Tulisan Jalan

Hidupku untuk mengharumkan nama-MU Jangan bersukcita ketika engkau berhasil dalam pelayanan, tetapi bersukcitalah karena namamu tercatat di Surga

Kau istimewa. Di seluruh dunia, tidak ada orang yang sepertimu. Sejak bumi diciptakan tidak ada orang lain yang sepertimu. Tidak ada orang lain yang memiliki senyummu, tidak ada yang memiliki matamu, hidungmu, rambutmu, tanganmu, suaramu. Kau istimewa. Tidak ada orang lain yang memiliki tulisan yang sama denganmu. Tidak ada orang lain yang memiliki selera akan makanan, pakaian, musik, atau seni sepertimu. Tidak ada orang lain yang memiliki cara pandang sepertimu. Sepanjang masa tidak ada orang lain yang tertawa sepertimu, tidak ada yang menangis sepertimu. Kaulah satu di antara seluruh ciptaan yang memiliki kemampuan seperti yang kau miliki. sampai selamanya, tidak akan ada orang yang akan pernah melihat, berbicara, berjalan, berpikir, atau bertindak seperti dirimu. Kau istimewa...kau langka. Tuhan telah menjadikanmu istimewa dengan satu tujuan yaitu MEMULIAKAN DIA

Cari Blog Ini

Kamis, 21 Februari 2013

Mujizat itu nyata!

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***


MUJIZAT ITU NYATA!!!
Ada sebuah lagu rohani yang cukup sering dinyanyikan jemaat Tuhan. Di persekutuan-persekutuan atau dalam kebaktian-kebaktian Minggu, lagu ini cukup dikenal. Banyak orang yang menyukainya. Sebagian liriknya begini, "Jangan lelah bekerja di ladang-Nya Tuhan…" Lagu ini iramanya cukup enak didengar. Namun agak sedikit mengganjal di hati. Namanya orang bekerja pasti lelah dong. Dan hal yang mustahil, kata teman saya orang Arab, melarang orang supaya tidak lelah tatkala ia sedang bekerja. Lelah dalam bekerja itu alamiah bin lumrah bin lazim. Kecuali sang koruptor si benalu parasit masyarakat  yang sanggup meraup duit rakyat  puluhan sampai ratusan miliar rupiah dengan bermodalkan jabatannya. Mereka hanya main angkat telepon kapan saja dan di mana saja meminta "apel Malang" atau "apel Washington" kepada kacung-kacung mereka yang merajalela di perusahaan-perusahaan milik para bos besar dan ketua besar. Tanpa bekerja keras bak seorang petani yang mencangkul ladangnya demi mencari sesuap nasi buat anak-anak dan istrinya, atau seperti si tukang becak yang mendayung becaknya hingga mandi keringat dan mengucur peluh di sekujur tubuhnya bak derasnya hujan turun dari langit.

Bekerja sebagai pekerja di dunia sekuler sama bekerja di dunia rohani. Bahasa kerennya, melayani di ladang Tuhan. Bukan saja lelah bahkan boleh jadi penat-nat sehingga mau minta mati saja. Kalau gak percaya coba lihat nabi Yunus. Dia pernah berkata, "Jadi sekarang, ya TUHAN, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati dari pada hidup." (Yunus 4:3). Yunus marah besar dan sangat kesal atas kebaikan Tuhan yang mengampuni orang-orang jahat di Niniwe. Maunya Yunus  sih mereka dibumihanguskan saja. Gitu aja koq repot diampuni?  Lebay Tuhan! Perhatikan juga nabi sekaliber Elia yang pernah meluluhlantakkan empat ratus lima puluh nabi Baal dan empat ratus nabi Asyera (1Raja-Raja 18:19) hanya dengan sebilah pedangnya, tetapi bisa sangat penat batinnya ketika dikejar hanya oleh seorang budak dari si nyonya Izebel yang amat menyebelken itu (1Raja-Raja 19:2-3) . Dalam 1Raja-Raja 19: 4 dijelaskan, "Tetapi ia (Elia) sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: "Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku."  Yesus sendiri tertidur pulas di perahu karena kecapean melayani bahkan Ia pernah mengalami rasa ketir yang begitu menakutkan ketika Ia bergumul di taman Getsemani. Karena tidak lama lagi Ia akan menanggung akibat dosa umat manusia. Saking beratnya beban dosa yang akan dipikul-Nya, Ia berkata, "Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi."  Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya.  Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah." (Lukas 22:42-44).

Jadi, tidak heran banyak rohaniwan saat ini yang akhirnya banting setir dan putar kemudi karena tak tahan dengan kelelahan dan kepenatan hati melayani umat yang juga sedang lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Berbicara tentang kelelahan dan kepenatan sebagai rohaniwan tentu bisa diinventarisir jenisnya yang amat beragam itu. Sebagai rohaniwan yang sering mengunjungi jemaat di desa-desa dan pedalaman Indonesia, saya banyak melihat tidak sedikit para hamba Tuhan yang mengalami kesulitan makan dan minum apalagi untuk menyekolahkan anak-anaknya. Bukan cuma di desa. Di kota juga tidak sedikit hamba Tuhan mengalami hal yang sama bahkan lebih berat. Ada yang nampak tapi juga ada yang tidak kelihatan betapa beratnya perjuangan hidup mereka. Bagi hamba Tuhan yang punya banyak relasi dan punya kemauan dan kemampuan yang kuat serta strategi jitu-tu, tentu tidak terlalu bermasalah tatkala kesulitan mendekat pada mereka. Hanya dengan mengangkat telpon atau ber-SMS ria dengan jemaat yang berpunya, maka selesailah masalah mereka. Apalagi bila dibumbu-bumbui dengan ayat-ayat firman Tuhan, "Hati-hati jangan sampai belalang pelahap melahap abis usahamu kalau tidak memedulikan kehidupan hamba Tuhan!" Ceileh….. Jemaat mendengar ocehan pak pendeta dengan bumbu firman Tuhan menjadi  gemetar dan gemetir,  sedang bibir pak pendeta sendiri mengembang senyum manis.  Saya pernah diceritakan seorang teman mengenai seorang pendeta. Teman saya ini, pas kakaknya sedang dirawat di ruang perawatan intensif di sebuah rumah sakit karena penyakit jantung. Sang pendeta datang mendoakan kakaknya yang sangat lemah tubuhnya setelah sadar dari koma selama beberapa hari. Anda tahu apa yang dibicarakan sang pendeta itu? Ia memberikan dorongan semangatkah? Anda keliru. Ia justru meminta bagian uang perpuluhan kepada jemaatnya karena ia tahu si sakit belum lama menjual tanahnya dengan nilai satu koma dua miliar rupiah. Lalu tidak berhenti di situ, sang pendeta juga meminta sepuluh persen untuk mendukung misi gereja. Alasannnya, hamba Tuhan dan gereja hidup dari persembahan jemaat. Lengkaplah sudah penderitaan si sakit. Beberapa hari kemudian si sakit akhirnya meninggalkan dunia untuk selama-lamanya. Jangan-jangan percepatan kematian si sakit karena ia stress memikirkan permintaan pendetanya itu. Peristiwa ini sangat amat memilukan dan memalukan korps para pendeta. Ini namanya pendeta debt collector-tor-tor-tor…….

Tetapi ada juga hamba Tuhan yang sama sekali tidak pandai memanfaatkan jemaat atau sahabat-sahabat mereka untuk mencari solusi keuangan yang sedang digumulinya. Saya adalah seorang yang sedang dan terus mau belajar  untuk hal ini. Beberapa teman dan keluarga  yang punya uang  segudang, pernah mengatakan, "Andaikata  Anda ada kesulitan atau kebutuhan sesuatu tolong jangan sungkan beritahukan ya", demikian tawaran mereka kepada Saya. Tetapi Saya dan istri belajar untuk tidak "memanfaatkan" tawaran menggiurkan itu. Karena prinsip kami, bekerja di ladang Tuhan hanya mengandalkan-Nya saja. Paling sering istri Saya kalau sangat mendesak ia mengambil jurus "Menyelesaikan masalah tanpa masalah." Dan kadang harus menerima kenyataan barang-barangnya dilelang.  Bila persoalannya cukup berat kami datang  bersujud kepada-Nya di dalam doa dan puasa. Bukankah firman Tuhan dalam Yeremia 17:7-8 telah dengan jelas memperingatkan kita semua, ada upah bagi yang mengandalkan dan mengharapkan-Nya?  Sebaliknya, ada ancaman bagi mereka yang mencoba-coba mengandalkan manusia? Kalau tak percaya, silakan saja baca Yeremia 17:5-6.  Jangan pernah memanfaatkan "domba-domba" apalagi memeras "susu" mereka dengan alasan pelayanan. Apalagi membawa-bawa nama Tuhan. Demi kemuliaan Tuhan segala.

Pada kesempatan ini, tanpa bermaksud apa-apa, sungguh, izinkan saya membagikan kesaksian buat para hamba dan jemaat Tuhan yang tidak pandai mengandalkan sesamanya dan karena itu mereka berada  dalam kelelahan dan kepenatan. Kemarin setelah ibadah dan Perjamuan Kudus, Minggu, 4 Maret 2012, saya langsung pulang ke rumah. Karena kelelahan fisik dan kepenatan psikis karena berbagai pergumulan, terutama kondisi keuangan kami, saya beristirahat siang di tempat tidur. Sudah cukup lama, kami, khususnya saya, bergumul dengan masalah keuangan untuk studi ketiga anak kami. Satu di perguruan tinggi dan dua lainnya di SMP dan SD. Minggu sore sekitar jam dinding  di rumah kami menunjukkan pukul setengah tiga Waktu Indonesia Barat (WIB) saya terbangun dan langsung berdoa di hadapan Tuhan Yesus Kristus. Doa saya sangat sederhana. Intinya saya menyampaikan permohonan kepada Tuhan Yesus Kristus tentang kebutuhan uang untuk berbagai kebutuhan kami sekeluarga. Kami tidak memberitahukan kepada siapapun akan kebutuhan ini. Apalagi meminta kepada orang-orang dekat kami. Tidak lama waktunya saya berdoa sore itu. Berselang beberapa waktu kemudian, tepatnya jam 1607 WIB telepon genggam saya berdering. Sebuah SMS masuk dari seorang hamba Tuhan senior yang sudah emeritus. Saya sangat jarang bertemu apalagi berdiskusi dengannya. Meskipun pertemanan kami cukup baik, saya tidak pernah mengemukakan permohonan bantuan dana apapun. Bunyi SMS-nya, "Pak Hans, ada account number bank BCA? Tq GBU." Mendadak sontak saya kaget. Lalu seketika itu juga saya balas SMS-nya, "Ada apa gerangan dengan Saya pak?" Lalu kira-kira sejam kemudian, pasnya jam 1713 WIB SMS beliau masuk lagi. Bunyinya, "O… begini, tadi saya bangun tidur ada satu gerakan hati saya untuk memberi dukungan dana tidak besar, tapi ya seperti Tuhan ingin saya support anak-anak  bapak tiap bulan xxxxx rupiah dari Januari – Desember tahun 2012. Nanti yang bulan Januari dan Pebruari saya rapelkan bersama dengan bulan Maret ini. Semoga menjadi berkat untuk bapak sekeluarga. Tq GBU."

