno. Dengan sisa kekuatan yang masih ada, Soekarno menggerakkan tangan kanannya, memegang lengan dokternya. Mardjono merasakan panas yang demikian tinggi dari tangan yang amat lemah ini. Tiba-tiba tangan yang panas itu terkulai. Detik itu juga Soekarno menghembuskan nafas terakhirnya. Kedua matanya tidak pernah mampu lagi untuk membuka. Tubuhnya tergolek tak bergerak lagi. Kini untuk selamanya. Situasi di sekitar ruangan sangat sepi. Udara sesaat terasa berhenti mengalir. Suara burung yang biasa berkicau tiada terdengar. Kehampaan sepersekian detik yang begitu mencekam. Sekaligus menyedihkan. Dunia melepas salah seorang pembuat sejarah yang penuh kontroversi. Banyak orang menyayanginya, tapi banyak pula yang membencinya. Namun semua sepakat, Soekarno adalah seorang manusia yang tidak biasa. Yang belum tentu dilahirkan kembali dalam waktu satu abad. Manusia itu kini telah tiada. Dokter Mardjono segera memanggil seluruh rekannya, sesama tim dokter kepresidenan. Tak lama kemudian mereka mengeluarkan pernyataan resmi: Soekarno telah meninggal (Sumber:
From: Chen Ie Lie  Sent: Wednesday, October 24, 2012 7:47 PM Subject: Fwd: FW: Perginya seorang kawan).

Saudaraku, ada tiga tabiat di muka bumi ini. Pertama, kebaikan dibalas dengan kebaikan. Atau kejahatan dibalas dengan kejahatan. Ini tabiat manusia biasa yang normal. Kata orang, "itu mah manusiawi." Kedua, kebaikan dibalas dengan kejahatan. Ini tabiat iblis bin setan bin gondoruwo. Inilah yang terjadi dengan bapak proklamator kita yang amat berjasa bagi bangsa Indonesia. Di penghujung hidupnya ia dibiarkan sekarat sampai ajal menjemputnya. Bangsa ini khususnya penguasa pada waktu itu memperlakukan salah seorang  founding fathers-nya sedemikian tanpa perikemanusiaan. Demi syahwat kekuasaan politik orang dan kelompok tertentu. Jasa-jasa sebaik apapun buat bangsa Indonesia dapat dilenyapkan seketika. Soekarno dibiarkan sengsara sampai matinya. Kejam! Dan masih banyak kisah nyata orang-orang  tak bersalah yang disiksa karena dituduh sebagai anggota PKI. Mereka disiksa sedemikian  berat tanpa proses hukum yang jelas. Inilah gambaran dunia yang telah jatuh ke dalam dosa. Tabiat ketiga, kejahatan dibalas dengan kebaikan. Ini tabiat Ilahi. Suatu tabiat yang amat agung dan mulia. Yang mestinya dimiliki setiap insan ciptaan-Nya. Tabiat ini sejatinya telah diteladankan oleh Allah sendiri dalam Yesus Kristus. Yesus adalah Allah sejati yang menjadi manusia sejati demi menyelamatkan manusia berdosa dari hukuman kekal dalam api neraka yang tak terpadamkan mengerikan.

Alkitab menjelaskan dengan begitu lugas dan gamblang akan tabiat ini. Yesus bukan sekadar mengajar kejahatan harus dibalas dengan kebaikan melainkan dalam seluruh hidup-Nya, Dia menjalankan dengan tuntas sampai akhir. Itu dibuat-Nya untuk menjadi teladan kepada seluruh umat manusia agar mereka hidup seperti Dia hidup. Dengan demikian dunia menjadi tempat tinggal yang penuh damai sejahtera sebelum mereka tinggal selama-lamanya dalam surga abadi.

Yesus datang ke dunia untuk mencari dan menyelamatkan manusia berdosa dari kematian kekal. Tapi manusia justru bukan saja menolak-Nya melainkan menyiksa dan membunuh-Nya. Tetapi Yesus menolak membalas kejahatan manusia dengan kejahatan. Yang ia lakukan justru sebaliknya. Kejahatan manusia dibalas dengan kebaikan-Nya yang tiada taranya. Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan.  Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.  Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.  Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.  Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya." (Yesaya 53:3-7).  "Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya" (2Korintus 8:9).

Bagaimana dengan hidup Saudara dan Saya saat ini sebagai murid Yesus Kristus? Adakah hati kita sedang membara berkobar-kobar dan berkibar-kibar  untuk membalas kejahatan kepada mereka yang menyakiti hati kita? Ataukah kita pernah atau sedang melakukan kejahatan pada orang lain padahal mereka tidak pernah bersalah bahkan begitu baik terhadap kita? Tabiat manakah yang  hidup dan menguasai hati kita saat ini? Pastikan bila kita telah miliki tabiat Yesus Tuhan kita sambil menyongsong kembali-Nya Dia yang kelak akan menyatakan kasih dan keadilan-Nya yang sejati. Memberi upah kepada kita para murid-Nya yang baik dan setia. Amin! (Rev. Andrias Hans).


Baca Terusannya »»  

Minggu, 28 Oktober 2012

ayo ngeblog biar ngga goblog | Memperingati Hari Blogger yang ke-5

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Blog,sebuah kata ynag mungkin sudah tak asing lagi bagi kita
pemuda,dimana kalo mau cari tugas carinya di blog,cari lagu mampir ke
blog sampai cerita'in hidup kita juga di blog.Blog sendiri sudah lama
ada di indonesia namun lebih booming ketika raditya dika sukses
"membukukan" blognya menjadi sebuah paket yang siap disantap bagi
pembacanya.Nah,perkembangan blog yang pesat membuat banyak sekali
perkumpulan/komunitas yang ada,dimana ada ratusan bahkan ribuan
komunitas di Indonesia.Sebenarnya banyak sekali peran para blogger
dalam dunia internet khususnya search engine google,dimana semua yang
anda cari ternyata ada karena blogger bukan google.Sebagai seorang
blogger belum banyak yang tau bahwa blog sudah dianggap dan mempunyai
hari yang "sakral" yakni tanggal 27 oktober yang diperinngati sebagai
hari blogger.

Bagi yang sudah ngeblog,apa sih yang sudah anda lakukan sebagai
blogger terhadap orang lain?

Nah bagi yang belum ngeblog,ayo buruan ngeblog dijamin kalo kalian
ngeblog ngga bakalan goblog.
Blog juga akan menghindarkan kita dari hal-hal negatif (tergantung sih
J ),nambah pahala dan masih banyak lagi.Oh ya ngeblog juga sebagian
dari socioprenuer lohhhh...Dimana seorang blogger menulis info dengan
ikhlas tanpa mengharap imbalan,dan dengan berjalannya waktu tulisan
menjadi lebih bagus dan uangpun akan datang dengan sendiri.

Memperingari hari blogger yang akan datang 27 oktober 2012 ayo kita
blogger ciptakan sesuatu yang berguna dan bermanfaat bagi bangsa dan
negara....

Selamat hari blog | Keep posting and soy no to copas (kalo dikit boleh
lah :D hehheeheh )
And Thinking Before Posting
Baca Terusannya »»  

Jumat, 26 Oktober 2012

MISKIN DI HADAPAN ALLAH

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***

MISKIN DI HADAPAN ALLAH
(Matius 5:1-3)


            Saudaraku yang dikasihi TUHAN YESUS KRISTUS! Khotbah di Bukit adalah bagian dari Alkitab yang sangat terkenal dan tersebar di berbagai penjuru dunia. Mahatma Gandhi, misalnya, selalu menyimpan "Khotbah Di Bukit" ini di dalam hatinya. Di dalam Ashramnya yang termasyhur itu, ia sering berbicara tentang "Khotbah Di Bukit." Apabila Mahatma Gandhi berkeliling, orang banyak seringkali berjejal untuk meminta suatu pesan darinya. Tidak jarang ia mengutip dari "Khotbah Di Bukit" dan membacakannya di hadapan khalayak ramai itu. Ia mengaku bahwa dalam perjuangan politiknya, "Khotbah Di Bukit" itu menjadi dasar baginya untuk memecahkan berbagai masalah yang tersulit. Ketika Mohandas Mahatma Gandhi terkulai rebah ke tanah bersimbah darah, di saku, konon, orang mendapati secarik kertas. Isinya, sebuah kutipan Khotbah Tuhan Yesus di Bukit. Saudaraku, Mahatma Gandhi bukan orang Kristen, akan tetapi gaya hidup dan ajaran Tuhan Yesus, khususnya Khotbah di Bukit, telah mengilhami gerakan yang dipeloporinya dan mewarnai kehidupannya.

            Kalau orang seperti Mahatma Gandhi, pemimpin besar India dan pelopor gerakan nir-kekerasan dunia itu, orang yang  bukan kristen bisa begitu tertarik mempelajari "Khotbah Tuhan Yesus Di Bukit ini", bagaimana dengan Saudara dan Saya sebagai orang Kristen, yang mengaku sebagai murid Tuhan Yesus Kristus? Apakah kita seantusias Mahatma Gandhi merindukan dan menerapkan "Khotbah Di Bukit ini" sebagai komitmen perjuangan hidup kita? Mari kita belajar dari "Khotbah Di Bukit ini" khususnya pada bagian yang pertama, yaitu dari perkataan TUHAN YESUS dalam Matius 5:1-3: "BERBAHAGIALAH  ORANG  YANG  MISKIN  DI  HADAPAN  ALLAH, KARENA  MEREKALAH  YANG  EMPUNYA  KERAJAAN  ALLAH."
           