Peristiwa ini benar-benar  mujizat. Tuhan Yesus mendengar dan langsung seketika itu juga menjawab permohonan Saya. Ini sangat mengharukan hati kami sekeluarga. Waktu Saya berdoa sore itu berbarengan dengan Tuhan menggerakkan hati hamba Tuhan senior itu. Saya berdoa pas baru bangun tidur, ia pun baru bangun tidur ketika merasakan suatu gerakan hati yang tak bisa dibendungnya  untuk mendukung dana studi anak-anak Saya. Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan Yesus saja! Kami berdua dikuasai rasa haru yang dalam sehingga air mata kami jatuh berderai. kami berpelukan sambil menangis. Tuhan Yesus menyentuh hati kami yang paling dalam. Seakan Dia membelai kami berdua sambil berkata, "Anakku Aku tahu kesulitanmu. Aku tahu segala yang kamu perlukan. Ini Aku. jangan bersedih hati. Aku besertamu. Akulah penolongmu yang setia. Aku sekali-kali tidak akan membiarkan dan meninggalkan kalian."  Sungguh ajaib Tuhan Yesus. Damai sejahtera memenuhi hati dan pikiran Saya dan Ima, istriku yang setia berjuang menemaniku selama ini. Ia menjawab kami tepat waktu. Yang mengharukan lagi, Tuhan memakai seorang hamba Tuhan sederhana yang sudah pensiun tanpa gaji lagi untuk meringankan beban anak-anak kami. Itulah kebesaran kuasa dan kasih-Nya yang tak terduga. Kami mengalami mujizat lagi. Kami hidup dari hari ke hari dengan mujizat demi mujizat. Ini bukti nyata yang tidak terbantahkan akan janji Tuhan ketika Saya meninggalkan tawaran bekerja di sebuah bank swasta pada tahun 1995 demi menyerahkan diri sebagai hamba Tuhan dibentuk di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang, Jawa Timur. Waktu itu Saya sangat berat untuk menyerahkan diri menjadi hamba-Nya. Saya begitu kuatir hidup sebagai hamba Tuhan yang kebanyakan hidup sederhana bahkan sangat sederhana. Tetapi dalam pergumulan yang berat itulah, Tuhan berfirman kepada Saya, "Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung.  Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus." (2Petrus 1:10-11). Firman Tuhan inilah yang menghantarkan Saya memasuki gerbang Seminari Alkitab Asia Tenggara, dibentuk menjadi hamba-Nya. Dan sampai hari ini Saya masih terus dalam pemrosesan tangan-Nya yang tak berkesudahan. Kami sekeluarga mengimani dan mengamini firman Tuhan yang berkata, "Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau." Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata: "Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?" (Ibrani 13:5).

Tetapi saya tetap berkeyakinan kokoh, mujizat terbesar dalam hidup Saya yaitu ketika Yesus Kristus yang adalah Tuhan dan Juruselamat satu-satunya itu, mau mati untuk Saya justru pada waktu Saya lemah, durhaka, penuh dosa, dan berseteru dengan-Nya sehingga saya memiliki jaminan kepastian keselamatan hidup yang kekal (Roma 5:6-11).

Para sobat sekalian. Mungkin saat ini engkau sedang mengalami pergumulan yang sangat berat. Terlalu kuat menindih hidupmu. Air matamu tak pernah berhenti berderai. Mungkin engkau sedang bahkan sudah kehilangan akal menghadapi persoalan itu. Ingatlah, boleh jadi ketika kita menghadapi masalah berat kita kehilangan akal, tetapi kita tak akan pernah kehilangan iman kepada Yesus. Marilah saat ini juga engkau dan Saya belajar sungguh-sungguh apa arti mengandalkan Yesus dalam seluruh perjuangan kita mengiringi-Nya untuk menyenangkan-Nya di dunia yang sementara ini.  Pertolongan-Nya tidak pernah terlalu cepat dan terlalu terlambat buat engkau. Ingatlah, janganlah hati kita melekat pada dunia ini. Dengarkan sabda-Nya yang penuh wibawa, " Dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya." (1Yohanes 2;17).

Jawaban Tuhan Yesus terhadap doa permohonanmu sedang dijawab Tuhan. Berdoalah terus, mendekatlah kepada Dia, dan taatilah segala kehendak-Nya. Yesus berkata saat ini kepadamu juga kepadaku, "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan." (Matius 11:28-30). "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.  Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari." (Matius 6:33-34). Teruslah memenangkan sebanyak mungkin orang kepada Dia dan berjuanglah dengan semangat yang membara bagi kemuliaan Yesus Kristus Tuhan dan Juruselamat kita.

Segala puji hormat dan sembah Saya panjatkan hanya bagi-Mu Yesus Tuhan dan Juruselamatku. Amin! (Kota Kembang, Selasa, 6 Maret 2012. Rev. Hans).
Baca Terusannya »»  

Senin, 18 Februari 2013

GEREJA DESA = GEREJA KOTA

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Sudah menjadi buah bibir kalau gereja kota menjadi berkat bagi gereja
desa. Slogan ini tidak selamanya berlaku bagi gereja desa. Memang ada
sebagian gereja desa yang menjadi "objek" gereja kota untuk
menyalurkan bantuannya. Tetapi hal yang berbeda terjadi di salah satu
desa di Jawa Barat, di mana gereja desa menjadi berkat bagi gereja
kota. Hal ini terjadi pada bulan Desember, dimana setiap perayaan
Natal sebagian besar yang hadir dalam gereja itu adalah undangan dari
gereja-gereja kota.

Pada intinya, baik gereja kota maupun gereja desa adalah satu tubuh
Kristus, jadi wajar saja kalau saling "bertukar berkat". Sehingga
kesan bahwa gereja desa hanya jadi "objek" gereja kota dapat ditepis,
karena terbukti bahwa gereja desapun mampu menjadi berkat bagi gereja
kota. Sebaiknya gereja kota dan gereja desa menjadi mitra dalam
memperlebar kerajaan-Nya di dunia ini. Jika gereja kota lebih unggul
dalam Sumber Daya Manusia (SDM), mampu dalam bidang keuangan, lebih
maju dalam bidang kerohanian, baiklah ia berbagi dengan gereja desa.
Dan sebaliknya apa yang menjadi kebutuhan bagi gereja kota dan gereja
desa bisa memberi, tentu gereja desapun dapat berbagi dengan gereja
kota. Inilah keharmonisan pelayanan yang Tuhan Yesus rindukan. Sebab
dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani,
baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh
dan kita semua diberi minum dari satu Roh (I Korintus 12:13). Karena
roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh,
karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu (1 Korintus
10:17). By: Adrianus Pasasa
Baca Terusannya »»  

Kamis, 14 Februari 2013

Ah Andaikan Saja ….

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Ah andaikan Saja ….

            Minggu itu bertepatan dengan perayaan Imlek 2564, 10 Pebruari 2013 Saya cukup merasakan kelelahan. Ya, lelah setelah berkhotbah di gereja yang Saya gembalakan. Mungkin juga karena malamnya telat tidur ketika harus merampungkan khotbah Saya. Ketika tiba di rumah, Saya berganti pakaian dan langsung terjun ke pulau kapuk membaringkan diri. Sebelum tertidur Saya mendengar percakapan kecil antara istri Saya dengan Juan, anak kami yang pertama.  Yang mereka bicarakan adalah tentang tukang sepatu. Ternyata sebelum kami pulang ke rumah Minggu itu, Juan memanggil seorang bapak tukang sepatu untuk menjahit sandalnya yang rusak. Setelah sandalnya menjadi baik lagi, Juan memberikan uang sebesar Rp 50.000, sepuluh kali lipat dari yang sewajarnya. Saya kemudian bertanya kepada Juan, kenapa Juan membayar sebegitu besarnya. Uang sebesar itu bisa membeli sandal baru sebanyak dua pasang buatnya. Tanpa menduga, Juan menjawab pertanyaan Saya, "ga apa-apa pa, kasihan bapak tukang sepatu itu, masih pagi mungkin belum ada penghasilannya. Lagi pula kasihan bapak itu sudah tua masih bekerja."

Mendengar jawaban Juan seperti itu, hati Saya begitu terharu dan bercampur bangga. Tiba-tiba Saya teringat, ketika Juan masih duduk di bangku SMP beberapa tahun lampau. Dia juga pernah menyarankan pada mamanya ketika akan membeli kursi bambu supaya membayar lebih dari harga yang disebutkan Mang Jumar, si penjual kursi bambu pada waktu itu. Harga kursi bambunya Rp 25.000 tetapi Juan mengusulkan kepada mamanya agar dilebihkan menjadi Rp 50.000. Kami pun membelinya dengan harga yang disarankan Juan. Kami puas. Kami bersukacita untuk kemurahan hatinya. Itu yang kami ajarkan dan teladankan kepada Juan. Juga kepada kedua adiknya, Jean dan Joel. Karena makna hidup yang terpenting adalah, bukan berapa banyaknya yang bisa dimiliki dan ditabung melainkan berapa banyak yang dapat diberikan kepada mereka yang membutuhkan. Itulah yang Tuhan Yesus Kristus teladankan bukan? Saya juga teringat akan teladan kasih dari orang tua rohani kami, Rev. Charles Christano mantan ketua gereja Mennonite dunia. Ketika mengajak kami makan bersama, ia membawa kami ke warung yang tidak ramai pengunjung. Dengan alasan supaya pemilik warung itu juga boleh mendapatkan penghasilan yang cukup. Saya belum pernah menemukan pemimpin Kristen yang seperti ini. Sungguh "aneh bin ajaib". Tapi itulah belas kasih yang nyata yang memang seharusnya mewarnai sikap hidup setiap murid Kristus. Rasul  Paulus menuliskan dalam 2Korintus 8:9, "Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya." Demikian pula kata firman Tuhan dalam Amsal 3: 27-28, "Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya.  Janganlah engkau berkata kepada sesamamu: "Pergilah dan kembalilah, besok akan kuberi," sedangkan yang diminta ada padamu."

            Saya bersyukur belaskasihan yang Tuhan taruh di hati anak kami ini bertahan sampai hari ini. Doa Saya semoga, Juan konsisten memiliki hati yang penuh belas kasih. Tidak pelit dan tamak. Mau berbagi dengan sesama yang menderita. Murah hati dan disterilkan dari cinta uang akar segala kejahatan itu. Doa Saya biarlah Tuhan Yesus berkenan memakainya menjadi alat curahan berkat bagi seluruh rakyat Indonesia sampai akhir hayatnya kelak. Saya tahu bagi Juan, ini bukan hal mudah untuk membagi Rp 50.000 kepada bapak tukang sepatu di hari Minggu itu. Juan kuliah sambil mencari uang sendiri dengan memberikan les privat kepada beberapa anak didiknya. Betapa lelahnya Juan yang hampir setiap hari kedinginan karena hujan deras harus pergi ke rumah memberikan les pelajaran kepada anak didiknya dengan pendapatan yang tidak seberapa. Apalagi Juan sedang mengirit-irit menabung untuk suatu keperluannya, yang menurut perhitungan Saya, beberapa tahun baru bisa Juan membeli sesuatu yang dirindukannya. Tetapi mengapa ia begitu mudah menyerahkan uang yang dikumpulkannya sedikit demi sedikit itu untuk bapak tukang sepatu itu??? Belas kasih adalah jawabannya!!! Ya itu hanyalah anugerah Tuhan semata-mata yang dikaruniakan di hati anak kami ini. Hatinya telah dilumuri dengan anugerah belas kasih Kristus. Tanpa-Nya kita semua manusia tamak dan egoistis. Kita begitu mengasihani diri sendiri ketimbang mengasihi orang lain.

            Peristiwa di hari Minggu itu membuat Saya merenung tentang kondisi Indonesia kekinian. Betapa amat memprihatinkan melihat potret wajah negeri tercinta kita saat ini. Para elite partai politik, menteri, jenderal, para politikus di DPR, para pemimpin daerah, hakim, jaksa, pengusaha, rektor, dan  profesi lainnya telah mencemarkan dirinya dengan kasus-kasus korupsi yang sangat menyengsarakan jutaan rakyat Indonesia. Kuasa dan jabatan yang dipercayakan kepada mereka bukannya dipakai sebagai kesempatan untuk berbuat bajik dan bijak malah sebaliknya dipergunakan untuk menari-nari di atas perut lapar jutaan rakyat yang sedang meringis  dalam kemiskinannya. Sungguh amat memalukan dan memilukan. Dan betapa menyedihkan sepertinya di raut wajah mereka tidak ada  rasa penyesalan dan malu  sama sekali, malah sebaliknya dengan tangan diborgol dan memakai pakaian koruptor mereka masih bisa senyum senyam tanpa salah dan dosa. Betapa mengerikan bangsa kita ini. Rasa belaskasihan sudah tidak ada lagi di dalam nurani para pemimpin kita. Sirna sudah hati yang penuh belaskasihan itu. Yang ada hanyalah nafsu serakah dan tamak membabi buta bergelora di hati mereka. Benar sekali apa yang Tuhan katakan ribuan tahun yang lampau di dalam Yesaya 1:23, "Para pemimpinmu adalah pemberontak dan bersekongkol dengan pencuri. Semuanya suka menerima suap dan mengejar sogok. Mereka tidak membela hak anak-anak yatim, dan perkara janda-janda tidak sampai kepada mereka."  Inilah kondisi nyata yang sedang terjadi di negeri tercinta kita. Quo vadis Indonesia?