            Saudaraku yang dikasihi TUHAN YESUS KRISTUS! Dalam Matius 4 pada ayat-ayat terakhirnya, kita melihat bahwa orang-orang dari segala penjuru menaruh perhatian kepada Tuhan Yesus. Tidak hanya di Palestina saja tetapi juga dari daerah seberang Sungai Yordan dan Siria. Hati orang-orang ini dipenuhi dengan khotbah Tuhan Yesus di Bukit ini. Para nelayan meninggalkan jalanya. Petani-petani meninggalkan ladangnya. Kaum buruh dan para bos di kota-kota pergi ke wilayah utara, Galilea untuk mendengarkan khotbah Tuhan Yesus. Dalam keadaan inilah, hati Tuhan Yesus sangat terharu sehingga ia menyampaikan khotbah di bukit ini.

            Jadi, khotbah ini ditujukan kepada semua orang. Bukan saja untuk para murid-Nya. Kepada segala bangsa di muka bumi ini. Dr. J. Verkuyl mengatakan bahwa dalam khotbah di bukit, Tuhan Yesus mengumumkan UUD Kerajaan Allah dengan kemuliaan kedaulatan-Nya (Matius 5:13-7:27). Dan ini semua bukan sekadar ucapan Tuhan Yesus semata-mata, tetapi ini merupakan komitmen perjuangan hidup-Nya yang telah disaksikan oleh seluruh umat manusia yang ada di sekitar-Nya. Kata dan perbuatan Tuhan Yesus satu. Tidak pecah kongsi. Bukan seperti para pemimpin agama di zaman-Nya yang penuh kemunafikan. Juga bukan seperti para pemimpin di zaman ini khususnya di negeri kita yang para pemimpin partai politiknya hanya pintar buat iklan antikorupsi padahal anak buah mereka bahkan diri mereka sendiri jagoan korupsi. Membuat rakyat semakin sengsara.

Sekarang kita mau meneliti apa arti dari perkataan Tuhan Yesus dalam ayatnya yang ke tiga ini. Kalau kita cermati di dalam Perjanjian Lama, memang kata "Miskin" atau tepatnya "Orang miskin" itu mempunyai makna hurufiah yaitu: "Orang yang miskin secara material". Namun, karena  orang yang miskin itu  tidak mempunyai tempat pelarian kecuali hanya pada Allah saja (Zefanya 3:12), maka kemiskinan itu berangsur-angsur mendapat konotasi ROHANI. Dalam Mazmur 40:18, sang pemazmur menggambarkan dirinya sendiri sebagai "orang yang sengsara dan miskin" dan meminta Tuhan supaya mengingat dan menyelamatkannya. Orang miskin adalah orang yang membutuhkan belaskasihan, bagaikan para tawanan yang "mencari Allah" sebagai satu-satunya tempat perlindungan dan keselamatan mereka (Mazmur 69:33-34). Mereka merupakan orang-orang yang telah bangkrut di dunia ini, yang karenanya kemudian memercayai Tuhan sebagai satu-satunya harapan bagi perlindungan serta pembebasan mereka.
           
Demikianlah kata "Miskin" yang dipakai TUHAN YESUS dalam ayat tadi, memiliki arti  ROHANI.   Hal ini sangat jelas ketika kita melihat seluruh konteks Matius pasal 5 secara khusus Matius 5:20, di sana TUHAN YESUS berbicara kepada  para murid-NYA mengenai bagaimana kehidupan kerohanian yang memperkenankan hati TUHAN. TUHAN YESUS berkata : "Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan sorga".

            Dengan demikian saudaraku , Di sini TUHAN YESUS  sedang berbicara tentang  "Orang yang miskin secara rohani." Persoalannya sekarang adalah:  Apakah makna orang yang miskin secara rohani itu? Kata "Orang Miskin" dalam bahasa asli PB (Yunani) dipakai dua kata yaitu:  kata "Ptokhos" dan kata "Penes".  Namun arti dari kedua kata ini memiliki perbedaan.  Kata "Penes" menunjukkan kepada seseorang yang boleh jadi miskin tetapi ia masih memperoleh roti atau nasinya dengan bekerja sehari-hari.  Sedangkan kata "Ptokhos", menunjukkan kepada seseorang  yang telah gagal dari suatu tingkatan hidup yang terbaik   Dengan kata lain, seseorang   yang  sangat  miskin  sehingga  ia  hanya  bisa  memperoleh  hidupnya dengan  cara M E N G E M I S.  Secara harfiah kata "Ptokhos" berarti "Yang Mengemis", "Sangat Miskin"; "Yang Berharap Kepada Tuhan"; "Yang Tidak Berguna".  Maksud kata inilah yang dipakai dalam Matius 5:3.

            Jadi, orang yang miskin di hadapan Allah adalah  orang yang secara spiritual sedemikian melaratnya  sehingga  apapun  tidak ada  padanya  yang dapat dibanggakannya atau disuguhkannya  sebagai  jasa.    Dia  adalah orang  yang  telah  sama  sekali  tidak  berdaya, dia  sudah  bangkrut secara  total di hadapan  Allah. Dia adalah  orang  yang  hanya menunggu , menunggu dan  menunggu  uluran tangan  dari  pihak lain.

            Orang yang miskin di hadapan Allah adalah  orang yang sangat sadar bahwa dirinya telah bangkrut di dunia ini  yang  karenanya  kemudian  memercayai  TUHAN  sebagai  satu-satunya  harapan  bagi  perlindungan  serta  pembebasan  mereka. Dengan kata lain , orang yang miskin di hadapan Allah adalah orang  yang  sungguh-sungguh  menyadari  bahwa  dirinya  penuh dosa  dan sebentar lagi tanpa  anugerah  pengampunan  dan  penebusan  dosa  serta  anugerah  keselamatan kekal  dari  TUHAN  YESUS  KRISTUS, ia pasti  binasa. Karena  itu,  seluruh  hidupnya  ia  gantungkan, mengemis hanya kepada  TUHAN  YESUS sebagai  satu-satunya TUHAN  dan  Juruselamat  pribadinya.    

            Mari kita melihat orang-orang yang miskin di hadapan Allah yang  hidup mereka sungguh diperkenankan Allah, yang hidupnya dihiasi dengan sukacita sejati  walaupun perjalanan hidup mereka diwarnai tantangan dan pergumulan  yang tidak ringan .

Si Pemungut cukai (Lukas 18 : 9-14).
            Dalam bagian ini kita menyaksikan sebuah  adegan menarik di mana  ada dua aktor utama yang memainkan peran mereka secara begitu transparan dan menghadirkan kesan yang mendalam bagi siapa yang menyaksikannya. Peran pertama adalah seorang Farisi yang sedang pergi ke Bait Allah untuk berdoa.  Di sana ia menaikkan doanya  kepada Allah dengan cara yang tenang sebab ia berdoa di dalam hatinya (ini adalah cara yang baik).  Namun secara mengejutkan isi doa orang Farisi ini  mencerminkan , di hadapan Allah ,  ia  nampaknya begitu  "kayanya", ia menampilkan kelebihan-kelebihannya  dan kebaikan-kebaikannya , sehingga Allah harus dan patut menghargai  semua yang ia telah lakukan .  Tidak setitikpun  rasa hatinya  mau  bergantung pada Allah.  Hanya kecongkakkan yang ditampilkannya.  Dan nilai orang ini , menurut YESUS : "Orang ini pulang  ke rumahnya sebagai orang yang tidak dibenarkan."  Betapa sangat amat menyedihkan orang ini.  Dosanya masih tetap ada. Dan sungguh menekan hidupnya.
           
Tetapi Si pemungut cukai ini menampilkan peran yang begitu kontrasnya dengan Si Farisi tadi.  Ia mengambil posisi, berdiri jauh-jauh bahkan Alkitab mencatat, ia tidak berani menengadah ke langit , melainkan ia memukul diri dan berkata : "YA  ALLAH , KASIHANILAH  AKU  ORANG  BERDOSA INI". Saudaraku , inilah sebuah doa yang menggetarkan hati Allah , sebuah doa yang membuat air mata  Allah jatuh berderai di pipi-Nya, sehingga menggerakkan tangan -NYA yang lembut membelai rambut Si Pendosa itu, dan memeluknya erat-erat. Inilah  doa  yang membuat pintu  gerbang sorga terbuka baginya. Mengapa demikian? Tidak lain dan tidak bukan, doa pemungut cukai ini, mencerminkan  bahwa ia adalah manusia yang sangat memerlukan Tuhan karenanya ia sangat perlu ditolong  Allah. Ia  sadari hidupnya  telah bangkrut total, tidak ada  harapan lagi KECUALI  Allah mencurahkan Anugerah-Nya kepadanya. Dan  Tuhan YESUS sendiri berkata: "Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan".
           
Inilah upah seorang yang miskin di hadapan Allah.  Ia mendapatkan bahagia yang sejati. Hidup yang berkelimpahan.
                       
Rasul Paulus  (1Korintus 15:9 , Efesus 3:8 , 1Timotius 1:15 ,  2Korintus 12:1-7).
            Saudaraku , siapakah yang tidak mengenal Rasul besar ini? Paulus adalah seorang yang hebat, ia adalah orang yang sangat pandai baik pengetahuan dan filsafat  helenistik maupun pengetahuan teologis. Ia juga adalah seorang yang dipakai secara luar biasa dalam pelayanan. Pantang menyerah dan pantang mundur menghadapi penderitaan karena melayani Tuhan Yesus. Dan yang paling indah dalam hidupnya , ia pernah mengalami pengalaman yang luar biasa di mana ia boleh mengalami pengalaman sorga.  Ia diangkat ke Firdaus dan  di sana  ia mendengar kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak  boleh diucapkan oleh  manusia (2Korintus 12:1-7).
           