            Sejatinya umat Kristen Indonesia adalah agen-agen pencegah dan penghancur korupsi di Indonesia. Sayangnya yang gencar menyuarakan dan bertindak untuk memberantas korupsi di negeri kita hanya sedikit sekali dari kalangan Kristen. Bahkan hampir tak terdengar suaranya. Gereja autis. Tidak peduli dengan semua kondisi ini. Yang penting gereja masih berada di zona nyaman dan aman.  Jangan cari masalah dengan menyuarakan suara kenabian kita. Namun ironisnya perilaku korup tidak sedikit justru dari kalangan Kristen (pengusaha, pejabat, dan profesi lainnya, bahkan para pendeta ada yang menyogok pejabat untuk mendapatkan IMB gereja). Kita harus jujur mengakuinya.

Ah andaikan saja, tiga kebenaran firman Tuhan di bawah ini  mau dijalankan oleh para elite negeri ini dan oleh setiap orang Indonesia, bukan mustahil korupsi yang sudah mendarahdaging ini niscaya sirna. Pertama, hindari mengejar  uang sebagai tujuan hidup. Renungkan   Timotius 6:10, "Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka."  Kedua. Buat komitmen pada diri sendiri untuk hidup bersih dan secukupnya. Renungkan Lukas 3:14, "Dan prajurit-prajurit bertanya juga kepadanya: "Dan kami, apakah yang harus kami perbuat?" Jawab Yohanes kepada mereka: "Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu." Dan yang ketiga. Hiduplah bergantung hanya kepada Tuhan yang sejati di dalam Yesus Kristus. Amini dan imanilah  Ibrani 13:5 dan Yohanes 15:5, "Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: "Aku (Yesus Kristus) sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau."  "…. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa."

            Mari kita selamatkan negeri tercinta kita dengan melakukan sungguh-sungguh titah Tuhan kita Yesus Kristus ini sampai akhir kita menutup mata  selama-lamanya dalam pangkuan ibu pertiwi tercinta. Amin!



--
In Christ's Love
Hans
"Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam! (Kisah Para Rasul 18:9b).
Baca Terusannya »»  

Kursi Bambu Mang Jumar

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Kursi Bambu Mang Jumar

Peristiwa ini terjadi beberapa tahun lampau. Waktu itu saya bersama istri berduaan dengan motor berkeliling kota. Melepaskan kepenatan dan kejenuhan. Kami menyusuri jalan-jalan di kota Bandung yang dulunya disebut Paris Van Java, namun kini, maaf, lebih pas bisa dikatakan "Paris Van Sampah" karena sampah berserakkan di mana-mana ditambah lagi dengan jalan-jalan yang berlubang-lubang.

Memang kami sering berduaan dengan motor kesayangan kami, Honda CB 100. Antik tapi asyik euuuuyyy, untuk terus memupuk kasih di dalam dada kami yang hampir seperempat abad menikah. Bier cintenye tetep membere ceileh… kayak ABG aja… he he he… Yaialah. Harus dong! Api cinta pernikahan harus dipupuk, disirami, dibersihin dari gulma (tanaman pengganggu) bukan? Jangan makin lama usia pernikahan makin redup kemesraannya uaa ha ha ha…. Nih coba perhatikan cerita-cerita berikut ini. Pasutri dalam usia pernikahan lima hari sampai lima minggu. Sang Suami berkata sama istrinya, "Selamat bobo sayang, mimpi indah ya, mmmuach!" Usia nikah lima bulan bagaimana? Si suami berkata, "Tolong matiin lampunya, silau nih!" Usia pernikahan lima tahun? Suami berkata waktu tidur malam, "Kesana-an doong... kamu tidur dempet-dempetan kayak mikrolet gini sih?!" Mau lagi cerita lain? Ah kamu ketagihan cerita-cerita gini ah. Baiklah, satu aja ya? Ini cerita soal menerima telepon. Usia pernikahan satu minggu. Sang istri menerima telpon rumah. "Dad sayang… ada yang pengen bicara ama kamu di telpon nih." Satu bulan nikah. "Eh...ini buat kamu nih..." Nikah satu tahun. Kata sang istri ketika menerima telepon. "WOOIII TELPON BUNYI TUUUHHH....ANGKAT DUOOONG!!! GAK DENGEEER APAAA...?!" Jangan senyum-senyum dong! Mau tambah satu cerita lagi gak??? Ah udahan yaa…! Waduh rek… nampaknya kamu penasaran ya… kacian de luh… Ok ok saya kasih satu lagi. Tapi ini benar-benar yang terakhir ya. Ini tentang pemakaian toilet. Suami dan istri pagi-pagi mau ke toilet. Usia pernikahan mereka tiga bulan. Kata suami sama istrinya, "Ngga apa-apa sayang, kamu duluan deh, aku ngga buru-buru koq… santai aja yank!" Padahal ia sudah kebelet beol. Tiga bulan pernikahan. Kata suami, "masih lama ngga nih?" Dalam usia nikah tiga tahun, beginilah tingkah dan ucapan si suami waktu mau pakai toilet. "Brug! brug! brug! (suara pintu digedor), kalo mau bertapa di gunung Kawi sono!" Bagaimana kalau usia pernikahan sudah dua puluhan tahun ya… apa masih ada kemesraan??? Koq jadi nyasar gini… mau cerita tentang "Kursi Bambu Mang Jumar" koq jadi cerita tentang kemesraan… weleh… weleh…

Okelah kita balik ya. Setelah beberapa waktu lamanya akhirnya kami harus pulang ke rumah. Nah, dalam perjalanan kembali ke rumah itulah, kami berjumpa dengan seorang penjual kursi bambu, yang akhirnya kami tahu namanya, Mang Jumar. Mang Jumar orangnya kecil dan kurus. Dia saban hari berjalan keliling dari desanya Cililin ke kota Bandung sambil memikul empat buah kursi bambu untuk dijual kepada orang-orang kota. Satu kursi itu panjangnya tujuh jengkal. Satu jengkal ukurannya dari jari tengah hingga ibu jari saya. Ya kira-kira satu meter setengah panjangnya kursi itu. Mang Jumar menyusun sedemikian rupa sehingga ia bisa memikul dua kursi di sebelah kanannya dan dua kursi lagi di sebelah kirinya. Minta ampun beratnya!!! Ia memikul empat kursi itu dengan nafas yang terengah-engah diiringi cucuran keringat deras membasahi sekujur tubuhnya. Jangan ditanya bau badannya. Terkadang sepanjang hari empat kursinya tak satupun yang dibeli orang. Terpaksa ia harus membawanya pulang ke Cililin. Atau ia beristirahat di emperan toko atau di mana saja yang bisa membuat kepala dan badannya mendapatkan tempat berbaring untuk tidur malam. Besok harinya ia harus kembali menjajakan kursi bambunya dengan berkeliling dari satu lorong jalan ke lorong jalan lainnya. Berat sekali. Namun itulah satu-satunya cara dia memelihara hidup istri dan beberapa anak-anaknya yang masih kecil-kecil. Dan ini sudah bertahun-tahun lamanya ia melakukannya.

Dalam lajunya motor yang saya kendarai, tiba-tiba istri saya, Ima menepuk bahu saya sambil berkata, " Pa… berhenti dulu." "Kenapa berhenti?", tanya saya. "Itu tuh ada penjual kursi bambu, mama mau beli satu," jawab Ima. Kata saya, "Mau ditaruh di mana kursinya, rumah kita kan sempit gak ada tempat lagi?" "Bisalah, nanti mama atur", demikian Ima ngotot mau beli. Lalu saya menghentikan motor dan Ima langsung menanyakan berapa harga kursi bambu itu. "Harganya Rp 25.000 bu!", demikian kata Mang Jumar. "Oke Mang, tapi Mang ikut ke rumah kami ya… tuh hanya beberapa puluh meter lagi", ajak Ima pada Mang Jumar. Akhirnya Mang Jumar sampai juga di rumah kami. Ima langsung ke dapur dan membuatkan kopi manis buat Mang Jumar. Dan, Mang Jumar mungkin karena kehausan dan lelah, langsung menghirup perlahan-lahan kopi manis semanis Ima istriku he he he…. Kemudian Ima ke kamar untuk mengambil uang Rp 25.000. Di depan kamar Ima bertemu Juan, anak kami yang pertama. Kala itu Juan masih duduk di SMP. "Ma … siapa yang datang itu?", tanya Juan sama mamanya. "Oh itu Mang Jumar penjual kursi bambu", jawab Ima. "Untuk apa ma… mama mau beli ya. Berapa harganya satu?", Juan kembali bertanya. "Ya mama mau beli. Harganya Rp 25.000, tapi mama mau nambah supaya menjadi Rp 35.000", demikian kata Ima sama Juan. Saya terus mendengar percakapan mereka berdua sambil menemani Mang Jumar meneguk kopi manis hangat. Juan lalu berkata lagi sama mamanya, "Ma… kasihan Mang Jumar capek sekali ia pikul kursi-kursinya, kenapa hanya Rp 35.000, berikanlah Rp 50.000 buat Mang Jumar!" Wah saya kaget dengan dialog dua orang "gila" ini. Hati saya sangat terharu terhadap isi hati Ima dan Juan yang penuh belas kasihan itu. Dalam hati saya berdoa, "Terima kasih Tuhan Yesus, Engkau telah memberikan hati-Mu yang penuh belaskasihan di hati mereka terhadap orang-orang sederhana seperti Mang Jumar ini. Hati saya lebih terharu lagi, sebab saya tahu berapa sejatinya pendapatan kami setiap bulan sebagai pelayan Tuhan yang melayani orang-orang desa di tanah air ini.

Sikap hati dan perilaku istri dan anak saya sungguh menjadi peringatan keras kepada diri saya sendiri tentang arti panggilan hidup melayani Tuhan dan sesama. Kita bisa saja melayani seperti mesin cuci pakaian (mekanis), tanpa kasih, namun mustahil mengasihi tanpa melayani dalam tindakan nyata terhadap sesama (altruis). Bukankah Tuhan berfirman, "…. menangislah dengan orang yang menangis!"? (Roma 12:15). Dan sungguh amat banyak perintah Tuhan dalam Alkitab yang mendorong kita untuk mengasihi dengan perbuatan yang nyata. Bukan sekadar kita berkata kasihan (atau kacian deh luh) kepada mereka yang sengsara. Kita wajib bertindak dengan kasih. Kita harus menuntun mereka, bukan menonton mereka yang sedang terseok-seok. Ada jutaan jiwa yang kini merana hidupnya di negeri tercinta kita. Apakah kita hanya menonton atau kita mau menuntun mereka?

Kata Yunani belas kasihan adalah Splagkhnistheis dari kata splagkhna yang berarti mangkuk. Ini menggambarkan hati nurani manusia yang terdalam. Dalam Injil, dengan beberapa kekecualian, kata itu secara khusus hanya dipakai untuk diri Yesus.

Hal-hal yang paling menggerakkan Yesus adalah: Orang-orang yang mengalami penderitaan dunia. Yesus menangis ketika melihat orang sakit, buta, dan dirasuk setan. Yesus tidak tahan melihat orang-orang yang menderita, Ia selalu rindu untuk meringankan beban penderitaan itu. Yesus tergerak dengan orang yang berada dalam kesedihan seperti seorang janda di Nain yang anaknya mati (Lukas 7:13). Begitu juga ketika melihat Maria dan Marta yang telah kehilangan kakak mereka Lazarus, Yesus sangat sedih, terharu dan menangis (Yohanes 11:33 –34). Yesus selalu penuh dengan keinginan untuk menghapus setiap tetesan air mata orang yang bersedih.

Yesus tergerak ketika melihat orang-orang dalam kelaparan (Matius 15:32). Orang Kristen yang sejati tidak akan mempunyai niat mengumpulkan harta benda untuk diri sendiri sementara orang lain berkekurangan. Saya sangat terkesan dengan perkataan kawan saya dalam suatu perbincangan di antara kami berdua (ia adalah seorang pengusaha yang sukses). Dia berkata: "Saya takut dengan kekayaan yang saya miliki saat ini apakah saya telah mempergunakannya seturut dengan kehendak-Nya? Sekali waktu Tuhan mengaudit harta saya, apakah saya dapat mempertanggungjawabkannya?" Oleh karena itu, doa dan harapan saya kiranya prinsip ini harus kita pegang sebagai alarm, tanda peringatan dalam mengelola seluruh talenta (jabatan, kuasa, popularitas, kepintaran, uang, dan harta benda) yang Tuhan percayakan kepada masing-masing kita.

Dan Yesus sangat tergerak dengan orang-orang dunia yang berada dalam kebingungan tanpa arah dan harapan hidup yang jelas. Yesus sedih ketika melihat mereka yang terbaring tidak berdaya dan dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Yesus mengecam para ahli Taurat yang suka memberatkan kehidupan orang-orang Israel dengan hukum-hukum manusia mereka. Karena itu tak heran Yesus berkata kepada orang yang suka menyesatkan orang lebih baik batu kilangan diikatkan dilehernya lalu ditenggelamkan dalam lautan. Ini menunjukkan bahwa Yesus tidak mau ada orang yang tersesat atau disesatkan jalan hidupnya. Bagaimana dengan kita???

Mang Jumar setelah menerima uang Rp 50.000 dari tangan istri saya, lalu tangannya merogok sakunya untuk mengambil uang kembalian. Tangan Mang jumar masih dalam kantongnya, sembari istri saya berkata, "Mang… tidak usah dikembalikan uangnya. Itu semua untuk Mang Jumar dari kami sekeluarga. Hanya itu yang bisa kami berikan." Lalu Mang Jumar menatap kami satu persatu dengan bibir yang bergetar sambil berkata dengan linangan air mata, " Pak, bu, ade… hatur nuhun pisan nya' (terima kasih banyak ya)! Saya tidak pernah mengalami hal seperti hari ini. Biasanya saya menghadapi pembeli yang menawar harga serendah-rendahnya kursi bambu saya ini. Bahkan kadang mendengar kata-kata yang tidak enak didengar telinga. Kenapa kalian mau melakukan hal ini?" Lalu saya menjawab Mang Jumar, " Mang… kami terlebih dulu juga telah mendapat kasih sayang dari Yesus Kristus Tuhan dan Juruselamat kami. Kami seharusnya binasa di dalam api neraka, namun Ia rela mati di kayu salib untuk menyelamatkan kami dari kematian kekal. Dialah yang mengajarkan kami supaya juga mengasihi orang-orang lain di dunia ini. Dan Mang Jumar kami anggap bukan orang lain, sekarang Mang bersama istri dan anak-anak adalah saudara kami. Nanti lain kali bawalah istri dan anak-anak menginap dan bermain-main di rumah kami. Bila kursi-kursi Mang belum laku, janganlah bawa pulang ke kampung, silakan tidur di rumah kami dan besok jualan lagi." Dan akhirnya kami mengobrol lama dengan Mang Jumar pada siang itu. Hubungan kami menjadi akrab layaknya saudara saja. Kadang ia datang membawa sayur mayur dan buah-buahan hasil panennya dari kampung Cililin. Dan juga pernah sekali ia menginap di rumah kami. Sedih nian ketika kami pindah kontrakan rumah di lorong sempit, sampai hari ini kami belum pernah bersua lagi dengan Mang Jumar yang kami kasihi. Kami sering mencari-carinya tapi sampai detik ini kami belum juga bertemu muka dengan Mang Jumar. Kami sudah agak lupa wajah Mang Jumar karena pertemuan kami sudah berlalu hampir tujuh tahun lampau. Semoga ia masih mengingat wajah kami. Kami berharap bila bertemu, ia mau mengagetkan kami dengan menepuk bahu kami. "Oh Tuhan Yesus pertemukan kami lagi dengan Mang Jumar si penjual kursi bambu dari desa Cililin. Kami rindu bertemu dengannya. Tuhan, kami mau membeli satu lagi kursi bambu Mang Jumar!"

Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku…. dan Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku (Matius 25: 40, 45).



--
In Christ's Love
Rev. Hans
"Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam! (Kisah Para Rasul 18:9b).
Baca Terusannya »»  

Domba Yang Kehausan

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Saya sungguh bersyukur apa yang kami doakan selama ini perlahan tapi
pasti di jawab oleh Tuhan. Tentu hal ini tidak hanya kami yang doakan,
tetapi saya yakin banyak orang percaya yang mendoakan. Setelah sekian
lama tidak mendapat tugas ibadah malam pujian, dua minggu lalu saya
dikontak oleh pengurus untuk menyampaikan firman Tuhan. Ketika ibadah
mulai tidak seperti biasanya, malam itu cukup banyak yang hadir.
Setelah selesai ibadah, saya berbincang-bincang dengan beberapa orang
yang hadir, mereka mengatakan bahwa yang hadir pada malam itu adalah
orang-orang yang sudah lama tidak ke gereja. Puji Tuhan, hati mereka
telah di jamah dan digerakkan oleh Roh Kudus untuk kembali
kerumah-Nya.

Mereka itu laksana rusa yang haus akan air, jiwa mereka haus akan
Tuhan. Selama ini mereka seperti domba yang terhilang dari kawanannya.
Hati mereka telah tergerak untuk datang ke bait-Nya memuji dan
menyembah Dia. Ketika melihat ibadah malam itu, saya teringat cerita
di Alkitab tentang anak bungsu yang kembali kepada bapanya, setelah
sekian lama pergi dari rumah bapanya, akhirnya kembali setelah
mengingat kebaikan-kebaikan yang melimpah di rumah bapanya…beberapa
hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi
ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan
hidup berfoya-foya. Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana
kelaparan di dalam negeri itu dan ia pun mulai melarat. Lalu ia pergi
dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya
ke ladang untuk menjaga babinya. Lalu ia ingin mengisi perutnya
dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorang pun
yang memberikannya kepadanya. Lalu ia menyadari keadaannya, katanya:
Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya,
tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada
bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga
dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa;
jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. Maka bangkitlah ia
dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah
melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu
berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia (Lukas
15:13-20).

Janganlah kita jemu-jemu mendoakan saudara-saudara kita yang sudah
lama tidak pulang-pulang ke "rumah", percayalah bahwa Bapa akan
mendengar doa kita, Ia akan mengutus Roh Kudus untuk menggerakkan hati
orang yang kita doakan. Saya yakin dan percaya Bapa di Surga sangat
bersukacita melihat anak-anak-Nya yang selama ini terhilang kembali
kerumah-Nya. Firman Tuhan dalam Injil Lukas 15:7 mengatakan … Aku
berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu
orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan
puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan." By:
Adrianus Pasasa
Baca Terusannya »»  

Selasa, 12 Februari 2013

Pendeta Jemaat atau Pendeta Majelis

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Beberapa waktu ini saya mendengar istilah yang berkembang. Setidaknya
bunyinya seperti ini, "dia kan pendeta majelis bukan pendeta jemaat".
Entah apa maksud di balik istilah ini, tetapi yang pasti tidak mungkin
istilah ini muncul kalau tidak ada pemicunya. Menjadi seorang pelayan
Tuhan adalah suatu tugas yang mulia, Tuhan mempercayakan seorang hamba
Tuhan untuk melayani jemaat-Nya. Kalau kita baca di dalam Yehezkiel
34:1-16, di situ di uraikan bahwa Tugas para gembala (pelayan Tuhan)
adalah melindungi kawanan dombanya agar tidak dicuri atau dibunuh oleh
binatang liar, atau menjaganya agar tidak tersesat. Jika Tugas ini
gagal dilakukan, maka Tuhan akan menghukum para gembala (hamba Tuhan)
yang gagal menjadi gembala yang baik. Beberapa ciri gembala yang
gagal: Menggembalakan dirinya sendiri, tidak peduli dengan
domba-dombanya, Hanya mau menikmati susu dan bulunya dibuat untuk
pakaian, tetapi mereka tidak mengembalakan domba-domba dengan baik,
Mereka membiarkan domba, jika ada domba yang lemah mereka tidak
kuatkan, domba yang sakit mereka tidak obati, domba yang luka mereka
tidak balut, domba yang sesat mereka tidak cari dan membawanya pulang,
domba yang hilang mereka tidak cari.

Gembala (hamba Tuhan) yang tidak melakukan tugasnya dengan baik, Tuhan
akan memberhentikan mereka dari tugasnya, Tuhan akan mengambil
pelayanannya kembali. Dibebastugaskan, Tuhan dapat memakai berbagai
cara untuk membebastugaskan gembala (hamba Tuhan) yang mangkir dari
tugasnya. Pada akhirnya istilah "pendeta majelis" layak disandang oleh
gembala (hamba Tuhan) yang gagal menjadi gembala yang baik, tetapi
tidak layak menyandang "pendeta jemaat". By: Adrianus Pasasa
Baca Terusannya »»  

Jumat, 08 Februari 2013

POSISI MENENTUKAN PRESTASI

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Waktu di sekolah menengah, saya dan teman-teman kelas mempunyai
istilah "posisi menentukan prestasi". Mungkin dibalik istilah ini ada
hal-hal yang ingin dicapai, mungkin saja nilai yang baik, dengan
cara-cara yang tidak baik, yang tentu hal ini tidak benar. Namun, jika
istilah ini di gunakan dalam artian positif, maka tentu akan membawa
dampak yang sangat baik. Dapat dikatakan bahwa semakin baik posisi
atau kedudukan seseorang, maka seharusnya prestasinya atau hasilnya
itu akan Nampak atau berdampak.

Dalam suatu diskusi di kelas, ketika saya mengikuti kuliah padat di
salah satu kampus STT di Bandung. Ada seorang teman melontarkan
pertanyaan, sederhananya begini: "mengapa para hamba Tuhan semakin
tinggi posisi/gelarnya, rasanya semakin kering dan semakin kurang
mengaplikasikan". Mungkin saja pertanyaan ini bersifat subyektif
tetapi bisa juga bersifat obyektif, namun terlepas dari semua itu,
marilah kita coba melihat beberapa hal yang mungkin menyebabkan
pertanyaan itu muncul. Tidak menutup kemungkinan banyak diantara hamba
Tuhan yang hanya hebat dalam berdebat dan berteori, tetapi kenyataan
dilapangan tidak sehebat teorinya. Juga tidak menutup kemungkinan
banyak hamba Tuhan yang karena merasa sudah sekolah tinggi-tinggi,
waktunya habis bergelut dengan kesibukannya, sehingga waktu untuk
membangun hubungan dengan Tuhan sangat terbatas atau dengan kata lain
lebih mengandalkan kekuatannya sendiri, dari pada bersandar penuh
kepada Tuhan. Dampaknya adalah kekeringan, berkotbah tidak ubahnya
seperti orang yang sedang pidato, lebih banyak mengutip pendapat para
filsuf dunia, dari pada mengupas dan mengutip Alkitab sebagai standar
kebenaran tertinggi. Hal ini terjadi karena waktu untuk bersekutu
dengan Tuhan lewat doa dan membawa Alkitab, sudah sangat terbatas.

Lewat diskusi-diskusi di kelas, saya disadarkan kembali bahwa apalah
artinya memiliki gelar yang super hebat, tetapi hubungan dengan Tuhan
mengalami kekeringan. Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan,
Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan
segenap akal budimu (Matius 22:37). Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan
segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu
(Ulangan 6:5). Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan…(Amsal
1:7). By: Adrianus Pasasa
Baca Terusannya »»  

Selasa, 05 Februari 2013

Dampak Dari Tugas Seorang Pelayan Tuhan

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Nats: Lukas 13:6-9
Ibadah Pagi STT SAPPI, 06 Februari 2013
Oleh : Adrianus Pasasa, S.T, MA

Waktu saya masih sekolah di sekolah menegah atas (SMA), saya tinggal
di asrama yang dikelolah oleh kakak sepupu saya. Setiap akhir pekan
saya harus membantu dia untuk memelihara kebun cengkehnya. Tugas saya
adalah mengecek pohon-pohon yang batangnya digerogoti oleh ulat
penggerek. Biasanya pohon yang batangnya digerogoti ulat tidak akan
berbuah, kadang ada tetapi itupun buahnya tidak baik. Setelah beberapa
waktu kakak sepupu saya akan datang mengecek seluruh pohon cengkeh
yang ada di kebunnya, ketika dia mendapati pohon-pohon cengkeh yang
tidak menghasilkan buah, dia memintah suapaya dipotong.