Namun menarik kita simak, semua yang ia miliki itu, tidak membuatnya merasa layak di hadapan TUHAN,  justru sebaliknya dengan jujur ia berkata: "… aku adalah yang paling hina dari semua rasul… " (1Korintus 15:9).  Ia juga berkata :  "Kepadaku yang paling hina di antara segala orang kudus...." (Efesus 3:8).  Dan Paulus berkata sejujur-jujurnya : "Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa , dan di antara mereka , akulah yang paling berdosa " (1Timotious 1:15)
           
Saudaraku, kepintaran, pelayanan yang berhasil, dan pengalaman rohani yang tinggi, sama sekali tidak menjadikan Paulus lupa diri di hadapan Allah yang Maha tinggi.  Paulus di hadapan Allah justru melihat dirinya yang sebenarnya, yaitu: akulah yang paling hina  dan akulah yang paling berdosa.   Tidak ada satu katapun Paulus yang mengindikasikan bahwa ia adalah orang baik, orang pintar, dan orang yang hebat. Tidak Saudara. Paulus tidak seperti kita yang menamakan diri hamba-hamba TUHAN masa kini. Kadang bahkan sering menonjolkan reputasi pengetahuan teologi dan pelayanannya. Celakanya tidak sedikit hamba Tuhan yang tergila-gila dengan gelar akademis sehingga bayar pun mau asal mendapat gelar Master ataupun doktor teologia. Saya sangat prihatin ada hamba Tuhan yang menganggap dirinya paling benar dan gerejanya adalah representasi kebenaran Kristen di muka bumi ini. Dalam khotbahnya seringkali hanya memamerkan aktifitas pelayanannya yang begitu padat dari benua ke benua. Memuji diri seolah-olah paling sibuk di antara semua hamba Tuhan yanga da di muka bumi ini. Dan menggelikan, "anak buahnya" juga sudah terkontaminasi dengan "bos" mereka sehingga acapkali ketika berbicara dengan sesama orang Kristen atau hamba Tuhan mereka menampilkan sikap dan perkataan yang arogan sekali.

Mereka jauh nian berbeda dengan Paulus. Ia sebagai rasul besar tidak pernah membungkus rapi dosa-dosanya dengan kemasan reputasi, dedikasi, dan kerja kerasnya. Ia tidak pernah menonjol-nonjolkan  siapa dirinya. Timotius yang adalah anak rohaninya, ia sapa sebagai  sesama hamba Kristus Yesus (Filipi 1:1). Juga Epafroditus yang diutus sebagai pembantu Paulus ketika berada dalam penjara, ia sebut sebagai saudaranya, teman sekerjanya dan teman seperjuangannya (Filipi 2:25).

            Saudaraku, kebahagiaan sejati dan surga yang kekal bukan diperuntukkan kepada orang yang merasa dirinya layak .Yang merasa dirinya tidak berdosa. Apalagi menyombongkan diri dan menganggap diri tidak sama dengan para pendosa lainnya. Bukan orang yang doyan memamerkan dirinya suci, suka menyebut-nyebut nama Tuhan, berpakaian tertentu, dan mempertontonkan pakaian yang serba suci sambil berteriak-teriak nama Tuhan seraya melibas-bas habis-bis orang-orang yang tidak seiman dengan mereka, yang mereka cap sebagai manusia kafir. Surga dan Kerajaan Allah bukan untuk orang-orang seperti ini. Ya surga dan kebahagiaan sejati sama sekali bukan diperuntukkan kepada orang-orang yang demikian sombong dan penuh kemunafikan itu. Tetapi surga dan Kerajaan Allah dikaruniakan kepada mereka yang tahu dirinya tidak memiliki apa-apa, kecuali dosa dan kejahatan karena itu ia sangat membutuhkan pengampunan Tuhan. Inilah sikap  orang Kristen yang benar. Tidak ada seorang pun yang dapat menjadi orang Kristen sejati tanpa memiliki sikap seperti yang dimiliki pemungut cukai, rasul Paulus, atau si bungsu yang terhilang. Mereka sadar sesadar-sadarnya bahwa hidup mereka telah bangkrut, berlumuran dengan dosa, dan hati mereka sungguh-sungguh hancur di hadapan Tuhan. Karena itu mereka sangat membutuhkan belas kasihan dan pengampunan dari Tuhan Yesus Kristus. John Calvin berkata, "Hanya dia yang menganggap dirinya tidak berarti sama sekali di mata Tuhan, lalu semata-mata bergantung pada anugerah Tuhan, hanya orang seperti inilah yang miskin di hadapan Allah. Hanya orang seperti inilah yang akan menikmati kebahagiaan yang sejati karena mereka layak masuk ke dalam Kerajaan Surga. Kerajaan Allah hanya dapat kita terima dalam kerendahan hati dan benar-benar hati yang hancur karena sadar telah berdosa di hadapan Tuhan."

Bagaimana dengan kita saat ini? Adakah kita juga seperti pemungut cukai yang sadar diri dan mau berdoa kepada Tuhan Yesus, "YA ALLAH, KASIHANILAH AKU ORANG BERDOSA INI". Dan apakah kita seperti rasul Paulus yang selalu sadar diri bahwa dirinya adalah orang berdosa yang tidak lebih hebat dari orang-orang lain, dan yang selalu butuh pengampunan Tuhan Yesus? Dan apakah kita seperti  anak yang bungsu, yang mau kembali kepada bapanya untuk mengakui segala dosa dan kejahatannya?

Kitalah yang paling tahu siapakah diri kita yang sebenarnya di hadapan Tuhan. Jikalau saat  ini setelah mendengar firman Tuhan ini, kita disadarkan Roh Kudus akan dosa-dosa kita dan  betapa banyak kesalahan dan dosa kita di hadapan Tuhan, maka sekaranglah waktunya Saudara dan Saya berseru bersama dengan si pemungut cukai, "YA ALLAH, KASIHANILAH AKU ORANG BERDOSA INI." Jangan pernah sembunyikan dosa-dosa kita dihadapan Tuhan Yesus. Percuma, karena "tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab" (Ibrani 4:13). Jangan menyembunyikan dosa, itu hanya menekan kita dan merusak hidup kita. Dengan pengakuan dosa yang jujur di hadapan Tuhan Yesus, maka hari ini juga Saudara dan Saya adalah orang yang sangat berbahagia karena kita memiliki Kerajaan Surga yang sungguh amat mahal harganya. Dan surga itu tak akan pernah lenyap bagi kita. Surga melebihi segala harta yang ada di langit, di bumi, di laut, dan di seluruh alam semesta ini. Tuhan berfirman dalam Roma 4:7-8, "Berbahagialah orang yang diampuni pelanggaran-pelanggarannya, dan yang ditutupi dosa-dosanya; berbahagialah manusia yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan kepadanya."

            Mari kita berdoa masing-masing di hadapan Tuhan Yesus. Di hadapan-Nya kita akui segala dosa kita yang terselubungdalam batin terdalam kita yang hanya diri kita yang tahu. Dan mari kita memohon Roh Kudus mencurahkan damai sejahtera di hati kita saat ini. Lalu kita berkomitmen secara pribadi kepada Tuhan Yesus mulai saat ini kita siap menjadi alat yang indah dipakai Tuhan membawa orang-orang berdosa kembali kepada-Nya. (Rev. Andrias Hans).

Baca Terusannya »»  

Senin, 22 Oktober 2012

MENGHADAP PIMPINAN

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Pada saat peringatan hari kemerdekaan Indonesia, beberapa pegawai
negeri sipil di panggil ke Istana Merdeka untuk mengikuti upacara
dalam rangka memperingati HUT RI. Masih terbayang dalam pikiran saya
beberapa tahun yang lalu salah satu guru dari pedalaman Papua diundang
oleh Presiden untuk menghadiri upacara di Istana Merdeka. Kebetulan
guru tersebut adalah kakak ipar saya, dia menceritakan bagaimana
kesibukan-kesibukan yang dia alami kurang lebih satu minggu dalam
mempersiapkan keberangkatannya ke Jakarta. Mulai dari mempersiapkan
pakaian, kira-kira pakaian mana yang akan di pakai ketika bertemu
dengan Presiden nanti, dan persiapan-persiapan lainnya, intinya dia
sangat sibuk mempersiapkan keberangkatannya ke Jakarta. Apalagi acara
ini bukan acara biasa, tidak semua orang punya kesempatan untuk
bertemu dengan presiden, pemimpin nomor satu di Indonesia. Jadi
mungkin dalam pikirannya, ini kesempatan emas, kapan lagi.

Luar biasa kesibukan yang dialami ketika mau menghadap pimpinan
duniawi. Bagaimana tanggapan kita terhadap panggilan Tuhan, bagaimana
kalau menghadap raja di atas segala raja? apakah kita sesibuk ketika
mau menghadap presiden, semua disiapkan? Hal ini menjadi perenungan
bagi kita semua. Misalnya saja ketika mau mengikuti ibadah pada hari
Minggu? sejauh mana persiapan kita? Mengapa begitu banyak orang yang
lebih "nyenyak" tidur di gereja pada saat ibadah, dari pada tidur di
rumah? Kenapa lebih banyak orang pada saat beribadah hanya badannya
yang di gereja, tetapi pikirannya mengembara kemana-mana? Kenapa
ketika ibadah lebih dari dua jam, orang sudah gelisah dalam gereja?
Kenapa ketika mengikuti acara-acara yang ditawarkan dunia, sampai
berjam-jam mereka masih antusias menikmati? Apa yang salah?
Jawabannya: masalahnya pada hati, mereka tidak siap untuk berjumpa
dengan Tuhan. Berjumpa dengan manusia saja kita mempersiapkan segala
sesuatu, apalagi mau berjumpa dengan penguasa di atas segala penguasa,
pencipta alam semesta dan segala isinya, Raja di atas segala raja.
Tentu persiapannya melebihi persiapan ketika mau bertemu dengan
pemimpin duniawi. Marilah kita membiasakan diri di dalam segala
sesuatu, dalam segala aspek kehidupan kita, ketika mau menghadap Sang
pemilik segala yang ada, selalu mempersiapkan diri sebaik mungkin.
Sehingga dalam segala hal kita menyenangkan hati Tuhan, dan kitapun
akan mengalami jamahan Tuhan dalam segala aspek kehidupan kita. Tidak
percaya! Buktikan sendiri. By: Adrianus Pasasa
Baca Terusannya »»  