Dalam bacaan kita pada hari ini, Tuhan Yesus memeberikan suatu
perumpamaan. Dalam perumpamaan yang di sampaikan Tuhan Yesus, ada dua
tokoh yang berperan di dalamnya yaitu pemilik kebun anggur dan
penggarap kebun anggur. Masing-masing tokoh memiliki peran
masing-masing. Di dalam kebun anggur itu, tumbuh pohon ara. Tuan
tanah atau pemilik kebun anggur mempercayakan kebun anggurnya kepada
penggarap supaya dioleh dengan baik supaya dapat memberikan hasil.
Tetapi apa yang terjadi, dikatakan bahwa sudah tiga (gambaran
pelayanan Tuhan Yesus) tahun pemilik kebun anggur datang untuk mencari
buah, tetapi ia tidak pernah menemukan buah dari pohon ara yang tumbuh
di kebun anggurnya.

Perumpamaan yang disampaikan oleh Yesus ini adalah sebuah gambaran
antara Allah dan umat-Nya. Kebun anggur dapat digambarakan sebagai
dunia, di mana di dalamnya terdapat pohon ara yang menggambarkan
orang-orang percaya atau dalam bacaan ini pohon ara juga terutama
menunjuk kepada Israel (Luk 3:9; Hos. 9:10; Yoel 1:7; Yesaya 5:2).
Kebun itu dipercayakan kepada penggarap atau pengurus kebun yang dapat
menggambarkan hamba-hamba Tuhan yang diutusnya untuk memelihara
kebun-Nya. Setelah sekian lama kebun itu dipercayakan kepada
hamba-hamba-Nya, maka Dia datang untuk mencari buah pada pohon ara,
apa yang terjadi Dia tidak menemukan buah pada pohon itu.

Kita akan lihat satu bagian di dalam Matius 21:18-22, dimana Yesus
mengutuk pohon ara karena Dia tidak mendapati buahnya. Pohon ara
merupakan pohon yang rindang. Pohon ini bisa tumbuh setinggi 4,5
sampai 6 meter. Ranting atau cabang-cabangnya bisa merentang 7,5
sampai 9 meter ke samping. Oleh karena itu, banyak orang yang suka
berteduh di bawah pohon ini karena keteduhannya. Selain itu juga,
pohon ini memiliki daun yang lebat.

Dalam perikop ini dikatakan bahwa Yesus tidak mendapati buah pada
pohon ara itu. Penampilan luar dari pohon ara yang hijau dan lebat
tidak menjamin bahwa pohon ara ini berbuah lebat juga. Begitu juga
dengan kehidupan Kekristenan, penampilan luar tidak menentukan apakah
orang Kristen itu berbuah atau tidak. Dari perikop ini, kita bisa
melihat bahwa Kekristenan bukanlah soal penampilan luar tetapi soal
buah dari kehidupan. Berdasarkan hal ini kita bisa mengetahui bahwa
penghakiman mutlak berada di tangan-Nya. Yesus berkuasa memelihara.
Yesus berkuasa menjaga. Akan tetapi, Yesus juga berkuasa untuk
menghancurkan dan membinasakan. Dalam hal ini, Yesus membinasakan
pohon ara itu melalui perkataan-Nya. Akan tiba saatnya, bahwa Yesus
datang bukan untuk memelihara atau menjaga, tetapi Yesus akan datang
sebagai hakim yang membinasakan bagi orang yang tidak berbuah dalam
kehidupannya.

Kembali ke perikop semula yang kita bahas, Sang pemilik kebun
memanggil orang yang dipercayakan menggarap kebun anggurnya, lalu Ia
berkata, karena pohon ara ini tidak menghasilkan buah, tebang saja
pohon ini. Hidup pohon ini tidak berguna, percuma karena tidak
menghasilkan buah. Sebagai pelayan-pelayan Tuhan, kita sudah
dipercayakan suatu pelayanan, kita harus menggarap pelayanan itu
dengan semaksimal mungkin, supaya menghasilkan buah. Ketika Sang
pemilik pelayanan itu datang ia akan mendapati buah-buah dari hasil
pelayanan kita, yaitu buah kebaikan (Galatia 5:16-25). Buah dari hasil
pertobatan.

Seperti cerita yang saya sampaikan diawal, dari beberapa pohon cengkeh
yang sudah dirawat sedemikian rupa, ada yang sembuh dan kembali
menghasilkan buah, tetapi ada juga yang belum menghasilkan buah
walaupun sudah dirawat sedemikian rupa. Ada beberapa pohon yang sudah
diperintahkan untuk di potong saja, tetapi saya katakan coba kita
rawat dulu, nanti kalau tidak ada perkembangan lagi baru kita potong.
Memang di dalam pelayanan terkadang juga kita mengalami hal-hal
seperti ini, ada orang-orang yang kita layani suadah berkali-kali
tetapi belum menunjukkan perubahan/pertobatan. Apakah kita menyerah?
Lalu apa yang harus kita lakukan ketika mengalami hal demikian! Dalam
bacaan kita pada pagi ini, kita akan meneliti apa yang dilakukan
pengurus kebun anggur itu ketika diperhadapkan pada kasus seperti ini?
Hal pertama yang ia lakukan adalah meminta kepada pemilik kebun anggur
supaya pohon ara yang tidak menghasilkan buah itu dibiarkan tumbuh
setahun lagi. Yesus secara tidak langsung mengatakan bahwa bangsa itu
(Yahudi) mendapat kesempatan terakhir sebelum Allah menghukum mereka
karena pemberontakan mereka dan karena keadaan mereka yang tidak
menghasilkan. Jadi yang harus kita lakukan sebagai pelayan-pelayan
Tuhan ketika menghadapi persoalan seperti itu adalah meminta kepada
Tuhan sang pemilik pelayanan supaya diberi kesempatan untuk merawat
orang-orang yang kita layani supaya dapat menghasilkan buah. Jika
kesempatan itu Tuhan berikan dan kita telah berusaha semaksimal
mungkin, namun belum juga menghasilkan buah alias tidak bertobat juga
(Lukas 13:3), ditebang saja. Dalam bacaan ini penggarap kebun meminta
kepada Tuannya, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan
mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin
tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!". Jadi tidak hanya
meminta untuk tidak ditebang, tetapi ada usaha yang dilakukan supaya
pohon yang tidak berbuah itu, dapat menghasilkan buah. Dikatakan
bahwa, ia akan merawat dengan mencangkul tanah sekelilingnya dan
memberi pupuk kepadanya.

Jadi tugas kita sebagai pelayan-pelayan Tuhan hanya memelihara dan
merawat pelayanan yang Tuhan telah percayakan. Karena kita bukan
pemilik pohon itu, jadi kita tidak dapat sewenang-wenang menebang
pohon itu, walaupun kelihatannya tidak akan menghasilkan buah. Tetapi
dengan setia kita terus pelihara sampai menghasilkan buah. Dampak dari
tugas kita sebagai pelayan-pelayan Tuhan adalah membawa orang-orang
yang kita layani kepada suatu pertobatan. Membawa orang-orang yang
kita layani mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Allah memberikan
kesempatan secukupnya kepada setiap orang untuk bertobat, ia tidak
akan selama-lamanya membiarkan dosa. Saatnya akan datang ketika kasih
karunia Allah akan ditarik dan orang-orang yang tidak mau bertobat
akan dihukum tanpa belas kasihan (Lukas 20:16; 21:20-24). Hukuman
adalah satu-satunya jawaban bagi orang-orang yang tidak berbuah.


Lalu mungkin akan muncul pertanyaan, apa yang menjadi upah atau bagian
dari penggarap kebun? Jaminan akan diberikan oleh Sang pemilik kebun.
Pertanyaannya adalah siapa pemilik kebun itu? Siapa yang kita layani?
Amin.
Baca Terusannya »»  

Rabu, 23 Januari 2013

KIAT-KIAT MENULIS RENUNGAN

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
KIAT-KIAT MENULIS RENUNGAN
==========================

Renungan adalah refleksi atas sebuah ayat dalam Alkitab yang
dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari dan kontekstual bagi pembaca.
Penulis memulai tulisan setelah melihat persoalan-persoalan yang
terjadi dalam realitas kehidupan. Dia lalu mencari jawabannya
melalui permenungan dan penelitian yang mendalam atas ayat-ayat
dalam Firman Tuhan. Setelah itu dia membagikan hasil permenungan itu
kepada pembaca.

Menulis renungan berbeda dengan menulis artikel. Di dalam menulis
artikel, penulis menyajikan dan memberikan pengetahuan serta
ketrampilan (memberi makanan bagi otak), sedangkan dalam menulis
renungan, penulis berbagi iman dan pengalaman kerohanian (memberi
makanan pada jiwa). Artikel berpusat pada satu tema dan menggunakan
lebih dari satu sumber tulisan, sedangkan renungan, berpusat pada
satu tema dan satu ayat Alkitab. Panjang artikel bisa mencapai 500-
2000 kata, sedangkan renungan, antara 250-300 kata. Artikel berasal
dari pengetahuan di kepala (head), sedangkan renungan adalah luapan
dari pengalaman batin (heart).

Tujuan akhir dari sebuah renungan adalah perubahan hidup. Seberapa
pun indah tulisan renungan itu, tetapi jika tidak bisa mendorong
pembaca untuk melakukan tindakan yang membuatnya semakin mengasihi
Tuhan dan sesama, maka tulisan itu tidak layak disebut renungan.

Ada beberapa tipe renungan, yaitu:
1. Renungan yang memberi inspirasi untuk bertindak dengan nyata.
Isinya biasanya berupa dorongan bagi pembaca untuk bertindak
sesuatu.
2. Renungan yang memberi ketenangan. Biasanya berisi kata-kata
penghiburan untuk menguatkan pembaca yang sedang mengalami
pergumulan.
3. Renungan yang memberikan teguran. Renungan ini memperingatkan
pembaca supaya tidak melakukan perbuatan tertentu yang bisa
mendatangkan dosa.
4. Renungan yang memberi paparan tentang suatu perikop tertentu.
Isinya hanya berupa informasi yang menjelaskan makna dari ayat-
ayat tertentu dan relevansinya bagi konteks kekinian.

Rumus 4 C
---------
Ada suatu formula yang dipakai untuk menulis renungan yang disebut
"rumus 4 C", yaitu Contextualize, Connect, Communicate, dan
Conclude. Berikut ini penjelasannya:

1. Contextualize.
"Daratkanlah" isi renungan Anda dengan peristiwa kehidupan
sehari-hari secara nyata. Pembaca renungan adalah manusia biasa
dengan pergumulan kehidupan yang tidak ringan. Mereka membutuhkan
penguatan rohani yang aplikatif. Karena itulah, tulisan Anda
sebaiknya menjawab kebutuhan pembaca secara nyata.

2. Connect.
Hubungkan persoalan kehidupan yang dibahas itu dengan Firman
Tuhan. Temukanlah jawaban Firman Tuhan atas persoalan yang
digumulkan oleh penulis dan pembaca renungan itu. Dalam hal ini,
selain harus berdoa meminta hikmat dari Tuhan, lebih baik lagi
jika Anda memiliki pengetahuan teologi yang memadai.

3. Communicate.
Komunikasikan hasil studi Alkitab itu kepada pembaca.
Komunikasikan tentang kasih dan karunia Tuhan serta penguatan
dari Roh Kudus. Jika diperlukan, pakailah ilustrasi untuk
menjelaskannya.

4. Conclude.
Simpulkan renungan ini dengan sebuah tindakan yang bisa dilakukan
oleh pembaca. Bagian ini sangat penting. Rumuskanlah kata-kata
yang bisa mendorong pembaca untuk membuat keputusan dan melakukan
tindakan. Inilah yang disebut perubahan hidup.

Tips Praktis Menulis Renungan
-----------------------------
Secara lebih praktis, berikut ini adalah kiat-kiat praktis yang
dapat diterapkan di dalam menulis renungan:

1. Siapkan semua bahan-bahan pendukung, seperti ilustrasi, data-
data, Alkitab (kalau ada beberapa versi terjemahan dalam bahasa
Indonesia, bahasa Inggris, dan bahasa lainnya) dan Konkordansi
Alkitab (Kalau punya komputer, lebih enak memakai Program SABDA).

2. Berdoalah meminta pimpinan Tuhan.

3. Bacalah perikop ayat itu berulang-ulang dan jika mungkin, bacalah
juga versi terjemahan dan bahasa yang berbeda. Temukan gagasan
utama yang menjadi pusat dari isi renungan Anda.