MASA PERSIAPAN

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Sebelum Yesus terjun kepelayanan, Ia dibawa oleh Roh ke padang gurun
untuk diuji, apakah sudah siap untuk terjun ke dunia pelayanan. Di
padang gurun Yesus diperhadapkan pada berbagai ujian dan pencobaan,
tetapi apa yang terjadi, Alkitab mencatat bahwa semua ujian mampu di
lalui oleh Yesus. Demikian juga halnya dengan kita yang mau terjun ke
dalam ladang pelayanan, dimanapun kita akan melayani, dan apapun
pelayanan yang akan kita lakukan, semua membutuhkan masa persiapan. Di
masa-masa persiapan itulah kita akan diuji, seberapa besar kesiapan
kita untuk masuk ke ladang pelayanan.
Di tengah-tengah persiapan itulah seringkali pencobaan akan datang
bertubi-tubi untuk menguji kesiapan kita. Melalui pencobaan itu akan
diuji, kesungguhan hati kita, motivasi pelayanan kita, jangan-jangan
pelayanan yang akan kita lakukan hanya berdasarkan keinginan daging
kita semata. Di dalam pencobaan terdapat unsur ujian, pencobaan tanpa
unsur ujian hanyalah keinginan belaka. Pada masa persiapan itulah
firman Tuhan akan mengajarkan kepada kita supaya belajar untuk
mematikan segala sesuatu yang duniawi. Jika keinginan duniawi datang
kita belajar untuk mengatakan tidak ikut. Ketika kita belajar berkata
tidak pada keinginan duniawi, maka keinginan duniawi akan semakin
lemah dan akhirnya mati. Sebaliknya jika kita mengikuti maunya
keinginan duniawi, maka kita akan semakin kecil dan keinginan semakin
besar. Keinginan duniawi akan menghipnotis sehingga bobot rohani kita
jadi hilang, dan akhirnya kita seperti orang mati yang tidak dapat
memberi respon. Kita menurut apa yang dunia katakan.
Seorang pelayan akan sering bertemu dengan keinginan duniawi di ladang
pelayanan, maka orang yang siap terjun dalam pelayanan adalah orang
yang mampu mematikan keinginan duniawi dalam dirinya. Firman Tuhan
katakan: "Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan
keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging -- karena keduanya
bertentangan -- sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang
kamu kehendaki. Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang
duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga
keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu
mendatangkan murka Allah. Tanpa mematikan keinginan duniawi, niscaya
pelayanan yang kita lakukan akan mendatangkan kemuliaan bagi Tuhan.
By: Adrianus Pasasa
Baca Terusannya »»  

Jumat, 19 Oktober 2012

ASIKNYA WL MENIKMATI PUJIAN

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Dalam suatu ibadah pemimpin pujian mengajak jemaat berdiri untuk
menyanyikan sebuah pujian guna menyambut firman Tuhan. Ketika pujian
sedang berlangsung, mungkin karena syairnya menyentuh hati, sehingga
pemimpin pujian luar biasa menikmati sendiri pujian yang dibawakan,
tetapi jemaat pada membisu. Melihat kejadian itu, saya jadi ingat
waktu mengajar mata kuliah liturgika, di mana saya menekankan kepada
mahasiswa bahwa tugas seorang pemimpin pujian adalah membawa jemaat
masuk ke dalam hadirat Tuhan untuk menikmati persekutuan dengan Tuhan.
Jika hanya pemimpin pujian yang menikmati, berarti dia gagal membawa
jemaat untuk berjumpa dengan Tuhan.

Di satu sisi, memang tidak semua orang bisa menjadi pemimpin pujian,
tetapi satu hal yang menjadi tugas dan tanggung jawab semua orang
percaya adalah bersaksi. Hal ini adalah kewajiban setiap orang yang
mengaku murid Yesus. Bersaksi berarti membagikan kepada orang lain
keselamatan yang telah kita peroleh di dalam Yesus Kristus.
Keselamatan yang kita peroleh tidak boleh kita nikmati sendiri.
Seperti pemimpin pujian di atas, jika dia hanya menikmati sendiri,
berarti dia gagal membawa jemaat mengalami perjumpaan dengan Yesus.
Demikian juga halnya, jika keselamatan yang telah kita peroleh kita
nikmati sendiri, berarti kita telah gagal menjalankan Amanat Agung
TuhanYesus untuk menjadikan semua bangsa murid-Nya. "Yesus mendekati
mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga
dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan
baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah
mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan
ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."
By: Adrianus Pasasa
Baca Terusannya »»  

Senin, 15 Oktober 2012

Sikap Hidup Orang Yang Sudah Ditebus

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Nats: Roma 6:1-14
Ibadah Remaja, 13 Oktober 2012: GPdI Pasir Nangka
Oleh : Adrianus Pasasa, S.T, MA

Beberapa bulan lalu saya mengalami kejadian di mana dua orang
mahasiswa teologi dari dua kampus yang berbeda membohongi saya.
Berselang dua bulan kemudian saya kembali mengalami hal yang sama
dibohongi oleh orang yang lebih tinggi lagi yaitu orang yang sudah
berlabel "hamba Tuhan/pelayan Tuhan". Hati kecil saya bertanya,
mengapa hal ini masih bisa dilakukan oleh orang-orang yang seharusnya
menjadi contoh dan harusnya berada di garis depan dalam memberi
pemahaman tentang hidup yang benar dan berkenan di dalam Yesus
Kristus.

Semua manusia telah jatuh di dalam dosa dan berada di bawah kuasa dosa
(Roma 3:9-10), dan akibat dari dosa adalah maut. Tidak seorangpun di
bawah kolong langit ini yang dapat membebaskan dirinya atau sesamanya
dari kuasa dosa. Manusia yang hidup di bawah kuasa dosa, kecenderungan
hidupnya adalah melakukan yang jahat di mata Tuhan. Dosa telah membuat
hubungan manusia dengan Tuhan terputus. Karena dosa manusia semakin
menjauh dirinya dari Tuhan, dosa telah membutakan manusia, dosa telah
mengakibatkan manusia menyerahkan hidupnya pada jalan pikiran mereka
sendiri yang kecenderungannya melakukan kejahatan. Itulah gambaran
manusia lama kita yang belum di baharui di dalam Yesus Kristus. Kita
sungguh bersyukur atas anugerah pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib
untuk membebaskan kita dari tawanan dan memerdekakan kita dari
perbudakan dosa. Yesus telah menyelesaikan dan mengalakan kuasa dosa
dengan mati di kayu salib, dikuburkan dan bangkitn pada hari yang
ketiga. Dengan demikian kita tidak hidup lagi dibawah kuasa dosa,
malainkan kita hidup di bawah kasih karunia, di mana Yesus adalah
pusat dari segala kehidupan kita. Jika demikian, sikap apa yang
selayaknya kita miliki sebagai orang yang telah ditebus:
1. Jangan memperhambakan diri lagi pada dosa
Ketika kita menjadi hamba dosa, kita di bawah kuasanya. Hidup kita
dipenuhi dengan keinginan daging. Tetapi dengan kematian Yesus di kayu
salib, berarti manusia lama kita juga telah turut disalibkan, supaya
tubuh dosa kita hilang kuasanya. Kematian Yesus di kayu telah
membebaskan kita dari kuasa dosa. Jadi orang yang telah di tebus
dengan darah Yesus, dia tidak diperhamba lagi oleh dosa, sehingga
ketika ada godaan untuk berbuat dosa, dia akan memiliki kemampuan
untuk menolak atau berkata tidak kepada dosa. Roh Kudus akan
memampukan dia untuk berkata tidak kepada perbuatan-perbuatan yang
akan melahirkan dosa.

Namun menjadi pertanyaan: terkadang kita dibuat merenung ketika dalam
realita kehidupan, kita menjumpai kejadian-kejadian yang seharusnya
menurut akal sehat kita hal itu tidak mungkin terjadi, tetapi toh
terjadi juga. Maka munculah pertanyaan, bukankah dia itu orang yang
memakai label "hamba Tuhan" yang harusnya lebih tahu tentang firman,
mengapa dia masih bisa diperdaya oleh dosa. Hidupnya dipenuhi dengan
kebohongan, kemunafikan, hawa nafsu, keserakahan, dll. Seperti di awal
saya katakana, beberapa waktu lalu saya dibohongi oleh orang-orang
yang berlabel "hamba Tuhan", menyedihkan, mengapa tidak berkata jujur,
apakah dia tidak tahu berbohong itu dosa! Kenapa hal ini masih
terjadi? Di mana letak persoalannya? Rasul Paulus mengatakan: "Jadi
jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku
yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku (Roma 7:20).
Supaya kita tidak diperhamba oleh dosa, maka hal yang kita lakukan
adalah mematikan perbuatan-perbuatan dosa dalam tubuh kita.

2. Mematikan perbuatan-perbuatan dosa dalam tubuh
Jika kita kompromi dengan perbuatan-perbuatan dosa, dan tidak
mematikan perbuatan-perbuatan dosa dalam tubuh kita, atau hanya
mematikan sebagian saja dan tetap memelihara yang sebagian, maka dosa
itu akan tetap ada dan menguasai tubuh kita, dan tubuh kita akan tetap
mengikuti keinginannya. Seharusnya ketika kita sudah ditebus, maka
dosa itu tidak berkuasa lagi atas tubuh kita, kuasa dosa itu sudah
dimatikan. Ketika kuasa dosa tidak berkuasa lagi di dalam tubuh kita
yang fana ini, maka kitapun tidak akan bisa lagi mengikuti
keinginannya. Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati;
tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu
akan hidup (Roma 8:13). Dengan kemampuan sendiri, kita tidak akan
mampu mematikan perbuatan-perbuatan dosa dalam tubuh kita, tetapi
Tuhan Yesus yang telah memerdekakan kita dari kuasa dosa, melalui Roh
Kudus-Nya akan memampukan kita untuk mematikan perbuatan-perbuatan
dosa dalam tubuh kita.