4. Tulislah draft tulisan Anda. Tuangkanlah semua isi kepala Anda
dengan bebas. Draft bukanlah tulisan yang sudah jadi. Untuk
itulah, Anda tidak usah memperhitungkan apakah tulisan ini akan
tampak buruk. Yang penting, Anda bisa menuangkan semua gagasan
Anda lebih dulu. Teknik ini disebut curah gagasan (brain
storming).

5. Setelah semua ide tampaknya sudah mengalir keluar, maka langkah
selanjutnya adalah menyusun ide-ide atau pokok pikiran itu supaya
menjadi teratur dan enak dibaca. Dalam bahasa kerennya, supaya
alur logika tulisan mengalir dengan lancar. Jika ada ide-ide yang
tidak relevan, jangan ragu-ragu untuk memangkasnya.

6. Tempatkan ilustrasi renungan yang sesuai. Jika Anda gagal
menemukan ilustrasi yang cocok, jangan cemas. Anda masih bisa
menyiasatinya dengan memasang kalimat pembuka yang menarik.

7. Jika sempat, mintalah tolong orang lain supaya memberikan kritik
dan saran atas tulisan Anda.

8. Perhatikan dengan cermat isi pengajaran atau teologi di dalamnya.
Sedapat mungkin, hindarilah tema-tema yang secara teologis masih
belum ada kata sepakat. Hindari juga pembahasan yang menyinggung
denominasi tertentu. Misalnya soal baptisan atau bahasa lidah.
Jika Anda ragu-ragu terhadap ketepatan Anda dalam merumuskan
pengajaran Alkitab, jangan segan-segan untuk berkonsultasi pada
pendeta atau orang lain yang lebih tahu.

Menulis renungan itu sebenarnya tidak lebih dari sebuah sharing
pengalaman rohani yang dialami oleh penulis. Pengalaman rohani
setiap orang itu unik, karena merupakan hasil dari perjumpaan
pribadinya dengan Allah. Pengalaman rohani seseorang selalu menarik
minat orang lain karena pengalaman rohani tiap-tiap orang berbeda.
Itulah sebabnya, kita tidak akan pernah kehabisan bahan penulisan
renungan.

Jika memang benar bahan-bahannya melimpah, mengapa hanya sedikit
saja orang yang mau menulis renungan? Kebanyakan orang beralasan
karena tidak mampu menulis dengan baik. Alasan ini kurang kuat,
karena kemampuan menulis sebenarnya bisa diasah melalui pelatihan
dan mempraktikkannya dengan sungguh-sungguh. Tidak ada seorang
penulis yang langsung mampu membuat tulisan yang indah tanpa melalui
latihan.

Diedit dari tulisan "Purnawan Kristanto"
Penulis pernah menjadi jurnalis "BAHANA" dan pernah mengasuh
"Renungan Malam"
Baca Terusannya »»  

Senin, 14 Januari 2013

NILAI-NILAI DALAM DOA

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Nats : Mat. 6:5-14
Tema : NILAI-NILAI DALAM DOA

Perjalanan kehidupan manusia berkaitan erat dengan niai-nilai yang
dapat menjadi pengarah dan menjadi falsafah hidup. Nilai budaya, nilai
sosial, nilai adat istiadat dan nilai-nilai hukum merupakan suatu
penyangga kehidupan dalam terjadinya interaksi sosial. Dalam
kehidupan kekristenan memiliki nilai yang tidak dapat diabaikan yaitu
dalam interaksi dengan Tuhan (doa). Dalam renungan hari ini kita
dapat belajar bagaimana nilai doa yang Yesus Yesus memulai pengajaran
akan doa ketika Ia bebrbicara kepada orang-orang banyak saat
berkhotbah di bukit. Yesus memperingatkan kepada mereka tentang
berdoa, Ia katakan jaganlah berdoa seperti orang munafik. Orang
munafik Yesus sebut adalah orang yang tahu kebenaran bahkan
mengajarkannya kepada orang lain tetapi mereka sendiri tidak
melakukannya ( Mat. 23:1-7).
Orang munafik melaksanakan doa mereka supaya dilihat orang ( Mat. 6:5
). pada bagian ini Yesus mengajarkan kepada orang-orang banyak tentang
berdoa yang kemudian kita kenal sebagai Doa Bapa Kami. Dalam doa bapa
kami ini mengandung isi doa yang sangat konplit yang tentunya menjadi
pegangan setiap orang percaya dalam berelasi dengan Tuhan. Dalam ayat
9 merupakan sapaan yang sangat dalam untuk relasi kepada Tuhan. Dalam
Doa Bapa Kami Yesus memulai dengan kata yang sangat dekat dan sangat
ideal sekali menyebut Allah sebagai Bapa.
Dalam PL bapa memiliki makna yang lebih luas daripada kepala keluarga
inti di zaman modern. Mungkin ia adalah seorang kepala suku ( Kej
32:9), atau seorang nabi ( 2Raj 2:12). Bapalah merupakan sosok yang
dapat memimpin keluarga dalam memberikan pengajaran keagamaan. Dalam
PB Yesus menyebut Allah sebagai Bapa-Nya, dengan demikian Allah
menjadi Bapa yang ideal bagi semua umat manusia ( Ef 3:14-15). Kata
Bapa dalam doa dapat dikatakan sebagai kata pengagungan akan Allah,
memuliakan Allah dan memuji kebesaran Allah. Kemudian Yesus mengatakan
dikuduskanlah namamu, kata ini menunjukan penghormatan kepada Allah
yang kudus. Dalam doa kita prlu memperhatikan tentang nama baik
Allah, gereja-Nya, dan Injil-Nya. Setelah adanya pengagungan akan nama
Allah kemudian Yesus katakan "datanglah kerajaan-Mu, jadilah
Kehendak-Mu di bumi seperti di sorga" perkataan ini mengingatkan kita
agar kita mengingat akan kerajaan saat ini dan akan datang dalam
Kristus Yesus dan kita berdoa untuk kehadiran dan manifestasi rohani
dari kerajaan Allah sekarang ini, sehingga kuasa Allah nyata dalam
kehidupan umat-Nya untuk menghancurkan kuasa tipu muslihat iblis.
Jadilah kehendak-Mu berarti kita benar-benar ingin agar kehendak dan
rencana Allah yang terwujud dalam kehidupan kita. Selain adanya
pengagungan dan penyerahan kepada kehendak Allah dalam doa, kita juga
meminta pengampunan kepada Tuhan, hal ini berarti menyadari akan
kesalahan dosa yang dialami dihadapan Tuhan. Kasadaran akan dosa yang
kemudian mengakui keterbatasan atau kelemahan kita dihadapan Tuhan,
sangat penting dalam relasi kita kepada Allah, karena tanpa Allah kita
tidak dapat keluar dari kelemahan itu. Dosa membuat kita kuatir, dosa
membuat kita menderita, namun Rasul Paulus katakan kepada jemaat di
Filipi jangan kita kuatir tetapi serahkan segala kuatir dan pergumulan
kita kepada Tuhan dalam doa dan permohonan ( Fil. 4:6). Dengan
demikian apapun yang menjadi dalam pergumulan kita, persoalan kita,
dan kendala kita serahkanlah semuanya itu kepada Tuahan, karena hanya
dalam Tuhanlah solusi yang sejati pergumulan hidup kita. Dari renungan
hari ini memberi cara pandang bagi kita dalam melihat nilai dalam doa
yaitu; 1) adanya pengagungan kepada Tuhan. 2) adanya penyerahan diri
kepada kehendak Tuhan dan meminta pengampunan atas dosa kita. 3)
adanya ucapan syukur kepada Tuhan. 4) Adanya ungkapan permohonan
kepada Tuhan. Mulailah hari ini dengan berpegang pada seruan
pengagungan akan Allah serta ungkapkan syukur senantiasa kepada-Nya,
amin. By: Marthinus
Baca Terusannya »»  

Selasa, 08 Januari 2013

SIAPAKAH SESAMAKU

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Tempat tinggal kami tepat berada di pinggir jalan dan tidak jauh dari
kampus teologi. Karena berada di pinggir jalan, maka tentu jalan di
rumah kami merupakan jalan umum yang setiap saat dilalui oleh berbagai
macam orang, dan salah satunya adalah mahasiswa-mahasiswi yang sedang
studi di sekolah teologi tersebut. Beberapa waktu lalu saya membuat
jembatan supaya mobil bisa masuk ke dalam halaman rumah kami. Ketika
saya mempersiapkan beberapa bahan yang akan digunakan seperti pasir,
semen, kerikil, besi, dan papan. Hal ini tentu membutuhkan bantuan
tenaga, saya minta tolong ke beberapa mahasiswa dari sekolah teologi
dekat rumah kami, yang juga tempat saya melayani. Ketika kami sedang
mengerjakan jembatan itu, cukup banyak orang "Kristen"/mahasiswa yang
lalu lalang di tempat kami mengerjakan jembatan. Ada yang lewat begitu
saja, ada yang betanya, pak lagi buat apa?, ada juga yang singgah
untuk melihat-lihat, namun tidak satupun yang bertanya apa yang bisa
kami bantu alias tidak ada yang tergerak hatinya untuk membantu.

Saya jadi teringat akan kisah orang Samaria yang baik hati yang
ditulis di dalam Injil Lukas 10:25-38. Pada suatu kali berdirilah
seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: "Guru, apa yang
harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Jawab Yesus
kepadanya: "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di
sana?" Jawab orang itu: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap
hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan
dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti
dirimu sendiri." Kata Yesus kepadanya: "Jawabmu itu benar; perbuatlah
demikian, maka engkau akan hidup." Tetapi untuk membenarkan dirinya
orang itu berkata kepada Yesus: "Dan siapakah sesamaku manusia?" Jawab
Yesus: "Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh
ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan,
tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya
setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia
melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian
juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu,
ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria, yang
sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang
itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu
membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan
anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya
sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan
harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu,
katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan
menggantinya, waktu aku kembali. Siapakah di antara ketiga orang ini,
menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke
tangan penyamun itu?" Jawab orang itu: "Orang yang telah menunjukkan
belas kasihan kepadanya." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, dan
perbuatlah demikian!"

Bagaimana jadinya kalau orang percaya/seorang hamba Tuhan tidak
memiliki kepekaan dengan lingkungannya? Marilah kita belajar dari
orang Samaria, yang "tidak dianggap", tetapi memiliki hati hamba, yang
peduli dengan lingkungannya. Dari pada berlabel orang "Kristen"/hamba
Tuhan, tetapi hanya labelnya saja, bukti nyatanya tidak ada. By:
Adrianus Pasasa
Baca Terusannya »»  

Rabu, 02 Januari 2013

AROGANSI BEBEK SENIOR

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Bebek yang kami tetaskan beberapa bulan yang lalu, mulai beranjak
besar. Namun untuk menjaga keamanan antara bebek yang sudah dewasa
dengan bebek yang baru beranjak dewasa, maka kami pisahkan kandangnya.
Pada suatu hari saya mencoba untuk melepaskan semua bebek dari
kandangnya, tentu tujuannya supaya bebek yang senior dan junior ini
dapat hidup bersama. Tetapi apa yang tejadi, bebek yang merasa sudah
senior terus mengejar dan berusaha untuk mematuk bebek-bebek yang baru
beranjak dewasa itu. Ternyata mereka tidak bisa hidup bersama, mungkin
saja bebek-bebek senior ini merasa terancam dengan keberadaan bebek
yang masih muda dan enerjik itu. Atau mungkin ada alasan lain sehingga
keberadaan bebek junior ini menjadi ancaman bagi bebek-bebek senior.