3. Menjaga anggota tubuh supaya tidak dipakai sebagai senjata kelaliman
Walaupun kuasa dosa telah dikalahkan dan perbuatan-perbuatan dosa
telah kita matikan di dalam tubuh kita, tetapi kita harus tetap
waspada dan berjaga-jaga. Iblis selalu mencari kesempatan untuk
merongrong orang-orang yang sudah hidup di bawah kasih karunia Tuhan
Yesus. Firman Tuhan dalam Matius 26:41 Berjaga-jagalah dan berdoalah,
supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut,
tetapi daging lemah." Orang yang sudah ditebus harus terus waspada dan
berjaga-jaga. Rasul Paulus menyadari benar bahwa ada dua hukum yang
bertentangan di dalam tubuhnya, Paulus mengatakan, "Sebab di dalam
batinku aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota
tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku
dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam
anggota-anggota tubuhku. Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan
melepaskan aku dari tubuh maut ini? Syukur kepada Allah! oleh Yesus
Kristus, Tuhan kita (Roma 7:22-25). Orang yang sudah ditebus harus
menjaga dan tidak menyerahkan anggota-anggota tubuhnya kepada
perbuatan-perbuatan dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman.
Orang yang sudah ditebus menyadari bahwa seluruh anggota tubuhnya
bukan milik dia lagi, tetapi milik Kristus. Dengan demikian seluruh
anggota tubuhnya akan diserahkan kepada Tuhan untuk dipakai menjadi
senjata-senjata kebenaran. Seluruh anggota-anggota tubuhnya akan
dipakai untuk membawa keharuman nama Tuhan, seluruh anggota tubuhnya
dipakai untuk menjadi berkat bagi orang lain. Sehingga melalui semua
itu nama Tuhan dipuji dan dipermuliakan.

Saudaraku yang dikasihi Tuhan Yesus, ketiga sikap inilah yang perlu
kita miliki dan terapkan dalam kehidupan kita sebagai orang-orang yang
telah ditebus dari belenggu dosa. Kematian Tuhan Yesus di kayu Salib
adalah kematian terhadap dosa kita, sekali untuk selama-lamanya. Dulu
kita telah mati terhadap dosa, kini hidup di bawah kasih karunia Tuhan
Yesus. Karena kita sudah hidup di bawah kasih karunia, maka jangan
kita mau lagi diperhamba dan diperbudah dosa. Supaya tidak jatuh lagi
ke dalam perbudakan dosa, maka matikanlah perbuatan-perbuatan dosa
yang ada dalam tubuh kita, dan tetap menjaga anggota-anggota tubuh
kita supaya tidak dipakai sebagai senjata kelaliman melainkan sebagai
senjata-senjata kebenaran. Percayalah bahwa ditengah ketidakberdayaan
kita, Roh Kudus yang akan memampukan. Amin.
Baca Terusannya »»  

Sabtu, 13 Oktober 2012

PEMIMPIN AUTIS

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Perdana Menteri Jepang , Naoto Kan (66 tahun) mengumumkan pengunduran dirinya pada Jumat, 26 Agustus  2011. Ia mundur karena terus-menerus mendapatkan kecaman dari publik bahkan partainya sendiri, akibat tidak memperlihatkan kepemimpinan yang baik pasca gempa dan tsunami  tanggal 11 Maret 2011. Ia juga dinilai tidak memiliki gebrakan dalam kebijakan politik luar negeri dan ekonomi Jepang. Inilah potret pemimpin yang penuh integritas yang patut dipuji dan diteladani. Seharusnya sikap kesatria ini diikuti para pemimpin kita. Namun sayang sejuta sayang, para pemimpin  kita jauh sekali bedanya dengan para pemimpin di Jepang. Pemimpin kita banyak yang autis. Autisme adalah suatu kondisi mengenai seseorang sejak lahir ataupun saat masa balita, yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal.
Ini  yang sedang terjadi di depan mata seluruh rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke, dari Pulau Rote hingga Pulau Miangas.  Rakyat sudah muak semuak-muaknya menyaksikan tontonan para pemimpin autis. Celakanya, mereka tetap saja asyik dengan dirinya sendiri. Mereka tidak peduli apalagi ada yang mau mundur karena gagal menjalankan fungsinya sebagai pemimpin. Alih-alih mundur, mengaku salah saja tidak.  Yang terjadi justru tanpa rasa malu bermuka badak mereka membela diri habis-habisan di depan media massa. Berani berbohong, tidak mengenal si anu dan si ani, padahal jelas-jelas si anu dan si ani adalah kaki tangan mereka untuk melibas habis dana-dana proyek yang ada di tangan mereka.
Kondisi bangsa yang sudah terseok-seok dan menebar aroma anyir perilaku korup ke seluruh tanah air, tidak membuat para pemimpin negeri ini siuman. Mereka tetap masih saja bergeming (tidak  bergerak sedikit juga, hanya berdiam saja). Terutama Presiden kita ibarat bebek lumpuh yang  hanya mengangakan mulutnya ketika melihat para pembantunya sedang  terindikasi korupsi. Dengan alasan basi, "Saya tidak mau intervensi hukum." Presiden kita mungkin harus belajar lagi tentang manka "intervensi" tersebut. Jangan hanya penuh retorika semata di depan kamera para jurnalis media massa, "Saya ada di garda terdepan dalam pemberantasan korupsi."  Juga sebagai pucuk pimpinan partai, ia  berperilaku  autis yang hanya asyik dengan dirinya sendiri, tidak peduli  dengan pejabat-pejabat di partainya yang tidak sedikit tersandung  kasus korupsi.  Rakyat Indonesia sudah muak dengan gaya pencitraan.
Negeri kita sedang sakit parah. Silakan saja kita mau mengakuinya atau tidak. Namun yang jelas  kondisi negeri kita makin memprihatinkan. Ini makin diperburuk  dengan ulah para pemimpin saat ini yang semakin memuakkan hati rakyat.  Pemimpin yang semestinya menjadi teladan kebajikan dan kebijakan bagi rakyat, kini telah edan. Sesama aparat hukum saling menggigit. Lihat saja perseteruan KPK dengan Polri dalam kasus simulator SIM terbaru saat ini. Sangat memilukan dan memalukan apa yang dikemukakan seorang ahli Indonesia dari Northwestern University AS, Prof. Jeffry Winters bahwa negeri ini sudah dikuasai para maling. (http://www.rakyatmerdekaonline.com/, Selasa, 09 Agustus 2011 , 15:51:00 WIB. Dilaporkan oleh Soemitro, RMonline). Bukan cuma itu. Camkan baik-baik, hutang Indonesia sudah mencapai Rp 1796 Triliun. Bila dibebankan kepada setiap rakyat Indonesia, maka setiap orang harus menanggung utang sebesar Rp. 74 juta (RMOL, Ninding Julius Permana, Kamis, 28 Juli 2011 , 10:50:00 WIB). Hutang sudah seabrek-abrek begitu masih dirampok lagi oleh para pejabat.  Ada 17 orang Gubernur dari 33 orang tersangka korupsi. Bayangkan ada 50% dari jumlah seluruh Gubernur di Indonesia (33 Propinsi) adalah maling. Dan ada 138 orang Bupati/Wali Kota dari 497 Kabupaten/kota yang juga berstatus tersangka korupsi. (http://sosbud.kompasiana.com/2011/01/18/138-bupatiwalikota-17-gubernur-tersangka-korupsi-fantastik/). Belum lagi para maling yang merajalela dalam proyek-proyek APBN.  Contoh terkini yang terjadi di Kementerian Negara Pemuda Olahraga, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, serta Kementerian Agama dalam proyek pengadaan Al Qur'an. Saya mengamini apa yang pernah dikatakan Romo Franz. Romo Franz Magnis Suseno, delapan tahun yang lalu (di Yogyakarta, tepatnya pada hari Jumat, 26/9/2003) pernah berkata, "Bangsa Indonesia kini tinggal menunggu waktu masuk ke jurang karena korupsi bukan hanya dilakukan pejabat di tingkat pusat, melainkan merata di seluruh daerah dan semua tingkatan. Masyarakat yang melakukan korupsi adalah masyarakat yang berada di dataran miring yang licin, yang lama-kelamaan meluncur ke bawah dengan semakin cepat. "Tinggal menunggu waktu kapan semuanya jatuh ke jurang."
Saat ini kita punya pemimpin tapi tanpa kepemimpinan. Bahkan tidak sedikit yang sudah tidak bermoral lagi. Salah satu contoh, ada seorang elite partai politik yang suka berkoar-koar dan suka bikin heboh rakyat. Yang sangat memalukan, dia seorang Kristen. Ia sejatinya sudah beristri dan punya anak. Namun tanpa punya rasa malu dan takut, ia membuat surat pernyataan di bawah sumpah  bahwa dirinya masih bujangan demi untuk menikah lagi sesuai ajaran agamanya. Mengerikan sekali. Demikian bunyi surat pernyataannya, "Dengan ini saya menyatakan di bawah sumpah bahwa sesungguhnya sampai saat ini saya belum pernah menikah dengan siapa pun juga dan saat ini saya masih jejaka. Demikianlah surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya. Dan bila kemudian hari saya tidak benar atau saya berdusta saya tanggung segala akibatnya sesuai dengan hukum yang berlaku baik hukum Tuhan maupun hukum negara sesuai UU yang berlaku di Indonesia. Saya tidak akan melibatkan aparat yang terkait khususnya aparat kelurahan. Jakarta, 6 Mei 2008. Yang membuat pernyataan:  R.S, SH.(Reformata Edisi 143 tahun IX 1-30 September 2011, halaman 18).
Tuhan saja berani ia dustai apalagi rakyat kecil? Indonesia benar-benar sudah dekat sekali di ambang kolaps dengan moralitas pemimpin yang  hancur etika, moral, dan spiritual begini, meskipun nampaknya kapal-kapal masih nampak berlayar di lautan. Pesawat-pesawat masih terbang mengangkasa. Mobil-mobil dan kereta api masih terus mendarat di jalanan. Para nelayan masih melaut. Para petani masih membajak sawahnya. Pedagang asongan masih menjajahkan jualan di  bawah panas terik mentari. Para pemulung masih memungut sisa-sisa barang di sampah-sampah. Dan para buruh masih giat bekerja di pabrik-pabrik.  Seharusnya para pemimpin makin bijak dan cerdas membaca tanda-tanda zaman. Tetapi sayang sejuta sayang. Para pemimpin kita autis. Ya autis! Lihat saja fakta-fakta  ini dan bagaimana respon mereka? Sekarang ini ada 70 juta jiwa yang masih terseok-seok bergumul saban hari untuk mencari sesuap nasi. (Vivanews. Rabu, 12 Januari 2011, 12:56 WIB.Nur Farida Ahniar). Apakah mereka  berjuang mati-matian untuk menolong  jutaan rakyat yang lapar, yang  sakit tapi tak  bisa ke rumah sakit, yang  tak bisa menyekolahkan anak-anaknya  ini? Yang mereka lakukan justru tidak peduli dengan keadaan parah ini. Pertunjukan mereka terus berjalan. Korupsi makin menggila di mana-mana. Tak ada rasa malu. Tak ada rasa takut baik kepada manusia maupun Tuhan. Urat malu, urat takut, dan urat peduli sudah putus dari tubuh mereka. Mengerikan!
 Kalau para pemimpin kekinian tak ada yang serius berjuang untuk para campesinos ini, jangan menyesal  kalau sekali  waktu mereka  mengalami  putus  urat sabar dan sadarnya,  lalu mengambil alih negeri  ini dengan cara mereka sendiri.  Jadi, solusinya bagaimana? Kalau kalian para elite sadar diri bahwa sudah tak mampu berbuat  lagi untuk rakyat, mundurlah dengan kesatria dari tampuk kekuasaanmu.  Angkat kakilah! Kalian pasti akan dihormati. Dan dikenang sejarah. Saya hanya mau mengingatkan, "Hai para pemimpin, berhentilah dari sikap autisme kalian. Siumanlah, ada jutaan rakyat negeri  yang kini sedang mengerang kesakitan. Jadilah teladan bukan telah edan. Berhentilah merampok uang rakyat. Cintailah mereka  seperti  cintanya Yesus terhadap para kaum miskin [yang ketika melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala (Mat 9:36)]. Hai para pemimpin, sejahterakanlah rakyat  yang  memilih kalian sehingga kalian menjadi pemimpin. Dan akhirnya, berubahlah kalian dari pemimpin autis menjadi pemimpin altruis."  Pemimpin altruis inilah yang diperkenankan-Nya sebab Dia Allah yang altruis, Allah yang rela menjadi manusia demi kepentingan orang lain. "Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya", 2Korintus 8:9.
Kota kembang, Selasa, 13 September 2011. Rev. Andrias Hans .