Kisah ini tidak hanya terjadi dalam dunia hewan, tetapi kalau kita
perhatikan hal inipun terjadi dalam kehidupan umat manusia. Seseorang
yang merasa dirinya sudah eksis di suatu tempat, atau sukses dalam
menduduki jabatan tertentu. Namun ketika dia merasa posisinya atau
tempatnya terancam dengan kehadiran orang lain, dia mulai bersikap
arogan. Dengan berbagai cara ia berusaha untuk menyingkirkan
orang-orang yang merupakan ancaman bagi dirinya. Demikian juga dengan
manusia-manusia yang berlabel rohani, kadang hanya labelnya yang
rohani, tetapi isinya tidak ubahnya seperti kisah bebek di atas.
Hidupnya tidak tenang ketika ada orang lain yang lebih dari dirinya,
merasa diri paling hebat dan keinginannya hanya untuk mengatur,
mengkritik dan melihat kesalahan orang lain, tanpa mampu untuk melihat
dirinya sendiri. Tuhan Yesus bersabda: : Barangsiapa terbesar di
antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa
meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan
diri, ia akan ditinggikan (Matius 23:11-12). By: Adrianus Pasasa
Baca Terusannya »»  

NATAL BERSELIMUT KABUT

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***
Merayakan Natal adalah bagian yang tak terpisahkan dari hidup orang
Kristen. Memasuki bulan Desember pernak-pernik Natal mulai menghiasi
rumah, gereja dan beberapa sudut pusat pembelanjaan di berbagai kota.
Bahkan beberapa gereja sudah mulai merayakan Natal sebelum tanggal 25
Desember yang ditetapkan sebagai hari Natal. Suatu pagi ketika saya
memeriksa SMS yang masuk ke handphone, ternyata saya mendapat undangan
untuk menghadiri perayaan Natal di suatu gereja yang ada di daerah
Jawa Barat. Saya senang mendapat undangan tersebut, saya pun
mempersiapkan diri untuk menghadiri natal yang tinggal berselang dua
hari lagi. Pada saat perayaan Natal saya datang bersama istri saya,
karena kami datang agak terlambat maka kami duduk di bangku bagian
belakang.

Acara natal malam itu tidak ubahnya seperti acara pertunjukan yang
menampilkan kemampuan anggota-anggota jemaat yang silih berganti naik
ke atas panggung. Dalam hati kecil saya bertanya, apakah ini yang
Tuhan Yesus inginkan? Ketika memasuki pertengahan acara, muncul bau
yang kurang sedap dan itu sangat menggangu. Saya berusaha mencari
sumber bau itu, oh…ternyata bau asap rokok beberapa kaum bapak yang
duduk di bagian luar gereja. Batin saya semakin bertanya,
jangan-jangan jemaat disini dibebaskan untuk merokok, padahal setau
saya denominasi gereja ini sangat "pantang" terhadap rokok. Dan apa
yang timbul di batin saya semakin terjawab ketika rangkain perayaan
natal sudah selesai, tanpa rasa canggung, hampir sebagian kaum bapak
duduk melingkar di depan gereja dengan asap rokok yang mengepul dari
mulutnya. Sungguh natal malam itu, menjadi natal yang berselimutkan
asap rokok. Firman Tuhan di dalam 1 Korintus 6:19-20, mengatakan…Atau
tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di
dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, -- dan bahwa kamu
bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah
lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!
Pertanyaannya, bagaimana jadinya kalau bait Roh Kudus ini, tiap hari
diasapi dengan asap rokok? By: Adrianus Pasasa
Baca Terusannya »»  

Jumat, 21 Desember 2012

KESUKAAN BESAR BAGI SELURUH BANGSA

***Firman-Mu adalah Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku***


KESUKAAN BESAR BAGI SELURUH BANGSA
Lukas 2:1-20
Rev. Andrias Hans

--------------------

1. Ayat 1-3:  Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia.  Inilah pendaftaran yang pertama kali diadakan sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria. 3  Maka pergilah semua orang mendaftarkan diri, masing-masing di kotanya sendiri.

            Kaisar Agustus ini telah melakukan peribahasa "Sekali mendayung dua tiga pulau terlewati. Apa yang dirancang Kaisar Agustus ini mungkin untuk memuaskan keangkuhannya secara politis. Dia ingin mengetahui berapa sebenarnya jumlah rakyatnya untuk diumumkan ke seluruh dunia karena pada waktu itu Kerajaan Romawi merupakan Negara adidaya yang menguasai dunia. Juga program Kaisar Agustus ini memiliki tujuan utama yaitu agar dengan menaati perintahnya mengikuti sensus penduduk, maka itu merupakan suatu pengakuan kepada kekaisaran Romawi bahwa mereka tunduk sebagai bangsa jajahan. Dan ini sekaligus menjadi jalan ke depan untuk menjadi mesin pencetak uang melalui penerimaan  pajak dari rakyat jajahan bangsa Romawi.

2. Ayat 4-5:  Demikian juga Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem, —karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud— supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria, tunangannya, yang sedang mengandung.

            Benar apa yang dikatakan firman Tuhan dalam Yesaya 55:8-9, "Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu." (Bandingkan Yeremia 29:11). Juga Tuhan berkata dalam Yesaya 66:18, "Aku mengenal segala perbuatan dan rancangan mereka, dan Aku datang untuk mengumpulkan segala bangsa dari semua bahasa, dan mereka itu akan datang dan melihat kemuliaan-Ku."

            Man proposes but God disposes (manusia membuat rencana tetapi Tuhan yang menentukan). Itulah yang terjadi pada Kaisar Agustus. Ia merancang dan menetapkan program sensus penduduk di seluruh dunia wilayah kekuasaannya untuk memuaskan ambisi pribadinya yang penuh ketamakan dan keangkuhan itu, tetapi Allah yang mahabesar dan mahakuasa telah menggunakan ambisi manusia menjadi misi mulia untuk menghadirkan Sang penasihat ajaib, Allah yang perkasa, Bapa yang kekal, dan Raja damai (Yesaya 9:5) ke dalam dunia yang penuh kegelapan. Begitu juga dengan Yusuf dan Maria yang bersiap-siap melahirkan anak yang dikandungnya di kota Nazaret di Galilea tetapi Tuhan membawa mereka ke Betlehem di Yudea sesuai yang dinubuatkan oleh Daniel 2:44, "Tetapi pada zaman raja-raja, Allah semesta langit akan mendirikan suatu kerajaan yang tidak akan binasa sampai selama-lamanya, dan kekuasaan tidak akan beralih lagi kepada bangsa lain: kerajaan itu akan meremukkan segala kerajaan dan menghabisinya, tetapi kerajaan itu sendiri akan tetap untuk selama-lamanya." Juga seperti yang dinubuatkan Mikha 5:1, "Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata[1], hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala." (bandingkan dengan ahli Taurat: Matius 2:5-6).

            Betapa hebatnya Allah kita. Rancangan Kaisar Agustus yang egoistis itu dibelokkan  Tuhan untuk menggenapi rencana agung-Nya sendiri yaitu mengutus Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat umat manusia dari cengkeraman dosa yang membinasakan. "Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah" (Roma 8:28). Soli Deo Gloria!!!
           
3. Ayat 6-7:  Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin,  dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.

            Yesus Kristus lahir dalam kehinaan dan kemiskinan. Tidak ada  orang yang mau menerima kelahiran bayi Yesus pada natal yang pertama ini. Semua menolak-Nya. Hanya kain lampin dan palungan yang menerima bayi Yesus. Matthew Henry memberikan penafsiran yang sangat indah.  Lampin berarti merobek. Ini menunjukkan bahwa kain alas tidur yang baik untuk bayi Yesus  tidak tersedia. Yang ada hanyalah kain kasar yang sudah koyak di sana sini. Juga Yesus dilahirkan di sebuah palungan, tempat untuk meletakkan makanan ternak. Yesus adalah Allah yang mahamulia, namun  rela menjadi manusia hina dina. Dia adalah Allah yang mahakaya, namun  rela menjadi manusia miskin. Dia adalah Allah yang mahakuasa dan yang tidak dapat dibatasi oleh ruang dan waktu, namun rela menjadi manusia yang lemah tak berdaya dan dibatasi oleh ruang dan waktu. Betapa Yesus datang ke dunia ini meninggalkan segala kemuliaan-Nya sebagai Allah demi menyelamatkan umat manusia yang sedang menuju kepada kematian kekal. Rasul Paulus dengan indahnya mengatakan dalam 2Korintus 8:9, "Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya."  Dalam Filipi 2: 6-8 Paulus berkata, "yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,  melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.  Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib."

            Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, natal memberikan pelajaran yang amat berharga bagi kita yang hidup di zaman postmo ini. Di zaman di mana manusia amat mengagungkan kenikmatan materi dan kebebasan absolut serta individualistik, kelahiran Yesus mengingatkan kita bagai lonceng yang amat keras berdentang bahwa hidup yang sejati adalah hidup yang rela membagi bagi sesama manusia yang malang dan miskin yang sedang menuju kepada kebinasaan kekal. Kita rela dan siap menjadi miskin, haus, dan lapar, demi kesejahteraan hidup manusia yang sejati (jasmani dan rohani). Demi kesejahteraan jasmani dan keselamatan hidup yang kekal bagi kemuliaan nama Tuhan. Inilah panggilan kita sebagai hamba Tuhan dulu, masa kini, dan selamanya. Hamba Tuhan yang tidak mengejar kenikmatan duniawi. Hamba Tuhan yang tidak tercemar dengan roh profesinalisme yang kadang kala jemaat tidak bisa lagi bedakan hamba Tuhan sebagai gembalanya atau bosnya sehingga sulit sekali untuk ditemui untuk dimintai nasihat atau pertolongan.

Inilah misi hidup yang sejati. Bukan mengejar harta duniawi. Bukan mengejar ambisi untuk popularitas diri sendiri. Dan bukan untuk menikmati kesenangan dunia. Karena harta, popularitas, dan kenikmatan sejati hanya ada dan tersedia di dalam persekutuan dengan Tuhan Yesus Kristus baik di dunia ini maupun di dalam kekekalan surgawi kelak. Tuhan Yesus mengatakan, "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah."(Matius 4:4, Lukas 4:4).

            Natal adalah sebuah peristiwa amat penting di mana Tuhan Sang penguasa surga dan bumi datang menjadi miskin untuk memerkaya manusia. Membuat hidup manusia hidup berkelimpahan (sejahtera jasmani dan selamat jiwa). Tuhan Yesus berkata dalam Yohanes 10:10-11, "Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.  Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya."

            Berita natal pertama disampaikan kepada orang-orang  miskin. Orang-orang  yang tidak diperhitungkan oleh dunia ini.

4. Ayat 8-12:  Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam.9  Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan.10  Lalu kata malaikat itu kepada mereka: "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: 11  Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.12  Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan."

Para gembala pada zaman dulu biasanya berkelana dari satu tempat ke tempat ke tempat lain. Ada yang menginap di tenda dan ada juga yang tinggal di desa-desa. Para gembala yang hidup setengah menetap di sebuah desa, berhak membiarkan domba-domba mereka makan di padang rumput pinggiran desa. Kalau persediaan pangan menipis, ternak akan segera dipindahkan ke padang rumput yang lebih tinggi (saat musim panas) atau ke lembah yang lebih hangat (saat musim dingin). Tidak mudah menjadi gembala. Para gembala menghabiskan sebagian besar waktu mereka di alam bebas untuk mengawasi kawanan ternak. Dan mereka seringkali harus tidur dekat hewan-hewan itu untuk melindungi mereka dari perampok atau serangan binatang buas. Ketika malam tiba, ternak dimasukkan ke kandang berdinding batu buatan para gembala sendiri atau ke kandang alami, misalnya sebuah gua. Sambil dimasukkan ke kandang, jumlah ternak dihitung dengan cara memisahkan antara kambing dan domba. Hewan-hewan itu dihitung kembali esok harinya ketika akan dilepas ke padang rumput. Status sebagai gembala dipandang rendah dalam masyarakat pada zaman Yesus.

Berdasarkan kasta dalam bait Allah, maka  yang menempati urutan pertama yang layak masuk ke bait Allah adalah imam besar, para imam/Farisi/ahli Taurat, pria dewasa. Sedangkan yang tidak dapat masuk ke bait Allah adalah para wanita, orang-orang cacat, dan orang bukan Yahudi.  Dalam natal pertama ini kita melihat bahwa Tuhan mengutus seorang malaikat  untuk menyampaikan kabar baik kelahiran Kristus bukan kepada kasta terhormat dalam pandangan manusia, tetapi justru kepada mereka yang tidak terdaftar dalam kasta itu, yaitu mereka yang tidak diperhitungkan, para gembala miskin. Kedatangan Tuhan Yesus adalah untuk mengangkat harkat dan martabat orang-orang yang miskin dan yang terhilang. Tuhan Yesus berkata, "Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang."(Lukas 19:10). 

Waktu melihat malaikat datang dan mengabarkan berita gembira dari Tuhan, para gembala menjadi sangat ketakutan. Manusia berdosa memang tidak akan mungkin  dapat bertahan bila bertemu dengan Tuhan. Ketika Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa mereka  bersembunyi dari hadapan Tuhan karena mereka ketakutan (Kejadian 3:10). Para gembala ini juga menjadi sangat ketakutan (Yunani: Phobeo = merasa takut, menjadi takut, menkhawatirkan, takut kepada [Allah])) karena kemuliaan Tuhan bersinar mengelilingi (Yunani: Perilampo, 2 kali dalam PB [Kisah 26:13]) mereka.

Kehadiran dosa menjadikan manusia menjadi sangat ketakutan. Tetapi kehadiran Tuhan mendatangkan sukacita dan damai sejahtera. Awalnya para gembala ini memang menjadi sangat ketakutan karena kemuliaan Tuhan bersinar mengepung mereka. Namun utusan Tuhan berkata kepada mereka, "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud." (Ayat 10-11).

Inilah berita agung dalam sejarah umat manusia yang telah jatuh ke dalam dosa dan tertawan dalam belenggu maut kekal. Inilah berita yang sejatinya dinanti-nantikan seluruh bangsa di muka bumi ini.  Inilah penggenapan yang telah dinubuatkan oleh Allah sendiri dalam Kejadian 3:15, "Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya." Dan inilah yang dikatakan Tuhan Yesus sendiri dalam Lukas 4:18-19, "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku  untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang."

Inilah berita yang mahaagung dari surga. Dan tidak akan pernah ada berita seagung ini lagi di yang akan dikabarkan di bumi ini. Berabad-abad lamanya bangsa-bangsa hidup dalam kegelapan dibelenggu dosa dan bayang-bayang  maut kekal. Manusia dijajah oleh kuasa iblis sehingga semua umat manusia hidup dalam dosa. Manusia tak berdaya meleapskan diri dari cengkeraman maut kekal.  Pengetahuan manusia, kekuatan manusia, kebaikan manusia, dan apa saja yang dimiliki manusia, tidak akan mampu melepaskannya dari belenggu kematian kekal itu.  Dari zaman ke zaman dan dari waktu ke waktu, manusia yang hidup dalam dosa menjadikannya tidak dapat membedakan tangan kiri dari tangan tangan. Manusia tidak mampu hidup dalam kebenaran sejati. Mamnusia tahu harus hidup yang benar dan kudus, tetapi pada faktanya manusia tidak berdaya untuk mlakukannya. Itulah kuasa dosa yang membelenggu manusia.  Manusia terus saling irihati, dendam, dan saling membunuh satu dengan yang lain. Itulah fakta, upah dosa ialah maut (Roma 6:23).

Inilah kondisi bangsa-bangsa di bumi hingga detik ini. Berita terkini, Adam Lanza, 20 tahun, seseorang  yang memiliki masalah kejiwaan yang tinggal di Newtown AS, menembak 20 anak di sekolah Sandy Hook, Connecticut dan 8 orang dewasa, semuanya tewas. Termasuk ibunya sendiri ditembak mati oleh pelaku. Ini fenomena yang sering terjadi di Amerika, negara yang dijuluki negara adidaya, negara yang makmur secara ekonomi, negara yang canggih teknologinya termasuk teknologi persenjataannya.  Tetapi ada fakta yang tidak bisa dibantah. Di dalam negara yang seperti ini ada begitu banyak manusianya yang hidup dalam kekosongan jiwa. Ini membuktikan kepada kita bahwa kemakmuran ekonomi, kehebatan teknologi, dan tingginya pendidikan bukan jalan keselamatan dan damai sejahtera bagi manusia.  Benar apa yang dikatakan Blaise Pascal, "Di dalam jiwa manusia ada suatu kekosongan yang tidak dapat diisi oleh apapun juga kecuali oleh Tuhan."  Bangsa-bangsa sampai hari ini masih hidup dalam kegelapan. Tetapi bersyukurlah, Matius menyaksikan dalam Matius 4:14-16, "supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya:  "Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain, —  bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang." Tuhan mengutus malaikat-Nya di hari natal pertama dan pada mala mini kepada seluruh umat manusia dan kepada kita saat ini, "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud." (Ayat 10-11).

Yesus adalah Tuhan. Dia berkuasa atas surga dan bumi. Dialah penguasa yang sesungguhnya di bumi ini dan di surga. Para pemegang kuasa yang sekarang ini ada di seluruh negara dikendalikan Tuhan Yesus kristus. Yesus yang menagkat dan menurunkan pemerintah-pemerintah yang ada di dunia ini. Itu sebabnya penguasa yang mau berkuasa dengan bebas sebebas-bebasnya pasti dilengserkan dari kursi kekuasaannya. Hitler si jagal, Saddam Hussein, Marcos, om Ato (yang pernah dijuluki bapak pembangunan), Moammar Khadafi, dan  para pemimpin lainnya, menjadi bukti yang tak terbantahkan. Nabi Yesaya dalam Yesaya 9:5-6 menubuatkan sekitar 700 tahun sebelum Yesus datang ke dunia, "Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya, karena ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya."

Dan Yesus bukan saja sebagai Tuhan, tetapi Ia juga adalah Juruselamat satu-satunya bagi umat manusia yang berada dalam kuasa dosa dan maut. Rasul Petrus dengan berkobar-kobar di hadapan para pemimpin Yahudi, tua-tua, dan ahli-ahli Taurat, dengan Imam Besar Hanas dan Kayafas, Yohanes dan Aleksander dan semua orang lain yang termasuk keturunan Imam Besar, dengan penuh dengan Roh Kudus rasul Petrus menantang: "Hai pemimpin-pemimpin umat dan tua-tua,  jika kami sekarang harus diperiksa karena suatu kebajikan kepada seorang sakit dan harus menerangkan dengan kuasa manakah orang itu disembuhkan,  maka ketahuilah oleh kamu sekalian dan oleh seluruh umat Israel, bahwa dalam nama Yesus Kristus, orang Nazaret, yang telah kamu salibkan, tetapi yang telah dibangkitkan Allah dari antara orang mati—bahwa oleh karena Yesus itulah orang ini berdiri dengan sehat sekarang di depan kamu.  Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan—yaitu kamu sendiri—,namun ia telah menjadi batu penjuru.  Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan." (Kisah Para Rasul 4:5-12). Dan Tuhan Yesus sendiri dengan tegas berkata dalam Yohanes 14:6, ""Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku."

Saudaraku, jangan pernah percaya kepada pepatah klasik yang berkata, "banyak jalan menuju Roma karena itu juga banyak jalan menuju Surga." Ini peribahasa omong kosong. Peribahasa yang amat menyesatkan manusia. Juga ada filosofi yang menyesatkan (mendaki gunung bisa dari sebelah barat, utara, Timur, dan Selatan, tapi pada akhirnya sampai juga ke puncak. Juga aliran sungai bisa dari mana-mana tetapi akhirnya juga menuju ke satu tempat, laut).  Ini bukan peribahasa dan filosofinya Tuhan. Peribahasa yang benar adalah, "Banyak jalan menuju ke neraka, tetapi hanya satu jalan menuju ke surga yaitu hanya melalui Tuhan Yesus Kristus saja." Inilah pepatah yang benar 100%! Orang-orang dunia ini seringkali suka menghina Tuhan kita. Mereka berkata, "Allahnya orang Kristen itu katanya mahakuasa tetapi koq picik dan sempit hanya menyediakan satu jalan menuju surga?" R.C. Sproul mengatakan dengan indahnya, "Pertanyaan orang-orang dunia ini keliru. Seharusnya manusia itu bertanya, "mengapa masih ada jalan untuk manusia bisa selamat masuk ke dalam surga?"  Jadi, pertanyaan mengapa hanya ada satu jalan yang disediakan Allah menuju surga, adalah pertanyaan yang salah. Yang seharusnya manusia pertanyakan adalah mengapa masih ada jalan bagi manusia berdosa menuju ke surga?

Benar Saudaraku, status, sifat-sifat, dan perilaku dosa manusia yang melekat dalam dirinya tidak mungkin ada lagi jalan menuju surga. Kita semua pantas dilemparkan dalam api neraka yang bernyala-nyala. Kita sudah terlalu jahat di mata Tuhan yang mahakudus. Namun karena cinta kasih-Nya semata, Ia rindu menyelamatkan kita dari penderitaan kekal. Itu sebabnya Yesus diutus datang ke dunia ini pada malam natal yang pertama sebagai jawaban atas suluruh kebutuhan manusia akan keselamatan kekalnya.

Terhadap pribadi Yesus Kristus yang tiada bandingan-Nya, yang tiada saingan-Nya, dan yang tiada tandingan-Nya serta yang tiada sandingan-Nya inilah para malaikat dan bala tentara sorga yang besar menaikkan puji-pujian.

5. Ayat 13-14:  Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya:  "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya."

            Dan selanjutnya kita lihat

6. Ayat 15-20:  Setelah malaikat-malaikat itu meninggalkan mereka dan kembali ke sorga, gembala-gembala itu berkata seorang kepada yang lain: "Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita."16  Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan.17  Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu.18  Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka.19  Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.20  Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.

            Para gembala dengan segala kepolosan dan kesederhanaan mereka, mereka percaya akan kabar mulia yang disampaikan malaikat Tuhan. Dan tidak sekadar berhenti pada iman secara kognitif (akaliah = to believe) semata, tetapi mereka langsung mengaplikasikan iman itu melalui tindakan mereka (to trust). Mereka dengan cepat pergi menjumpai Yesus Sang Raja Damai itu. Dan juga tidak berhenti di situ saja, setelah mereka menemukan Yesus mereka pulang menyaksikan kepada dunia ini tentang Yesus dan mereka memuji dan memuliakan Allah. Dis ini kita melihat ada empat langkah yang dilakukan para gembala yaitu: 1. Percaya sungguh-sungguh kepada firman Tuhan. 2. Melakukan pesan firman Tuhan. 3. Bersaksi kepada dunia tentang kebenaran firman Tuhan. Dan 4. Hidup memuji dan memuliakan Tuhan.

            Oh ini adalah damai sejahtera yang tak tertandingi dengan apapun juga. Para gembala ini miskin secara materi, kuasa, dan jabatan, tetapi mereka begitu amat kaya dalam sukacita dan damai sejahtera. Hal ini tidak pernah dimiliki oleh raja Herodes yang punya kedudukan besar di Yudea. Juga tidak dimiliki oleh orang-orang terhormat pada waktu itu, seperti para iman besar dan ahli-ahli agama Yahudi saat itu.

            Bagaimana dengan kita ketika merayakan natal saat ini? Apakah kita sungguh menyadari bahwa kita adalah manusia berdosa yang pantas dibawa ke dalam penghukuman mengerikan dalam neraka kekal? Maukah Saudara dan Saya menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat  satu-satunya dalam hidup pribadi kita? Dan maukah kita menyaksikan kepada dunia ini bahwa Yesus telah datang ke dunia untuk menyelamatkan orang-orang berdosa dari maut kekal? Dan maukah kita di sepanjang hidup ini memuji dan memuliakan Tuhan Yesus yang sudah menjadi Tuhan dan Juruselamat kita?

            Jika Saudara dan Saya mau melakukan empat hal ini di hari natal ini, marilah kita nyatakan dengan sungguh-sungguh di hadapan Tuhan Yesus melalui doa kita saat ini. Mari kita berdoa ……        

Merry Christmas 25 Desember 2012 and happy New Year 1 januari 2013
Immanuel!!!!!!! 



[1] Betlehem (Ibrani: Rumah roti) adalah sebuah kota kecil yang terletak di kawasan pertanian sekitar 8 km selatan Yerusalem. Efrata adalah nama sebuah suku yang tinggal di Betlehem atau daerah sekitarnya (Rut 1:2;4:11; 1Samuel 17:12) dan mungkin nama lain untuk kota itu. Bethlehem adalah kampung halaman Daud, raja Israel (1Samuel 16:1). Dalam PB, kelahiran Yesus di Bethlehem dilihat sebagai penggenapan nubuat Mikha dalam 5:1-4 (Matius 2:1-6, Lukas 2:4-7, Yohanes 7:42).

Baca Terusannya »»  

Berita Terkini

« »
« »
« »
Get this widget

Daftar Blog Saya

Komentar