Baca Terusannya »»  

Kamis, 11 Oktober 2012

ROYALTI

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Beberapa hari yang lalu, menjelang siang beberapa rekan dosen dan satu
teman dari penerbit buku di kota Bandung begitu serius
memperbincangkan sesuatu. Disela-sela perbincangan itu teman dari
penerbit buku tidak menyia-nyiakan waktu untuk menawarkan kerjasama
kepada pihak dosen yang mampir di salah satu saung di kampus STT.
Setiap dosen ditawarkan untuk menulis buku, jika buku dapat
diterbitkan oleh mereka maka sang dosen akan memperoleh beberapa
keungtungan. Salah satu keuntungan adalah mendapat point dan masih
banyak keuntungan lainnya, misalnya buku tersebut bisa di jual ke
pasar, maka sang dosen akan mendapatkan royalty.

Mendengar kata royalty, tiba-tiba terbersit dalam hati saya,
seandainya Yesus meminta Royalti atas semua perkataan-Nya yang dikutip
oleh setiap penulis dalam bukunya. Wow, bisa terbayang berapa royalty
yang akan diperoleh Yesus! Fantastic. Memang Yesus tiada duanya, Dia
memberikan semua secara Cuma-Cuma, bahkan nyawa-Nya pun Ia berikan
untuk menebus dosa umat manusia yang dikasihi-Nya, termasuk saudara
yang sedang membaca tulisan ini. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia
telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di
kayu salib. Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di
kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk
kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh. Untuk semua
pengorbanan yang telah dia lakukan Dia tidak pernah meminta royalty
kepada kita, dia hanya meminta supaya kita mengasihi dia dengan
segenap hati, percaya dan melakukan firman-Nya, "Kasihilah Tuhan,
Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan
segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu". By: Adrianus
Pasasa
Baca Terusannya »»  

Rabu, 10 Oktober 2012

POHON BESAR DAN POHON KECIL

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Dilahirkan di pedesaan, menempuh pendidikan di perkotaan dan kembali
melayani di pedesaan, bagi saya itu adalah suatu anugerah. Bagi
sebagian orang, hidup di pedesaan adalah identik dengan
ketertinggalan, tetapi tidak selamanya anggapan itu benar. Banyak sisi
lain yang membuat hidup di pedesaan menjadi menyenangkan. Bagi saya
pribadi menyaksikan pohon-pohon besar bergerak mengikuti tiupan angin,
mendengar kicauan burung di pagi hari dan mendengar suara jangkrik dan
burung hantu di malam hari, menyaksikan petani menggarap dan menanami
sawahnya, menyaksikan ibu-ibu yang memanen padi yang sudah menguning
adalah sesuatu yang menyenangkan.
Beberapa waktu lalu saya mengamati dan memperhatikan serta
membandingkan kemampuan bertumbuh pohon yang besar dan kecil yang
tumbuh di pekarangan rumah kami. Dari hasil pengamatan, saya melihat
pohon yang besar dalam kondisi musim kemarau tetap menunjukkan
pertumbuhan yang baik, daunnya tetap hijau, seakan-akan musim kemarau
tidak berpengaruh bagi pertumbuhannya. Sebaliknya saya memperhatikan
pohon-pohon yang kecil ketika beberapa lama musim kemarau
pertumbuhannya mengalami perubahan, daunnya mulai menjadi kuning,
daunnya berguguran, dan akhirnya pohonnya menjadi kering. Kenapa
terdapat perbedaan daya tahan hidup antara pohon besar dan pohon
kecil? Di mana letak perbedaannya? Ternyata terletak pada akar.
Ketika saya melihat, ternyata akar pohon besar masuk menembus
kedalaman tanah, jadi tidak cepat mati karena semakin dalam ia masuk,
maka semakin banyak ia menemukan sumber air. Sedangkan akar pohon
kecil dangkal, hanya mencari makanan di bagian permukaan tanah,
akibatnya cepat mati karena ketika musim kemarau bagian atas tanah
menjadi kering dan tidak ada sumber air.

Hidup kita pun ibarat pohon, apakah hidup kita seperti pohon besar
yang tetap tumbuh dan tetap eksis di masa yang sulit, atau hidup kita
seperti pohon kecil yang layu, kering dan akhirnya mati karena kondisi
yang sulit. Semua itu tergantung pada diri kita, bagaimana supaya
tetap bertahan di masa yang sulit, kita dapat belajar dari pohon yang
besar, dia tetap hidup di musim kemarau karena ia semakin dalam
mencari sumber kehidupan yaitu air. Pertanyaannya siapa sumber
kehidupan yang kita cari supaya tetap hidup? Sumber kehidupan
satu-satunya adalah Yesus Kristus. Supaya Dia memberi hidup, kita
tidak hanya sekedar mengenal Dia, tetapi semakin dalam kita mencari
dan mengenal Dia, maka kita akan semakin bayak memperoleh kekuatan
baru dan itulah yang akan memampukan kita untuk tetap bertahan
sekalipun dalam kondisi tersulit. Semakin dalam kita menggali
firman-Nya, maka semakin banyak makanan rohani yang kita dapatkan,
semakin dalam kita bersekutu dengan Dia, maka kita akan semakin pasrah
dan semakin menaruh pengharapan kepada-Nya. Orang yang memiliki
kesukaan pada firman-Nya dan merenungkan firman-Nya siang dan malam,
ia akan seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang
menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa
saja yang diperbuatnya berhasil (Mazmur 1:1-4). Semakin dalam kita
menggali firman-Nya, maka kita akan semakin mengenal Sang sumber
kehidupan itu, karena dari Dia-lah segala sumber kehidupan. Orang yang
telah menerima sumber kehidupan, Ia akan seperti pohon yang ditanam di
tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang
tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang
tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan
buah (Yeremia 17:8). Orang yang sudah hidup di dalam Yesus Kristus,
dalam kondisi apapun, dia akan tetap menghasilkan buah. By: Adrianus
Pasasa
Baca Terusannya »»  

Jumat, 05 Oktober 2012

JALAN DITEMPAT ATAU MERAMBAT

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Suatu waktu kami mendapat telpon dari bapak rohani kami, beliau
berkunjung ke daerah kami, hanya saja pada waktu itu kami berkunjung
ke kota Cimahi karena ada keperluan. Setelah selesai urusan di Cimahi
kami kembali ke rumah, ternyata bapak rohani kami belum pulang, jadi
masih sempat bertemu di salah satu rumah orang tua jemaat mereka. Di
rumah itu mereka juga menanam markisa, saya jadi teringat dengan
markisa yang ada di rumah kami, hanya bedanya markisa yang ada di
rumah kami belum begitu jauh menjalar, sedangkan markisa yang ada di
rumah itu, sudah menjalar ke mana-mana. Pemilik markisa itu bertutur,
kalau markisa semakin merambat jauh, bahkan dari pohon yang satu ke
pohon yang lain, semakin jauh dia merambat, maka akan semakin bayak
buah yang dihasilkan.

Tuhan Yesus memberikan amanat agung kepada setiap kita orang percaya
untuk menjadikan semua bangsa murid-Nya. Tuhan tidak hanya
mengharapkan orang percaya tumbuh di tempat, tetapi bagaimana
kerajaan-Nya "dilebarkan" semakin banyak orang yang datang dan percaya
kepada Yesus dan menjadikan Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat
pribadi-Nya. Gereja harus "menjalar" tidak hanya bertumbuh di tempat
seakan sedang membangun kerajaannya sendiri. Gereja yang bertumbuh
adalah gereja yang ber-misi untuk semakin menjalar membawa orang-orang
yang masih hidup di dalam kegelapan untuk di bawah kepada terang yang
sesungguhnya yaitu Yesus Kristus. Semakin banyak gereja yang
"merambat" maka akan semakin luas kerajaan-Nya, dan akan semakin
banyak buah-buah pertobatan yang dihasilkan. Gereja yang tidak
"merambat" adalah gereja yang sedang menuju kepada "kematian". By:
Adrianus Pasasa
Baca Terusannya »»  

Doa Yang Penuh Keyakinan

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Seorang pemuda yang bernama Alo acapkali tidak mau datang ke persekutuan pemuda bila ia dijadwalkan untuk berdoa. Karena itu pengurus komisi pemuda mengatur strategi supaya si Alo mau berdoa. Akhirnya dalam suatu kebaktian ia tiba-tiba diminta berdoa sebelum menikmati makanan yang telah disediakan tuan rumah. Alo tidak bisa mengelak. Dengan menyembunyikan rasa gugupnya, ia langsung mengajak semua yang hadir untuk berdoa. Lalu Alo berdoa begini, "Bapa kami yang di surga." Lama terhenti, kemudian ia mengulangi doanya lagi. "Bapa kami yang di surga…. Bapa kami yang di surga." Tiba-tiba ia melanjutkan doanya dengan nada suara yang meninggi, "….. yang begini-begini yang saya tidak suka, main tunjuk-tunjuk langsung berdoa…." Suasana saat itu menjadi gempar tak karuan. Semua anak muda langsung tertawa terbahak-bahak. Dan Alo hilang entah ke mana sore itu.
Saudara, ada banyak cerita lucu yang saya dengar tentang orang-orang Kristen yang sulit berdoa. Memang banyak orang Kristen memiliki persepsi masing-masing tentang doa. Ada yang takut berdoa karena malu dinilai orang. Sungkan kalau doanya kurang bagus kata-katanya. Ada yang merasa tidak layak berdoa karena menganggap masih banyak dosa di hadapan Tuhan. Dan macam-macam alasan lainnya. Dalam dunia kekristenan memang ada banyak pertanyaan tentang doa. Itu sangat menarik untuk didiskusikan. Misalnya, apakah doa mengubah segala sesuatu? Atau, apakah doa mengubah orang? Apakah Allah mengubah pikiran-Nya sebagai akibat doa yang dipanjatkan dalam iman? Apakah kita menggerakkan Allah ataukah Allah yang menggerakkan kita untuk berdoa? Siapakah yang boleh berdoa? Bagaimana seseorang seharusnya berdoa?  Saya yakin ada banyak jawaban-jawaban yang berbeda-beda bahkan kadang bertentangan.
Saat ini saya tidak hendak mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan menarik tersebut. Namun Saya ingin supaya kita memberikan perhatian pada satu hal tentang doa yakni berdoa dalam keyakinan. Tidak sedikit ayat firman Tuhan yang menegaskan tentang keyakinan doa. Saya rindu sebagai anak-anak-Nya, kita perlu berdoa dalam keyakinan. Tuhan senang bila kita berdoa dengan penuh keyakinan. Tentu bukan kita memaksa Allah supaya Dia harus menjawab doa-doa kita. Tetapi doa harus kita naikkan dalam keyakinan sebagaimana yang dikatakan Tuhan Yesus dalam Markus 11:24, "Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu."
Rasul Yakobus mengatakan bahwa doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya (Yakobus 5:16b). Kita adalah orang-orang yang telah dibenarkan dalam anugerah Tuhan Yesus Kristus. Bukan karena perbuatan baik kita. Semata-mata hanya karena pengorbanan Yesus di kayu salib dengan darah-Nya yang tertumpah kita menjadi orang-orang yang dibenarkan (Roma 5:9, 1Korintus 6:20). Karena itu sebagai orang yang sudah dibenarkan, mari kita berdoa dengan penuh keyakinan bahwa doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya (Yakobus 5:16b). Dalam Matius 7:7-11, Tuhan Yesus berkata, "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.  Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.  Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti,  atau memberi ular, jika ia meminta ikan?  Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya."
Saudaraku, mari kita belajar dari keyakinan dan keberanian Martin Luther dalam doanya yang ia panjatkan suatu waktu di tahun 1540. Saat itu sobat baik sekaligus asisten Martin Luther  yang bernama Frederick Myconius jatuh sakit. Dan diperkirakan dia akan segera meninggal dunia. Di saat-saat sangat parah Ferederick menulis sebuah catatan perpisahan kepada Luther. Setelah Luther membacanya, ia segera mengirim surat balik kepada Frederick. Isinya demikian, "Saya menasihatkan kamu dalam nama Allah untuk hidup karena aku masih membutuhkan kamu dalam pekerjaan mereformasi gereja …. Tuhan tidak akan pernah membiarkan aku mendengar bahwa kamu meninggal, tetapi akan mengizinkan kamu untuk hidup lebih lama daripada aku. Untuk hal ini aku berdoa, inilah kehendakku, dan biarlah kehendakku terjadi, karena aku hanya berusaha untuk memuliakan nama Allah."
Frederick Myconius meskipun dia sudah kehilangan kemampuan untuk berbicara ketika surat Luther tiba di tangannya, namun dalam waktu singkat ia sembuh total. Dan Frederick hidup enam tahun lagi dan baru meninggal dunia, dua bulan setelah kematian Luther sendiri.
Saudaraku, dalam pelayanan dan kehidupan keluarga Saya sampai hari ini, Tuhan mengizinkan banyak perkara Saya alami. Sekali waktu, anak kedua kami, Jean sepulang sekolah menyanyikan lagu-lagu rohani yang sangat indah dengan sulingnya. Saya sangat gembira mendengar tiupan sulingnya. Saya lalu mendekatinya dan bertanya, "Apakah Jean mau main saxophone?" Jean balik bertanya, "Apa itu saxophone pi?" Saya menjelaskan sepintas kepadanya tentang saxophone, kemudian ia berkata kepada Saya, "Jean mau saxophone." Saya bilang kepadanya, "Asal Jean pakai saxophone itu untuk melayani Tuhan Yesus." "Ya, aku mau melayani Tuhan dengan saxophone", Jawab Jean.  Langsung Saya mengajak Jean berdoa bersama-sama. Kami minta saxophone kepada Tuhan Yesus.  Suatu saat Saya bertanya kepada seorang teman yang ada di luar negeri tentang Saxophone bekas atau yang sudah rusak. Kalau ada Saya mau beli karena perkiraan Saya pasti harganya murah sekali. Barang rongsokan. Nanti pelan-pelan diperbaiki. Kira-kira belum sebulan sejak kami berdoa, teman Saya kirim email kepada Saya. Ia bilang  bahwa temannya datang kepadanya menawarkan saxophone yang masih bagus tetapi ia sudah tidak mau pakai. Dia mau jual saja. Akhirnya teman Saya membelinya dan memberikan kepada Jean dengan harga gratis. Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Pdt. Bob Jokiman yang penuh kemurahan hati yang digerakkan Tuhan untuk memberikan kepada Jean soprano saxophone manis berwarna merah bermerek LA. Bukan saja itu, kemudian beliau memberikan sebuah tenor saxophone lagi kepada Jean. Luar biasa. Wow….. air mata saya menetes haru. Betapa Tuhan menjawab doa Saya dan Jean. Saya tidak mungkin dapat membeli saxophone. Saya hamba Tuhan sederhana. Dari mana Saya dapat uang untuk membelinya? Mustahil. Ya mustahil! Bagi Saya tidak mungkin terjadi. Tetapi bagi Yesus Kristus Tuhan yang Saya dan engkau layani, tidak ada yang mustahil. Banyak mujizat  Saya alami sepanjang melayani-Nya.
Namun juga tidak sedikit fitnahan dilemparkan kepada Saya oleh orang-orang yang menyebut dirinya sebagai hamba-hamba Tuhan. Ada yang mengatakan bahwa Saya memberi makan istri dan anak-anak  Saya dengan uang hasil curian dalam pelayanan kepada orang-orang miskin. Betapa sangat perih  fitnahan itu. Tetapi tak setapak pun langkah untuk Saya undur dari melayani-Nya.  Tuhan Yesus paling tahu siapa dan bagaimana Saya di hadapan-Nya. Orang-rang terheran-heran bingung bagaimana Saya yang tidak punya uang bisa keliling melayani di berbagai desa dan pedalaman di tanah air kalau bukan korupsi uang pelayanan yang diberikan oleh para donatur? Mereka tidak pernah tahu bila Saya tidak pernah membuat proposal lalu menjajakan kepada para konglomerat untuk mengemis dukungan dana. Memang tidak sedikit yang menamakan dirinya hamba Tuhan yang menjual proposal ke sana ke mari untuk bangun gereja atau tempat pelayanan ini dan itu, padahal yang dibangunnya adalah rumah pribadi.  Setelah itu masih juga mengeluh ke sana ke mari. Minta bantuan lagi. Tidak pernah puas hidupnya. Karena memang mereka bukan hamba Tuhan yang sejati. Tapi mereka sesungguhnya hamba berkat Tuhan.
Puji Tuhan Yesus!!! Mujizat sering terjadi dalam hidup kami. Itu semua membuat nama Tuhan Yesus dipermuliakan. Hari ini Tuhan begitu memberkati Jean. Ia bisa melayani dengan saxophonenya ke mana-mana bagi kemuliaan Tuhan Yesus. Saudara yang mau melihat Jean bernyanyi dan meniup saxophonenya, silakan klik youtube dan klik: Jean soprano saxophone. Doakan Jean agar makin sempurna memainkan saxophone bagi kemuliaan Tuhan Yesus. Saya yakin juga jawaban-jawaban doa sering terjadi dalam kehidupan saudara-saudaraku semua. Bagaimana dengan Saudara yang sedang membaca artikel ini? Apakah engkau sedang bergumul dengan masalah yang begitu berat tentang keluarga, ekonomi, pekerjaan, studi, pelayananmu, atau masa depanmu?  Pastikan terlebih dulu bahwa engkau sudah menjadi anak-anak Allah karena engkau telah menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadimu. Lalu, bawalah seluruh beban hidupmu sekarang juga kepada-Nya di dalam doa. Namun ingatlah, motivasi utama permohonanmu hanya untuk kemuliaan-Nya. Demi Kerajaan Allah. Bukan untuk kenikmatan pribadimu semata. Jangan minta kekayaan untuk tabungan hari tuamu dan untuk jaminan hidup tujuh turunanmu. Jangan minta kesehatan supaya dapat menikmati semua makanan lezat dan berfoya-foya. Jangan minta jabatan demi untuk popularitas  dirimu. Mintalah semuanya sesuai dengan kehendak-Nya. Mintalah semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji (Filipi 4:8).
Akhirnya, berdoalah sekarang juga dengan penuh keyakinan. Dengan demikian engkau akan mengalami apa yang dikatakan Tuhan Yesus dalam Yohanes 14:13-14, "Dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak.  Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya." "Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.  Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku." (Yohanes 15:7-8).
Tuhan Yesus Kristus Sang Penasihat Ajaib, Allah Yang Perkasa, Bapa Yang Kekal, dan raja Damai memberkatimu. Amin. Soli Deo Gloria!!! (Rev. Hans).
Baca Terusannya »»  

Kamis, 04 Oktober 2012

SUSAHNYA JADI ISTRI HAMBA TUHAN

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Hari ini ketika saya sedang memeriksa tugas kuliah mahasiswa, kawan
sepelayanan datang mencurakan isi hatinya seputar "petualangannya" di
ibu kota Jakarta, kurang lebih dua hari yang lalu. Sambil memeriksa
tugas saya mendengarkan untaian pengalamannya, kawan saya berkata
"gagal lagi", maksudnya gagal apa? Tanya saya! Yang itu….J O D O H.
Ternyata selama di ibu kota dia janjian dengan seorang wanita asal
Kalimantan yang sudah meniti karier di ibu kota Jakarta. Setelah
bertemu, mereka jalan-jalan menikmati waktu santai. Ditengah-tengah
obrolan mereka, kawan saya ini menceritakan seluruh keadaan dirinya
apa adanya, termasuk penghasilannya tiap bulan. Ketika dia mulai
menyebutkan penghasilannya per-bulan, si wanita ini mulai berpikir,
kemudian berujar kepada kawan saya, katanya: setiap minggu saya
perawatan ke salon biayanya segini, belum beli pakaian, perhiasan, dan
lain sebagainya, mana mungkin penghasilan kamu cukup untuk membiayai
saya, ujar sang wanita. Dalam hati, kawan saya berkata susah sekali
jadi istri hamba Tuhan.

Menjadi hamba Tuhan adalah suatu panggilan dari Tuhan. Hamba Tuhan
tidak pernah mengejar harta, karena hamba Tuhan bukan hamba upahan.
Saya jadi teringat suatu perkataan yang mengatakan, kalau mau cari
uang jangan mau jadi hamba Tuhan. hidup hamba Tuhan bukanlah hidup
yang berkelimpahan, tetapi hidup hamba Tuhan adalah hidup yang selalu
tercukupkan, tidak lebih dan tidak kurang. Hamba Tuhan tidak pernah
kuatir akan kehidupannya, tidak kuatir akan kebutuhan sandang, pangan,
dan papan, karena semua akan dicukupkan oleh Tuhan Sang pemilik ladang
pelayanan tempat hamba Tuhan berkarya.
Baca Terusannya »»  

Senin, 01 Oktober 2012

DAMPAK PERTOBATAN

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Nats: Lukas 15:1-32
Ibadah Misi GPdI Pasirnangka-Ciranjang: Minggu, 30 September 2012

Dalam bacaan ini diceritakan para pemungut cukai dan orang-orang
berdosa datang kepada Yesus untuk mendengarkan pengajaran yang
disampaikan oleh Tuhan Yesus. Namun ahli-ahli Taurat dan orang-orang
Farisi bersungut-sungut. Katanya Ia menerima orang-orang berdosa dan
makan bersama-sama dengan mereka.

Menjadi pertanyaan, mengapa orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut?
Ada tiga hal yang membuat mereka bersungut-sungut.

1. Mereka menganggap diri lebih baik dan lebih suci dari orang lain
(orang berdosa)
2. Mereka tidak senang jika orang lain diselamatkan (datang kepada Yesus)
3. Mereka tidak peduli dengan keselamatan orang lain

Lalu bagaimana respon Tuhan Yesus terhadap ahli Taurat dan orang
Farisi, Tuhan Yesus memberikan 3 perumpamaan, yaitu:
1. Perumpamaan tentang seekor domba yang hilang.
Ia meninggalkan yang Sembilan puluh sembilan ekor dan mencari yang
sesat sampai Ia menemukan. Yesus datang untuk mencari yang terhilang
dari kawanan domba-Nya. Di sini kita melihat bahwa begitu berharganya
1 jiwa bagi Tuhan. Setelah ditemukan ia bersukacita bersama dengan
tetangga-tetangganya karena domba yang hilang itu telah ditemukan.
Demikian halnya, jika satu orang berdosa bertobat akan ada sukacita di
Surga, lebih daripada sukacita karena 99 orang benar yang tidak
memerlukan pertobatan. Di sini kita melihat bahwa pertobatan itu
sangat penting, inti pengajaran Tuhan Yesus adalah pertobatan.
2. Perumpamaan tentang Dirham yang hilang.
10 dirham, hilang satu diantaranya. Ia menyalakan pelita, menyapu
dengan cermat sampai ia menemukannya. Setelah ditemukan ia mengundang
tetangganya untuk bersukacita bersama-sama sebab dirham yang hilang
telah ditemukan. Ada sukacita pada malaikat-malaikan Allah karena satu
orang berdosa yang bertobat.
3. Perumpamaan tentang anak yang hilang.
Ada tiga pemeran yaitu, ayah pemilik harta, anak bungsu, dan anak
sulung. Anak bungsu meminta bagian terlebih dahulu. Setelah ayahnya
membagikan, si bungsu menjual seluruh bagiannya lalu pergi ke negeri
jauh, ia memboroskan harta miliknya dengan hidup berfoya-foya. Setelah
semua habis, timbulah bencana kelaparan dan ia mulai melarat. Ia
bekerja menjaga babi, dan ia ingin mengisi perutnya dengan ampas
makanan babi tetapi tidak ada yang memberikan. Dalam kondisi demikian
ia menyadari keadaannya (awal pertobatan), ia mengingat kepada rumah
bapaknya yang berlimpah-limpah makanan. Ia berkomitmen untuk kembali
ke rumah bapaknya, dan ia mau mengakui bahwa ia telah berdosa terhadap
Surga dan terhadap Bapa (ada tindakan pengakuan dosa), mengaku diri
tidak layak disebut anak Bapa.

Sikap bapaknya: masih jauh ayahnya telah melihat, lalu tergeraklah
hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya berlari mendapatkan dia lalu
merangkul dan mencium dia. Dipakaikannya jubah yang terbaik, cincin
pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Sembelih anak lembuh tambun,
makan dan bersukacita sebab anak yang hilang telah didapatkan kembali.
Di sini kita melihat bahwa walaupun orang sudah meninggalkan Tuhan,
tetapi kalau dia menyadari dan mau bertobat dan kembali kepada Tuhan,
maka tangan Tuhan sangat terbuka untuk menyambut dia. Bagaimana dengan
keadaan kita, apakah masih ada orang dekat kita yang terhilang, apa
yang akan kita lakukan untuk mereka. Ingat, Tuhan selalu menunggu
mereka untuk kembali ke Rumah Tuhan.

Sikap sulung: marah (tidak peduli dengan adiknya yang hilang), telah
bertahun-tahun aku melayani Bapa dan belum pernah aku melanggar
perintah Bapa, tetapi kepadaku belum pernah memberikan seekor anak
kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Si sulung cemburu
dengan perlakuan pada adiknya, tetapi ayahnya menjawab: engkau selalu
bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaamu adalah kepunyaanku.
Kita patut bersukacita dan begembira karena adikmu telah mati dan
menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan di dapatkan kembali.

Bagaimana dengan kita? Seberapa besar kita punya kepedulian terhadap
jiwa-jiwa yang hilang? Bagaimana sekap kita terhadap jiwa-jiwa yang
hilang? Apakah kita masih seperti orang Farisi dan ahlih-ahli Taurat
bersungut-sungut alias tidak senang melihat orang lain bertobat,
ataukah kita seperti si sulung yang menganggap diri lebih baik/suci
dari pada adiknya, sehingga ia tidak senang melihat adiknya bertobat?
Tetapi yang pasti Yesus mengutus orang-orang percaya untuk mencari dan
membawa kembali orang-orang yang terhilang/berdosa supaya mereka
bertobat. Amin.
Baca Terusannya »»  

Berita Terkini

« »
« »
« »
Get this widget

Daftar Blog Saya

Komentar